
Setelah 3 hari semenjak kejadian Yuki mendengar percakapan antara Raka dan teman-temannya, membuat Yuki mengindarkan Raka habis-habisan
Tapi yah namanya mereka kuliah di Univ dan Fakultas yang sama pasti tetap ada waktu mereka buat berjuma tanpa disengaja.
Sementara Yuki mencoba menghindari Raka, sedangkan Raka masih bersikap manis seperti biasanya, seolah-olah pertengkaran mereka kemarin tidak pernah terjadi
Seperti siang ini, Raka tak sengaja berjumpa dengan Yuki yang sedang asik dengan laptopnya di kantin.
Tanpa merasa bersalah dia mendekati meja Yuki dan duduk disebelahnya
"Ngerjain apa?" Tanyanya
"Bukan urusan lo" jawab Yuki jutek masih fokus dengan laptopnya. Dia masih kesel dengan apa yang di lakukan Raka padanya
Raka tak menghiraukan nada jutek yang di keluar kan oleh Yuki, dia tau itu semua salah dia
"Belum maafin gue juga?" Tanyanya berharap agar Yuki memaafkannya
"Gak bakal dan gak akan pernah !"
Mendengar jawaban yang tidak diduga oleh Raka membuat perasaannya sedikit kecewa, masalahnya dia ngebohongin Yuki waktu itu tidak bermaksud apa-apa, hanya pengen lebih dekat saja. Hanya itu.
"Yaudah gak apa-apa marah aja dulu, itu hak lo" ucapnya lembut dengan memaksakan senyumnya pada Yuki, walau dia tau Yuki tidak bakal melihat senyum itu, karena dari tadi Yuki enggan melihat dia
"Ntar kalau udah kelar marahnya jangan lupa kasih tau gue yah. Gue tunggu sampai kapanpun"
"Gue cabut duluan, Noval udah tungguin gue. Belajar yang bener, itu matanya jangan terlalu deket ntar rusak" ucapnya memberi perhatian pada Yuki, tak lupa tangannya mengusapkan pada kepala Yuki.
Ntah Raka tau ntah nggak, kalau salah satu kegiatan seperti itu dapat merusak organ jantung semua wanita. Tapi sepertinya Raka beneran tidak tau itu, buktinya dia selalu santai melakukan itu dari awal jumpa sampai sekarang ini.
Sepeninggalan Raka, Yuki sedikit frustassi dengan situasi yang di hadapkannya saat ini. Hati bilang maafkan, tapi logica bilang ntaran aja dulu.
"Yuki bingung ya Allah" rengek Yuki menenggelamkan kepalanya pada tangan Yang terlipat diatas meja
"Woi ngapa lo, stress gitu" ucap Dea yang baru saja tiba dan disuguhkan pemandangan wajah Yuki yang kacau
"gue stress" jawabnya singkat
"Kalau itu gue juga udah tau lama kali"
"Bangke lo" ucap Yuki sinis pada temannya itu, bukannya membantu malah bikin stress.
"Kenapa? Kak Raka lagi? Belum lo maafin?" Tanyanya mengajukan beberapa pertanyaan
Dengan malas-malasan Yuki menjawab pertanyaan Dea dengan anggukan kepala. Dea sudah tau permasalahan Yuki dengan kakak seniornya itu, kalau menurut Dea sendiri itu masih hal biasa, Yukinya saja yang terlalu berlebihan
"Yaudah si maafin aja, lo ribet banget dah. Bukannya lo selama ini emang pengen deket sama kak Raka, Nah giliran udah deket malah di jauhin, aneh lo"
"Sstth, lo kalau ngomong bisa pelan gak si? Atau gak, gak usah nyebut merek juga ****" geram Yuki membekap mulut Dea yang terlalu frontal itu
"Hehe sorry kelepasan, lo si buat gue kesel" jawab Dea tanpa rasa bersalah
__ADS_1
"Gue mau ngerjain dia dulu baru maafin, enak aja tu anak manfaafin gue"
"Yaudah yaudah terserah lo maunya gimana. Ntar giliran doi ngejauh lagi baru deh lo menerungi nasib lo yang hambar itu" jawab Dea keki dengan sikap temannya itu.
🐝🐝🐝🐝
"De? Ngapain si lo ngajak gue ke mall? Lo kan tau gue ada kerjaan" protes Yuki pada yang seenaknya saja menarik dirinya ke mall, padahal Dea tau kalau sekarang itu jam kerjanya Yuki
"Ih berisik banget si lo, tinggal minta izin apa susahnya si Ki, gue yakin Om Leo juga pasti bakal ngizinin lo" ucap Dea yang sedang menyetir mobilnya mencari parkiran kosong untuk mobilnya
"Ini ni salah satu yang gak gue suka dari lo, pemaksa" ucap Yuki kesel
"Gak suka, tapi bertahan temenan sama gue sampai sekarang"
"Terpaksa" jawabnya mendengus
"Yaudah yuk turun, Gue mau cari kado buat Dean" ucap Dea menarik tangan Yuki menjauh dari area parkir dan tak menghiraukan ucapan Yuki tadi
Dengan malas-malasan Yuki mengikuti kemana Dea pergi. Yuki salah satu cewek yang tidak terlalu suka dengan mall, tidak seperti cewek-cewek lainnya yang bisa menghabiskan waktunya untuk belanja apapun.
Bukan karena Yuki tidak punya uang atau apa, dia anak tunggal, walau papanya sudah pergi entah kemana, mamanya selalu memenuhi kebutuhan Yuki. Mamanya seorang wanita pengusaha, memiliki beberapa cabang hotel baik di dalam Negeri maupun Luar Negeri. Tapi dia tidak pernah menghambur-hamburkan fasilitasnya itu untuk hal percuma.
Palingan ke mall kalau dia emang butuh refreshing dan itu hanya untuk kearena bermainnya seperti Timezone.
"2 jam De, lo mau cari apaan sebenarnya? Pusing gue ngikutin lo ****" gerutu Yuki pada Dea yang tak juga menemukan barang apa yang ingin di belinya untuk pacarnya itu
"Sebenarnya gue udah beli si Ki, tapi pengen ngajak lo main aja" jawabnya santai tak menghiraukan kekesalan Yuki dari tadi.
"Bodo amat, Gue mau balik" ucap Yuki berlalu meninggalkan Dea
"Woi nyet tungguin" teriak Dea menyusul Yuki
🐝🐝🐝🐝
"Lo emang bangke De, tadi lo nyeret gue kesini, Dan sekarang lo mau ninggalin gue? Tega lo"
Mereka sekarang telah berada di area parkiran mobil, tetapi ketika mereka udah di dalam mobil, Dea dapat kabar kalau pacarnya menyuruh dia datang kerumah. Berhubung arah rumah pacarnya dan rumah Yuki berlawanan arah membuat Dea harus mengorbankan temannya itu.
"Sorry Ki, gue beliin cokelat deh ntar yah" bujuk Dea
"Sejak kapan gue suka cokelat? Udah ah, pegi lo sonoh" usir Yuki kesal dan keluar dari dalam mobil.
"Bye Ki" pamit Dea tanpa rasa bersalah
"Emang bangke tu anak" caci Yuki melihat Mobil Dea berlalu begitu saja didepannya
Dengan suasana hati buruk Yuki melangkahkan kakinya menyelusuri area parkir mall tersebut.
"Tau gini gue gak ikut" gerutu Yuki sendiri dengan menghentak-hentakkan kakinya
Ditengah-tengah kekesalannya, dia melihat mobil warna kuning yang terparkir disudut area parkir tersebut. Dari warnanya Yuki cukup familiar dengan mobil itu, ditambah lagi plat yang sangat mudah di hafalnya yaitu
__ADS_1
B 124 KA , yah itu adalah mobil milik Raka.
Yuki cukup sering melihat Raka membawa mobil itu kekampus. Gak salah lagi itu mobil Raka, batin Yuki
"Kerjain jangan?" Pikir Yuki pada dirinya
Sedang asik meneliti mobil itu, Yuki tidak sadar sadar seorang ibu-ibu muda dengan anaknya menatap ke arah Yuki dengan tatapan bertanya
"Pacar saya ketoilet tante, saya di suruh tunggu disini" ucapnya memberi alasan, agar tidak dikira ingin maling mobil yang ada didepannya ini. Dan tak lupa melemparkan senyum termanisnya agar ibu dan yang Yuki kira itu anak tante tersebut percaya padanya.
"Pacar?" Tanya wanita tersebut meminta penjelasan lebih lanjut pada Yuki
Yuki kira alasannya tadi sudah cukup kuat, tetapi dasarnya ibu-ibu yang ingin diberi kejelasan, menanyakannya lebih lanjut.
"Yang punya mobil ini Pacar saya tante, tadi saya kesini sama dia. Tapi dia kebelet, jadi Yaudah saya di suruh tunggu sini aja" jawabnya sesantai mungkin agar tante tersebut percaya Dan tidak bertanya lebih lanjut
Bukannya legah atas jawabannya tadi, Yuki malah di buat bingung dengan respon yang di berikan anak tante tersebut yang Yuki lihat dari seragam yang dipakainya adalah anak SMP kelas satu, jika dilihat dari garis yang tertera di dasinya.
"Pacarnya Abang ma?" Tanyanya memastikan pada mamanya, sementara wanita dewasa itu hanya melempar senyumnya pada Yuki Dan juga anaknya.
"pacarnya bang Raka?" Tanyanya lebih jelas Dan meminta jawaban pada Yuki.
"Ha?" Itu lah satu kata yang mampu Yuki berikan atas keterkejutannya, gimana bisa mereka tau yang punya mobil itu adalah Raka. Sedangkan dia dari tadi tidak pernah menyebut-nyebut nama Raka.
Apa seterkenal itu tu orang sampai semua orang tau dia, batin Yuki
Belum sempat terjawab pertanyaan Yuki tadi, Yuki kembali di buat kaget dengan kalimat perkenalan tante itu
"Nana, mamanya Raka" ucapnya menarik tangan Yuki untuk disalam "Pacar kamu" lanjutnya menggoda Yuki.
Blush
Apa-apan ini, kemana berubah jadi dia yang kena kerjain si. Batin Yuki menerima jabatan tangan tersebut, Dan dengan terpaksa juga membalas senyum mamanya Raka
"Yuki tante, Yuki Marcellia" jawabnya santai berusaha menghilangkan rasa malunya tadi.
"Ini Arka, adeknya Raka" ucap Nana selanjutnya memperkenalkan anak bungsunya itu, dan kembali menjabat tangan yang di perkenalkan sebagai Arka itu.
Nana yakin kalau sumber bibitnya Raka maupun Arka pasti cakep, buktinya mama dan anak-anaknya juga cakep.
"Hey Arka, salam kenal" memberi senyum ramahnya. Kali ini senyum tulus, bukan senyum perpaksanya yang kelihatan seperti orang bloon.
"Salam kenal kembali" jawabnya cuek.
Beda Raka beda Arka, Raka si mandiri yang baik hati dan ramah, Arka si manja yang super duper cuek dan jutek. Tandai, sifat itu hanya berlaku untuk orang yang baru di kenal Arka, seperti Yuki saat ini.
"Oh iyah, maaf yah Yuki tante harus bilang ini sama kamu. Yang bawa mobil bang Raka itu tante, jadi Raka gak ada disini" ucap Nana santai sangat santai, bahkan sangking santai Yuki ingin lari saat itu juga pasti bisa.
Arka yang mendengar ucapan mamanya tersebut terpaksa harus menahan tawanya, dia tau kakak yang tadi mengaku sebagai pacar abangnya itu sedang menanggung malu yang sangat besar.
Sedangkan Yuki sendiri ingin berubah jadi tembok saja, sangking malunya. Dan hari ini Yuki merasa malu yang berlipat-lipat.
__ADS_1
**Next**❤️