KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
26. Status Baru


__ADS_3

Seperti kebiasaan Raka sebelumnya disetiap subuh dia akan kebangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh, dan tidak terkecuali untuk saat ini walau ia baru saja tidur sejam yang lalu.


Dan hari ini adalah hari pertama bagi Raka melihat seorang wanita tertidur disebelahnya Ketika ia bangun.


"Kayak gini ya rasanya bangun tidur ada wanita di sebelah dengan memeluk kita seperti ini" gumamnya dengan tersenyum malu mengusap dahi istrinya itu.


Raka tak menyangka bisa sampai di tahap sebahagia seperti ini.


Sebelum beranjak dari kasur, sengaja ia tinggalkan ciuman sayang dikening istrinya, Lalu dengan berhati-hati Raka turun dari kasur agar tidak menimbulkan keributan yang berdampak membangunkan tidur Yuki.


Setelah selesai membersihkan diri, Raka keluar dengan pakaian lengkap dan handuk yang melingkar di lehernya, juga rambut basahnya yang berantakan itu membuat Raka makin terlihat lebih menggoda.


Kalau saja Yuki melihat itu, mungkin saja ia akan sesak nafas karena lupa untuk bernafas. Beruntung Yuki tidak melihat.


Raka geleng kepala mengingat gimana tingkah wanita yang sekarang jadi istrinya ini jika melihat ia berpakaian yang hanya mengunakan sarung lengkap dengan baju koko dan ditambah peci untuk menutupi kepalanya seperti sekarang, apa lagi jika hari jumat. Yang menurut istirnya itu cowok bertambah tingkat kegantengannya kalau hari jumat. Entah dari mana datangnya kalimat seperti itu.


Raka tersenyum "Ada-ada saja" ucapnya pelan berjalan mendekati ranjang.


Raka berdiri diam memandangi istrinya yang sedang tidur terlelap dengan rambut yang sedikit penutupi permukaan wajahnya. Ia melangkah mendekat dan menyingkirkan rambut yang menggangu pemandangan indahnya itu.


"Car, bangun yuk" bisiknya dengan lembut membangunkan Yuki.


Raka tersenyum.


Bukannya bangun, Yuki malah mendekat dan melingkarkan tangannya ke pinggang Raka.


Akibat dari pergerakan wanita itu membuat selimut yang menutupi dadanya sedikit terbuka.


Dengan sabar dan tanpa nafsu Raka kembali menarik selimut itu dan menutup kembali dada Yuki yang terbuka lagi.


"Pacar" panggil Raka begitu merdunya, sementara tangannya mengusap-usap alis wanita itu.


"Bang, masih ngantuk. Baru juga bentar tidurnya" rengek Yuki dengan mata terpejam dan juga suara yang serak khas orang baru bangun tidur.


"Bangun dong sayangnya Abang" goda Raka mengelus pipi Yuki dengan ibu jarinya.


Susah payah Yuki membuka matanya yang seperti tertimpa berton-ton beban berat itu.


"Abang ganteng banget pagi-pagi" celetuk Yuki yang Raka yakin istrinya itu belum sadar seratus persen.


Raka tertawa kecil mengingat ucapannya sebelumnya tadi. Dalam keadaan belum sepenuhnya sadar aja istrinya udah bilang kayak gitu, apa lagi kalau udah sadar.


"mandi gih biar bisa sholat. Siap itu boleh deh tidur sampai siang juga gak apa-apa".


"Gak boleh skip aja bang?" Tawarnya dengan mata sayu menahan kantuk.


Raka menggeleng.


"Gak boleh, Emang mau nikmat kita hari ini juga di skip?" Tanyanya menangkupkan kedua tangannya dipipi Yuki agar istrinya itu bisa melek.


Yuki menggeleng "Nah makanya, ayo mandi. Siap itu kita sholat bareng. Pertama loh Abang yang imamin dengan status halal" ucap Raka tersenyum yang membuat Yuki ikut tersenyum Ketika sudah mulai sadar dari tidurnya.


"Iyah ini aku mandi" jawab Yuki membangunkan badannya dari posisi rebahannya tadi.


Raka ikut bangun dan merapikan rambut istrinya yang berantakan itu "bawa mukenahnya kan?" Tanyanya yang dianggukin oleh Yuki.


"Bawa kok, ada di koper" jawab Yuki turun dari atas kasur.


"Ja---"


"Aaakh!!" Teriak Yuki memotong ucapan Raka, ia meringis menahan sakit yang ada pada tubuhnya.


Raka berlari mendekat "sakit? Baru juga mau Abang bilang pelan-pelan. Ya Allah, maaf ya car" ucap Raka merasa bersalah atas kelakuannya semalam.


Yuki tak menjawab, jelas tampak wajahnya ia masih menahan sakit.


"Padahal sebelumnya udah gak berasa, kenapa sekarang berasa gini" ucapnya cemberut membuat Raka tertawa.


Raka memiringkan kepalanya menatap Yuki dan dibalas oleh wanita itu juga "Mau Abang jelaskan Kenapa sekarang sakitnya dateng lagi?" Ucapnya santai dengan senyum tipis dibibirnya.


Merasa ditatap seintens itu membuat Yuki kesusahan untuk bernafas dan menelan ludahnya.


"A...ap..pa?" Tanyanya terbata-bata merapikan selimut yang digunakan untuk menutupi badannya itu.


Raka tertawa lalu mengacak rambut istrinya itu "Udah lupain. Yuk Abang gendong kekamar mandi" tawar Raka Yang langsung dapat gelengan dari Yuki.


"Gak usah bang, aku bisa sendiri kok kalau jalannya pelan-pelan" tolaknya dengan mengibaskan sebelah tangannya yang bebas.


"Yakin? Mana coba Abang liat" tantang Raka.


Merasa di tantang seperti itu Yuki berusaha berdiri lalu berjalan dengan menahan rasa perih yang masih dirasakannya.


Raka melihat saja dengan tangannya yang terlipat didada.


Tapi baru tiga langkah, Yuki sudah menoleh kembali kearah Raka dengan wajah cemberut, bibir yang menekuk kebawah.


"Sakit" rengeknya memelas mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutupi badannya.


Raka mendekat "tuh kan Abang bilang juga apa, pacar, gak dengerin sih" ucapnya, lalu mengetuk kening Yuki dengan jari manisnya.


"Abang gendong ya?" Tawarnya kembali.


"Gendong aja kan?" Tanya Yuki memastikan.


Raka menyerngit "emang ada selain digendong?".


Merasa malu, Yuki cepat-cepat mengalihkan tatapannya ke samping "kali aja gitu ada maksud terselubung" lirihnya yang masih bisa di dengar Raka.


Raka tertawa mengacak rambut Yuki "ada-ada aja sih Car, Abang gak ambil kesempatan dalam kesempitan kali" ucapnya masih tertawa, "Tapi sebenarnya gak masalah juga sih ya, kan sama istri ini" lanjutnya menggoda dan mendapat kan cubitan serta tatapan mematikan dari Yuki.


"Ampun-ampun, Allah sakitnya" ucap Raka meringis kesakitan karena cubitan Yuki di perutnya.


"Mau lagi?" Berang Yuki.


Raka menggeleng seperti anak kecil.


"Kalau mau biar aku kasih, energy aku full ni".


"Nggak, makasih" jawab Raka lalu mengangkat badan Yuki dan membawanya kekamar mandi, "jangan banyak gerak, ntar sarung Abang copot, Car" bisik Raka membuat Yuki memelototinya.


🐝🐝🐝🐝


"Abang gak tidur?" Tanya Yuki sudah lebih dulu naik keatas kasur untuk melanjuti tidurnya kembali.


Sesuai dengan ajakan Raka tadi, mereka berdua baru saja selesai menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah dengan Raka sebagai imam dan Yuki sebagai jamaahnya.


Raka berjalan mendekat dengan membawa notebook ditangannya dan memilih duduk nyender dan selonjoran disebelah Yuki.


"Abang cek kerjaan dulu ya car. Pacar kalau mau tidur, tidur aja. Ntar jam sepuluh Abang bangunin kita sarapan bareng. Ok?".


Yuki tak menjawab, ia merapatkan badannya kebadan Raka dengan membenamkan wajahnya ke belakang punggung dan tangannya berada di perut Raka begitu juga dengan kakinya yang ditelakkannya mengimpit kaki Raka.


"Bukannya Abang lagi cuti ya" ucap Yuki dengan suara yang terbenam oleh punggung Raka.


"Abang kan karyawan baru car, gak enak ninggalin kerjaan gitu aja. Lagian ini cuma cek gambar aja kok" jawab Raka yang masih fokus mengamati layar notebooknya.


"Bang?" Panggil Yuki masih dengan posisi awalnya.


"Iya car?" Jawabnya tanpa mengalihkan padangannya.


Tak mendengar jawaban dari Yuki kembali, Raka menutup notebooknya dan beralih menghadap Yuki serta mengusap punggung wanitanya itu.


"Kenapa hm?" Tanyanya.


Yuki menoleh dan menatap dalam kearah mata Raka yang membuat Raka menyerngitkan keningnya bingung.


Raka tertawa kaku "kok liat Abang gitu banget".


Yuki masih diam dengan saling tatap dengan Raka.


"Hey, kenapa?" Tanya Raka mulai kuwatir dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Yuki "Kenapa? Hmm" Ulangnya.


Yuki melepas tangan Raka yang berada dipipinya lalu memilih duduk menghadap sepenuhnya pada Raka.


"Abang" panggil Yuki manjanya.


"Iya Abang disini. Kenapa-kenapa? Cerita sama Abang coba" Tanya Raka mendekat dan meraihΒ  tangan Yuki lalu digenggamnya.


"Abang setuju gak kalau kita gak usah punya anak dulu?" Tanyanya ragu-ragu, yang membuat Raka langsung menyerngitkan kening.


Melihat respon Raka seperti itu membuat Yuki dengan cepat menjelaskan alasannya.


"Eh bukan-bukan aku gak mau punya anak dari Abang" ucapnya cepat mengibas-ngibaskan tangannya, "aku mau pakai banget malah, pasti ntar anak kita cantik atau ganteng, baik dan soleh atau soleha seperti papanya. Tapi aku sekarang mau focus di tugas akhir dulu bang, Abang kan tau semester akhir merepotkan" jelasnya dengan menunduk.

__ADS_1


Tangan Raka terangkat dan mendarat diatas kepala Yuki, lalu diusapnya pelan. Membuat Yuki mengangkat kepalanya menoleh ke Raka yang sedang tersenyum manis padanya.


"Kenapa senyum?" Tanya Yuki dengan bibir melengkung kebawah.


"Apapun keputusan pacar, Abang dukung. Pacar bilang iya, Abang nurut. Pacar bilang nggak, Abang juga nurut" jawab Raka dengan tenang mengelus tangan Yuki.


"Ingat, Abang nikahi pacar bukan buat menghambat cita-cita pacar. Abang nikahi pacar kerna Abang sayang sama pacar, Abang mau jadi support system pacar yang paling didepan, yang ada dua puluh empat jam buat pacar. Jadi kalau itu pilihan pacar, Abang nurut. Abang gk mungkin maksa, Karena yang ngerasain susah dan sakitnya pacar, Abang cuma hanya bisa bantu doa, jadi suami yang siap siaga yang mengurangi beban istrinya" lanjutnya yang membuat Yuki tertegun mendengarnya.


"Abang kenapa bisa semanis ini sih" lirih Yuki dengan mata berkaca-kaca.


Raka tertawa dan mencium tangan Yuki yang ada ditangannya lalu menarik tubuh istrinya itu mendekatΒ  memeluknya.


"Kita nikah untuk kerja sama, saling membantu. Abang rasa semua suami juga melakukan hal yang sama seperti Abang" jawab Raka mengelus punggung Yuki.


"Tapi papΓ  aku nggak" balasnya, Yang membuat Raka melepas pelukannya dan menatap Yuki.


"Gak boleh ngomong gitu, kita gak tau alasan apa dibalik itu" ucap Rak tegas yang dianggukin oleh Yuki.


"Sini peluk lagi biar tenang" lanjut Raka menarik kembali tubuh istrinya kedalam pelukannya lalu dihirup dalam aroma tubuh wanita itu.


"Bang, kita gak bakal ngelakuinnya lagi kan hari ini?" Tanya Yuki yang mulai waspada dengan perlakuan Raka kali ini.


Raka tertawa melepas pelukannya.


"Ya nggak lah car. Tidur gih" ucapnya mengelus bibir Yuki.


"Hayuuuk bareng" ajak Yuki membuat Raka tersenyum menggoda.


Yuki memutar bola matanya males.


"Tidur bang, bukan aneh-aneh" balas Yuki sewot menghempaskan tubuhnya kekasur memunggungi Raka.


"Iya-iya, orang cuma senyum aja juga" jawab Raka ikutan tidur dengan memeluk Yuki dari belakang.


"Senyum Abang itu senyum mesum".


"Dih, Abang baru tau ada senyum mesum".


"Ngaca coba Pak" balas Yuki yang masih belum mau mengalah.


Raka tertawa dan membenamkan wajahnya di leher Yuki.


Yuki langsung membalikkan badannya menghadap Raka membuat Raka terkejut dengan memundurkan badannya.


"Kaget Abang dek" ucap Raka mengelus dadanya.


"Udah tau geli masih juga suka cium-cium di leher" omel Yuki.


Raka yang tau akan kesalahannya tersenyum canggung dan menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Hehe maaf, habis wanginya enak sih" jawab Raka polosnya.


Yuki mendengus tak terima dengan jawaban suaminya itu.


"Udah marahnya? Sini-sini ngedusel sama Abang" ucap Raka mendekatkan kembali badannya ke Yuki lalu memeluknya.


"Maunya kayak gini kan? Pacar yang boleh nempel-nempel ke leher Abang, Abang gak boleh. Okay gak masalah".


"Hehe maaf" balas Yuki yang suaranya terbenam oleh tubuh Raka.


"Gak apa, Abang tetep seneng kok" ucapnya menarik tangan dan kaki Yuki agar melingkar di badannya.


Sekarang percis seperti Yuki lagi memeluk sebuah guling versi hidupnya.


🐝🐝🐝🐝


"Iya ma, assalammualaikum"


"Waalaikumsalam bang. Mau balik jam berapa sayang? Biar mama bisa masak dulu"


"Jam satu-an kayaknya ma. Mama gak usah repot-repot ntar kecapean, kasian adek bayinya".


Diseberang sana Nana tertawa dengan lembutnya.


"Gak repot kok bang, mama mau kasih sambutan buat menantu mama".


"Yaudah terserah mama, tapi inget ma jangan kecapean. Minta tolong sama bibi kalau mama butuh bantuan ya" pesan Raka mengkwahtirkan mamanya.


Raka kembali mendengar tawa dari mamanya diseberang sana.


Raka menoleh pada Yuki yang sedang mengemasi barang-barang kedalam koper. Lalu tersenyum sebelum menjawab kalimat mamanya kembali.


"Istri Abang gak cemburu buta ma sama mertuanya, tapi sama cewek lain iya" Jawab Raka tertawa yang diikuti oleh Nana diseberang sana.


Raka ingat dulu sebelum mereka menikah, istrinya itu pernah diam-diaman karena cemburu sama Raka yang gocengan motor sama cewek lain yang tak lain tak bukan itu adalah temen sekelasnya Raka.


Nana sendiri tau kejadian itu, karena ada ia dan juga Hadi papanya Raka disana waktu kejadian itu.


"Yaudah mama tutup ya telfon nya. Eh bang".


"Iya ma, Kenapa?"


"Abang gak lupakan ajak Yuki kesana? Udah saatnya Yuki tau sayang".


Raka tersenyum walau mamanya itu gak ngelihat.


"Iya ma. Sebelum pulang ntar mampir kesana dulu".


"Yaudah, hati-hati ya bang. Jagain mantu mama. Mama tunggu dirumah, Assalammualaikum"


"Siap boss. waalaikumsalam" balasnya menutup sambungan dan telfon berjalan kearah Yuki.


"Udah beres car?".


"Udah kok bang, udah semua. Ini yang terakhir" jawabnya mengunci koper yang dipegangnya.


Raka menyentuh kepala istrinya "Maaf ya Abang gak bantuin, mama nelfon soalnya".


"Iya gak masalah, dikit ini kok. Yuk bang turun, laper. Terus pengen balik cepet-cepet, kangen mama, papa, adek sama debaynya juga" ucapnya cengengesan seperti anak kecil.


"Baru juga sehari gak jumpa ini" celetuk Raka mengelus pucuk kepala Yuki.


"Biarin" balas Yuki memeletkan lidahnya membuat Raka menggeram seperti ingin menggigit.


"Yaudah ayo" ucap Raka menarik koper, sementara tangan sebelahnya lagi menggenggam tangan Yuki.


🐝🐝🐝🐝


"Bentar ya car, Abang mau beli bunga dulu" ucap Raka menghentikan mobilnya di depan toko bunga yang tak jauh dari tempat tujuannya.


Yuki hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Gak lama kok" sambung Raka mengusap kepala Yuki, lalu turun dari mobil.


Yuki yang melihat Raka dari dalam mobil menyerngitkan keningnya melihat suaminya itu membeli se-bouquet bunga mawar merah.


"Buat siapa bang?" Tanya Yuki yang dari tadi sudah penasaran.


Raka tersenyum begitu lembutnya.


"Jangan cemburu ya?" Yang dianggukin oleh Yuki, "ini" ucapnya mengangkat bunga itu "buat cinta pertama Abang" lanjutnya masih dengan tersenyum hingga telinganya merah merona.


Yuki yang sudah janji gak cemburu, hanya membalas ucapan Raka dengan anggukan kepala dan juga senyum yang terpaksa.


Bukan cemburu, hanya saja ada bagian tubuhnya yang merasa nyeri saat mendengar cinta pertama dari bibir suaminya itu.


Selama perjalanan Yuki tak banyak bicara ia lebih memilih memperhatikan jalanan yang menurutnya kali ini lebih menarik dari pada suaminya yang sedang menyetir.


Raka sendiri sadar kalau istrinya itu dalam keadaan mood yang gak baik semenjak ia membeli bunga tadi.


Tapi Raka gak ambil pusing, nantik istrinya juga tau maksud dari ucapannya tadi.


"Bang, kita ngapain kesini? Katanya mau balik. Abang gak lupa sama alamat rumah sendirikan?" Tanya Yuki panik.


Mobil yang Raka kemudikan berhenti di salah satu pemakaman umum.


Raka tak menjawab ia lebih memilih melepaskan seatbelt yang melingkar dipinggang istrinya itu.


"Bang, jangan horror deh. Kita ngapain kesini?" Ulang Yuki kembali.


"Nanti juga tau car. Ayo turun" ajak Raka turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Yuki.


Dengan berpegangan tangan sama Raka, Yuki nurut saja dibawa oleh Raka memasuki pemakaman tersebut hingga mereka berhenti di salah satu nisan yang masih dipenuhi bunga-bunga segar.

__ADS_1


"Bang, siapa? kok wafatnya sama dengan lahir abang?" Tanya Yuki menoleh pada Raka yang sudah berjongkok disamping batu nisan tersebut.


Raka tak menjawab, ia menarik tangan Yuki agar mendekat dan berjongkok disampingnya juga, lalu ia meletakkan se-bouquet bunga yang dibawanya tadi di atas batu nisan itu.


"Ma, kenalin ini istri Raka, Yuki" ucapnya tersenyum membuat Yuki langsung menoleh dengan kening berkerut.


"Ma?" Beo Yuki.


"Car, kenal kan ini cinta pertama abang. Mama kandung Abang" lanjut Raka memperkenalkan siapa wanita itu.


"Ha?" Shock Yuki masih menatap Raka yang sudah mengalihkan tatapannya ke batu nisan tersebut kembali.


Raka tersenyum tapi tanpa menoleh kearah Yuki.


"Ini mama Abang yang ngelahirin Abang. Tapi tuhan ternyata lebih sayang sama mama, jadi mama diambil bersamaan dengan lahirnya Abang" jelas Raka dengan suara bergetar.


Yuki masih tampak shock, tapi ia berusaha untuk terlihat tenang, setidaknya agar bisa menenangkan Raka.


Yuki menyentuh bahu Raka agar menenangkan suaminya itu. Yuki tau, suami sekarang ini sedang tidak baik-baik saja perasaannya.


Raka menoleh dengan mata yang memerah menahan tangis "Maaf baru bisa ajak pacar sekarang. Bukan karena pacar gak penting, cuma Abang gak pengen pacar liat Abang lagi jelek kayak gini terus ninggalin Abang" ucap Raka yang masih bisa menggoda Yuki.


Yuki memukul bahu Raka "sekarang aku udah liat Abang lagi jelek, berarti aku bisa dong ninggalin Abang?" Tanya Yuki.


Raka menggeleng "tidak semudah itu" jawab Raka memamerkan cincin yang melingkar ditangannya dan juga senyum manisnya.


Yuki tertawa menutup mulutnya, ia tau tempat mereka saat ini bukan yang pas untuk tertawa keras.


Yuki meraih tangan Raka lalu digenggamnya.


"Ma, anak mama ngeselin ya. Tapi Yuki sayang banget" ucapnya dengan tulus membuat Raka tertawa mengelus punggung tangan Yuki dengan ibu jarinya.


"Terima kasih udah ngelahirin anak seluar biasa Abang untuk jadi suami Yuki" lanjut Yuki.


Raka mengecup punggung tangan istrinya itu lalu beralih kembali ke nisan mamanya dan menyentuh kepala nisan itu.


"Ma, love you" lirihnya meneteskan air mata.


Seberapa kalipun ia ke tempat mamanya ini, entah Kenapa air matanya tak pernah bisa gak turun. Setidaknya untuk saat ini dimana ia membawa istrinya. Tapi tetap saja air mata itu selalu turun.


Raka selalu ingat gimana kesepiannya ia waktu masa kecilnya, gimana pengennya ia merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi semenjak mamanya yang sekarang hadir dihidupnya dan papanya, dia tak pernah merasakan lagi yang namanya kesepian dan ia tau bagaimana rasanya punya ibu.


Jadi baginya rasa tangis yang beberapa tahun belakangan ini yang selalu datang saat ia berziarah ke makam mamanya merupakan tangis bahagia, karena ia bisa akhirnya bisa merasakan bahagia memiliki keluarga yang lengkap.


Raka menyeka pipinya yang basah lalu berdiri dari jongkoknya begitupun dengan Yuki yang mengikutinya.


"Udah?" Tanya Yuki yang dianggukin oleh Raka.


"Yuk" ajak Raka menarik tangan istrinya itu.


🐝🐝🐝🐝


Disepanjang perjalanan menuju kerumah, Yuki tak sekalipun bertanya perihal tadi kepada Raka.


Penasaran? Tentu, tapi ia masih tau diri untuk kapan bertanya dan kapan diam. Jadi untuk saat ini, ia lebih memilih diam dengan rasa penasarannya tadi.


"Ih kok ada mobil Gio sih, ah rese pasti ntar ni" omel Yuki melihat mobil Gio yang sudah parkir begitu rapinya didepan rumah Raka.


Raka memutar badannya menghadap Yuki dan tersenyum dengan kening berkerut melihat tampang badmood istrinya itu.


"Kenapa kalau ada Gio hm?" Tanyanya meraih tangan Yuki.


Kalau gak elus kepala, genggam tangan. Pengen banget sih skinship mulu bang. Jadi pengen huhu.


"Ya kan Abang tau Gio gimana, ntar pasti kepo-kepo, ih kesel, sebel" jawabnya manja seperti anak kecil mengerucutkan bibirnya.


"Lawan dong, bukannya pacar biasanya ngelawankan? Kok sekarang lemah gini?" Tantang Raka membuat Yuki langsung menoleh.


"Liat" ucap Yuki meraih pipi Raka "wajah atau leher aku ada yang aneh gak?" Tanyanya.


Raka menaikkan alisnya "aneh gimana?" Tanyanya bingung.


Yuki melepas tangannya dari pipi lalu memutar matanya males, ia tau kalau suaminya ini pura-pura gak tau yang aslinya padahal tau banget maksud ucapannya tadi.


"Minta di cubit ya?" Tanya Yuki dengan wajah datarnya.


Raka tertawa hingga matanya menghilang entah kemana.


"Nggak kok, tenang aja. Abang main aman. Jadi gak ada jejak yang tertinggal kecuali didalemnya" jawab Raka santai dengan kedipan mata membuat Yuki mencibir.


"Awas ya ntar ada cela buat Gio masuk terus kepo-kepo" ancam Yuki.


"Iya pacar iya. Udah briefing-nya?".


"Ih Abang" rengek Yuki menyentuh perut Raka hendak mencubit tapi keburu ditangkap oleh Raka "eh" ucapnya kaget.


"Mau cubit?" Tanya Raka santai yang dianggukin Yuki dengan polosnya.


"Mending cium aja biar gak sakit" timpal Raka, dengan cepat langsung mencium bibir Yuki.


Sebelum Yuki sadar Raka sudah lebih dulu masuk kedalam rumah meninggalkan Yuki sendiri didalam mobil.


"Abaaaang!!!" Teriak Yuki, membuat Raka yang mendengar didalam rumah tertawa ngakak.


"Woi! Assalammualaikum kek, ini malah cengengesan. Kenapa lo?" Tanya Gio yang sudah duduk santai di depan TV seperti rumah sendiri.


"Kepo" jawab Raka ikutan duduk disamping Gio, "ngapain lo sini? Bukannya masih jam kantor ya?" Tanyanya.


Gio tak mengalihkan pandangannya dari TV.


"Sorry dude, kantor punya bokap gue. So, gue bebas dong mau balik kapan aja semau gue" jawab Gio santai dengan tampang ngeselinnya Yang membuat Raka memeletkan lidahnya ingin muntah.


Dan seperkian detik kain lap melayang kekepala Gio dari samping.


Tentu hal itu membuat Gio kaget dan spontan membalikkan badannya ke samping. Dan disana berdiri dua orang lelaki ganteng. Siapa lagi kalau bukan Noval dan Arka.


"Kita sibuk kerja dibelakang, lo enak-enakan santai disini" omel Noval yang setujui oleh Arka disamping Noval.


Raka yang tak mengerti hanya diam menyimak percakapan teman-temannya itu.


"Istirahat bentar kali Val, cape gue habis survey lapangan tau gak" balas Gio dengan memelaskan wajahnya agar dikasihani.


"Jangan percaya Masval, adek hitung udah Satu jam Kayo duduk disana" bisik Arka mengompori Noval.


"Masih mau Bilang bentar lo?" Tanya Noval dengan santai, tapi aura yang dikeluarkan cukup mampu membuat Gio nurut dan berdiri dari duduknya.


"Lo si Ka, ganggu gue ah" ucapnya melempar Raka dengan bantal kursi yang ada didekatnya.


"Hebat ya lo lempar-lempar laki gue" omel Yuki yang baru datang.


"******" bisik Noval dan Arka berbarengan.


"Raka duluan Ki, Tanya tu sama Noval dan Arka" bela Gio.


"Lah kok gue? Gue baru datang, baru juga duduk" bela Raka tak mau kalah juga.


"BUNDAAAAA, RAKA SAMA YUKI NI DATANG-DATANG GANGGUIN GIOOOOO" teriaknya mengadu membuat Noval dan Arka mencibir.


Berbeda dengan Raka yang Yuki yang mengumpat pelan.


"Kenapa?" Tanya Nana yang datang dengan berjalan susah payah membawa perut gedenya.


"Tu liat, Raka sana Yuki tu bun" adunya lagi mendekat ke Nana.


"Abang gak ngapa-ngapain ma, suer" ucap Raka membela diri.


"Kaki juga gak ngapa-ngapain ma, baru dateng eh itu Gio nimpuk Abang pakai bantal kursi, ya Kaki marah dong. Eh malah ngadu-ngadu" jelas Yuki memelototi Gio yang memeletkan lidah padanya.


Nana menggeleng kepala melihat kelakuan anak-anaknya Yang udah dewasa tapi masih kelakuannya seperti anak kecil, ribut terus.


"Mama percaya kok sama Gio" ucap Nana santai membuat Gio menyunggingkan senyumnya karena merasa dibela.


"Percaya kalau gio yang ganggu duluan" lanjut Nana santai membuat senyum Gio tadi yang mengembang hilang begitu saja.


Berbeda dengan orang yang ada diruangan itu tertawa ngakak melihat Gio.


Gio mendengus membungkukkan badannya mendekat ke perut Nana.


"Pokoknya kalau debay lahir, harus ada di Tim Kayo. Oke?" Ucapnya mengelus perut Nana.


Membuat Nana tertawa dan mengacak rambut Gio.


"Adek sekarang udah berkhianat gak di tim Kayo lagi" lanjutnya melirik Arka dengan tampang sok kecewa.

__ADS_1


"Gak usah tampilin muka jelek lo Gi. Bosen gue liatnya" sindir Noval, kembali membuat orang diruangan itu tertawa ngakak, apa lagi Arka yang paling keras menertawai Gio yang selalu jadi Ma Bro nya.


**Next**🐝


__ADS_2