KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
31. Permintaan


__ADS_3

"Bang, ngapain?" Tanyanya yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Raka yang tengah sibuk di dapur menoleh sebentar untuk melihat istrinya itu, "lagi bikinin sarapan, car. Duduk, gih. Bentar lagi masak ni" ucapnya kembali dengan penggorenggannya.


Pagi ini Raka sengaja bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan buat dirinya dan juga istrinya. Rencana awalnya ingin membuat omelette, tapi apa daya dia tidak sejago itu dalam hal memasak, akhirnya memilih untuk memasak menu yang lebih simple, yaitu nasi goreng. Makanan sejuta umat.


"Kok abang yang masak, sih? Sini tukeran sama aku, abang yang duduk biar aku yang masak" protesnya merebut spatula yang ada ditangan suaminya itu.


Raka merebut kembali spatula dari tangan Yuki, dengan mengacungkan jari telunjuknya lalu di gerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan menggelengkan kepalanya pelan, "biar abang aja, pacar duduk yang tenang dan cantik, ya" timpalnya mematikan kompor lalu menuntun wanita itu berjalan ke meja makan.


"Tapi, bang—"


"Enggak ada tapi-tapian. Pacarkan lagi hamil jadi harus banyak istirahat. Biar urusan rumah abang yang beresin" timpalnya kembali.


Yuki merengutkan wajahnya menatap suaminya itu, "aku lagi hamil, bang, bukan lagi sakit. Aku masih bisalah ngurusin keperluan abang sama beresin rumah gini. Lagian perut aku juga belum gede-gede banget. Masih bisalah buat gerak dengan bebas" jelasnya panjang lebar.


Raka menganguk paham dengan apa yang dibilang istrinya itu, tapi bagaimanapun istrinya  meyakinkan kalau dia kuat, tetap saja Raka tidak tega melihatnya harus bekerja mengurus rumah dengan membawa kemana-mana perutnya yang mulai membesar itu.


Dielusnya dengan penuh sayang pipi istrinya, "dengerin abang, ya, bisa?" Tanyanya lembut.


Yuki menarik nafasnya dalam, kalau sudah bicara lembut gitu bagaimana bisa dia membantah lagi, "tapi abang bisa telat, loh. Lihat itu sudah jam berapa" ucapnya melirik ke arah jam yang menempel di dinding dapurnya.


Raka mengangkat bahu santai, "enggak masalah, abang tadi sudah minta izin sama Papa buat datang telat. Terus Papa ngebolehin, lagian Papa hari ini juga bakal datang telat, Zeka lagi rewel" jelasnya kembali dengan tenangnya.


Mendengar ucapan suaminya itu membuat Yuki memutar matanya malas dengan tangan yang sudah terlipat di dada, "Kalau Papa telat sih wajar ya, Bang, bossnya. Lah, abang? Bawahan Papa" timpal Yuki.


Bukannya tersinggung mendengar perkataan istrinya itu, Raka malah tertawa pelan menarik hidung bangir Yuki, "pacar lupa kalau abang anaknya boss?"


"Gini ni yang di sebut KKN, Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Enggak professional" ucapnya sinis.


"Dih, siapa yang KKN?" Protes Raka, "abang izin gini juga kenak potong gaji ya, car. Sembarangan bilang KKN. Abang marah ni, abang tersinggung" omelnya lalu buang muka.


"Bang?" Panggil Yuki mencolek-colek tangan Raka. Raka hanya menjawab dengan deheman, sementara dia masih enggak menoleh ke arah istrinya.


"Beneran marah, ya?" Tanya Yuki kembali dengan hati-hati.


"Iyalah, emang ada marah yang pura-pura" juteknya.


"Maaf" lirih Yuki cemberut.


"Ada syaratnya, tapi" balas Raka melirik sekilas.


"Apa?" Tanya Yuki dengan antusiasnya seperti kebagian hadiah.


"Cium dulu" timpal Raka menunjuk-nunjuk bibirnya dengan telunjuknya.


Mengetahui kalau suaminya itu modus, membuat Yuki mencibir dengan tatapan datarnya yang tanpa ekspresi.


"Modus banget, sih."


"Enggak mau, ni? Yaudah, enggak masalah" ucap Raka enteng yang hendak melangkah menjahui Yuki, belum sempat melangkahkan kakinya, Yuki segera menarik tangan Raka dan di tariknya kebawah hingga posisi mereka sekarang sama tinggi.


Chu\~


Cium Yuki tidak berapa lama, hanya menempelkan bibirnya saja lalu di tariknya segera.


Hanya merasakan kecupan singkat seperti itu sudah membuat Raka merasa bahagia.


"Morning kiss" timpalnya mengacak penuh sayang pucuk kepala Yuki, "terima kasih, sayang pacar banyak-banyak" sambungnya dan mendaratkan kembali kecupan singkat di bibir Yuki, sebelum dia benar-benar kembali lagi ke dapur dengan kompor yang sempat dimatikannya tadi.


"Enggak sayang abang banyak-banyak" sahut Yuki, Raka yang sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Yuki.


"Jadi?" Tanyanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Sayang abang sikit aja, tapi full" jawabnya malu-malu dengan menutup mulutnya, melihat itu membuat Raka mengulum senyumnya.


"Imut" batinnya.


🐝🐝🐝🐝


Siang ini, dengan perut yang sedikit lebih besar, Yuki mendatangi kantor Papa mertuanya, dengan membawa banyak tentengan di tangan. Sebelumnya dia sudah janjian sama suaminya, Raka, kalau dia akan datang membawa makanan untuk makan siang bersama.


Tetapi, sesampainya di gedung pencakar langit sersebut, Yuki bukannya langsung pergi ke ruangan Raka, dia malah sengaja melewati satu lantai. Setelah sampai di lantai atas tersebut, tanpa mengetuk dan izin terlebih dahulu dia langsung masuk ke salah satu ruangan yang terletak paling ujung dan bersebelahan dengan balkon, yang dindinnya terbuat dari kaca transparan.


"Gio" panggilnya pada pemilik ruangan tersebut.


Gio yang tengah fokus dengan gambarnya lalu menoleh ke arah sumber suara, dengan kening berkerut di tatapnya wanita berperut besar tersebut.


"Ngapain, lo?" Tanyanya.


Yuki nyengir mengangkat tentengan yang ada di tangannya, "gue bawa makanan ni buat lo" jawabnya.


Mendengar hal itu membuat kening Gio makin berkerut dia kali lipat, "makanan?" Tanyanya berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati wanita itu, "lo, sakit?" Tanyanya lagi dengan menempelkan punggung tangannya kekening Yuki, "enggak panas, kok" timpalnya.


"Apa sih, siapa juga yang sakit" sewot Yuki menepis tangan tersebut, "gue lagi baik ni" sahutnya.


Gio mencibir dengan tangan terlipat di dada menatap wanita itu, "baik? Wah ada keajaiban Dunia ni lo bisa baik sama gue, Ki" balasnya lagi.


"Ck ah, Gi. Kok lo gitu sih sama gue" rengeknya, "gue sudah masakin makanan loh buat, lo" sambungnya menyerahkan tentengan yang ada di tangannya pada Gio.


Gio tidak langsung menerima tentengan itu, di liriknya Yuki dan kotak nasi itu secara bergantian dengan tatapan waspadanya.


"Lo masukin sesuatukan, Ki, di dalamnya? Biar gue mati" tebak Gio seperti menuduh.


Yuki berdecak "kalau gue mau lo mati, kenapa enggak dari dulu gue kerjain. Memang benar yang dibilang kak Noval, lo kebanyakan nonton sinetron, hidup lo jadi drama gini isinya" timpal Yuki dengan sinisnya.


"Kan kali aja sih, lo kan suka kesel tu sama gue. Lagian waspada enggak masalah dong" balas Gio masih enggan menerima makanan dari Yuki.


"Ya, tapi enggak gini juga, kali. Niat baik gue jadi di curigain gitu" keselnya.


"Oke-oke gue terima" ucap Gio yang akhirnya menerima juga kotak nasi tersebut, walau sedikit merasa terpaksa. Melihat itu membuat Yuki tersenyum senang.


"Tapi benarkan ini enggak ada bumbu tambahan kayak sianida atau apa gitu" ucapnya lagi yang masih belum tenang. Pasalnya tumben sekali wanita itu berbuat baik padanya, jadi mengundang kecurigaan yang tidak-tidak dari Gio. Apa lagi zaman sekarang begitu berbahaya, teman sendiri bisa jadi lawan, pikirnya.


"Ya enggaklah, buru dimakan" timpal Yuki masih berusaha sabar menghadapi pemuda itu.


Gio melirik kotak nasi yang ada ditangannya lalu beralih kembali ke Yuki, "Ki, beneran ini aman?" Tanyanya dengan raut wajah memelas, "gue belum nikah loh, Ki. Lo enggak kasihan memang lihat gue, kalau matinya ntar jadi pejaka ting-ting."


Yuki mendengus kasar, kesabarannya sudah di ambang pintu, "benerlah, makanya cobain biar lo tau itu gue kasih racun atau enggak" omelnya, "Lagian gue enggak percaya sama sekali kalau lo masih ting-ting" sinisnya melirik Gio dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Oh hebat ya, lo jadiin gue sebagai kelinci percobaan" omel Gio menjitak kepala Yuki, "yaudah sih kalau enggak percaya, lagian toh mau perjaka atau enggak, enggak ada bekasnya juga, kan" ucapnya dengan tersenyum mengejek.


Yuki melangkah mendekat, "Jadi Beneran lo udah enggak ting-ting lagi, Gi?" Tanyanya yang tampak begitu penasaran hingga dia lupa dengan tujuan awalnya.


Mendengar pertanyaan seperti itu reflek membuat Gio menjitak kembali kepala Yuki.


"Sakit, Gi" teriaknya kesakitan.


"Lagian pertanyaan lo ya, Ki. Memang tampang gue kayak cowok mesum, apa?" Tanyanya yang langsung dianggukin cepat oleh Yuki, "bangke, malah di jawab iya lagi" omelnya, "gue enggak sekurang ajar itu mainnya, Ki. Masih taulah gue, gimana cara ngehargai cewek" Lanjutnya kembali yang sedikit membuat Yuki tercengang. Catat, hanya sedikit. Jangan banyak-banyak, ntar hidung Gio makin ngembang. Sekarang aja sudah ngembang begitu.


"Jadi masih ting-ting?" Tanya Yuki memastikan.


Gio tersenyum, menurut Yuki itu senyum yang aneh, "cukup gue dan Tuhan yang tau" jawabnya dengan tertawa terbahak-bahak membuat tanda tanya yang besar bagi Yuki.


"Udah ah, buruan itu dimakan. Entar keburu dingin, enggak enak" sahut Yuki kembali dengan tujuan awalnya.


"Masih aja ingat" sahut Gio tak bersemangat.


"Ki, gue beneran nanya ini untuk yang terakhir kalinya. Ini beneran amankan? Enggak ada racun, kan?"


"Allah, Gi. Dari tadi gue udah bilang aman juga,  lagian enggak mungkinlah gue masukin racun, rugilah gue."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ya, kalau gue masukin racun terus lo mati. Eh, salah meninggal. Terus kalau lo menginggal yang jadi pelampiasan gue kalau gue lagi bad mood atau lagi kesal, siapa? Rugi gue, kan" jelasnya yangm membuat Gio tercengang mendengarnya.


"Gue kira lo bakal bilang, rugi karena entar hidup lo sepi. Eh taunya gitu. Kambing sekali anda" timpalnya membuat Yuki tertawa hingga memegang perutnya.


"Bodo" balas wanita itu dengan tertawa, "udah ah, perut gue" ucapnya menyudahi keributan itu, "Beneran itu aman. Lagian gue buatin buat lo itu juga karena anak gue yang minta" Lanjutnya mengelus perutnya.


Mendengar itu membuat Gio langsung mengarahkan pandangannya  ke arah perut Yuki, " lo ngidam?" Tanyanya yang terdengar tidak percaya.


Yuki mengangguk malas, "iya" jawabnya.


"Jadi ini yang bikin lo masak buat gue, karena ponakan gue yang minta?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar.


Yuki mengangguk, "Iya, makanya lo makan. Jangan mikir yang enggak-enggak, ntar anak gue ileran, lagi" balasnya.


Gio mengangguk membenarkan ucapan terakhir Yuki, "Bener sih, orang hamil kalau ngidam harus di turutin kalau enggak ntar anaknya bakal ileran, katanya sih gitu. Gue juga enggak tau, belum pernah ngalamin langsung, soalnya" ucapnya yang.


"Yaudah, gue makan ni. Terima kasih ya, ponakan, om" timpalnya mengelus pelan perut Yuki lalu berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya dengan membawa kotak nasi tersebut yang disusul oleh Yuki di belakangnya.


"Banyak banget lo bawa kotak nasinya, buat Raka sama Noval sekalian, ya?" Tanyanya.


"Iya, gue tadi juga sudah janji, terus juga sudah bilang kalau makannya di ruangan, lo. Tapi mereka kok lama, ya. Chat gue juga belum di balas sama Raka" jawabnya memilih duduk di samping Gio.


"Ada meeting mereka berdua, sudah lama, sih. Paling bentar lagi juga kelar, tungguin aja" timpal Gio yang kini sudah melahap makanannya.


"Hm, Gi?" Panggil Yuki, pemuda itu menoleh dengan menaikkan dagunya seperti bertanya 'apa'.


"Lo tadi bilang kalau Ibu hamil lagi ngidam harus diturutikan?" Tanyanya dengan mengulang kalimat Gio sebelumnya.


Gio mengangguk karena dimulutnya sedang berisi makanan.


"Gue lagi ngidam ni" ucap Yuki.


Gio kembali menoleh dengan keningnya yang berkerut, "ini bukannya lo lagi ngidam?" Tanya Gio menunjuk makanannya.


"Ya, memang. Tapi masih ada satu lagi permintaan gue" ucapnya pelan dengan menunduk, tentu hal itu membuat Gio menatapnya dengan curiga.


"Sumpah perasaan gue enggak enak" balasnya menyudahi makannya yang masih tersisa banyak. Tidak berselera lagi.


Yuki nyengir dengan menunjukkan gigi rapinya.


"Kenapa lo senyum-senyum? Lo lagi ngerencanai sesuatukan untuk gue?" Tanyanya yang kini mulai merasa curiga terhadap wanita yang ada di sampingnya itu.


"Apa sih, Gi, gitu banget" rengek Yuki menyikut tangan Gio.


"Bodo" kesel Gio buang muka.


"Gi, kan lo bilang sendiri tadi kalau ngidamnya Ibu hamil harus di turutin."


Gio menoleh kembali dengan tatapan kesalnya, "tapi ngelihat lo senyum-senyum kayak tadi buat perasaan gue enggak enak. Lo mau minta apa sama gue?" Tanya Gio.


Belum sempat Yuki menjawab pertanyaan pemuda itu, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan manampilkan dua sosok pemuda yang berpenampilan tidak jauh dari Gio.


"Car, udah ngomong sama Gionya?" Tanya salah satu dari pemuda tersebut, yaitu Raka, yang sedang jalan mendekat ke arah mereka dengan diikuti oleh Noval di belakangnya.


Yuki menoleh lalu menggeleng dengan wajah cemberutnya, "belum bang, abang keburu datang" jawabnya.


Gio yang mendengar percakapan itu lalu menoleh secara bergantian ke arah sepasang suami istri tersebut dengan tatapan curiganya, "ngomong apa, Ka?" Tanyanya.


"Itu, istri gue ngidam" jawabnya cuek yang sekarang sudah duduk di sebelah Yuki.


"Perlengkapannya udah dibawakan, Ki?" Potong Noval.


"Sudah kok, Kak. Sudah ditas semua" jawabnya menunjuk tas yang di pangkuannya.


"Ini apa sih? Lagi ngomongin apa?" Tanya Gio yang sudah penasaran dari tadi dan melirik secara bergantian ke arah dua pemuda itu, baik Raka ataupun Noval.


"Ya terus?" Lanjut Gio.


"Makanya kita di sini" jawab Noval ikut menimpali.


"Ngapain?" Gio yang tampak belum mengerti dengan keadaan.


"Masih nanya ngapain. Ya, mau lihat lo, lah" jawab Noval yang di anggukin oleh Raka.


"Allah, gue nggak paham. Sumpah" ucap Gio.


"Gini, Gi" ucap Raka pelan dengan menghadap ke arah Gio, "istri gue kan lagi ngidam, tapi itu ada sangkutannya sama, lo" jelas Raka membuat kening gio mengerut.


"Apa?" Tanya Gio cepat.


"Yuki ngidam buat make-upin lo kayak cewek" sambung Raka dengan melebarkan senyumnya.


Mendengar ucapan Raka itu membuat mata Gio membelalak seperti mau keluar.


"Lo gila, Ki?" Tanya Gio menaikkan sedikit masa suaranya, Yuki menggeleng lemah dengan mengusap perutnya dengan tampang memelas. Berharap pemuda itu kasihan sama dia.


"Enggak usah pasang muka memelas kayak gitu depan gue, enggak mempan" Lanjutnya buang muka, enggan melihat wajah yang akan membuat hatinya luluh, apa lagi di dalam perut itu ada calon ponakannya.


"Kok gitu sih, Gi. Lo enggak kasihan apa sama calon ponakan lo ini. Ntar kalau ileran gimana? Lo mau?" Tanyanya.


"Ya enggak, lah" jawab Gio cepat, membalas tatapan wanita itu.


"Makanya turutin maunya Yuki, Gi" sahut Noval yang membuat Gio menatapnya tak senang.


"Mikinyi tiritin miinyi Yiki, Gi" ejek Gio meniru ucapan Noval.


"Dih" balas Noval sinis.


"Ki, kenapa harus gue, sih? Kenapa enggak Noval aja tu? Jahat banget lo sama gue" protesnya dengan merengek seperti anak kecil yang enggak kebajian hadiah.


"Ya mana gue tau. Tiba-tiba aja anak gue maunya sama lo" jawab Yuki, "lagian Kak Noval putih, enggak ada tantangannya kalau di make-up. Kalau lo kan hitam tu, jadi tantangan  banget untuk di dandan" sambungnya.


"Halus banget ya, sindirannya. Untung mental, kalau enggak bisa masuk ke hati" balas Gio pura-pura ngambek yang tidak dipeduliin oleh  Yuki sama sekali.


Mendengar itu membuat Noval tertawa Tapi tak mengomentarinya, "Positive thinking aja, Gi. Kali aja baby-nya suka sama lo" sahut Noval berusah membuat Gio tampak senang, tapi sia-sia. Gio malah menatapnya dengan sinis, alhasil melihat itu membuat Noval mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kalau suka, enggak mungkin baby-nya tega gituin gue" sinisnya.


Raka tersenyum melihat keributan itu, saat pertama kali dia tahu kalau istrinya ngidam untuk masakin Gio makan siang, dia tidak terlalu shock. Tapi ketika dia mendengar kalimat selanjutnya dia hampir saja menjatuhkan piring yang ada ditangannya saat itu.


Pasalnya siapa di dunia ini lelaki sejati yang mau bermain dengan namanya alat make-up. Tentu hal itu bakal langsung di tolak oleh temannya itu, bahkan bukan hanya Gio, dia sendiri saja kalau disuruh seperti itu mungkin juga bakal menolak dengan tegas. Karena hal itu menyangkut harga diri sebagai lelaki.


Tapi untuk permasalahan kali ini, beda. Yuki ngidam, dan terlepas dari fakta atau mitos Ibu hamil kalau ngidam harus dituruti, dan kalau tidak ditrurutin nantinya anaknya bakal ileran terus. Tentu hal itu membuat Raka khawatir, dan mau tidak mau dia harus berusaha membujuk temannya itu mau menerima permintaan Yuki.


"Gi, minta tolong kenapa, sekali ini aja, permintaan dari ponakan lo langsung. Lo mau nantinya dicap sebagai om yang enggak sayang sama ponakan?"


"Enggaklah, gila lo. Ponakan pertama gue ni" balas Gio cepat, membuat Raka tersenyum samar, sedikit lagi, pikirnya.


"Nah, kan. Lagian katanya, lo mau jodohin anak lo sama anak gue, ntar" sambung Raka yang dianggukin Gio cepat.


"Oke, gue turutin. Tapi janji ya, entar kalau anak lo udah gede, jodohin sama anak gue" ucap Gio bersemangat.


"Iya" jawab Raka.


Gio menoleh ke Yuki, "janji, Ki?" Tanyanya pada wanita itu.


"Iya, janji" balas Yuki malas.


"Awas lo bohong"

__ADS_1


Yuki berdecak, "enggak bakal, kapan gue bohong sih, Gi."


"Apaan, lo tu orang yang paling bisa bulak-balikan fakta" ucap Gio mentoyor kening Yuki.


"Abang, Gio ni toyor-toyor" adu Yuki.


"Biar aja, biar dia senang" balas Raka mengusap kepala Yuki.


"Najis ****" timpal Gio melirik sinis sepasang suami istri itu.


Mendengar percakapan bodoh itu membuat Noval geleng kepala, "anak belum lahir juga" gumamnya pelan.


"Yaudah, gue mau. Tapi ingat, jangan menor-menor kayak biduan dangdut" timpalnya memperingati.


"Mulut, Gi" tegur Raka, "profesi seseorang enggak boleh dihujat" Lanjutnya membuat Gio cemberut.


"Sorry" lirihnya pelan merasa bersalah.


🐝🐝🐝🐝🐝


Setelah acara makan siang bersama itu selesai. Raka dan Noval bukannya kembali bekerja keruangan mereka masing-masing, mereka malah ngumpul di ruang kerja Gio untuk melihat cowok itu di dandan menjadi wanita. Dan tak butuh waktu lama untuk Yuki medandani pemuda itu, hanya bermodalkan insting yang dia punya, sekarang wajah Gio sudah disulap menjadi wajah laki-laki setengah perempuan, mungkin. Yuki sendiri tidak yakin hasil yang dibuatnya itu adalah perempuan.


"Sudah belum? Gue mau lihat ni" ucap Gio yang masih belum diizinkan melihat kaca oleh Yuki.


"Bentar, sedikit lagi, Gi. Ini blush on-nya belum kelar" balasnya.


Raka dan Noval yang dari awal sudah berada di sana untuk menyaksikan kejadian itu sudah menahan-nahan tawa mereka yang ingin pecah.


Gimana tidak, Yuki bukan cewek yang suka memakai make-up, tentu hal semacam ini bukan keahliannya. Dan di situlah masalahnya, sekarang tampang Gio sudah tidak karuan, hancur.


"Lama banget, gue udah mati penasaran ni" omel Gio.


"Iya-iya ini udah kelar" sahut Yuki setelah selesai memasang blush on dan mengolesin lipstick berwarna merah di bibir cowok itu.


"Mana kacanya?" Tanyanya pada Yuki, lalu mengedarkan pandangannya ke arah dua orang laki-laki yang dari tadi hanya bisa diam menahan tawa.


"Kenapa ekspresi lo berdua? Kayak nahan pup"  timpalnya.


"Enggak kenapa-kenapa, perut gue mules" balas Raka berbohong.


"Gue kekenyangan" Lanjut Noval ikutan berbohong.


Gio yang masih belum sadar menerima kaca dari Yuki, lalu setelahnya dia teriak histeris melihat tampangnya sendiri di kaca tersebut.


"***** muka gue, woi" teriaknya entah pada siapa, sementara kedua orang tadi sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat tampang dan ekspresinya Gio.


"Lo niat dandani gue, atau mau jadiin gue badut sih, Ki? Gila ini lipstick menor banget, parah. Ini apa lagi yang dipipi merah-merah gini kayak kena tonjok. Allah, ini yang di alis gue apaan? Cacing? Hitam banget, ****. Udah kayak arang di olesin tau, enggak" komentarnya.


"Ih cantik kok, Gi" balas Yuki yang gak terima hasilnya di jelekin begitu.


"Cantik ekor, lo. Lo lihat aja, tu orang dua udah ketawain gue" timpalnya menunjuk ke arah Raka dan Noval.


"Mereka ketawa karena cantik. Iya, kan?" Tanya Yuki, kompak Raka dan Noval mengangguk bersama di tengah-tengah tawa mereka.


Gio mencibir, "gue enggak percaya, udah jelas mereka ketawain gue karena hancur gini. Lagian lo lihat pakai mata dong, Ki, kayak gini lo bilang cantik, sakit lo" timpalnya kembali.


"Ya, mana gue tau cantik itu kayak gimana, orang gue selama ini megangnya alat tukang, mana pandai gue kayak gituan. Lagian udah bagus gue bisa bedain mana lipstick dan mana cat tembok" balas Yuki dengan sinisnya.


"Nyesal gue percaya sama lo, aturannya dari awal gue tahu itu, lo enggak bisa dandan" Lanjut Gio yang di balas masa bodo dari Yuki. Toh hasratnya untuk medandani Gio sudah terkabul.


"Bodo amat" balas Yuki memeletkan lidahnya yang membuat Gio makin tampak kesal, ketika hendak membalas ucapan wanita itu tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan anak laki-laki yang masih menggunakan baju putih abu-abu dengan menggandeng tangan gadis kecil yang berusia sekitaran dua tahun.


"Kayo?" Ucap suara anak laki-laki yang tampak ragu memanggil nama pemuda itu  .


Tentu hal itu membuat Gio menegang lalu menyembunyikan wajahnya dibalik kaca. Sementara yang lain sudah tertawa kembali.


"Itu Kayo, kan?" Tanya anak itu lagi.


"Cantikkan, dek? Kaki loh yang dandani" ucap Yuki merasa bangga sama hasilnya tapi dibalas dengan ringisan kecil dari anak itu yang tak lain adalah Arka, adeknya Raka.


"Diem lo" timpal Gio menyikut lengan wanita itu, yang membuat Yuki memelototinya.


"Kayo ngapain?" Tanya Arka kembali berjalan mendekat, sementara gadis kecil itu sudah berlari ke pelukan Raka.


"Tu" adu Gio menunjuk Yuki, "dandani Kayo jadi badut" Lanjutnya cemberut.


Arka menoleh ke arah kakak iparnya.


"Permintaan bayinya, dek" balas Yuki cemberut.


"Kaki ngidam?" Tanya Arka yang di anggukin oleh Yuki.


"Tapi yang kena malah Kayo" protes Gio minta dibela.


"Enggak apa-apa dong, Kayo. Namanya juga lagi ngidam, kan" timpal Arka yang beda dari harapan Gio.


"Sebenarnya adek mau belain Kayo atau enggak, sih?" Tanya Gio sinis.


"Ya enggaklah" jawabnya cepat.


"Kasihan banget sih, Gi. Sedih gue lihat nasib lo hari ini" sahut Noval yang dari tadi hanya bisa diam.


"Diem ah, bacot lo" balas Gio berusaha menghapus make-up-nya.


"Adek ngapain kesini sama Zeka? bukannya Zeka lagi demam, ya?" Noval bertanya.


"Zeka rewel banget, pengen jajan sama Kayo katanya" jawab Arka.


"Yaudah sini, ayo kita jajan" ajak Gio berusaha mengambil Zeka dari gendongan Raka.


"Ndak au! Ea au cama Kayo!" teriaknya menepis tangan Gio.


(Enggak mau, Zeka mau sama Kayo!)


Kening Gio mengkerut, "Lah, ini kan Kayo" balas Gio menunjuk dirinya sendiri .


"Ndak au! Jeyek!" Teriak Zeka seperti ingin menangis lalu membalikkan badannya memunggungi pemuda itu.


(Enggak mau, jelek!)


Mendengar kalimat seperti itu membuat Gio langsung menoleh ke arah Yuki dengan mata yang sudah melebar.


"Sumpah ya, Ki, ini kalau enggak demi ponakan gue satu-satunya, enggak bakal gue ngelakuin ini terus buat Zeka nangis" ucapnya.


"Halah, demi ponakan atau demi anak lo entar?" Balas Noval sinis dengan santainya.


"Dua-duanya, lah. Nyelam sambil minum air" timpalnya.


"Tenggelam ******" sahut Yuki.


"Kuburin" Sambung Arka.


"Doain" Lanjut Raka.


"Aamiin" ucap Noval mengakhiri.


Sementara, Gio sudah menatap satu persatu orang itu dengan tatapan menusuknya.


"Gila!" Ucapnya sinis.


**Next**🐝

__ADS_1


__ADS_2