
"Katanya udah maafin, tapi kenapa beberapa hari ini masih ngehindarin gue?" Tanya Raka sesudah berada disamping Yuki.
Yuki yang sedang asik menggambar, kaget mendengar suara Raka yang tiba-tiba itu. Sebelumnya Raka sudah menanyakan dimana keberadaanya, tapi dia tidak memberi tau kalau Raka akan menjumpai dirinya.
Mereka sekarang lagi ada di belakang gedung kampus, yang mana tempat ini terbilang cukup jauh dari keramaian kerna ditutupi oleh pepohonan yang tinggi menjulang. Biasanya sering digunakan anak-anak lainnya untuk mengerjakan tugas atau sekedar nongkrong. Karena tempatnya nyaman dan damai cocok untuk orang yang ingin ketenangan.
"Gue gak ngehindarin lo, gue lagi banyak tugas Ka. Lo liat kan gue lagi apa" jawab Yuki melanjutkan kerjaannya, dia jujur dengan apa yang diucapkannya barusan, dia tidak menghindari Raka hanya saja tugasnya terlalu menumpuk.
Raka tidak melanjutkan aski protesnya terhadap Yuki, kemudian duduk disamping Yuki dan mengamati dengan seksama apa yang dikerjakan cewek jutek itu.
"Gue pernah gambar sketsa ini, tugas dari Pak Reza kan?" Tanyanya menunjuk gambar yang ada di atas meja itu.
"Iyah dari Pak Reza, dari tadi ngulang mulu, susah Ka" adunya membentuk bibir melengkuk kebawah
"Sini gue bantu"
Mendengar kalimat yang diucapkan Raka, membuat semangat Yuki kembali lagi, tadi dia sempat frustassi dengan tugasnya itu.
"Beneran mau bantuin?"
"Iyah beneran, kapan gue bohong emang?"
"Waktu itu lo bohongin gue tu" jawab Yuki dengan nada sinisnya
"Yeay masih di inget aja haha" ucap Raka dengan tawa khasnya mengacak rambut Yuki"
"Ih berantakan" ucapnya dan memukul tangan Raka yang masih berada diatas kepalanya. Yuki tidak terima kalau rambutnya di acak seperti itu, tapi kalau di usep dengan senang hati dia terima.
"Makanya di kuncir dong biar gak berantakan Yuki ku sayang "
Deeegh! Jantung Yuki bekerja lagi secara tidak normal cuma denger kata ' Yuki ku sayang' didalam kalimat Raka tadi. Sementara jantungnya yang berdetak kencang, tapi tidak dengan badan Yuki yang tegang seperti ikan yang sudah mati.
I'm shock guys, batinnya.
"Ki? Lo kenapa? Kok tegang gitu?" Tanya Raka panik menggoyang-goyangkan badan Yuki agar sadar
"Jantung gue ka" jawab Yuki lemas, sangat lemas. Rasanya seperti hampir ketabrak tapi bisa terselamatkan, lemas.
"Kenapa dengan jantung lo?!" Tanyanya masih panik dengan sedikit menaikkan nada suaranya
Belum sempat Yuki menjawab pertanyaan Raka, lagian dia tidak tau mau jawab apa, gak mungkin kan dia bilang jujur, Raka langsung menarik tangan Yuki agar mengikutinya "kita kerumah sakit sekarang" ajaknya
Mendengar kata rumah sakit membuat Yuki sadar dengan kebodohannya beberapa menit yang lalu
"Gak mau!" Dihentaknya tangan Raka yang tadi menggenggam tangganya.
"Tapi jantung lo"
"Jantung?" Tanya Yuki mengulang ucapan Raka
"Iyah, jantung lo sakit kan?"
"Oh eh haha, jantung gue gak apa-apa kok. Cuma tadi sedikit bekerja lebih keras aja" jawab Yuki santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Semenjak dia dekat dengan Raka jantungnya sudah sering seperti itu.
"Lo punya penyakit jantung?" Tanyanya hati-hati takut Yuki tersinggung.
"Yah nggak lah, gila lo" jawab Yuki duduk kembali keposisi awalnya.
"Gue kira lo sakit, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa, ngerti?" Ucapnya lembut dengan tatapan memohon pada Yuki
"Ka, kok lo manis gitu sih sama gue?" Tanyanya masih menatap mata Raka
"Jadi mau di kasarin ni?" Tanya Raka mengerutkan keningnya
"Yah nggaklah, tapi ntar kalau gue suka sama lo gimana?" Tanyanya pelan, tapi tanpa melihat ke Raka
__ADS_1
"Yah bagus dong, lo suka gue, gue suka lo. Kita jadian" jawabnya santai masih tanpa mengalihkan matanya dari gerak-gerik Yuki, yang Raka yakin Yuki sekarang sudah salting terlihat dari posisinya yang sudah tidak nyaman itu. Membuat Raka gemesh sendiri dengan wanita itu.
"Gemesin banget sih" ucap Raka mencubit pipi Yuki yang tembem itu
"Main kerumah yuk" ajak Raka
"Ngapain?"
"Mau dibantuin gak gambarnya?"
"Ya..yah mau si, tapi mesti banget kerumah?" Tanya Yuki
"Kenapa? Lo takut? Gue gak bakal ngapa-ngapain lo, lagian dirumah ada mama sama adek gue kok. Lo kan udah kenal" terlihat dari raut wajah Yuki yang sedikit takut. Sebenarnya gak takut, cuma sedikit tidak nyaman kerna kejadian di mall itu, dia masih belum berani berjuma kembali dengan kedua orang itu.
"Kerna ada nyokap dan adik lo, gue malu" jawabnya pelan dan masih bisa di denger oleh Raka
"Santai, mereka udah lupa kok. Yuk" ucap Raka, dan membersihkan kertas-kertas Yuki Yang berserakan di atas meja lalu menarik tangan Yuki menuju parkiran.
🐝🐝🐝🐝
"Mobil mama gak ada, kayanya lagi jemput adek. Masuk aja dulu gak apa-apa kan?" Tanya Raka
Mereka sampai di rumah keluarga Yudhistira dengan motornya masing-masing. Raka sebelumnya sempat menawarkan untuk mengendarai satu motor, tapi Yuki menolak dengan alasan gak mau repot ntar bolak-balik kampus lagi untuk menjemput motor.
"Duh mendingan balik deh Ka, gue belum kuat nyali buat jumpa mama lo" ucap Yuki gak enakan
"Baru datang udah main balik aja, gak boleh ! Mending lo duduk sini dulu, gue keatas bentar ganti baju" ucapnya meninggalkan Yuki diruang tamu.
Sebelum naik ke kamarnya yang ada di lantai dua, Raka mampir ke dapur untuk menemui bibinya yang asik memainkan ponselnya.
"Main handphone mulu bi, ntar matanya rusak lo" ucapnya mengagetkan wanita yang telah berumur itu
"Eh bang Raka kagetin aja, lagi bosan bang, kerjaan juga pada udah beres. Bang Raka mau apa? Biar bibi buatkan"
"Mending istirahat bi dari pada main handphone mulu, ada faedahnya kan" ucapnya, lalu menuangkan segelas air putih yang ada di pantry dapur tersebut
"Oke bang"
"Makasih bi" lanjutnya meninggalkan area dapur tersebut.
Sementara Yuki yang sedang duduk diruang tamu terlihat tidak nyaman, gimana bisa nyaman baru sampai langsung ditinggal sendiri begitu sama pemilik rumahnya.
Walaupun tidak nyaman, mata Yuki tidak berhenti untuk mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan dimana dia duduk saat itu.
"Temennya bang Raka yah? Ini minumnya di minum dulu" sambut bibi menyerahkan segelas jus beserta snack lainnya.
"Eh iyah Mbak. Makasih sebelumnya Mbak, maaf ngerepotin" jawabnya lembut beserta senyum ramahnya
"Gak masalah kok, kalau perlu apa-apa lagi, bibi di dapur yah" pamitnya meninggal Yuki kembali.
Setelah kepergian bibi tadi, Yuki menatap sebuah sisi dinding yang cukup besar dan dipenuhi berbagai jenis photo.
Yuki mengamati satu persatu photo yang ada, ada photo anak kecil yang Yuki tidak tau itu Raka atau Arka, ada photo mamanya Raka bersama laki-laki yang Yuki tebak itu adalah papanya Raka, sebab begitu mirip dengan Raka, ada juga photo mereka se keluarga dengan berbagai pose.
Dan disudut paling bawah ada photo Raka bersama Gio dan Noval.
Melihat photo-photo tersebut, Yuki merasa keluarga Raka begitu harmonis, tidak seperti keluarganya.
"Jadi iri" gumam Yuki dengan senyum yang dipaksakan. Padahal dalam hati dia ingin menjerit dan protes pada tuhan dengan keadaanya yang begitu prihatin menurutnya.
"Lama banget sih Ka, untung gue gak keburu pulang" omel Yuki pada Raka yang baru turun dari tangga, belum sempat Raka duduk eh sudah kena semprot.
Yuki melihat Raka sudah berganti pakaian dengan lebih santai, Dan juga wajah yang sudah fresh dengan rambut yang Yuki yakin sengaja tidak di sisir.
"Sorry-sorry, gue mandi dulu tadi bentar terus lanjut minta jodoh sama Allah, maaf yah Yuki cantik, Yuki baik, Yuki pinter" jawab Raka menggoda. Membuat Yuki mengalihkan wajahnya dari Raka agar tidak ketahuan kalau dia sedang tersanjung dengan omongan Raka tadi.
"Apa sih, ngalus banget"
__ADS_1
"Yeeu di puji gak mau" goda Raka "itu minum dulu biar gak ngomel mulu" ucapnya menyodorkan minuman yang disediakan tadi
"Besok gambarnya gue kasih sama lo yah, ntar malem gue kerjain"
"Terus ngapain lo nyuruh gue kesini kalau lo ngerjainnya ntar malem?" Ucap Yuki meletakkan kembali gelas minumnya
"Yah pengen ngajak lo main aja, dari pada lo dirumah aja sendiri sepi, mau ke cafe juga udah dipecat kan"
Betul, kemarin Yuki bilang sama Raka kalau dia di pecat sama om Leo si pemilik cafe, alasannya si gak mau liat Yuki keteteran dengan tugas kampusnya, apa lagi Yuki sekarang sedang sibuk-sibuknya dengan kuliah nya.
Yuki cuma memutar kan matanya males mendengar jawaban Raka
"Assalammualaikum bang itu mot-- lo Yuki kan? Ya Allah akhirnya main kerumah juga, dari kemarin loh tante suruh abang ajak Yuki kesini, tapi katanya Yuki sibuk" ucap Nanya panjang lebar yang ucapannya sempat kepotong karena melihat Yuki yang sedang duduk santai di kursinya.
"Ma? Itu pelukannya dilepas dulu, abang aja belum pernah meluk loh" jawab Raka asal Dan mendapat cubitan dari Yuki "canda hehe" sambungnya, sementara Nana melepas juga pelukannya pada pada Yuki
"Eh maaf yah tante semangat banget, soalnya Raka gak pernah ngajak temen ceweknya kerumah, selalu deh Gio sama Noval yang main kesini, jadi tante gak ada temennya. Sekarang kan udah ada Yuki, jadi sering-sering yah ntar main kesini" jawabnya lembut seperti berbicara dengan anaknya sendiri tangannya yang dari tadi tidak tinggal diam mengelus bahu Yuki, Yuki sendiri merasa sedikit tidak nyaman, masalahnya dia tidak pernah sedekat ini dan diperlakukan se begitu lembutnya dengan seorang ibu.
"Iyah tante" jawabnya dan beralih pada anak SMP yang sudah berdiri disamping Raka "hai" ucapnya melambaikan tangan pada anak SMP tersebut Yang bukan lain adalah Arka
Arka cuma membalas sapaan Yuki dengan senyum sekilas nya. Arka belum terlalu deket sama Yuki makanya dia bersikap cuek begitu
"Pada belum makan kan? Yuki pasti juga belum kan? Tunggu sini yah, tante buat makanan dulu" ucapnya, sebelum berlalu Yuki menangkap tangan Nana
"Tante gak usah repot-repot"
"Gak kok, tante gak ngerasa direpotin. Tente malah seneng, tungguin yah" ucapnya dengan senyum yang merkah dan berlalu meninggalkan ketiga anak muda itu
Yuki sedikit tidak enak baru mampir sekali sudah ngerepotin pemilik rumah, sedangkan Raka dan Arka malah asik berdua bercerita.
Bang? Adek tadi ujian fisika kan, tau gak dapet berapa?"
"Berapa emang?"
"Dapet 90 dong" jawab Arka bangga atas nilai ujiannya itu.
Begitu lah sekilas percakapan antara Raka dan Arka yang bisa Yuki tangkap. Kelihatan dari cara Arka berinteraksi dengan Raka kalau dia manja, sedangkan Raka tampak jelas kalau dia abang yang sayang sama adiknya, dari tadi tak henti menaggapi cerita Arka, Dan kadang-kadang menjaili adiknya itu sampai ngambek.
"Kalau sama mama gak usah segan, mama orangnya emang kaya gitu" ucap Arka memulai obrolan dengan Yuki, walau masih terlihat datar sedangkan Nana cuma bisa senyum seperti orang **** menanggapi ucapan Arka tadi.
"Adek ganti baju dulu gih, belum sholat juga kan?" Tanya Raka pada adiknya
"Hehe belum"
"Ganti baju, siap itu sholat. Baru deh ntar gabung sini lagi" ucapnya
"Iyah deh, adek ke atas dulu yah" pamitnya dan hanya meninggalkan mereka berdua.
"Arka manja banget yah sama lo" Tanya Yuki setelah melihat Arka berlalu menaiki anak tangga
"Kenapa? Lo mau manja juga sama gue?" Goda nya
"Yeeuu malesin" jawab Yuki dengan acting seperti mau muntah
"Kalau iyah juga gak apa-apa Ki, gue seneng lagi" lanjutnya kembali, Yuki yang sudah muak dengan godaan Raka dari tadi, melempar bantal kursi kearah Raka
"Mamam tu" sambung Yuki dan membuat Raka ketawa terbahak-bahak "Gak lucu juga" celetuknya melihat Raka
"Gak sholat?" Tanyanya setelah menghentikan tawanya tadi
"Nggak" jawab Yuki jutek
"Jangan males-malesan sholatnya, ntar susah dapet jodoh kaya gue" ledeknya kembali
"Apa sih" ucap Yuki malu-malu.
"Ki, kita pacaran yuk"
__ADS_1
Next 🐝