KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
29. Baby Girl


__ADS_3

"Car, baju Abang mana?" Tanya Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan badan yang masih basah yang hanya dililiti dengan handuk untuk bagian bawahnya.


"Ada tu deket meja rias bang" Yuki yang tengah membereskan tempat tidur menjawab tanpa menoleh pada suaminya itu.


Semenjak menikah, semua keperluan Raka dari hal kecil hingga besar diurusi oleh Yuki. Ini semua bukan keinginan Raka, melainkan Yuki sendiri yang menawarkan. Karena ia melihat mama mertuanya selalu menyiapkan semua kebutuhan suami dan anak-anaknya dengan tangannya sendiri, walau sekarang lagi hamil. Dan hal itu yang membuat Yuki berkeinginan melakukan hal seperti itu.


"Aku udah berapa kali ngomong sama abang, kalau sebelum keluar itu rambutnya dikeringin dulu bang didalam, jadi ini airnya gak netes gini" omel Yuki dengan meraih handuk yang ada di rak sebelah Raka dan mengeringkan rambut suaminya yang basah itu dengan kaki yang sedikit menyinjit.


Mendengar omelan seperti itu bukan membuat Raka merasa kesal, malah sebaliknya ia gemesh. Ia sebenarnya ingat dengan ucapan yang selalu diucapkan istrinya itu,


'kalau siap mandi jangan langsung keluar bang, kering kan rambutnya dulu didalam'.


Tapi entah kenapa melihat istrinya ngomel seperti itu membuat ada rasa senang tersendiri dalam dirinya, belum lagi dengan perlakuan istrinya setelahnya, istrinya itu akan mengeringkan rambutnya lalu ia dengan puas memandang wajah istrinya dan juga ada kesempatan untuk mendapati morning kissed, seperti sekarang ini.


"Kalau kayak gini kan becek, terus kalau becek ntar lantainya jadi licin, kalau licin ntar ada yang kepeleset gimana? Abang ---"


Chup\~


Satu kecupan mendarat tepat dibibir Yuki.


"--- gak dengerin aku" ucapnya pelan melanjuti kalimatnya yang sempat terpotong tadi.


"Masih pagi udah bawel aja istri Abang, kan jadi gemesh" Goda Raka dengan mengusap bibir bekas ciumannya tadi lalu di kecupnya kembali, tapi kali ini bukan hanya kecupan melainkan sedikit gigitan kecil.


"Abaaaang!" Geram Yuki tak membalas ciuman suaminya itu.


"Oke-oke" ucap Raka mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Istrinya selalu ngomel dengan perlakuannya yang menurut Yuki selalu mancing-mancing, padahal menurut Raka itu hanya ciuman, ya walau kadang bisa lebih dari itu.


"Udah sana pakai bajunya, udah kering ni" ucap Yuki menyudahi pekerjaannya pada rambut Raka.


Raka cemberut, cepat banget batinnya.


Padahal dia masih ingin berlama-lama dengan posisi ini agar bisa mencuri ciumannya pagi.


"Abang denger gak?."


"Iyah denger, car. Tapi ini pakaiin" rengek Raka menyerahkan baju yang ada ditangannya kepada Yuki.


Yuki mendengus kasar memutar bola matanya malas, tapi meraih baju yang dikasih Raka tadi dan hal itu membuat Raka tersenyum lebar.


"Terima kasih istri Abang yang cantik, baik hati walau sedikit bawel" Goda Raka mengecup pipi Yuki dengan sedikit membungkuk.


Mendengar itu membuat Yuki mengerucutkan bibirnya melirik ke Raka sekilas lalu kembali lagi fokus mengancingkan kemeja suaminya itu.


"Manja banget, aku jadi curiga apa bener dulunya Abang beneran mandiri" sewot Yuki dengan sinis.


Raka menyatukan alisnya "ya emang Abang mandiri kok, Tanya mama coba sana kalau gak percaya".


Yuki mencibir melirik keatas dimana suaminya itu lebih tinggi darinya "gak perlu nanya mama, ini udah ada buktinya didepan aku" balas Yuki.


"Kan udah ada istri gak masalah dong manja-manja. Emang pacar mau Abang manja sama yang lain?" Tantang Raka dengan memainkan alisnya naik-turun.


Yuki berdesis dengan sinis "coba aja kalau gak aku robekin ni bibir" sewot Yuki menarik pelan bibir Raka.


Raka tertawa, di raihnya pergelangan tangan Yuki lalu dikecupnya punggung tangan istrinya itu dengan mesrah.


"Gak bakallah, Abang kan sayangnya cuma sama pacar. Kalau satu aja udah buat Abang puas ngapain cari yang lain lagi? " balasnya dengan mengedipkan matanya.


Yuki tertawa malu lalu memukul dada suaminya itu, mendengar kalimat seperti itu disituasi seperti ini membuat dia merasa malu. Padahal tiap malam lebih dari itu kata-kata yang dilontarkan suaminya padanya kalau ingin merayunya.


"Hari ini jam berapa kekampus, car?" Tanya Raka menyingkirkan bulu mata istrinya yang jatuh dan menempel di pipi istrinya itu.


"Selesai jam makan siang kayaknya bang, Doping aku bisanya jam segitu" jawab Yuki menyudahi pekerjaannya.


Raka mengangguk "Ntar Abang yang anter kekampus ya, sekalian Abang makan siang dirumah."


"Gak apa-apa? Ngerepotin gak? Ntar jadi bolak-balik Abangnya" balas Yuki mendangak kembali untuk menatap lurus manik mata Raka yang selalu jadi bagian favoritenya.


Raka menarik hidung bangir itu yang membuat dia merasa gemesh "Kok ngerepotin sih, car? Sama suami sendiri ini juga" balasnya mendaratkan kembali ciumannya di kening istrinya itu.


Yuki melebarkan cengirannya. Sebenarnya dari tadi dia pengen ngomong gitu, tapi merasa tidak enak takut merepoti suaminya. Dulu juga waktu masih pacaran Yuki tidak pernah minta diantar atau dijemput kemana sama Raka, kecuali Raka yang menawarkan dan itu juga pasti melalui ribut kecil dulu karena dia selalu menolak tawaran Raka.


Tidak seperti cewek-cewek sekarang yang sering memperlakukan pasangannya yang bahkan belum dari hak miliknya sebagai tukang ojek, yang siap mengantar jemput kemana mereka mau.


"Terima kasih Abang" ucapnya lembut lalu merentangkan kedua tangannya, "Abang, peluuuk" pintanya membuat Raka tertawa dan menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Padahal semalaman udah dipeluk, masih juga minta peluk sekarang" timpal Raka mengusap-usap lembut punggung Yuki dan menghirup aroma wangi yang terpancar dari rambut istrinya itu.


Dulu pertama kali Raka mencium aroma wangi ini bisa membuat dirinya hampir kelepasan, yah walau bukan hanya karena wanginya saja. Tempat dan waktunya juga mendukung.


"Gak tau, pelukan Abang itu nyaman banget. Aku suka, wangi terus anget" balas Yuki mengendus-endus bagian dada Raka yang membuat Raka kembali tertawa karena cukup merasa geli baginya.


"Abang?!" Panggil Arka membuka pintu kamar tersebut secara tiba-tiba.


Mendengar itu lantas membuat sepasang suami istri itu merasa terkejut dan dengan cepat memisahkan dirinya. Jelas diwajah mereka berdua terpampang nyata wajah malu begitupun dengan Arka yang melihat itu.


"Hah, eh itu ma...maaf bang, adek gak bermaksud" ucap Arka gelagapan mengalihkan tatapannya dari Abang dan kakak iparnya.


******, batinya merutuki kesalahannya yang sudah lancang masuk tanpa mengetuk dulu sebelum masuk.


Raka tersenyum canggung, begitupun dengan Yuki yang sangking kagetnya tak bisa bergerak sedikitpun.


"Gak apa-apa Dek" jawabnya dan berjalan mendekati adiknya itu.


"Kenapa? Mukanya panik gitu?."


"Mama bang" ucap Arka kembali panik membuat Raka mengerutkan keningnya.


"Iya? Mama kenapa?" Tanyanya.


"Mama" ucap Arka menunjuk-nunjuk lantai bawah "mama mau lahiran" sambung Arka susah payah.


"Hah? Lahiran?" Teriak Raka dan Yuki bersamaan lalu saling lirik, dan sedetik kemudian mereka berdua lari keluar kamar menuju lantai bawah meninggalkan Arka yang masih terbengong didepan pintu.


"Payah, main abang kurang rapi. Kalau tadi adek masuk di moment yang lebih gak tepat gimana?" Ucapnya bermonolok dengan geleng kepala.


🐝🐝🐝🐝


Raka yang tengah menunggu persalinan mamanya didepan pintu persalinan merasa terkejut dengan seseorang yang berlari dengan tergesa-tega dan hanya menggunakan sendal jepit dan celana boxer yang dilengkapi dengan kaos yang sudah lusuh memanggil namanya dengan begitu kencangnya hingga semua mata yang ada disana tertuju pada pemuda yang sedang berlari itu.


"Gimana? Gimana? Bunda gimana? Udah lahiran? Adik gue gimana?" Tanyanya bertubi-tubi dengan nafas ngos-ngosan dan menyeka keringat dikeningnya.

__ADS_1


Olahraga pagi, batinnya.


Noval yang sudah ada disana sebelumnya langsung saling lirik dengan Arka. kening mereka berkerut melihat penampilan aneh itu, sementara Raka dan Yuki tercengang melihat penampilan yang sangat terbilang ekstream dilakukan ditempat ramai seperti ini.


"Woi gimana? Bunda gimana? Malah bengong ahelaaaah!" Bentaknya menyadari keempat orang itu.


"Gi, lo sadar gak sama penampilan lo?" Tanya Noval tak bersemangat sedikit meringis betapa memalukan jika itu terjadi padanya.


"Kenapa?" jawab Gio berusaha menetralkan debaran jantungnya sehabis berlarian. Masih belum sadar dengan apa yang dia gunakan saat ini.


Yuki yang mendengar jawaban itu langsung secara otomatis bibirnya baik sebelah. Sementara Raka dan Arka tercengang.


"Lo pakai boxer, lo lihat semua mata tertuju sama lo" sewot Yuki menggelengkan kepalanya melihat kelakuan aneh sahabat suaminya itu.


Gio langsung menoleh kebawah dan benar, dia hanya memakai boxer udah gitu dengan motif bunga warna pink.


"Shit, harga diri gue ***" lirihnya pelan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "pantes gue kesini tadi ngerasa aneh, dari gue turun mobil orang-orang semua pada ngelihatin gue" Lanjutnya memelas.


Raka dan Arka hampir saja ketawa mendengar ucapan itu, untung mereka sadar sekarang mereka lagi dimana.


"Lagian lo ngapain bisa sampai lupa ganti baju?" Tanya Noval.


"Gue baru pulang lembur jam lima subuh, baru banget tidur. Eh dapet telfon Bunda mau lahiran. Ya gue panik lah, jadi gitu lupa buat ganti baju" jelasnya memelas.


Noval dan Yuki kompak gelengkan kepalanya.


"Ni Kayo pakai ini, buat nutupin boxer imut Kayo" timpal Arka dengan menggoda pemuda itu, ia menyerahkan sehelai kain panjang yang baru saja diambilnya dari tas yang dibawa dari rumah tadi yang dipersiapkan untuk lahiran mamanya.


"Huhu terima kasih adek" balas Gio merasa haru dan merima pemberian itu, setidaknya boxer dengan motif bunga warna pink nya tertutupi.


"Ayah mana? Gue gak lihat" tanyanya setelah berhasil menutup celananya menggunakan kain tersebut yang dibantu sama Arka.


"Didalam, nemenin mama" kali ini Yuki yang menjawab pertanyaan itu.


Gio mengangguk "Kok gue yang deg-degan yah" balas Gio menggigit ujung jempolnya.


"Wajar sih, kan yang mau lahir adik lo juga" timpal Raka menepuk bahu pemuda itu yang disetujui oleh Arka dengan anggukan.


Raka yang udah dua kali mengalami kejadian seperti ini tidak terlalu merasa panik kalau dibandingkan dulu waktu lahiran Arka. Kali ini ia merasa lebih tenang, pertama karena sudah pernah mengalami. Kedua, ada istrinya yang menenangkan dan menguatkannya.


"Dulu waktu mama lahirin adek, gue kayak Gio gini, panik gak jelas. Takut sesuatu yang gak gue inginkan kayak hidup sendiri terjadi lagi. Tapi kali ini gue gak ngerasain hal yang kayak gitu lagi. Karena gue tau mama wanita kuat, mama terlalu sayang kita buat ninggalin kita" timpalnya membuat ketiga orang yang mendengar cerita itu diam membeku, mereka tau maksud dari ucapan cowok itu.


Gio yang berada tepat disamping Raka kali ini membalas menepuk bahu cowok itu lalu tersenyum.


Tapi berbeda dengan Arka, dia yang pada dasarnya anak manja, hanya karena mendengar kalimat seperti itu mampu membuat matanya berkaca-kaca.


Arka terlalu sayang sama abangnya, sehingga apa yang dirasakan abangnya juga sampai kedirinya. Dia tau cerita abangnya sebelumnya bagaimana, tapi hal itu tidak membuat rasa sayang dan kagum terhadap abangnya itu berkurang, malah makin bertambah seiringnya waktu.


Yuki yang sadar perubahan dari raut wajah adik iparnya itu berjalan mendekatinya lalu mengusap bahu Arka untuk menenangkannya.


"Kok sedih? Abang aja gak sedih tu" bisik Yuki menunjuk kearah Raka yang sedang ngobrol serius dengan kedua sahabatnya "Udah jangan sedih lagi, kan udah lewat" Lanjutnya menenangkan adiknya itu.


Arka mengangguk, perasaannya terlalu sensitive jika dibandingkan abangnya. Padahal dia tidak pernah merasakan posisi abangnya dulu.


Tak selang berapa lama, pintu ruangan persalinan Nana kebuka dengan seorang Dokter yang keluar dari sana.


"Dok, gimana Bunda sama adik saya" Tanya Noval dan Gio bersamaan langsung mengerumungi Dokter itu. Begitu juga dengan Arka yang ikut menodongkan pertanyaan yang sama dengan dokter itu.


"Alhamdulillah" puji syukur mereka semua.


"Cewek atau cowok, Dok?" Tanya Noval.


"Cewek."


Semua saling pandangan satu sama lain kecuali Yuki yang jauh dibelakang mereka. Dan detik berikutnya keempat cowok itu teriak heboh dan saling berpelukan.


"Bang, cewek?!" Teriak Arka.


Raka mengangguk semangat "Iya, akhirnya mama gak sendiri lagi" balas Raka.


Sementara ditempat sebelah, Gio dan Noval yang tak kalah heboh dari Raka dan Arka. Mereka sudah berpelukan sambil mutar-mutar seperti habis memenangkan suatu perlombaan.


"Val, akhirnya gue punya adik cewek. ***** gue seneng nyet" timpal cowok itu bahagia memeluk Noval.


"Itu kenapa Masval ikut-ikutan sih" lirih Yuki geleng-geleng merasa aneh melihat cowok itu melakukan hal yang memalukan seperti itu.


"Silahkan, kakak dari adik bayinya boleh masuk" timpal Dokter itu selanjutnya yang membuat keempat cowok itu berhenti berpelukan dan saling lirik kembali.


"Gue duluan" jawab keempat cowok itu kompak membuat dokter itu reflek mengerutkan keningnya.


"Ka, ngalah dong. Kan gue yang jawab duluan" berisik Gio.


"Apaan, lo kan baru nyampe. Sana lo munduran" ucap Noval tak mau kalah mendorong badan Gio agar menjahui pintu masuk.


"Dih kan gue anak pertama, gue dong yang masuk duluan" timpal Raka kali ini.


"Eh gak boleh gitu dong bang, adek juga mau masuk" kali ini Arka tak mau ketinggalan.


Yuki yang masih berdiri ditempatnya mengusap wajahnya dengan kasar, bisa-bisanya keempat cowok itu ribut didepan ruang bersalin tepat didepan dokternya langsung yang sekarang wajahnya sudah tidak ada ekspresi lagi.


"Ini kakak dari adik bayinya yang mana ya?" Tanya dokter itu bingung mengamati satu persatu wajah cowok itu.


"Saya" jawab keempatnya kembali kompak.


Sebelum terjadi keributan kembali, Yuki sudah lebih dulu maju mendekati dokter itu dan mendorong para cowok itu agar mundur.


"Maaf Dok. Kita semua boleh masuk gak? Kita kakak dari adik bayinya" jelas Yuki tapi tidak membuat kebingung diwajah Dokter itu hilang.


"Hah, eh i..iya-iya, silahkan masuk. Bayinya udah siap di adzanin tadi" ucap dokter itu.


Dan tanpa berlama-lama semuanya berbondong masuk meninggalkan Dokter itu sendiri yang masih terpancar tampang bingung diwajahnya.


"Kakaknya? Semuanya?" Tanyanya bermonolog lalu menoleh kedalam ruangan dan melihat ke Hadi yang sudah ikut bercengkrama dengan kelima anak itu, "kuat bapaknya" Lanjutnya.


🐝🐝🐝🐝


"Ini semua pada gak ada yang kerja?" Tanya Hadi melihat Raka Gio dan Noval yang masih berada didalam kamar inap istrinya, padahal dari tadi sudah masuk jam kerja.


"Papa aja gak kerja" timpal Raka menjawab ucapan papanya itu.


"Dih papa kan boss. Gak masalah dong kalau libur" jawab Hadi santai yang duduk disamping ranjang istrinya. Sementara Raka Yuki dan Noval duduk di sofa yang tersedia diruangan itu.


"Abang juga gak apa-apa dong libur. Kan anaknya boss" Lanjut Raka kembali.

__ADS_1


Hadi mengangguk, menerima jawaban anaknya itu.


Hadi dan Raka saling pandang lalu melirik kearah Noval secara bersamaan.


Sadar ditatap seperti itu membuat Noval secara reflek menjawab "Loh Noval kan anak pemilik Yayasan. Ayah lupa sekarang kita ada proyek pembangunan gedung sekolah baru sama Yayasan."


Hadi kembali mengangguk, membuat Noval mengelus dadanya tenangnya. Hari ini dia benar-benar tidak ingin pergi kerja. Pertama karena Bundanya baru sana lahiran, walau tidak ada pengaruhnya jika ada atau tidak dirinya disana. Kedua, karena kedua sahabatnya tidak pergi kerja.


Lalu selanjutnya ketiga pemuda itu melirik ke arah Gio yang tengah mengelus-elus pipi lembut bayi itu bersama dengan Arka.


"Punggung Kayo terasa ditusuk dengan tiga pisau tajam, Dek" ucapnya kepada Arka, lantas hal itu membuat Yuki dan Nana yang dari tadi diam langsung tertawa ngakak.


Jelas mereka tertawa, sindiran Gio itu tertuju kepada tiga orang tadi yang tengah ngelirik tajam kearah Gio.


"Apa kah saudara Gio ada alasan kenapa tidak masuk kerja?" Sindir Hadi tak mau kalah.


Gio langsung membalikkan badannya dengan tampang cemberut.


"Gio baru balik lembur jam lima, Yah. Kasihanilah anak mu ini agar bisa libur hari ini" ucapnya memelas.


"Jangan mau pa, suruh aja Gio kerja" timpal Yuki mengompori papa mertuanya.


Hadi langsung menoleh pada anak menantunya itu "Kaki kenapa gak kuliah? Katanya ada bimbingankan siang ini" tanya Hadi tak merespon ucapan Yuki sebelumnya.


Mendengar itu membuat Yuki langsung melebarkan senyum pepsodennya.


"Besok aja pa, lagi mau nemenin mama disini" jawabnya gugup, tapi masih memaksakan senyumnya.


"Loh katanya mau lulus tahun ini. Gimana bisa lulus kalau bimbingan males" Lanjut Hadi menyeramahi Yuki.


Gio yang melihat itu tentu tertawa senang didalam hati melihat penderitaan Yuki.


Gio berdehem membuat Yuki meliriknya.


"Mamam tu" ucapnya tanpa bersuara yang membuat Yuki langsung memelototi pemuda itu dengan tatapan mematikannya.


"Jadi Kaki ngampus ni pa hari ini?" Tanya Yuki pada papa mertuanya, berharap yang didengarnya adalah 'gak usah, disini aja'.


"Ya terserah Kaki mau ngampus hari ini atau nggak, papa cuma ngingatin jadwal Kaki aja. Lagian katanya mau punya anak sesudah lulus.


Yuki sendiri medengar ucapan itu didepan orang ramai seperti itu merasa malu. Gimana gak malu, itu adalah ucapannya yang keluar dari mulutnya sendiri waktu itu.


Hadeeuh, batinnya.


"Pa, nama adiknya siapa? Belum dikasih namakan?" Ucap Arka membuat Yuki sedikit merasa legah karena pembicaraannya dengan papa mertuanya terputus.


"Lo ada adek. Adek gak sekolah?" Tanya Hadi langsung tanpa menjawab pertanyaan anaknya sebelumnya.


Mendengar pertanyaan papanya itu reflek membuat Arka mengerucutkan bibirnya. Nyesel telah bertanya, batinnya.


Sementara yang lainnya sudah tertawa melihat tampang Arka yang tadinya ceria berubah menjadi datar tanpa ekspresi.


"Becanda, dek" ucap Hadi berjalan mendekati box bayi tersebut dimana Gio dan Arka berdiri.


"Untuk kali ini papa izinin kalian semua libur kerja, kuliah atau sekolah. Tapi lain kali harus ingat sama tanggung jawabnya. Ngerti?" Tanyanya melihat satu persatu kelima anak itu.


"Ngerti, pa"


"Ngerti, yah"


Jawab mereka kompak.


"Jadi adiknya siapa, pa?" Ulang Arka bertanya.


"Bang, siapa?" Hadi malah bertanya pada anak sulungnya.


"Abang gak nyiapin nama perempuan pa. Abang kira adiknya cowok" jawab Raka yang sekarang sudah berada disebelah papanya mengelilingi box bayi tersebut.


Hadi mengerutkan keningnya tampak berfikir dengan tangannya mengusap dagunya.


"Gimana kalau Zekana Yudhistira?" Usulnya.


"Artinya apa Yang?" Tanya Nana yang masih berbaring di atas kasur.


"Z itu kan huruf terakhir di abjad, terus kalau Ana itu kan saya. Jadi kalau di cocok-cocokkan saya yang terakhir. Jadi setelah ini Abang sama adek gak bakal punya adik lagi" jawab Hadi dengan tertawa sendirinya.


Sementara yang lainnya diam menatap kearah Hadi dengan tatapan bingung, dimana letak lucunya.


"Kok pada gak ketawa? Papa lagi ngelucu loh" timpalnya.


"Kan lagi serius, Yah" sahut Noval datar.


Hadi melebarkan senyumnya dengan jari yang mengacung membentuk huruf V "becanda" lanjutnya kembali.


"Jadi Zeka itu artinya senang bergaul dan suka dikelilingi orang ramai, Ana sendiri tadi udah papa jelasin kan. Kalau Yudhistira gak mesti dong papa jelasin juga artinya" sambungnya.


"Gimana setuju?" Tanyanya kembali.


Yuki dan Raka saling lirik lalu mengangguk begitupun dengan yang lainnya.


"Pokoknya Zeka gede, harus berada di tim gue" tegas Gio melirik sinis kearah Yuki.


"Lah apaan, tim gue lah. Kan cewek" balas Yuki tak mau kalah.


"Eh lo lupa, bunda waktu hamil Zeka apa-apa mintanya sama gue? Itu tu tanda kalau Zeka bakal jadi bagian tim gue" jelas Gio dengan tampang ngeselinnya.


Raka dan Arka aja yang dari tadi gak kebagian untuk ngomong, padahal itu adik kandung mereka.


Sedangkan Hadi dan Nana lebih memilih diam tidak ikut campur, percuma kalau di lerai paling bertahan cuma beberapa menitan aja, udah gitu kembali lagi berantamnya.


"Bang lihat tu Gio, ngeselin" rengek Yuki mengadu pada suaminya.


Gio mencibir, di kiranya dia takut sama Raka.


"Gi, lo macem-macem gue ambil ya kain panjang yang lo pakai" ancam Raka melirik kain panjang yang masih aman melingkar dipinggang Gio.


Sontak mendengar itu membuat Gio langsung memegang kain panjangnya.


Yuki sendiri yang merasa di bela langsung melebarnya senyum mengejeknya kepada Gio dan tak lupa memeletkan lidahnya.


Gio yang tak bisa berkata-kata dan berkomentar lagi hanya bisa mengacungkan jari kelingkingnya ke depan jawah Yuki.


**Next**🐝

__ADS_1


__ADS_2