KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
30. Garis Dua


__ADS_3

"Pa" panggil Raka berjalan masuk kedalam ruang kerja papanya. "Sibuk gak?" Tanyanya kembali lalu duduk di sofa yang ada didalam ruangan tersebut.


Hadi yang sedang fokus pada laptopnya menoleh pada anak sulungnya itu.


"Gak bang, ini lagi lihat berita aja, kenapa? Mukanya sukut banget" ucap lelaki yang sudah berumur dan memiliki tiga anak lalu berjalan menedekati Raka memilih duduk didepan pemuda itu.


Raka menarik nafasnya dalam lalu dihembuskannya secara kasar dan menghempaskan punggungnya kesandaran sofa membuat Hadi menyerngitkan keningnya.


"Kenapa? Cerita sama papa. Kali aja papa bisa bantu" ucap Hadi dengan khas ke Bapakan.


"Akhir-akhir ini tu Yuki aneh banget, Pa. seperti bukan Yuki yang Abang kenal" ucap Raka dengan menyenduh, Hadi sendiri yang mendengar hal itu mengerutkan keningnya belum paham maksud ucapan anaknya itu.


"Beberapa hari yang lalu, Yuki masak masakan yang pedes. Biasanya, semenjak tau kalau Abang gak bisa makan yang pedes-pedes, Yuki selalu ngehindari makanan yang berbau pedes. Tapi kemarin Yuki masak itu, dan mau gak mau Abang makan dong, Abang hargai istri abang udah masak susah payah" jelas Raka menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu.


Hadi masih diam menunggu kelanjutan cerita dari anaknya itu.


"Terus beberapa hari kemudian, Yuki mempermasalahin bau perfume yang biasa Abang pakai, Pa. Allah pa, papa tau gak, dulu Yuki tu selalu seneng sama bau perfume Abang. Tapi kenapa sekarang jadi di permasalahin gini? Abang jadi bingung, Abang bener-bener gak ngerti jalan pikiran wanita itu gimana" Lanjutnya kembali yang mulai terlihat putus asa.


"Terus lagi tadi pagi, Pa. Abang mau ngantor, Yuki malah ngelarang Abang kerja. Dengan alasan kangen Abang, ya karena Abang punya tugas dan kewajiban yang gak bisa ditinggalkan Abang nolak permintaan Yuki, sampai dia ngambek. Makanya Abang telat kerja tadi, izin setengah hari. Kayaknya sekarang masih ngambek, Abang telfon gak di angkat" sambung Raka kembali dengan wajah yang makin kusut dari pada tadi.


Mendengar cerita keseluruhan dari Raka membuat Hadi menyunggingkan senyum tipis dibibirnya lalu mengangguk.


"Papa tanya, selama Yuki bertingkah aneh seperti itu Abang ada gak buat Yuki makin kelihatan kesel atau bicara yang gak sepantasnya sama Yukinya?" Tanya Hadi dengan seriusnya.


Mendengar pertanyaan yang serius seperti itu membuat Raka membenarkan duduknya dan menatap mata papanya.


"Nggak, Abang gak pernah bicara kayak gitu. Abang kesel iya, karena Yuki biasanya gak seperti itu. Tapi sekalipun Abang gak penah ngomong yang kasar atau nyakiti hatinya" jelasnya.


"Yuki masak makanan yang pedes aja Abang masih coba makan walau nahan sakit perut setelahnya. Yuki gak suka sama bau perfume Abang, Abang hentikan dulu pakai perfumenya. Yuki larang Abang kerja, Abang milih izin kerja setengah hari nunggu Yuki tenang dulu" sambungnya kembali.


"Abang ngewajarin, mungkin lagi masa period-nya. Jadi kalau Yuki udah bersikap aneh gitu, Abang cuma bisa diem aja nurutin maunya Yuki."


"Ya emang jadi suami itu harus gitu, apalagi kalau mau jadi ayah, harus banyak sabar, bang. Harus ngertiin maunya istri. Yang penting jangan sampai terlontar kata-kata yang nyakiti hatinya. Kalau Abang mau nolak, ya harus pakai kata-kata lembut dan sabar agar istrinya ngerti. Tapi kalau Abang masih sanggup buat nanggepinya, lakukan dengan sepenuh hati" ucap Hadi memberi nasehat pada anaknya yang secara tidak langsung memberi suatu petunjuk.


Raka kembali menyenderkan kepalanya kesandaran kursi menatap langit-langir ruang kerja papanya.


"Iya Abang tau kok, Abang ingat pesan papa sama mama selama ini" ucapnya pelan, "Cuma Abang bingung aja, kenapa udah dua tahun nikah baru sifatnya Yuki berubah gini. Abang gak ngenalin istri Abang sendiri, jadinya".


Hadi yang masih tenang duduk dikursinya menatap pada anaknya itu "coba Abang ingat-ingat kenapa istri Abang bisa berubah gitu" Tanya Hadi memberi petunjuk kembali pada Raka.


Raka menoleh pada Papanya yang sedang menatapnya dengan alis naik "Apa? Abang gak tau" jawabnya mengidikkan bahunya, "beberapa minggu ini, sebelum itu semuanya baik-baik aja" lanjutnya.


"Yaudah abang ingat-ingat dulu, terus pahami itu semua kenapa" usul Hadi dengan senyum yang selalu dia tunjuk kan didepan anak-anaknya.


"Gue telfon gak diangkat, taunya disini. Ngapain?" Tanya Gio nyelonong masuk keruang bossnya itu bersama Noval yang mengekor dibelakangnya.


Hadi dan Raka menoleh pada sumber suara tersebut yang berasal dari ambang pintu.


"Mau makan siang dimana? Diluar atau dirumah lo?" Tanyanya kembali tak melihat raut wajah Raka yang kusut begitu lalu duduk ditempat kosong yang ada disamping Hadi.


Sekarang Raka dan Yuki tidak tinggal bersama orang tuanya Raka lagi. Semenjak setahun yang lalu, mereka sudah keluar dari rumah itu. Hadi dan Nana dengan berat hati menyuruh anaknya dan menantunya untuk keluar dari rumah karena ingin melihat sepasang suami istri itu hidup dengan mandiri. Apa lagi Yuki yang sudah lulus dari kuliahnya, jadi sudah seharusnya mereka hidup sendiri atas kaki mereka sendiri.


Dengan keluarnya mereka berdua dari rumah Hadi bukan berarti Hadi dan Nana lepas tangan terhadap kedua anak itu, Nana selalu berkunjung kerumah mereka kalau ada waktu senggang, apa lagi sekarang adik bungsunya Raka sudah menginjak umur dua tahun, Nana makin sering kerumah mereka dengan membawa adiknya itu.


"Gue gak nafsu makan hari ini, Gi. Lo berdua sama Noval aja sana kalau mau makan" jawab Raka yang tampak tak bersemangat menutup wajahnya dengan lengan tangannya.


Gio menyerngitkan keningnya lalu bersamaan saling lirik dengan Noval mendengar itu, biasanya kalau udah jam makan siang begini sahabatnya itu paling bersemangat untuk pulang karena istrinya sudah memasakkan dia makan siang.


Kali ini Gio menoleh kesebelahnya dimana ada Hadi disana "Raka kenapa, Yah?" Tanya Gio pelan lebih ke berbisik dan menunjuk sahabatnya itu dengan dagunya.


Hadi tersenyum ikut melirik kearah Raka lalu kembali ke Gio "Yuki" ucapnya tanpa suara yang dianggukin oleh Gio, "hamil" Lanjut Hadi tanpa suara kembali dengan memperagakan perut buncit.


Gio terjut membelalakkan matanya, begitupun dengan Noval yang melihat jelas gerak gerik mulut ayahnya itu ikut terkejut dengan menutup mulutnya.


"Beneran?" Tanya Gio pelan yang dijawab dengan anggukan dari Hadi.


"Terus Raka udah tau?" Tanya Noval kali ini.


Hadi kembali menggeleng "belum tau. Lagian belum pasti juga. Tapi menurut cerita yang Raka bilang, ayah kira emang nunjukin kalau Yuki hamil" jawabnya pelan.


Gio dan Noval saling lirik "kok bisa Raka gak tau? Raka kan cowok paling peka" timpal Gio.


Noval langsung mentoyor kening Gio dengan kencang yang membuat cowok itu meringis "namanya juga belum pernah ngalami, ya gak tau lah. Pinter banget emang lo jadi orang" sewot Noval.


Sementara Hadi sendiri menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya satu itu.


"Terus ayah kenapa bisa tau?" Tanyanya kembali.


Noval geleng kepala, kok bisa dia punya temen yang otaknya gak pernah dipakai seperti Gio ini.


Dengan wajah songong Hadi mengangkat jarinya membentuk angka tiga lalu mengacungkan jempolnya yang membuat Gio tertawa pelan dan mengangguk membalas acungan jempol ayahnya itu.


"Hebat" ucap Gio pelan dengan tertawa bersama Hadi.


Sedang asik-asiknya mereka bercerita, Raka bangun dari posisi tidurnya dengan mata yang sudah memerah.


"Gak jadi makan siang?" Tanyanya pada kedua sahabatnya itu, sontak Noval dan Gio menjawab dengan gelengan kepala secara bersamaan.


Raka mengerutkan keningnya


melihat gelagat aneh dari kedua sahabatnya itu, tapi tidak mau ambil pusing dia berdiri dari duduknya dan berjalan melangkah keluar ruangan ayahnya itu dengan sesekali menggeliat.


"Abang balik ke ruangan, Pa" pamitnya berjalan keluar.


"Ikut, Ka" timpal Gio ikut melangkah keluar bersama Raka.


"Yah, Noval susul Raka dulu" pamit Noval kembali pada Hadi yang dijawab dengan anggukan dari lelaki itu.


"Ngapain sih pada ikutin gue, balik sonoh lo pada. Kerja! Malah kelayapan gak jelas" sewot Raka pada kedua orang yang mengekorinya dari belakang.


"Lo lupa, ruangan kita berhadapan?" Balas Noval dengan santainya.


Raka menghentikan langkahnya yang disusul kedua temannya lalu membalikkan badannya menghadap kedua orang itu.


"Kenapa?" Tanya Gio penasaran pada Raka.


"Lo kenapa ikutin kita?" Tanyanya santai pada Gio dengan kedua tangannya yang sudah berada di kantong celananya.


Gio menoleh pada Noval meminta bantuan, tapi sayang cowok itu malah terihat tidak peduli.


Gio mendengus kasar, menyesal berharap sama kanebo kering.


"Gue mau ambil barang gue yang ketinggalan di ruang kerja lo" alibinya.


Raka mengerutkan keningnya "apaan?" Tanyanya kembali.


"Apa sih Val itu namanya, gue lupa" jawab Gio menyikut Noval meminta bantuan.


"Itu, FD. FD yang berisi file bangunan untuk proyek Pak Erwin" balas Noval ikut berbohong.


Raka mengangguk percaya dan kembali melanjutkan jalannya menuju ruang kerjanya.


Sementara Noval menatap Gio dengan tatapan dinginnya tanpa ekspresi.


Merasa bersalah Gio menyengir lalu menunjukkan jarinya membentuk huruf V "peace" ucapnya pelan menunjukkan gigi rapinya.


"Gue gak mau tau, dosa gue tadi harus lo yang nanggung" ucapnya lalu berjalan meninggalkan Gio yang masih mencerna ucapan cowok itu.


"Lah gimana caranya? Dikira gue punya kenalan kali ya sama malaikat Munkar dan Nankir" sinis Gio menatap punggung cowok itu.


🐝🐝🐝🐝


"Ka, lo tau sepupu gue yang ada di Malang gak?" Tanya Gio setelah berada diruang kerja Raka, tak lupa ada Noval juga disana.


"Mbak Gea?" Jawab Raka setelah duduk di sofa yang tersedia di pojok ruangan tersebut yang disusul dengan Noval.


Gio mengangguk "Udah hamil" Lanjut Gio.


"Kok bisa?" Tanya Raka heran pada temannya itu.


Mendengar pertanyaan lucu seperti itu membuat Gio memutar bola matanya malas.


"Ya bisa lah, namanya juga punya suami. Gila ya pertanyaan lo kayak orang gak sekolah, gitu aja gak ngerti" sewotnya geleng kepala.


Noval mencibir begitupun dengan Raka "baru bener kali ini aja udah berasa jadi Albert Einstein" sindir Noval dengan melirik Gio.


"Tau ni, belagu" timpal Raka membenarkan ucapan Noval dengan melempari Gio dengan bantal sofa yang ada didekatnya dan membuat cowok yang dilempar itu merengutkan wajahnya mendapat perlakuan seperti itu dari sahabatnya.


"Eh udah nemu FD nya?" Tanya Raka.

__ADS_1


"FD? FD apaan?" Tanya Gio balik dengan bingung, dengan cepat Noval kembali melempar Gio dengan bantal sofa.


"Sorry, muka lo tadi ada lalernya" alibinya tapi dengan mata yang diplototinya kepada Gio.


"Ah, iya-iya udah nemu. Udah dikantong gue ini" jawab Gio cepat mengerti dengan kode yang diberikan oleh Noval tadi.


Raka mengangguk percaya dengan apa yang dibilang sahabatnya itu.


"Btw, ciri-cari orang hamil itu gimana?" Tanya Raka pada kedua sahabatnya itu dengan tampang yang serius.


Reflek Gio dan Noval saling lirik mendapati pertanyaan random seperti itu.


"Apa ya, kalau di tv-tv yang mual pagi-pagi gitu gak sih? Yang kalau bahasa kedokterannya morning sickness" jawab Gio yang membuat Raka dan Noval tercengang.


"Lo habis makan apaan tadi pagi? Tumben otaknya encer gini?" Tanya Noval yang merasa kagum dengan Gio kali ini.


Gio memutar matanya malas lalu melempar kembali bantal sofa yang sudah menumpuk didekatnya ke Noval "bangke lo!" Timpalnya, "gue **** salah, gue pinter gini juga salah. Maunya apa?" Sengitnya kembali.


"Gak usah pinter-pinter, Gi. Serem kita lihat lo jadinya" timpal Raka yang dianggukin oleh Noval.


Mendengar itu membuat Gio mengumpat kasar yang membuat kedua sahabatnya itu tertawa keras telah berhasil membuat Gio merasa kesal.


"Cari makan yuk, mumpung masih ada setengah jam lagi ni jam istirahat" timpal Gio melirik jam di tangannya.


"Seblak yuk, pengen seblak gue" sahut Raka.


"Sejak kapan lo bisa makan makanan pedes?" Tanya Noval yang dianggukin Gio.


"Terakhir lo hampir koit ya, Ka. Gak usah cari penyakit deh" sindir Gio dengan sinisnya.


"Tau ni, ntar yang repot siapa?" Noval kembali.


"Gue, juga" jawab Gio dengan cepat.


Raka langsung menoleh pada cowok yang barusan menjawab itu.


"Bacot ah, Gi" sewot Raka dengan sinis.


"Berisik ah, jadinya makan apa ni? Keburu habis yang ada ntar jam istirahat" timpal Noval menghentikan perdebatan kedua orang itu.


"Seblak gue bilang juga" tegas Raka.


"Lo ngidam atau apa? Tiba-tiba gitu, biasa gak bisa makan yang pedes juga" balas Gio.


Raka langsung diam mendengar ucapan temannya itu dan tak mendengar lagi kalimat yang diucapkan oleh kedua sahabatnya itu, dia sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Ngidam?, pikirnya.


Raka kembali mengingat-ingat dan mencerna pembicaraannya dengan papanya tadi 'apa lagi kalau jadi ayah'


Papa ngomong gitu kasih petunjuk atau apa?, batin Raka memikirkan hal itu.


Tapi mendengar jawaban yang diberi Gio kalau ciri-ciri ibu hamil itu biasanya mengalami morning sickness, sementara istrinya nggak, membuat Raka mengubur kembali dalam-dalam pikirannya sebelumnya itu.


Kayaknya nggak deh, Yuki nggak ngalami mual-mual, lanjutnya kembali dengan menggelengkan kepalanya.


Tapi mendengar kata-kata kalau dia ngalami ngidam seperti ini, membuat pikiran itu datang lagi.


Apa mungkin?, batinnya bertanya.


"Woi, malah ngelamun. Jadi gak?" Tanya Gio menyadarkan Raka dari lamunannya.


"Lo dua aja lah, gue ada urusan penting" jawab Raka cepat lalu buru-buru keluar dari ruangannya.


"Lah, ditinggal dong" timpal Gio menatap kepergian Raka.


"Baru sadar kali dia" sahut Noval yang dari tadi tak bersuara.


"Kalau dia emang gak bisa makan pedes?" Tanya Gio menoleh pada Noval.


Buuukh


Noval menendang tulang kering Gio yang membuat cowok itu meringis kesakitan.


"Sakit ****!" Protes Gio tampak kesal.


"Bodo! Ngejemur lo sana, otak lo tu udah beku" balas Noval cuek lalu menyusul Raka keluar menuju ruangannya sendiri.


🐝🐝🐝🐝


"Gue ngapain?" Tanyanya pada dirinya sendiri yang berdiri didepan pintu apartmentnya dengan ditangannya memegang sebuah test-peck yang dibelinya tadi.


Sengaja pulang kantor cepat, dan sebelumnya singgah dulu ke apotek untuk membeli test-peck. Tiba didepan apartementnya, Raka tidak berani masuk dan memberikan alat itu kepada Yuki, dia masih ingat kejadian beberapa minggu lalu waktu hasil yang ditunjukkan Yuki padanya negatif. Dimana Yuki sangat terlihat kecewa, padahal segala usaha sudah dilakukan istrinya itu.


Raka lalu berjongkok dengan kepala yang ditekukkan kelututnya.


"Tiga minggu yang lalu negative terus sesudah test malah datang masa period gak mungkin sekarang tiba-tiba positive" lirihnya pelan "Lagian gimana caranya bilang sama Yuki? Pasti masih ngerasa kecewa karena kemarin. Raka-Raka, **** banget sih lo jadi suami, gak ngertiin perasaan istri sendiri" timpalnya kembali dengan mengetuk-ngetuk kepalanya.


"Lain kali aja, jangan sekarang" sambung Raka dengan berdiri lemah dari jongkoknya dan menyimpan kembali alat tersebut kedalam kantong celananya lalu dengan berusaha terlihat santai dia masuk kedalam apartment tersebut.


"Car" panggilnya kepada Yuki yang sedang asik nonton TV lalu berjalan mendekati istrinya itu dan di peluknya mesrah tubuh tersebut.


"Loh cepat banget pulangnya? Aku belum masak loh bang" sahut Yuki membalas pelukan suaminya itu.


"Gak apa-apa, Lagian Abang belum laper juga" balasnya menenggelamkan wajahnya keleher Yuki dan menempelkan hidung dileher tersebut mengendus wangi yang selalu jadi favoritenya


"Terus kenapa cepat pulangnya? Belum jam pulang kantor kan" ucapnya melirik jam yang menempel didinding ruangan tersebut.


"Kangen sama pacar" jawab Raka pelan dengan suara ngebassnya.


Yuki mencibir tapi tangannya mengelus lembut punggung suaminya itu.


"Pacar?" Panggil Raka dengan manjanya masih dengan posisi semula.


Yuki menjawab dengan bergumam "umm? Kenapa?" Tanyanya.


"Kangen" balas Raka kembali.


Yuki tertawa menanggapi ucapan suaminya itu "Abang habis lewat mana? Kok bisa kesambet gini?" Ledek Yuki membuat Raka menegakkan kepalanya memandang istrinya itu dengan wajah cemberut.


"Suaminya lagi kangen juga bukannya di bales atau apa gitu, ini malah di ledekin. Ya Allah jahatnya istri abang" timpalnya memelas.


Yuki menangkupkan kedua tangannya dipipi mulus suaminya lalu dikecupnya sekilas bibir yang sudah mengerucut karena cemberut itu "ya aneh aja, tiba-tiba gitu. Tadi pagi masih biasa aja, aku suruh libur abang malah gak mau" jelasnya.


"Pacar?" Panggil Raka kembali.


"Iya bang iya? Kenapa? manggil mulu, orangnya disini juga" balas Yuki.


Raka menggeleng "sayang pacar banyak-banyak" lanjutnya dengan menempelkan pipinya kedada Yuki dan tangan yang sudah melingkat erat di perut istrinya itu.


Meliht itu membuat Yuki menarik nafasnya dalam, bingung dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba manja begini.


"Iya, sayang Abang banyak-banyak juga" balas Yuki sedikit menunduk dan mengelus pipi Raka.


Raka mendangak keatas "cium boleh?" Izinnya dengan sedikit merengek.


"Udah kan?" Tanya Yuki setelah mencium bibir itu sekilas.


Raka menyatukan alisnya "yang lama dong, masa cuma bentaran. Gak berasa, car" timpalnya cemberut.


Dengan pasrah Yuki mencium kembali bibir merah itu dengan beberapa kecupan dan seperti mintanya Raka yang lama.


"Terima kasih pacarnya abang" Lanjutnya tersenyum genit dan menarik Yuki keatas pangkuannya lalu melingkarkan kedua tangannya dipinggang istrinya itu.


"Abang kenapa hari ini? Manja banget gak kayak biasanya" Tanya Yuki yang sudah berada diatas pangkuan Raka dengan mengelus bibir Raka yang sedikit diujung bibirnya.


Raka menjawab dengan gelengan dan juga senyum tipis dibibirnya "gak kenapa-kenapa, lagi pengen aja. Emang gak boleh, hm?" Tanyanya balik bertanya menarik tangan yang ada dibibirnya itu lalu di kecupnya berkali-kali.


"Boleh, tapi aneh aja. Gak kayak biasanya."


"Emang biasanya gimana?."


"Ya, biasanya gak ginilah" jawab Yuki tidak jelas.


Raka tertawa mencubit pipi istrinya itu "Apa sih gak jelas" timpalnya membuat Yuki cemberut.


"Car" panggil Raka lembut.


"Apa?" Jawab Yuki cuek.

__ADS_1


"Dih ngambek."


"Apa sih, car cer car cer mulu" sewot Yuki memajukan bibir bawahnya.


"Itu bibir bisa biasa aja gak? Abang cium lagi ni ntar" ancam Raka membuat Yuki memasang tampang datarnya.


"Lagian dari tadi manggil mulu, tapi gak ngomong-ngomong kan kesel sih" ambeknya.


Raka tersenyum merapikan rambut Yuki yang berantakan "Tadi Abang pulang lewat apotek" ucapnya.


"Ya terus hubungannya sama aku?" Tanya Yuki memotong ucapan suaminya itu.


"Ya dengerin dulu Abang ngomong, jangan langsung di potong, sayaaang" balas Raka mencubit bibir Yuki.


Yuki langsung cemberut, menunduk memainkan kancing kemeja Raka.


"Abang singgah ke apotek, terus beli ini" lanjut Raka menunjukkan alat tes kehamilan tersebut pada Yuki.


Melihat itu langsung membuat Yuki mengangkat kepalanya menatap Raka dengan tatapan dinginnya.


"Gak tau kenapa Abang pengen banget beli ini tadi" jelas Raka dengan sedikit merasa bersalah melihat wajah yang tidak bersahabat dari istrinya itu.


Yuki mengambil alat tersebut dari tangan Raka "Abang pengen aku cobain lagi kan?" Tanyanya tanpa ekspresi menatap lurus ke alat tersebut.


Raka menarik pinggang Yuki agar lebih dekat dengannya lalu disandarkanya kembali pipinya didada istrinya itu "kalau pacar gak mau juga gak apa-apa, beneran Abang gak maksud buat maksa atau gimana, cuma tadi gak tau kenapa Abang bisa mikir buat beli" jelasnya kembali.


Yuki ke narik nafasnya kasar lalu ditariknya pipi suaminya itu agar membalas tatapannya "ntar kalau hasilnya gak sesuai harapan atau ngecewain lagi gimana?" Tanya Yuki pelan dengan bibir bergetar


Raka tak langsung menjawab pertanyaan istrinya itu, di lengkungkannya bibirnya keatas membentuk sebuah senyum lembut yang membuat Yuki sedikit merasa tenang melihatnya.


"Gak apa-apa kita bisa coba lagi, kita masih punya waktukan? Abang beli ini bukan untuk menambahi beban pacar. Maafin Abang ya, maafin Abang udah egois hari ini. Maaf" ucapnya pelan yang membuat mata Yuki berkaca-kaca mendengarnya.


Yuki menggeleng kencang "gak salah Abang, ini semua salah aku, coba aja waktu itu aku gak nunda-nunda mungkin sekarang kita udah punya anak" ucap Yuki yang mulai terisak-isak menyalahkan dirinya dengan kejadian yang mereka alami saat ini.


"Sssstt" ucap Raka menenangkan dan mengusap pipi istrinya yang basah lalu dielusnya lembut pipi tersebut "bukan salah pacar, bukan salah abang, atau salah siapa-siapa. Ini tu salah satu cara Tuhan buat nguji kita, apakah kita sabar dan mampu atau tidak. Kalau hanya ujian begini aja kita gak mampu gimana Tuhan bisa menitipkan harta yang berharga itu pada kita?" Jelasnya mengusap kembali pipi Yuki yang masih meneteskan air matanya.


"Ingat sayang, Allah itu paling benci sama umatnya yang gak bisa ambil hikmah dan bersyukur disetiap ujian yang diberi" sambung Raka.


"Aku...aku gak tau rasa syukur apa yang harus aku ambil dari masalah kita ini" balasnya masih dengan terisak.


"Kok gitu ngomongnya?" Tanya Raka dengan kening berkerut, "bersyukur dong, setidaknya kita masih bisa nikmati masa-masa begini, kita bisa mengerti satu sama lain, waktu kita bisa lebih banyak, kita bisa belajar lebih baik lagi jadi orang tua gimana. Banyak hal yang bisa kita syukuri, car" sambung Raka kembali membuat Yuki merasa tersentuh dengan ucapan yang membuat dia menyadarinya dengan kekeliruannya selama ini.


"Maaf" lirih Yuki pelan.


Raka tersenyum begitu lembutnya mengusap helaian rambut panjang istrinya itu "gak ada yang perlu dimaafin, car. Wajar rasa kecewa kadang membuat kita lupa dengan nikmat yang kita dapet. Udah ya, buat nyalahin diri sendirinya, kita usaha lagi sama-sama, ok?" Tanyanya memainkan alisnya yang dianggukin oleh Yuki dengan membalas senyum dari Raka.


"Aku coba ya?" Tanya Yuki mengangkat alat tersebut yang ada ditangannya.


"Udah siap emang?."


Yuki mengangguk dengan pasti "tapi Abang janji ya, kalau kali ini hasilnya negative lagi, Abang jangan nunjukin tampang kecewa yang buat aku ngerasa bersalah."


"Insha Allah Abang janji" jawab Raka cepat, "maafin Abang ya, mungkin selama ini tanpa sadar udah buat pacar ngerasa terbenani, maaf Abang kurang ngertiin perasaan pacar" sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat Raka sedih begitu membuat perasaan Yuki ikutan sedih "iya aku maafin, udah jangan sedih-sedih lagi dong" ucap Yuki menghibur suaminya itu dan mengusap matanya yang basah oleh air mata, "ayo kita coba" ajak Yuki turun dari pangkuan Raka dan menarik tangan suaminya itu menuju kamar mandi yang ada didalam kamar tidurnya.


"Abang tunggu disini, ya" pesan Yuki yang dianggukin oleh Raka.


"Baca bismillah, car, jangan lupa" ucap Raka berpesan pada istrinya itu yang dijawab dengan acungan jempol sama Yuki.


Selama didalam kamar mandi, dari awal mencoba sampai menunggu hasilnya Yuki tak henti-hentinya membaca bismillah dan berdoa didalam hati berharap hasilnya sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Begitu juga dengan Raka yang diluarΒ  menunggu yuki dengan perasaan dag dig dug. Takut kalau hasilnya kali ini kembali tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.


Sekarang Yuki sudah berdiri didepan gelas yang didalamnya terdapat alat yang tadi dimasukkannya.


Dengan perasaan was-was Yuki memandangi benda tersebut yang masih didalam gelas yang alatnya sengaja dibalikkannya agar dia tidak langsung melihat hasilnya.


"Lihat jangan, lihat jangan, lihat jangan" ucap Yuki menimbang-nimbang apakah dia harus melihat atau tidak.


Berapa kali Yuki ingin mengambil alat tersebut tapi ujung-ujungnya diurungkannya kembali niatnya itu tapi dengan keberanian yang seadanya dikeluarkannya alat tersebut dari gelas dan diletakkannya diatas wastafel.


"Sumpah gak berani" lirihnya mengigit ujung kukunya memandangi alat tersebut yang tergeletak diatas wastafel.


"Car, udah?" Tanya Raka dari luar yang sedikit tidak sabaran menunggu Yuki.


"Iya bang bentar" balas Yuki yang masih bediri diam didepan alat itu.


"Bismillah" ucap Yuki yakin dan mengambil alat itu lalu dibalikkannya.


Setelahnya, melihat hasilnya membuat Yuki diam ditempat dengan kaki yang terasa lemas dan akhirnya membuat dia terduduk diatas lantai dengan isakan kecil yang lama-lama berubah menjadi tangisan yang ditahannya.


"Car, gimana udah tau hasilnya?" Tanya Raka kembali dari luar.


Yuki tak menjawab, dia masih menagisi hasil yang dilihatnya.


"Car?" Panggil Raka kembali masih menahan dirinya untuk masuk.


Tak juga dapat jawaban dari Yuki membuat Raka memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar mandi tersebut, dan setelahnya yang dilihatnya adalah istrinya terduduk dilantai kamar mandi yang sedang menangis.


"Car, hey? Kenapa?" Tanya Raka panik mengusap-usap pipi Yuki.


"Car, denger Abang? Kenapa, sayang?" Tanyanya kembali yang masih belum dijawab oleh Yuki.


Raka tersenyum pilu, dia sudah mengira kalau hasilnya masih belum berubah.


"Negative?" Tanyanya dengan memaksakan senyumnya menahan tangis "Udah gak apa-apa, kita bisa coba lain kalikan" lanjutnya dengan suara bergetar lalu ditariknya kepala Yuki dan disandarkannya ke dadanya menenangkan istrinya, tapi tidak untuknya.


Jujur, rasa kecewa itu pasti ada. Tapi Raka keburu janji pada istrinya untuk tidak menunjukkan kekecewaan itu.


"Gak apa-apa, kita bisa coba lagi" ulangnya kembali, tapi kali ini air mata itu tak bisa di bendungnya lagi dan akhirnya menetes mengenai pipinya.


"Maaf untuk kali inipun Abang masih gak bisa nepati janji Abang" sambungnya dengan terisak memeluk Yuki.


Medengar kalimat tersebut membuat Yuki terpaksa melepas pelukan Raka dan menatap mata suaminya yang sudah memerah karena menangis, entah dia harus ikutan sedih atau ketawa saat ini melihat suaminya seperti itu.


Ini kali keduanya hari ini Raka meneteskan air mata seperti ini yang membuat Yuki merasa haru. Dia gak menyangka kalau lelaki yang selama ini selalu terlihat keren bisa meneteskan air mata untuk beberapa kali dalam sehari.


Gimana dia gak makin cinta sama suaminya ini, selalu bisa membuat perasaannya teraduk-aduk seperti sekarang ini.


Diusapnya pipi Raka menyeka air mata yang masih menetes itu dan kemudian di berinya alat tersebut kepada Raka.


Raka yang masih belum tau, menerima saja alat itu tanpa dilihatnya dan ingin dimasukkannya kedalam kantongnya tapi keburu di cegah oleh Yuki.


"Lihat dulu bang" suruh Yuki dengan suara serak sehabis nangis.


Jelas hal itu membuat Raka mengerutkan keningnya, ngapain dilihat kalau hasilnya dia sudah tau, pikirnya.


"Lihat aja dulu" ucap Yuki kembali seolah tau isi pikiran suaminya.


Dengan terpaksa Raka mengikuti ucapan istrinya itu untuk melihat hasil yang ditunjukkan alat tersebut.


Raka mengerutkan keningnya "garis dua" ucapnya membaca hasil yang tertera di alat tersebut, lalu menoleh pada Yuki masih dengan tampang bingung "garis dua?" Ucapnya kembali dengan bertanya kepada Yuki.


"Positive" jawab Yuki pelan dengan cengiran lebarnya.


Raka memelototkan matanya terkejut yang dianggukin oleh Yuki "positive" ulang Yuki mencoba meyakinkan Raka kembali.


"Positive?" Tanya Raka masih tak percaya yang kembali dianggukin Yuki dengan tertawa pelan, lucu melihat tampang suaminya saat ini.


"Pacar hamil?" Tanyanya kembali memastikan kebenaran itu.


Yuki tertawa "iya bang iya, aku hamil. Hasilnya positive" jelas Yuki masih terlihat sabar menanggapi pertanyaan Raka yang berulang-ulang.


"Hamil?" Tanyanya kembali dengan mata berkaca-kaca tak percaya keajaiban yang didapatinya hari ini.


Yuki mengangguk dengan mata yang sudah menahan tangisnya melihat haru suaminya seperti itu.


Dibekapnya mulutnya menahan haru sementara matanya telah berhasil mengeluarkan air matanya kembali "Abang bakal jadi ayah" ucapnya bergetar lalu menarik badan Yuki kedalam pelukannya.


Yuki mengangguk ikut menangis didalam pelukan Raka.


"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, car. Terima kasih" ucapnya bersyukur dalam isakan tangisnya.


"Terima kasih" ucapnya sekali lagi setelah melepas pelukannya terhadap tubuh Yuki.


Yuki sendiri yang tak tau harus berkata apa hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.


Dimajukannya kepalanya lalu ditempelkanya bibirnya diatas bibir Raka "sama-sama" jawabnya pelan dengan susah payah.

__ADS_1


**Next**🐝


__ADS_2