
"Ya Allah capek banget" ucap Yuki menghempaskan badannya ke atas kasur yang dipenuhi dengan bunga mawar putih yang berbentuk hati.
Padahal ia tidak pernah membicarakan masalah dekorasi kamar pengantin untuk dipenuhi dengan mawar putih seperti ini pada Raka maupun WO yang mengurus pernikahan mereka.
"Capek banget ya? " Tanya Raka yang baru masuk dengan membawa dua koper ditangannya, dan jaz yang ia gunakan tadi sudah disisipkan diatas koper.
"Sampai asal tidur gitu, bunganya jadi berantakan" lanjutnya meletakkan koper yang dibawanya tadi disudut kamar hotel yang mereka tempati berbarengan dengan gedung tempat resepsi pernikahan mereka.
"Banget, banget bang. Parah ini kaki aku udah mati rasa kayaknya" jawabnya dengan memejamkan mata.
Raka membuka kemeja yang digunakannya dan meninggalkan kaos putih didalamnya lalu mendekat duduk disamping Yuki dan menarik kaki istrinya itu keatas pahanya.
"Eh" ucap Yuki kaget membuka matanya.
"Abang pijit ya. Kalau mau tidur bentar, tidur aja. Ntar Abang bangunin" ucapnya lembut dan mulai memijit kaki istrinya yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.
"Gak mau ah. Aku gak mau tidur. Takut kalau ini mimpi".
Mendengar alasan konyol itu Raka tertawa dan membuat Yuki menatap bingung kearah Raka "mimpi gimana sih? Hmm?" Tanyanya lembut mengusap pipi Yuki, "mau di buktiin kalau ini tu nyata?" Goda Raka mendekat kan wajahnya ke wajah Yuki.
Belum sempat raka mendapatkan bibirnya ke tempat tujuannya, Yuki langsung menghalang dengan telapak tangannya.
"Modus ya bang. Pinter" ucapnya datar tanpa ekspresi, membuat Raka tertawa dan ikut membaringkan badannya di samping Yuki.
Yuki menoleh kearah Raka yang menatap lurus keatas langit-langit kamar "kamarnya bagus, ini pasti ide Abang kan?".
"Mama Yuni bilang, istri Abang suka mawar putih" ucap Raka lembut menoleh sekilas, membuat Yuki merasa terharu "Abang baru tau kamu punya sisi manis begitu" lanjutnya yang membuat Yuki langsung mendaratkan cubitannya di pinggang Raka.
"Sssss...sakit sayang" teriak Raka berusaha melepaskan tangan istrinya dari pinggangnya.
"Gak usah panggil sayang-sayang. Ngomong sekali lagi kalau aku gak ada sisi manisnya" ucapnya melepas cubitannya dan langsung membalikkan badannya memunggungi Raka.
Melihat itu membuat Raka menyunggingkan senyumnya. Ia tak salah dengan ucapannya tadi, istrinya ini yang sekarang akan selalu berada di sampingnya hingga akhir hayat bukanlah wanita yang memiliki sisi manis seperti wanita lain pada umumnya.
Istrinya ini bar-bar, contohnya seperti sekarang ini, suka mencak-mencak. Jauh dari kata kalem untuk ukuran seorang wanita. Tapi entah Kenapa hal itu yang membuat Raka begitu nyaman untuk berada disampingnya.
Raka menatap punggung istrinya Yang masih berbalut gaun pengantin, lalu memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya keleher yang selalu dapat membuat ia hilang fokus.
"Kamu manis dengan cara kamu sendiri. Lagi marah, ngomel, ngedumel, misuh-misuh itu tu menurut Abang sisi manis kamu. Apa lagi cara kamu kasih perhatian yang berbeda gitu, manis banget" ucapnya menghidup dalam tengkuk Yuki.
"Contoh, kayak Abang makan yang pedes-pedes bukannya dilarang baik-baik malah Abang diomelin. Yang pada akhirnya Abang sengaja buat makan yang pedes-pedes biar diomelin terus-terusan, denger celotehan istri itu buat Abang jadi candu" ucapnya pelan dengan suara beratnya.
Di balik itu Yuki tidak bergerak sama sekali, bahkan untuk menarik nafas dan menghembuskannya saja ia sedikit kesulitan, pasalnya leher itu bukan titik aman untuknya.
"Di perhatiin dengan cara yang berbeda Itu sisi manis kamu kalau menurut abang" sambungnya.
Mendengar kata-kata seperti itu membuat Yuki merasa ia begitu special di hati Raka. Tapi itu semuanya lenyap setelah tangan Raka tidak tenang berada diatas perutnya.
"Ehem. Iya-iya manis, tapi ini tangannya bisa kali gak usah kemana-mana" ucap Yuki sinis "modus banget dari tadi".
Raka tertawa dan menjauhkan tangannya "sini dong hadap Abang" ucap Raka menarik badan Yuki menghadap kearahnya.
"Apa?" Tanya Yuki tampak berang.
"Boleh cium?" Tanya Raka lembut, sangat lembut.
"Kalau aku bilang nggak, emang bakal gak di lakuin?".
Raka tertawa mengusap pipi Yuki "Kalau pacar, eh. Haha Abang bingung mau manggil apa. Biasanya manggil pacar" ucap Raka tertawa yang membuat Yuki ikut tertawa juga.
"Yaudah panggil pacar aja kalau Abang nyamannya itu".
Raka tampak memikirkan tawaran Yuki "panggil mantan mau?" Usulnya dengan tertawa.
"Mantan?" Beo Yuki bingung.
"Mantan pacar haha, kan sekarang udah jadi istri" jelas Raka kembali tertawa lagi melihat muka cengo Yuki.
Dan seperkian detik Yuki ikut tertawa juga dengan menepuk dada Raka tak kuat.
"Apa sih, garing banget" ucapnya dengan tertawa.
"Yaudah, panggil pacar aja ya. Biar inget gimana bucinnya istri Abang ini dulu" ledeknya yang membuat Yuki kembali memukul dada Raka, malu kalau diinget gimana perjungannya dulu.
"Eh tadi pertanyaan aku belum dijawab".
"Yang mana?" Tanya Raka mengertukan keningnya, tangannya sibuk memain-mainkan jari-jemari Yuki.
Yuki berdecak "Dasar, belum tua uda pikun"
"Lah, yang mana sih?".
"Kalau aku bilang nggak, emang bakal gak di lakuin?" Ulang Yuki mengingatkan kembali pertanyaan sebelumnya.
Raka tertawa "oh itu" ucapnya santai, "ya kalau pacar bilang nggak, berarti nggak. Kalau bilang iya, maka iya" jawabnya.
"Kalau aku gak jawab apa-apa?" Tantang Yuki.
Raka tersenyum kembali "Kalau gak jawab, berarti iya. Tapi pacar malu bilangnya" jawabnya dengan kedipan mata.
"Apa sih sok tau banget" ucap Yuki malu menutup wajahnya pada dada Raka.
"Emang tau yeee" timpal Raka mengeratkan pelukannya.
"Eh, mandi gih, biar seger. Siap itu tidur" suruhnya, melepas pelukannya.
Yuki bangun dari tidurnya menatap Raka yang masih rebahan disampingnya.
"Gak jadi ciumnya?" Tanyanya pelan menoleh kearah lain tak berani menatap Raka langsung.
"Udah gak mood" jawab Raka singkat dengan lengannya menutupi mata.
Mendengar itu membuat Yuki langsung menatap tajam suaminya "Gak mood?" Tanyanya tak percaya dengan nada sinis.
"Iya, mau yang lebih dari itu".
Mendengar itu langsung membuat Yuki menarik bantal yang terdekat dengannya dan dilempar keatas badan suaminya itu.
"Mamam tu" ucapnya berang langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
Dan hal itu membuat Raka tertawa dengan berguling diatas kasur hingga ia mengusap matanya yang mengeluarkan air mata.
"Hey itu gaunnya gak mau di bantuin bukain retsletingnya?" Teriak Raka pada Yuki yang membanging kuat pintu kamar mandi.
"ENGGAK PERLU! AKU BISA!" Balas Yuki ikut berteriak.
"Ok fine" ucap Raka mengidikkan bahunya dan memilih mengambil posisi untuk tidur.
Setengah jam lebih Yuki didalam kamar mandi, belum juga Raka mendengar suara orang mandi. Iapun bangkit dari kasurnya dan berjalan kearah kamar mandi.
__ADS_1
"Caar, kamu ok kan didalam? Gak ada suaranya gitu" Tanya Raka tampak panik.
Tak berapa lama Yuki keluar masih berpakaian lengkap seperti ia masuk tadi, tapi dengan wajah memelas.
"Loh belum mandi?".
Yuki menggeleng memain-mainkan kuku ditangannya.
"Kenapa? Airnya mampet?"
Yuki kembali menggeleng.
"Lah terus, kenapa belum mandi hm?" Tanya Raka menangkupkan tangannya kepipi Yuki lalu diusapnya.
"Retsletingnya gak bisa dibuka" ucapnya pelan, sedikit berbisik dengan wajah memerah menahan malu.
Hal itu lantas membuat Raka tertawa keras. Pasalnya baru setengah jam yang lalu ia menawarkan diri untuk membantu, tapi di tolak mentah-mentah. Sekarang liat apa yang terjadi.
"Malah di ketawain" ucap Yuki kesel bercampur malu.
"Lucu" jawabnya masih tertawa hingga memegang perutnya yang merasa tegang.
"Mau bantuin atau enggak?" Tanyanya datar.
"Iya-iya sayang, sini Abang bantu" ucap Raka lembut menarik lalu memutar tubuh Yuki agar memunggunginya.
Mendengar kata 'sayang' yang beberapa kali di ucap kan Raka hari ini mampu membuat jantung Yuki berdegub kencang. Pasalnya Raka bukanlah cowok yang gampang mengumbar kata sayang.
Selama pacaran saja, bisa di hitung berapa kali suaminya itu menyebut kata itu. Bahkan untuk panggilan saja ia Lebih memilih memanggil dengan sebutan status mereka seperti pacar bahkan udah menikah seperti sekarang ini.
Gak perlu waktu lama bagi Raka menurunkan retsleting gaun istrinya, dalam hitungan detik gaun itu berhasil dibuka. Dan untungnya gaun itu memiliki lengan walau hanya menutupi bahu saja, sehingga gaun itu gak langsung merosot kelantai.
Melihat punggung Yuki yang terekspos untuk pertama kalinya, mampu membuat Raka tidak berkedip untuk beberapa detik.
Bening, batinnya.
Dan tanpa sadar, ia mengikuti insting lelakinya memasukkan tangannya kedalam gaun yang sudah dibuka itu. Hingga sekarang kedua tangan Raka berada di pinggang Yuki tanpa hambatan apapun.
Tapi tangan itu tidak hanya diam, ia sudah berjalan mengitari perut Yuki yang datar tanpa lemak.
Jelas hal itu membuat Yuki terkejut, hingga ia tak mampu bergerak sedikitpun. Belum lagi Raka yang sudah menempelkan bibirnya ke leher Yuki beserta dengan deru nafas Raka yang terkena langsung ke leher gadis itu.
Double trouble bagi Yuki. Pasalnya dua hal itu merupakan titik tersensitivenya.
Eeeuungh.
Tanpa bisa ditahan Yuki mengeluarkan lenguhannya.
Jelas mendengar itu membuat Raka tersenyum tipis. Ia pria dewasa. Ia ngerti kalau wanita sudah mengeluarkan suara seperti itu tandanya apa.
"Abaaang" ucap Yuki bersusah payah menormal suaranya yang bernada aneh.
Pasalnya yang keluar bukanlah seperti biasanya, melainkan seperti cewek yang lagi merayu seorang pria.
"Iya? Kenapa hm?" Jawab Raka setengah berbisik menempelkan bibirnya di telinga Yuki dan sengaja menghembuskan nafasnya disana.
Hal itu tentu membuat Yuki menahan perasaan aneh yang sebelumnya tak pernah dirasakannya.
Luar biasa bisa membuat ia merasakan darahnya mengalir dengan deras dan jantungnya memompa begitu kencangnya. Seperti memainkan adrenalin yang berbahaya.
Iya berbahaya, bagi yang belum halal :')
Bukannya menghentikan aksinya, Raka malah makin mengeratkan pelukannya dan mengendus leher Yuki.
"Sepuluh menit ya, Abang mau kayak gini dulu. Wangi, anget. Abang suka" bisiknya dengan suara serak.
Eeeungh
Raka meraih dagu Yuki dan diputarnya badan istrinya itu lalu dikecupnya sebentar bibir merah yang masih full dengan lipstick.
"Gak manis kayak biasanya" ucapnya menyecap bibir itu kembali, "lain kali gak usah pakai ginian lagi ya" lanjutnya mengelus bibir Yuki, dan dianggukin wanita itu.
"Abang bersihin boleh?" Izin Raka, Yuki mengangguk.
Kali ini entah kemana sifat bar-bar Yuki, hingga ia nurut sepert itu.
Dapat izin dari istrinya, Raka menempelkan kembali bibirnya kebibir merah itu. Awalnya hanya kecupan-kecupan kecil dibibir, terus beranjak ke mata, lanjut kepipi kiri dan kanan, lalu kedagu, kemudian singkah kekening cukup lama, hingga kembali lagi kebibir merah yang sudah kembali ke warna aslinya.
Tentu perlakuan Raka itu membuat akal sehat Yuki hilang untuk sementara hingga ia tak sadar kalau mereka sudah berada di depan kamar mandi.
Raka menghentikan ciumannya, menatap dalam mata belo istrinya itu, hingga terbentuk lengkungan lebar keatas dari bibirnya "Love you" ucapnya pelan.
Belum sempat Yuki membalas dua kata tersebut, Raka kembali menautkan bibirnya kebibir Yuki dan menyempatkan membisikkan kata yang gak bisa di tolak oleh Yuki "mandi bareng ya, biar cepet" bisiknya hingga mereka benar-benar masuk kedalam kamar mandi.
Bluuum
Pintu tertutup.
🐝🐝🐝🐝
"Geser ih, aku juga mau tidur" perintah Yuki yang tampak sekal.
"Ciye ngambek ciye" goda Raka mencolek-colek dagu Yuki.
Yuki memelotoin Raka dengan tatapan tajamnya.
Hal itu lantas membuat Raka langsung diam, bangun dari posisi nyamannya dan mempersilhakan istrinya untuk tidur dengan nyaman.
"Silahkan permaisuri ku tersayang" ucapnya dengan gaya seperti pramuniaga.
Melihat itu membuat Yuki menatap sinis kearah Raka dengan ujung matanya.
"Ok" ucap Raka santai dengan tampang tak bersalahnya telah membuat mood Yuki berantakan malam ini.
"Mindi biring biir cipit, cepat apaan dua jam'an gitu" sindir Yuki dengan bibir yang bergerak-gerak tak beraturan, dan sudah membaringkan badannya secara kasar diatas ranjang.
Melihat itu membuat Raka merapatkan bibirnya menahan tawa. Tau betul dia apa yang diucapkan istrinya itu.
Yuki merasa dibohongin, yang katanya mandi berdua biar cepat, ternyata malah membuat waktu jadi makin lama.
Ini semua ulahnya Raka yang bermain-main dengan tubuh Yuki, hingga menghasilkan bibir wanitanya membiru kedinginan dan sedikit bengkak, belum lagi tanda merah yang menempel di beberapa daerah tertentu.
Sabar ya bang, belum dapet jatah malah musuhan :')
"Marah sama Abang ni ceritanya?" Tanya Raka dengan sabar.
"Au ah gelap" sinis Yuki memunggungi suaminya.
Raka tersenyum walau ia tau istrinya gak bakal melihatnya "pacar biasa kalau tidur ngadep mana?" Tanyanya lembut, mengalihkan permasalahan yang ada.
__ADS_1
"Kanan" jawab Yuki jutek.
"Oh kanan. Kalau gitu pacar tidur sebelah kiri ya, mau?".
Yuki langsung duduk, menatap suaminya dengan sinis "kok gitu?" Tanyanya.
"Ya biar tidurnya ngadep Abang terus" jawabnya pelan tersenyum dan mengangkat tangannya msnentuk huruf V 'pease'.
Melihat itu membuat Yuki kembali menghempaskan badannya, tapi kali ini sesuai dengan permintaan Raka. Ia tidur sebelah kiri.
"Kuat ki, gak boleh lemah" batinnya.
Hampir saja ia khilaf ingin memeluk suaminya itu, hanya karena melihat tampang malaikatnya tadi kalau aja ia tidak ingat kalau sedang marahan.
"Tidur. Gak usah senyum-senyum" sindir Yuki.
Mendengar perintah Yuki membuat Raka memanyunkan bibirnya "beneran tidur? Kan malam pertama" ucapnya pelan, dengan tak semangat ia menaiki kasur dan mengambil posisi disamping Yuki.
Yuki membalikkan badannya memunggungi Raka "salah siapa tadi buat bibir aku jadi pucat gini? Mau bikin orang mati beku kali ya" omelnya.
"Iya maaf" jawabnya cemberut memain-mainkan rambut Yuki dari belakang.
Yuki langsung membalikkan badannya membuat Raka terkejut "Maaf-maaf, ni bibir aku sampai pucet keungu-unguan gini ****" tunjuknya kesel.
"Eh mulutnya" tegur Raka atas umpatan Yuki tadi.
"Iyah Abang tu ha, jahat. Katanya sebentar, taunya berjam-jam. Kan kesel sih bang" jawabnya cemberut dengan bibir bawah yg sudah Lebih maju dan kening berkerut.
Raka mengelus rambut istrinya ini, ia tau ia salah tapi namanya kelepasan, dia bisa aja coba.
Bisa menikmati sampai puas bang.
"Maaf ya, sini Abang bikin merah lagi" ucapnya meraih bibir Yuki dan dikecupnya lama disana.
Lama-lama kecupan itu berubah menjadi ciuman. Merasa ciumannya dibalas, Raka makin memperdalam ciumannya.
Begitu juga dengan tangannya yang sudah menarik tubuh Yuki agar Lebih mendekat dengan dirinya.
Sedang menimati ciuman dari Raka. Yuki menatap bingung kearah lelaki itu yang menghentikan ciumannya dan sedang menatapnya juga.
"Kok berhenti?" Tanya Yuki dengan tatapan bingungnya.
Raka tak langsung menjawab, dielusnya bibir Yuki yang basah dengan ibu jarinya "Boleh sekarang gak?".
"Apa?".
"Abang pengen" jawab Raka sedikit ragu-ragu dan menjilati bibirnya, menghilangi rasa grogi takut di tolak.
Yuki diam. Tak langsung menjawab, ia tau maksud dari ucapan suaminya itu.
"Pelan-pelan ya, aku belum pernah" balas Yuki berusaha terlihat santai. Tapi suaranya sudah berubah menjadi begetar. Ini kali pertama baginya, dan jujur ia merasa takut.
Raka tersenyum mengecup sayang kening Yuki lalu mengelusnya "Sama-sama coba ya. Kalau ngerasa sakit bilang, kalau mau berhenti juga bilang. Jangan dipaksa, ok?" ucapnya lembut.
Yuki mengangguk. Mau tak mau dia harus melakukannya, toh kalau bukan hari ini, hari esok dia pasti akan merasakannya juga. Jadi sama saja, dia harus melakukannya juga.
Mendapat izin begitu, Raka tak menyia-nyiakan waktu yang terus berjalan.
Dia langsung mencium bibir Yuki dengan begitu lembutnya, hingga Yuki merasa terbuai dengan ciuman itu sampai dia tak tau kalau Raka sudah berada diatasnya.
Dengan berlahan tangan Raka yang digunakan untuk menahan tubuhnya, bergerak masuk kedalam kaos yang digunakan Yuki. Begitu juga dengan ciuman yang sudah berjalan kearah leher wanita itu, tak hanya itu Raka juga meninggalkan beberapa jejak disana.
Yuki tak tau mau bilang apa, ia hanya mengeluarkan suara lenguhannya. Baginya ini sangat-sangat luar biasa. Dia gak tau, ciuman seperti ini bisa memabukan seperti saat ini.
Dan dengan pengetahuan dasarnya, Yuki membalas perlakuan Raka dengan menyusupkan tangannya kedalam kaos yang Raka gunakan saat itu.
Dan setelah itu dia merasakan ada sesuatu yang selama ini hanya mampu dilihatnya di photo-photo orang luar. Suaminya, Raka memiliki abs. Alias roti sobek.
"Aku gak nyangka Abang punya roti sobek begini" bisiknya meraba-raba perut Raka.
Raka menghentikan aksinya, menatap Yuki bingung atas ucapnya tadi "Kenapa? Pacar gak suka?".
Yuki menggeleng "suka. Banget".
"Terus?"
"Ya gak nyangka aja bisa ngerasain langsung gimana megangnya".
Raka tertawa begitu manisnya "Ngerasainnya udah. Tapi belum liatkan gimana, mau liat gak?" Tawar Raka sedikit menggoda dengan kedipannya.
Yuki mengalihkan tatapnnya, malu.
"Emang boleh?" Tanyanya tak berani menatap Raka langsung.
Raka bangun dari posisinya menindih Yuki dan duduk diatas paha istrinya dengan bertumpuh dari lututnya.
"Bolehlah, kan ntar juga bakal ngeliat semuanya" bisik Raka sedikit menggoda.
Dengan lirikan, Yuki melihat Raka mengangkat tangannya dan menarik kaosnya keatas keluar dari kepalanya.
Shit, batin Yuki mengumpat. Jantungnya tak karuan berdetak.
Kalau benar liat yang hot-hot bakal mimisan. Mungkin Yuki sudah mimisan melihat ciptaan tuhan seperti itu.
"Katanya mau liat. Masa di lirik doang" goda Raka dengan senyumnya.
"Malu" cicit Yuki menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Raka tertawa melihat kelakuan yang menggemeshkan dari istrinya itu, lalu menarik tangan istrinya yang menutupi matanya dan diletakkannya diatas perutnya.
"Udah halal, gak boleh malu" bisiknya mengecup leher Yuki.
Yuki yang awalnya tegang, berhasil terlihat santai mengikuti permainan Raka. Hingga mereka berdua sama-sama tidak memakai sehelai benangpun.
"Ingat kan yang Abang bilang tadi? Kalau sakit bilang, kalau pacar minta berhenti juga bilang. Abang gak maksa" ucapnya, yang dijawab dengan anggukan dari Yuki.
Untuk menyamari rasa sakit yang akan dirasa istrinya, Raka memperdalam ciumannya dibibir Yuki, hingga berpindah ke leher, lalu kedada Yuki dan berhenti cukup lama bermain disana, sampai Yuki terlena bahwa Raka berhasil untuk masuk.
"Sakit?"
Yuki menggeleng "sedikit".
"Lanjut atau berhenti aja hm?".
Yuki melepaskan pegangannya dipinggang Raka, dan mengalungkannya di leher lelaki itu "nanggung kalau behenti, tapi masih perih. Pelan-pelan aja ya" pintanya yang dianggukin oleh Raka dan mulai menggerakkan badannya.
Sesuai permintaan Yuki, malam itu mereka melakukannya dengan santai tidak terburu-buru.
**Next**🐝
__ADS_1