
Di minggu pagi ini, sudah berkumpul 3 pemuda dan pemudi diantaranya dua cowok dan satu cewek yang berdiri didepan rumah yang terletak di salah satu hunian ternama di Jakarta.
Ketiganya sibuk saling dorong mendorong satu dan lainnya untuk siapa yang akan memencet bel rumah tersebut.
"Woi pelan-pelan dong" teriak seorang gadis yang berdiri paling depan pada cowok yang ada dibelakangnya.
"dia ni dorong gue kuat Ki" balas cowok yang dituduh gadis tadi menunjuk seseorang yang ada dibelakangnya lagi.
"Lah kok gue? Lo nya aja dasar badannya letoi" jawab cowok itu yang tak mau di salah kan.
Ketiga pemuda pemudi tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Yuki, Noval dan Gio yang sekarang di minggu pagi ini sudah membuat keributan didepan rumah Raka.
Ini semua awalnya dari Gio, yang mengajak Yuki dan Noval untuk sarapan dirumah Raka dengan alasan mengobati suasana hati Noval yang sedang hancur karena habis putus dari pacarnya.
Yuki yang kebetulan sedang tidak ada acara dan juga bosan dirumah sendiri, mau-mau saja diajak oleh Gio untuk ngerusuh rame-rame.
"Ini siapa yang mau mencet?" Tanya Yuki dengan suara pelannya bertanya pada kedua cowok yang ada dibelakangnya
Gio langsung menunjuk orang yang ada dibelakangnya "Noval" ucapnya tegas dengan cepat.
"Kok gue? Lo lah ! Kan lo yang ngajak" jawabnya sedikit menaiki suaranya tak terima ditunjuk untuk memencet bel.
Noval cukup tau malu untuk bertamu pagi-pagi begini kerumah orang, apa lagi waktu libur seperti sekarang ini.
"Woi ah pelan-pelan kenapa sih, nanti kedengaran sampai didalam ni" berang Yuki memperingati kedua cowok itu yang berada dibelakangnya saling tunjuk menunjuk siapa yang akan memencet bel.
"Kan bagus kalau kedengaran Ki, jadi gak perlu pencet bel lagi" sambung Noval yang diangguki setuju oleh Gio.
Yuki yang menyadari kebodohannya itu menggarut kepalanya yang gak gatal "Iyah juga yah Kak, bagus" balas gadis itu dengan senyum malunya.
Gio mentoyor kening Yuki sampai kedorong kebelakang "bege dipelihara" celetuk cowok itu kemudian.
Yuki yang berniat mecekik leher Gio mengurungkan niatnya karena pintu rumah yang tiba-tiba sudah kebuka dan menampilkan sesosok wanita cantik yang berada didalamnya.
Melihat itu secara reflek semuanya langsung diam dan berdiri manis seperti anak TK yang ingin masuk kekelasnya.
"Bunda"
"Mama"
Sapa ketiganya kompak dan dengan senyum merkah dari mereka bertiga.
"Tumben pagi-pagi kesini, kirain siapa tadi yang berisik banget. Taunya kalian, tau gitu gak usah dibukain aja yah pintunya tadi." Goda Nana dengan tampang serius. Melihat tampang ketiga anak itu Yang langsung berubah sedih, membuat Nana tak bisa menahan tawanya. Akhirnya dia tertawa juga sampai memegang perutnya yang sakit karena terlalu lama ketawa.
Ketiganya cuma bisa diam karena masih bingung dan saling lirik satu dengan lainnya mengisyaratkan pertanyaan 'dimana letak lucunya?'
Nana yang sadar melihat ketiganya masih bengong mentapanya, menghentikan aksi tawanya.
"Becanda ih, gitu banget lihatnya" ucapnya mencolek dagu ketiganya "Yuk masuk, yang lain lagi pada ngumpul sarapan tu" ajak Nana pada ketiganya, dan merangkul bahu Yuki memasuki rumah besar itu.
Gio jalan lebih maju "kebetulan Bun kita kesini mau numpang sarapan hehe" jawabnya memutar badan kebelakang menghadap Nana disertai tawa khasnya yang membuat matanya membentuk bulan sabit.
"Iyah gak apa-apa sekalian gantiin kemarin, kan gak jadi." jawab Nana sabar menghadapi kelakuan teman anaknya itu "Bunda sempet sedih loh kemarin" lanjutnya kembali.
"Maaf yah Bun, soalnya kemarin Bee tiba-tiba ngajak ke mall ada yang mau dibeli" balas Noval tak enak pada wanita yang berada disampingnya itu yang dibalas dengan senyum ramahnya.
"Iyah gak apa-apa, kan sekarang udah pada ngumpul. Bunda seneng kok" balas Nana kemudian memberi senyum pada pemuda Yang ada disampingnya.
🐝🐝🐝🐝
"Hai semuanya" sapa Gio heboh pada Hadi, Raka dan Arka yang sedang menikmati sarapannya.
Refleks ketiganya menoleh pada sumber suara yang sudah memilih duduk didepan Arka dengan wajah tanpa dosanya.
"Lah, ngapain lo pagi-pagi udah disini? Weekend gini lagi, bukannya lo paling malas yah bangun pagi kalau lagi libur?" Celetuk Raka yang melihat aneh pada temannya itu yang sudah nongol dirumahnya dihari libur seperti ini.
"Gue bareng tu anak dua" balas Gio menunjuk ruang keluarga yang kebetulan ruang makan dan ruang keluarga digabung tanpa skat.
Ketiga orang yang ada dimeja makan itu mengikuti arah tunjuk Gio, betul saja disana sudah ada Yuki dan Noval yang sedang berjalan bersama Nana menuju meja makan dengan sesekali tertawa bersama.
"Noval kan baru patah hati, jadi dari pada galau sendiri dirumah nanti yang ada dia stress, dih gue mah ogah punya temen yang stress" lanjutnya mendelik bahu seperti habis menceritakan hal yang serem.
"Lebay lo" ucap Raka menyoraki kedramaan yang dilakukan Gio "Sini duduk samping aku" ucapnya menarik tangan Yuki agar duduk disampingnya.
Yuki yang sudah duduk disamping Raka menoleh pada Hadi dan melempar senyum sopannya yang juga dibalas oleh pria itu. segimanapun juga dia sudah deket dengan keluarga ini Tapi tetep saja masih ada rasa segan dihatinya jika diperlakukan lembut seperti itu dari Raka didepan orang tuanya.
"Kok gak bilang-bilang kesini? Kan aku bisa jemput" Tanya lembut pada gadis disebelahnya.
"Gio tadi tiba-tiba ngajak kesini, terus di jemput" jawab Yuki tanpa rasa bersalah, Gio yang namanya disebut-sebut menghentikan aksi tangannya mengolesi selai dirotinya.
Tuh, yang lain belum mempersilahkan, dia udah langsung main nyosor aja tangannya.
"Tau tu, padahal gue baru tidur beberapa jam udah diseret-seret ni anak" timpal Noval menunjuk Gio, mengingat gimana kejamnya Gio menarik-narik badannya tadi menjauhi kasur.
Gio langsung menoleh pada Noval yang duduk disebelahnya "ck elaaah, gue niatnyakan nolongin lo sih Val, gak terima kasih banget sih" gerutu Gio.
"Gaya lo mau nolongin gue, bilang aja lo mau numpang makan disini kan? Tapi pakai jual nama gue. Udah hafal gue Gi sama kelakuan lo" Sewot Noval, dia udah taulah apa isi dari kepala temannya yang satu itu.
__ADS_1
Ketahuan niat terselubungnya sudah kebongkar refleks dia menunjukan wajah imutnya pada Hadi "hehe, boleh kan Yah?" Tanya Gio mengatupkan kedua tangannya seperti memohon "Tapi beneran kok, buat menghibur Noval juga" timpalnya kemudian.
Raka dan Arka sudah mencibir bersama melihat kelakuan Gio. Sedangkan Yuki sudah menahan mulutnya untuk mengumpati Gio.
Gio merupakan species yang aneh di keluarga ini. Kehadirannya selalu buat suasana menjadi ribut seperti di pasar dan membuat yang lainnya merasakan emosi mendadak, tetapi jika tidak ada dirinya, semua orang akan menanyakan keberadaannya. Ya, bisa dibilang kehadiran Gio dengan bayolan unfaedahnya itu sangat ditunggu-tunggu, terutama dengan Arka yang selalu jadi partnernya untuk membuat suasana menjadi hidup.
Melihat itu Hadi langsung ketawa, sejak kapan anak muda didepannya ini kalau mau numpang makan izin begitu, biasanya kalau datang ya tinggal datang, kalau makan ya tinggal makan cari di dapur "ya boleh lah, gak ada yang ngelarang Yo. Sejak kapan sih makan disini sampai izin gitu" balas Hadi masih dengan tawanya.
Mendengar itu Gio melayangkan tenjunya keudara diikuti dengan teriak "Yes" dari mulutnya.
Sedangkan Noval dan Yuki yang melihat kelakuan Gio merapatkan bibir saja, mereka harus menahan kekesalannya karena sekarang didepan mereka ada Hadi- papanya Raka. Mungkin setelah ini mereka harus memikirkan hal apa Yang akan mereka lakukan untuk menghabisi si manusia kerdus itu.
Begitu juga dengan Raka dan Arka yang melihat kelakuan tidak malunya Gio yang biasa mereka lihat hanya gelengkan kepala saja.
"Noval, ingat cowo boleh galau. Tapi tidak boleh sampai berlarut-larut hingga lupa selaganya. Paham?"
"Iya paham Yah. Noval biasa aja kok, tanya Raka deh, anak dugong itu aja yang berlebihan" balas Noval melirik Gio sekilas.
"Eh language nya" ucap Nana memperingati ucapan Noval tadi yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan anak muda itu.
Noval langsung menoleh pada Nana "Hehe maaf Bun, kelepasan" jawabnya menggaruk kepalanya kikuk. Sementara Nana cuma geleng kepala memahami kelakuan dan gaya bicara anak muda sekarang.
Hening beberapa saat, sampai Hadi kembali berucap "Papa seneng loh kalian tiap hari minggu kesini, jadi lumayan bisa tambah anggota" lanjut Hadi kemudian memakan nasi gorengnya.
Raka dan Arka udah saling lirik dengan senyum yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan papanya tadi. Sedangkan Yuki, Gio dan Noval saling pandang dengan kening yang berkerut tidak ngerti maksud dari pria dewasa itu.
"Anggota apa ya Yah?" Ucap Noval memberanikan bertanya pada Hadi.
Sekilas Hadi menyunggingkan senyum manisnya dengan melipat tangannya menyentuh dagu "Bersihin rumah" jawabnya dengan santai "Biasanya Ayah, Abang dan adek tiap minggu gantiin Bunda buat beres-beres. Yah semacam tukar peran gitu lah" lanjutnya kembali dengan nada santai dan bersahabat.
Ketiganya melongo mendengar penjelasan itu dan saling lirik satu dengan lainnya dengan tampang seperti ingin protes tapi ditahan. Terutama di wajah Noval, jelas sangat terlihat ingin mengumpat dan menerkam Gio saat itu juga mengingat kalau ini semua karena ide gilanya yang bilang ingin menghibur dirinya. Nyatanya diluar ekspetasi.
Raka dan Arka yang dari tadi sudah menahan tawa, akhirnya pecah juga ketawa mereka dengan melihat tampang cengok dari ketiga orang itu, begitu juga dengan Nana yang dari tadi diam juga ikutan ketawa melihat wajah serius dari ketiganya.
🐝🐝🐝🐝
"Ayah ini beneran kita disuruh beresin semuanya?" Rengek Gio penuh protes melihat rumah sebesar itu yang harus mereka bersihin, sedangkan ditangannya sudah ada kain pel lengkap dengan ember dan juga air pembersih lantai.
"Sejak kapan Ayah becanda sih Yo" jawab Hadi santai masih sibuk dengan kemoceng dan guci gucinya.
Arka yang kali ini bertugas menyapu rumah akhirnya ikut bersuara "Udah deh, Kayo bisa diem gak sih? Jangan kayak cewek gitu deh" celetuk Arka yang dari tadi sudah capek mendengar rengekan dari Gio
"Contoh dong Masval, kalem. Masval emang paling the best deh" lanjutnya memuji Noval.
Sementara mendengar namanya disebut membuat Noval menoleh dan bertos ria dengan Arka dan memeletkan lidahnya pada Gio.
"KAYO DULUAN NI MA NGELUH-NGELUH KAYAK CEWEK" teriak Arka tak kalau kuatnya dari Gio.
"GIO GAK NGELUH BUN, CUMA NANYA AJA" balas Gio kembali.
"BOHONG BUN, NOVAL DENGER KOK KALAU GIO NGELUH" ucap Noval ikutan menyudutkan Gio.
"Woi berisik! Kalian pikir ini dimana ha? Diskotik? ngomong kok sampai teriak-teriak gitu" timpal Raka melihat kelakuan ketiga anak itu. Sengaja dia menghentikan tugasnya membersihkan debu-debu yang nempel pada figura yang ada di dinding untuk menghentikan keributan itu.
Bukannya mereda malah makin berisik.
Hadi? Cuma melihati mereka dari jauh saja, belum waktunya dia ikut gabung ke acara adu mulut itu.
"KI, INI PACAR LO AMANIN GIH, MARAHIN KITA MULU TAU GAK" terdengar kembali teriakan Gio yang sekarang tertuju pada Yuki.
Tiba-tiba Raka menimpai badan Gio yang sedang rebahan di sofa panjang itu "Aw sakit Ka ampun-ampun" teriak Gio, sedangkan Yuki dan Nana gak tau apa yang telah diperbuat Raka terhadap Gio.
"Teros, teroos. Ni pisau sekalian biar makin seru" teriak Nana kembali yang sibuk didapur bersama Yuki mengolah adonana tepung menjadi brownis red-velvet.
"Dek Bunda suruh ambil pisau" teriak Gio yang masih meronta-ronta dalam bekapan Raka.
"Buat apa?"
"Buat potong sayur, elah masih nanya lagi dek, tolongin ih" terikanya lagi.
"Jangan Dek! sini bantuin abang" kali ini suara Raka memerintah.
"Masval, bantuin jangan?" Tanya Arka menimbang
"Udah ikutan aja kita" jawab Noval kemudian.
Dan setelahnya sudah terdengar keributan yang sangat luar biasa dari ruangan depan di ikuti suara Hadi yang sudah berusaha melerai ke empatnya.
Bukannya diam, malah makin kecang terdengar suara mereka, apa lagi suara tawa yang di keluar kan Gio dan Arka paling mendominasi diantaranya.
"Berisik banget yah Ma" timpal Yuki mendengar keributan itu apa lagi tawa Gio yang paling keras.
Nana menanggapinya dengan tawa anggunnya, menoleh kepada Yuki "Mama udah biasa Ki, kadang gak denger keributan kayak gitu tu jadi kangen tau gak. Seperti hmm..." ucapnya menjeda sejenak "candu gitu" lanjutnya dengan raut wajah yang bahagia disertai senyumnya.
Yuki yang melihat nana tersenyum juga ikut tersenyum, ketularan wanita cantik itu.
Pantes Gio dan Noval betah main kesini, batinnya. Mengingat karena selalu saja ada pilihan untuk kerumah Raka kalau setiap ditanya mau kemana.
__ADS_1
Nana menuangkan adonan tersebut kedalam loyang dan memasukkannya kedalam oven diikut oleh Yuki dari belakang .
"Kenapa? Yuki gak suka berisik seperti itu yah?" Tanyanya setelah siap memasukkan loyang tersebut.
Yuki mengalihkan pandangannya dari oven panas itu ke sumber suara yang bertanya padanya dan menggelengkan kepalanya "Yuki belum pernah ngerasain rumah yang berisik seperi ini sebelumnya Ma" jawabnya dengan memaksakan tersenyum, tetapi dari matanya dapat di lihat kalau dia sedang sedih.
Nana langsung meraih tubuh Yuki dan memeluknya dengan erat, dia mengerti perasaan gadis ini sekarang "Gak apa-apa, jangan sedih. Sekarang kan udah ngerasain, gimananya. Happy kan" Ucapnya menghibur menepuk-nepuk punggung Yuki dengan pelan dan lembut.
Menurut Nana orang yang lagi sedih seperti itu tidak pantas mendapat ceramah atau kata-kata yang panjang lebar, baginya orang yang lagi down lebih membutuhkan support atau pelukan buat menenanginya.
Yuki dan Nana merasakan ada seseorang yang ikutan memeluk mereka dari samping lalu refleks menoleh, dan terlihatlah Hadi disertai dengan senyum yang selalu ditunjukkannya didepan jagoannya yaitu senyum kasih sayang seorang papa, disertai mengusap pucuk kepala Yuki.
"Kalau udah kumpul begini gak ada yang boleh sedih lagi, ngerti?" Tanya pria itu mengarah pada gadis muda yang tingginya hanya sebahunya itu.
Yuki yang harus mendongakkan kepalanya untuk melihat Hadi membalasnya dengan gumaman disertai dengan anggukan kecil dari kepalanya.
Yuki merasa terharu melihat dan merasakan betapa keluarga ini begitu baik padanya dan menerima dia dengan tangan terbuka untuk masuk kedalam menjadi bagian dari keluarga ini.
"PAPA, ABANG SAMA KAYO TU GANGGUIN ADEK MULU" adu Arka cemberut Yang sudah berlari menuju dapur dan diikuti oleh Raka dan Gio dibelakangnya.
Reflek Hadi, Nana dan Yuki menoleh pada sumber suara gaduh itu.
"Adek pa duluan, abang lagi istirahat malah di gelitikin" adu Raka juga tak mau kalah.
"Tapi adek kan udah diem bang" balas Arka kembali.
"Diem apaan? Orang setelah itu Kayo yang digangguin" Balas Gio menatap tajam pada Arka.
Hadi menatap ketiganya satu persatu "Jadi siapa yang salah?" Tanya Hadi dengan tangan yang berada dipinggangnya.
Ketiganya saling pandang dan menoleh ketika Noval baru masuk dapur dimana mereka semuanya sedang berkumpul.
"Noval"
"Masval"
Teriak mereka kompak menunjuk Noval.
Noval diam ditempat, menyerngitkan keningnya bingung. Dia tidak tau permasalahannya karena habis dari kamar mandi dan tiba-tiba ditunjuk seperti itu.
"Gue?" Lirinya kemudian bertanya.
Yuki yang melihat itu langsung protes "Lah gimana bisa Kak Noval?" Tanya Yuki bingung, jelas bingung Noval baru saja datang. Gimana bisa Noval yang di salah kan.
Nana yang sudah paham kenapa tujuan keributan itu melanjutkan kembali kerjaannya yang tertunda.
"Yaudah Yuki aja kalau gitu" celetuk Gio santai menunjuk Yuki dan diangguki oleh ketiga cowok itu, yaitu Raka, Arka dan Noval.
Yuki langsung memelototi Gio. Dia dari tadi cuma didapur bersama Mamanya Raka gimana bisa dituduh mengganggu mereka yang ada didepan sana.
"Loh Pa kok jadi Yuki yang di salahin mereka? Papakan tau Yuki dari tadi disini sama Mama" adunya pada Hadi "Terus Kak Noval ngapain ikutan sih? Udah dibelain juga tadi" omelnya pada Noval, yang tak terima noval ikut bersekongkol dengan ketiga orang itu.
Noval menggarut keningnya yang merasa bersalah "Ya kakak kan cari suara terbanyak Ki" jawabnya ragu-ragu.
Mendengar itu membuat Yuki mendengus dengan keras dan berdecak. Sedangkan ketiga pelaku tadi Raka Gio dan Arka saling lempar pandang dengan ketawa yang ditahan.
"Pa? Kak Noval tuh tuduh-tuduh gak jelas" balas Yuki yang ikut mengadu pada Hadi.
"Tuhkan emang Noval ni yang salah" kompor Gio kembali pada tujuan awalnya.
Hadi hanya menatap mereka semua dengan tatapan malasnya, saling tuduh menuduh dan saling kompor merupakan ciri khas dari anak-anak itu.
"Kok gue lagi sih?" Protes Noval tak terima menjitak kepala Gio Samp aksi korban meringis.
"Udah-udah, kalem kenapa sih. Ada cewek juga disini masih aja bringas kaya buaya muara" ucap Hadi menghentikan keributan yang gak selesai-selesai itu.
Semuanya langsung diam dan hanya bertahan beberapa detik saja sebelum Gio kembali bersuara.
"Yang begini ni gak bisa dianggep cewek Yah, orang lebih bringas dari pada kita kok" sewot Gio menunjuk Yuki yang sudah diam ditempatnya.
"Woi cewek gue tu" balas Raka menarik Yuki mendekat dan berdiri disampingnya, yang tak terima ceweknya itu di ejek oleh manusia kerdus seperti Gio.
"Tau ni, kakak ipar adek tu" lanjut Arka.
"Calon mantu ayah ni" sambung Hadi lagi.
Mendengar namanya di bela, Yuki memberi senyum sombongnya kepada Gio dan di lanjuti memeletkan lidahnya dengan menjulingkan matanya.
"Mamam tu" celetuk Noval ikutan menyudutkan Gio.
Hal itu berhasil membuat Gio kesal dan ingin mencakar Yuki saat itu juga.
"Bunda" rengek Gio menggoyang-goyangkan lengan Nana meminta dibela.
"Calon mantu Bunda tu, jangan di ganggu" balas Nana, yang membuat Gio memajukan bibirnya kedepan.
Mendengar itu membuat yang lainnya langsung menertawai tampang Gio yang sedang misuh-misuh tidak jelas.
__ADS_1
**Next**🐝