Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
12


__ADS_3

Kalista sudah menduga kalau Papa pasti belum tidur karena menunggunya. Terlihat jelas gelas kopi di tangan pria itu saat Kalista masuk sambil menenteng bingkisan ulang tahun.


"Baby, kamu kok lama banget? Julio mana? Papa mau nanya sama dia kalian ngapain aja!"


"Udah tau Papa bakal ngomong gitu jadi aku suruh Kak Julio pulang."


Kalista menjatuhkan diri di sofa dan Rahadyan langsung menyusulnya.


Pria itu memeluk Kalista seolah-olah Kalista habis pergi di benua lain, baru pulang setelah berbulan-bulan. Rahadyan memang selalu lebay, jadi Kalista tidak heran.


"Rambut kamu kenapa basah gini, Sayang?" Rahadyan membelai kepalanya.


"Kena krim tadi jadi aku cuci," dusta Kalista, enggan membuat Rahadyan histeris kalau dia tahu Kalista disiram air oleh tunangannya Sergio.


Yang tahu Kalista sering dibully oleh Astrid hanyalah Sergio dan Bu Direktur. Kalista memaksa Bu Direktur berjanji agar tidak memberitahu Rahadyan karena urusannya pasti akan sangat panjang dan membosankan.


"Papa."


"Hm?" Rahadyan kini sibuk menepuk-nepuk tisu ke rambut Kalista agar airnya terserap.


"Masa lalu tuh bukan sesuatu yang bisa diubah, kan?"


"Maksud kamu?" Rahadyan jelas heran.


"Yah, kayak Mama tuh gundik ya enggak bisa diubah sama sekali. Aku juga selalu mikir kalo orang ngatain Mama murahan ya yaudah, soalnya emang Mama murahan. Aku enggak butuh orang lain sayang sama Mama buat aku sayang sama Mama. Mama ya Mama buat aku, biarpun Mama ya gundik buat orang lain."


Rahadyan memegang wajah Kalista dan mengerjap cemas. Dia bisa langsung peka anaknya dikatai anak gundik lagi.


"Kamu dengerin apa? Siapa yang ngomongin kamu anak gundik lagi? Bilang sama Papa."


"There's nothing you can do about it, Pa." Kalista seharusnya tidak emosional dan menjawab biasa saja, tapi entah kenapa ia malah sedikit berteriak.


"Ngapain sih ngurusin orang ngomong aku anak gundik atau apa? Ya aku emang anak gundik terus mau gimana? Papa emang mau bangunin Mama terus nyuruh Mama jadi CEO Apple gitu biar orang-orang manggilnya aku anak CEO Apple?"


Rahadyan menggeleng. "Ada yang ngomong enggak bener sama kamu. Papa ke rumah Julio sekarang. Kalo dia yang ngomong, enggak idup dia besok."


Ketika Rahadyan beranjak dengan kemarahan di wajahnya, Kalista justru marah pada hal itu.

__ADS_1


"MAMA KAN EMANG GUNDIK!"


"Itu ENGGAK JADI alasan orang lain berhak ngatain kamu anak gundik!"


"Itu JADI alasan orang lain berhak ngatain aku anak gundik, Papa!" teriak Kalista muak. "Can you just stop doing this? Berusaha lari dari kenyataan kalo aku emang begini?"


"What?!"


"Kalo satu dunia tau aku anak siapa, satu dunia bakal nyebut aku anak gundik! Karena itu emang faktanya! Terus Papa mau bunuhin semua orang cuma karena mereka ngomongin fakta?!"


"YAH I'LL DO IT FOR YOU!" Rahadyan justru berteriak lebih keras. "Kalo satu dunia yang ngomong kamu anak gundik, SATU DUNIA Papa bunuh! Kamu kira Papa peduli?!"


"Masalahnya itu kenyataan!"


"I DON'T FUCKING CARE ABOUT THAT BULLSHIIT, KALISTA!"


Rahadyan mendatangi anaknya, meremas kedua lengan dia kuat berharap dia sadar. Dia selalu melakukan ini. Selalu dan selalu saja merasa wajar kalau orang lain menghinanya.


"I'll do it for you. I'll do anything for you! I'll kill them for you! Anything, anything, ANYTHING just for you because you're the most important thing that I've ever had in this fuc-king world!"


Gadis itu menunduk, tak tahu kenapa ia tapi bisa menghentikan air matanya.


"Aku enggak bilang aku enggak sedih," bisiknya. "Tapi maksud aku, ngapain harus peduli—"


"Papa peduli karena omongan mereka bikin kamu nangis!"


Rahadyan bernapas seolah-olah dia bisa sekarat. Tangannya merengkuh wajah Kalista, meringis kesakitan seolah jantungnya sekarang berdarah.


"Kamu bikin Papa sekarat tiap kali Papa liat kamu nangis, Nak. Papa ngelakuin semuanya buat kamu, biar kamu senyum, biar kamu enggak pernah sedih tapi seenaknya orang luar, orang yang bukan siapa-siapa, ngomong ke kamu ini itu dan bikin kamu nangis?"


Rahadyan meletakkan keningnya di kening Kalista. Bernapas susah payah akibat luka bernanah di hatinya.


"Kenapa sih harus mamamu terus? Kenapa bukan Papa? Kenapa harus selalu Mamamu yang diliat orang lain padahal Papa yang beliin kamu baju, sepatu, tas, sampe mobil. Semuanya Papa tapi kenapa enggak ada yang bilang kamu anak Papa? Kenapa harus selalu Mamamu?"


"Maaf." Kalista memgalurkan tangan ke leher Rahadyan, memeluknya erat. "Aku anak Papa. Selamanya anak Papa."


Namun Kalista juga selamanya anak Mama jadi mungkin julukan Anak Gundik itu pun selamanya akan ada.

__ADS_1


*


Julio merasa sedikit bingung menceritakan persoalan kemarin pada Sergio. Dia seharusnya tahu tapi dia sepertinya tidak tahu dan Julio justru bingung bagaimana cara memberitahunya.


Terutama karena Julio sendiri masih sibuk berpikir tentang gadis itu.


Dia sedih dikatai anak gundik namun dia menerimanya karena itu kenyataan. Secara logika mungkin dia benar, tapi penerimaan itu justru tidak wajar. Bukankah normalnya dia menolak?


Tapi ya memang fakta dia anak gundik. Jika dia dikatai anak Rahadyan ya dia memang anak Rahadyan. Sama seperti jika dia dikatai anak gundik. Namun, dia seharusnya menolak dikatai anak gundik, kan?


Akh! Kepala Julio jadi sakit.


"Kalista udah dateng?" Julio tak bisa berhenti mengkhawatirkannya sampai-sampai ia menelepon resepsionis buat memastikan.


"Belum, Pak." Wanita itu menjawab hati-hati dan penasaran. "Perlu saya kasih tau Kalista buat ke ruangan Bapak nanti, kalau dia datang?"


"Ya. Bilang saya tunggu di atas." Julio mematikan panggilan lalu diam. Kebetulan hari ini ia memang cukup santai, jadi pikiran Julio pun lenggang memikirkan pacar adiknya itu.


Julio juga masih menimbang-nimbang haruskan ia beritahu Sergio. Dia pasti akan ribut besar dengan Astrid dan masalah itu juga sangat rumit, sebab Mami memang menekan paksa Sergio menikahi Astrid.


Anak itu pasti akan kalap lalu ujung-ujungnya diadukan pada Mami. Jika masuk ke telinga Mami, posisi Kalista pasti akan sangat buruk. Julio bahkan sampai hafal cerita tentang Kalista di perkumpulan arisan Mami. Tentang anak dari pela-cur yang mendadak diserahkan pada Rahadyan karena pelacur itu mati.


Kata mereka, Rahadyan dan keluarganya adalah orang bodoh sebab malah menerima anak pelacur itu, padahal punya pilihan menjauhkan dia demi nama baik keluarga.


Ya, itu bukan cerita menyenangkan. Kalista dianggap kotoran yang seharusnya tidak dipungut.


Dan masalahnya Kalista sendiri menganggap dirinya kotoran jadi kalau dia diperlakukan seperti kotoran ya dia merasa itu tidak salah. Padahal tidak, kan?


Maksud Julio—


"Permisi, Pak." Ketukan pintu disusul suara Kalista menyentak Julio dari lamunan. "Good morning, Pak," sapa gadis itu seolah kejadian semalam hanyalah mimpi Julio saja.


"Good morning." Julio menyesuaikan sikap, sebisa mungkin. "Kamu ...."


Ucapan Julio menggantung sebab matanya turun menatap tas yang dipegang Kalista, lalu jam tangan berliannya, dan sepatu boots 'entah berapa juta'nya.


Pakaian fancy itu akhirnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2