
"Itu ...." Bu Winnie menghela napas. "Sepihak."
Rahadyan tercengang. "What?"
".... Kaisar."
Kali ini Rahadyan tercengang agak terlalu ... diluar harapan. Ia cuma terpikir satu Kaisar begitu namanya keluar.
"Maksud kamu Kaisar Narendra?" gumamnya tak percaya.
Bu Winnie mengangguk dengan wajah menyesal sudah mengakuinya. "Itu udah lama. To be honest, saya ... jadi Direktur karena itu."
"...."
"Kamu tau beliau Direktur Pengganti sebelum saya, kan? Lumayan lama sebelum Bu Trika meninggal. Sebelum jadi Direktur, saya kerja di bawah Kaisar dan ... yah, saya sadar saya punya hati sama beliau."
Kaisar Erebus Narendra. Namanya saja sudah luar biasa, kan? Dia adalah anak kedua Narendra setelah Al, disebut-sebut sebagai 'kaisar' sebagaimana namanya dalam dunia kekuasaan. Dia punya enam istri seperti Al, anak kelimanya baru saja lahir bulan lalu, dan karena dia Narendra maka dia tidak mungkin menikahi wanita diluar Narendra.
Begitu yang Rahadyan dengar.
"Great," kata Winnie. "Kamu udah tau sekarang."
Bu Winnie berhenti bersandar, mulai berjalan ke sisi mobilnya untuk masuk ke dalam.
"Rahadyan, saya tau kamu pasti udah tau tapi saya masih harus ngingetin. Tolong jangan bilang ke siapa pun. Mungkin itu bukan masalah karena jelas banyak yang suka sama beliau tapi kamu tau hubungan saya sama Narendra, kan? Saya masih sering meeting sama istrinya jadi tolong banget ini rahasia. Cuma kamu yang tau."
Rahadyan mengangguk kaku, tidak dapat berkata-kata lagi dan mungkin tidak akan dapat berkata-kata lagi.
Tentu saja Rahadyan tidak tahu bahwa di atas sana Dante mendengar semuanya. Dante hanya iseng memasang alat penyadap di tas kakaknya, anggap saja karena Dante mau mengawasi dia selagi bertugas di luar Narendra.
Tidak ia sangka akan mendengar berita besar.
"Tuan Muda Kedua." Dante mengangguk-angguk paham. "Ya, tentu saja mudah jatuh cinta padanya."
"Hah?" Kalista yang fokus bicara pada Julio langsung menoleh. "Lo ngomong apa?"
"Kakakku menyukai Tuan Muda Kedua Narendra."
"Hah? Maksudnya siapa?" Kalista melotot.
"Tanyakan pada kekasihmu. Namanya Kaisar Erebus Narendra."
Kalista yang penasaran langsung bertanya pada Julio. "Kak Julio kenal Kaisar Erebus Narendra enggak, sih? Gilak, namanya aneh bener. Kaisar Erebus, hehe. Kocak banget."
"Jangan!" Julio di sana terlonjak. "Pokoknya jangan mau tau!"
"Kok gitu? Aku jadi tambah kepo!"
__ADS_1
"POKOKNYA ENGGAK! ENGGAK YA ENGGAK! AWAS YAH KAMU, AWAS! JANGAN KEPO!"
Kalista cengo. Sementara di seberang sana Julio ketar-ketir memikirkan cara agar Kalista melupakan siapa itu Kaisar.
Kenapa?
Karena 100 dari 100 wanita jatuh cinta pada Kaisar tanpa sedikitpun proses! Dia disebut-sebut sebagai Narendra paling tampan di generasi Narendra sekarang.
Kalista yang terpikat pada wajah seseorang akan langsung jatuh cinta tanpa akal sehat! Jadi tidak boleh dia melihat Kaisar!
*
Apakah di mata kalian Kalista punya kesabaran? Oh, tentu saja tidak. Maka sepanjang malam Kalista tidak bisa tidur, memikirkan siapa itu Kaisar Erebus Narendra.
Namun mencari siapa Kaisar itu sulitnya dengan mencari pasir di karung beras. Tidak peduli Kalista mengetiknya sana-sini, di layanan internet mana pun, tidak ada foto tentang Kaisar selain dari informasi bahwa dia anak kedua Narendra.
Tidak ada foto tentang anggota keluarga Narendra bahkan di lubang tikus!
Tentu saja Kalista tidak menyerah. Dante tidak mau memberitahunya dan mustahil Kalista bertanya pada Rahadyan yang lagi patah hati, maka esok hari Kalista ke kantor Julio untuk menuntut jawaban.
"Kak Julio, pliiiiiiis. Aku cuma mau tau aja orangnya kayak gimana," pinta Kalista memelas tapi tidak bisa memberitahu Julio alasannya sebab kata Dante itu rahasia Bu Winnie.
Julio yang mendapat permohonan itu hanya bisa melotot. "ENGGAK ADA!"
Pria itu bahkan langsung mengamuk.
"Tapi ini tuh penting, Kak! Penting banget!"
Soalnya ini orang yang Bu Direktur suka, loh. Bu Winnie yang selama ini terlihat tidak goyah sekalipun disukai oleh lajang bersinar macam Rahadyan.
Dan Rahadyan, siapa yang tidak mau? Bahkan kalau dia punya anak remaja, Rahadyan membekali anaknya barang-barang bermerk ke mana pun Kalista pergi plus rela membuang uangnya demi memberi Kalista penjagaan.
Dengan semua itu Bu Winnie bahkan tidak goyah sama sekali!
"Pokoknya enggak." Julio menarik napas, meredam emosinya sebelum dia kembali menatap Kalista. "Pokoknya mulai sekarang jangan ngurusin itu lagi."
"Kak Julio—"
"Sini, kamu ikut aku. Kita ke hotel guling-guling."
Kalista berjongkok alih-alih senang, menangis terisak-isak seperti anak kecil yang memaksa diberi mainan baru. "Pokoknya kasih tau! Kasih tau! Kasih tau!"
"Kalista."
"AKU MAU TAU! KASIH TAU! BURUAN KASIH TAU!" rengeknya tak peduli.
Julio mengepalkan tangannya gemas pada tingkah Kalista. Bisa-bisanya dia menyuruh Julio memberitahu dia tentang siapa itu Kaisar Erebus.
__ADS_1
Kalian tahu Cristiano Ronaldo? Dia sudah tua dan punya banyak anak namun gadis perawan bahkan menjerit-jerit cuma karena fotonya.
Ya, Kaisar Erebus seperti itu. Dia sudah tua, punya banyak istri, punya banyak anak, tapi gadis perawan bisa mati berdiri mengaguminya.
Dia menyuruh Julio memperlihatkan siapa Kaisar pada perempuan yang jatuh hati cuma karena seseorang tampam?!
Cuih! Sekarat pun tidak bakal Julio beri!
"Kalista, Sayang."
Julio membuang semua kekesalannya agar bisa membujuk dia dengan lembut. Pria itu berjongkok, meraih kedua lengan Kalista yang kini sudah duduk selonjoran. "Sayang, dengerin Kakak."
Cara bicara Julio yang terlampau manis sedikit mengalihkan Kalista. Walau masih terisak-isak, gadis itu mau tak mau menatapnya.
Duh, gantengnya sejuta kali lipat akibat kelembutan itu.
"Enggak usah ngurusin itu yah, Sayang? Hm? Kita ke hotel aja bobo yah, oke? Ayok."
Kalista masih merengek. "Kasih liat aja sebentar orangnya kayak gimana. Ini tuh penting, Kak! Penting banget!"
Dia tuh saingan cintanya Rahadyan jadi Kalista mau tahu sebenarnya dia sekeren apa. Masa sih papanya kalah?
Tidak! Tidak mungkin!
"Enggak penting, Sayang. Enggak penting. Penting tuh kamu sama aku. Iya kan? Hm?" Julio memeluknya, mencium-cium wajahnya agar Kalista luluh.
Saking sibuknya dengan urusan mereka, Julio tidak mendengar panggilan dari Megan lewat telepon. Dan karena Julio ataupun Kalista tidak dengar, mereka berdua tidak sadar bahwa hal yang sesungguhnya PENTING akan datang beberapa detik lagi.
"Kak Julio, pliiiiiiiis. Pliiiiiis kasih tau, pliiis."
Julio meraih wajah Kalista. "I love you," bisiknya sebelum mencium bibir kecil Kalista.
Strategi ciuman itu berhasil. Kalista langsung mencengkram kerah kemeja Julio, menerima ******* intens di mulutnya.
Demi Tuhan, Julio telah membuktikan pada Kalista bahwa ciuman ternyata bisa secandu itu dengan seseorang.
Namun hari ini bukanlah hari tentang ciuman.
Pintu ruangan Julio didorong terbuka dan itu tidak terkunci.
Sergio yang baru saja mendorongnya terbuka seketika terpaku melihat kakaknya mencium Kalista seperti dia ingin menghabiskan untuk dirinya sendiri saja.
Di belakang Sergio, Megan cuma bisa mengumpat dalam hati.
Habis sudah. Akhirnya mereka tertangkap basah.
*
__ADS_1