
Setelah berdiskusi alot dengan Julio tentang cara membatalkan pernikahan Sergio, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan membiarkan pertunangan itu dulu. Pertunangan itu akan diadakan seminggu lagi dan menurut pertimbangan bersama—kebanyakan pertimbangan Julio dan Dante sih—mereka butuh waktu lebih dari itu untuk menekan Astrid.
Setelah pertunangan, baru mereka akan gencar melakukan pendekatan. Tidak. Lebih tepat mengatakan bahwa Dante yang akan melakukan pendekatan.
"Tapi mungkin ini juga susah," kata Julio saat mereka diam-diam bertemu di gym. Tentu saja, ada Dante juga. "Narendra itu keluarga strict. Mereka bahkan enggak punya kerabat."
"Maksudnya, Kak?" Kalista memiringkan wajah tak mengerti.
"Kamu ingin aku menjadi umpan, benar?" Dante yang menjawab sekaligus bertanya pada Kalista. "Kamu ingin aku mendekati gadis itu, membuat skandal dengannya hingga mau tidak mau pernikahan mereka terancam batal. Aku menjadi umpan yang menggiurkan karena aku perwakilan Narendra, mengerti? Tidak ada keluarga yang tidak ingin coba berhubungan dengan Narendra tapi sejauh ini Narendra bahkan tidak punya kerabat seperti sepupu atau keluarga jauh. Yang ada hanya keluarga inti."
"Hm, terus?"
"Kekasihmu mengkhawatirkan izin dari Narendra. Karena aku menggunakan nama mereka untuk kepentinganmu, bukan kepentingan Narendra."
Dante mengangkat bahu. "Tapi kurasa itu bukan masalah. Pertama, aku harus melakukan apa pun demi misi, dan kedua adalah Nona Lissa tidak peduli pada kerugian."
Julio yang mengingat gadis cantik tapi iblis itu mau tak mau mendengkus. Ya, gadis itu pasti akan setuju selama dia bersenang-senang.
"Wait." Kalista mendadak dapat ide. "Kalo gitu kenapa Lissa enggak dateng aja ke acaranya Sergio? Kalo gitu dia kan ngelawan Astrid mah kacang."
Kalista tertawa memikirkan bagaimana Lissa yang super dominan dan tidak berperasaan itu mempecundangi Astrid. Kalista cukup yakin bahwa Lissa jauh lebih unggul.
"Ya, tertawalah orang gila." Dante menyentil bibir Kalista. "Menurutmu Nona Lissa akan pergi ke acara kelas rendah semacam itu? Untuk apa sebenarnya?"
"Ini kapal pesiar, coy! Kelas rendah dari mane?!"
"Kalista." Julio menghela napas. "Mungkin kalau pestanya di istana negara pun Lissa enggak bakal dateng. Besides, enggak ada pesta yang anak perempuan Narendra datengin sejak Narendra dibentuk."
"Ya, karena Nona kami terlalu berharga."
Ceh. Padahal Kalista sangat berharap Lissa berhadapan dengan Astrid. Kalau Astrid keos kan Kalista bisa menertawakannya.
"But speaking about the devil," Julio menatap Dante, "siapa perwakilan Narendra yang dateng?"
Dante mengangkat bahu seolah tak tahu. Padahal dia sudah diberitahu bahwa orang yang akan menghadiri pesta itu ... adalah Kaisar.
Pokoknya ayo pura-pura tidak tahu.
*
__ADS_1
"Kayaknya yang dateng ke pesta Gio nanti itu Kaisar."
Perkataan Raynar yang begitu santai malah sukses jadi penyebab Rahadyan tersedak kopi. Pria itu buru-buru melotot pada adiknya yang malah kebingungan akan reaksi Rahadyan.
"Bukan istrinya tapi Kaisar langsung?" tanya Rahadyan syok.
"Kayaknya." Raynar mengangkat bahu. "Kenapa kaget? Kamu ada urusan sama Kaisar? Sama istrinya? Oh, tapi kalo bisa milih sih emang lebih bagus istrinya. Istri keempat Kaisar cantik banget kan. Like ugh I'm so obsessed with her but I love my wife but I'm still in love with her. You know what I mean, right?"
Tidak. Tidak jauh lebih baik mana pun.
Kalau Kaisar yang datang, Rahadyan cuma bakal melihat betapa ... ugh, sulit mengakuinya tapi ia bakal melihat betapa sulit percaya diri melawan dia. Dan kalau istrinya, apalagi istri keempatnya yang datang, Rahadyan malah kena mental sebab istrinya itu luar biasa cantik sampai-sampai seluruh pria di kapal pesiar nanti pasti bakal salah fokus.
Termasuk Rahadyan.
"Ngapain Narendra repot-repot dateng ke pesta enggak penting?"
"Enggak penting Gio sama Astrid tapi jelas penting nenek kakek mereka, kan? Mama juga pasti bakal tersinggung kalo enggak ada satu Narendra yang muncul padahal Mama sama Yasa dulu temenan."
Rahadyan berusaha keras tidak berdecak.
"Why you're so upset?"
"Ohya? Kalista sendirian dong."
"Kalo aku enggak dateng ya Kalista enggak dateng!"
Raynar mengangkat bahu. "Sayangnya Kalista udah minta Cassie nyiapin gaun. Dia bilang itu acara spesial jadi dia mau bajunya spektakuler."
Aaaarrrggg! Rahadyan rasanya mau menyemburkan api!
*
Kalista menatap aneh pada Rahadyan karena sejak tadi cemberut. Entah kenapa belakangan dia bertingkah aneh dan sering terlihat sebal sendiri. Bahkan sekarang Rahadyan sedang sibuk menyendok yogurt ke mulutnya padahal Rahadyan itu tidak suka yogurt.
"Daddy, what's gotten into you?" tanya Kalista cemas sambil meletakkan catokan di meja, selesai menata rambutnya.
"Enggak ada," jawab Rahadyan dengan muka 😠. Dia mirip anak kecil yang ngambek tidak dibelikan mainan tapi dipaksa belajar.
Karena Kalista tidak tahu Kaisar akan datang, jadi Kalista tidak tahu apa penyebab papanya gila. Pada akhirnya Kalista berusaha menganggap itu cuma penyakit akut Rahadyan, yang tidak perlu Kalista urusi.
__ADS_1
Lepas berdandan, merasa cantik dan spektakuler, akhirnya Kalista siap berangkat.
"Ayo, Papa."
Rahadyan tidak mau pergi tapi tidak mau dikira pengecut cuma karena saingan cintanya datang, mau tak mau beranjak ogah-ogahan. Bisa malu Rahadyan kalau orang tahu ia sewot pada Kaisar. Karena Rahadyan juga tahu bahwa cinta Winnie selamanya bakal bertepuk sebelah tangan.
Istri Kaisar enam, sudah begitu semuanya cantik-cantik. Tapi ya tetap saja!
Mereka berkendara menuju pelabuhan di mana kapal pesiar bersandar. Kalista memeluk lengan Rahadyan saat mereka naik, disambut oleh keramaian tamu pesta. Acara belum dimulai karena mereka menunggu semua tamu baru kapal ini bergerak.
Kalista melepaskan tangan Rahadyan begitu mereka berada di atas kapal.
"Papa, aku mau ke Kak Cassie, yah? Papa gabung aja sama Om Raynar."
"Oke, hati-hati, Sayang." Rahadyan mengecup keningnya dulu. "Love you."
Kalista mengangguk manis sebelum berjalan cepat dengan sepatu hak tingginya, menuju ke tempat sang bibi. Kalau bersama Cassandra nanti Kalista bisa gampang minta izin bertemu Julio, karena bibinya sangat kooperatif.
"Kak Cassie."
Wanita itu menyambut Kalista semangat. "Kalista! Sini, sini. Aku mau ngasih tau sesuatu!"
Kalista mengerjap bingung pada semangatnya itu. "Kak Cassie hamil lagi?" tebak Kalista asal-asalan.
Mengundang cubitan di lengannya. "Bukan itu, dasar!"
"Hehe, siapa tau kan Rahil punya adek." Kalista bergeser mendekat. "Apaan, Kak?"
Cassandra berbinar-binar saat berbisik, "Katanya Kaisar Narendra bakal dateng."
"What the ffff-aah?!" Kalista nyaris saja berucap kotor di keramaian pesta. "Serius? Yang katanya banyak istri itu?!"
"Bukan itu yang penting!" Cassandra mendekap lengan Kalista dan tertawa-tawa genit. "Dia tuh ganteng banget, Kalista! Banget, banget, banget!"
"Banget?" Mata Kalista langsung ikut melotot. "Lebih ganteng dari Papa?"
"Jauh! Itu mah jauh banget!" Cassandra yang sudah punya anak dan sudah menikah lima tahun bahkan memekik macam perawan. "Cowok kayak gitu enggak kamu liat dua kali seumur hidup jadi pastiin mata kamu kebuka, oke?"
Wah-wah, pucuk dicinta ulam tiba ini mah.
__ADS_1