
"Tapi, Nona Lissa tersenyum karena sangat amat percaya bahwa hujan peluru itu tidak akan mengenainya kecuali semua orang yang mencintainya mati lebih dulu. Nona Lissa percaya jika nyawanya jauh lebih berharga daripada nyawa siapa pun dan Nona yakin semua orang akan terus melindunginya."
Kalista mau tak mau menoleh.
"Tapi kamu, Nona Kalista, kamu akan tersenyum sekalipun kamu melihat Rahadyan lari, tidak melindungimu karena di hatimu, kamu merasa itu wajar jika tidak ada yang mau repot-repot mencintai kamu."
"Emang itu salah?" balas Kalista akhirnya. "Gue hidup normal kok sama diri gue sekarang. Even gue mungkin enggak beneran percaya, tapi ya enggak ada masalah juga, kan? Gue enggak pisah sama Papa, gue ngejar apa yang gue mau, so what's exactly the matter?"
Yang buruk kan kalau Kalista menyakiti mereka secara sengaja. Tapi kan tidak. Lalu masalahnya apa?
"Hmmm, benar juga." Dante bergumam serius. "Kamu benar. Tidak masalah, kan? Selama semuanya tetap normal."
"Iya, kan? Terus kenapa jadi masalah coba? Maksud gue, gue serius kok."
"Tentu saja. Tentu saja, Nona Kalista. Jika kamu memberi seseorang sebuah kalung berlian yang jauh lebih berharga daripada sebuah mobil lamborghini, tentu saja itu wajar jika dia membalasmu dengan cokelat berbentuk hati, kan?"
"...."
"Walau ini kalung berlian dan itu cokelat, selama bentuknya adalah hati, maka itu sama saja."
Kalista hanya bisa tertegun.
*
Julio sedikit bertanya-tanya apa ia sudah benar mempertanyakan itu sekarang. Tapi setelah semua yang Julio lakukan, ia mau hubungan mereka lebih serius jadi tentu saja ia menolak jika Kalista justru bersikap terlalu biasa.
Ya, sejujurnya Julio takut jika nanti hubungan mereka menjadi serius, Kalista bosan dan meninggalkannya.
"Hah!" Julio menghela napas saat tangannya meraih kotak perhiasan yang susah payah ia dapatkan. "Harusnya dia yang terobsesi sama aku, kan? Terus kenapa malah aku yang megang barang super duper mahal ini sambil nungguin jawaban dia?"
Memang dasar gadis ajaib. Tidak heran Sergio terobsesi padanya.
"Sergio?" Julio mendadak terbelalak, memasukkan lagi perhiasan itu ke brankasnya. Pria itu buru-buru ke tempat tidurnya, membuka ponsel untuk sadar sudah berapa lama ia lupa mengurus adiknya.
"Ah, shiit." Julio mengumpati dirinya sendiri.
Ia terlalu sibuk mencari perhiasan sampai ia lupa kalau Astrid ingin mendesak pernikahan segera.
Julio menekan nomor Sergio, berharap dia setidaknya mau menjawab walau dia sedang kesal.
"Sergio, kamu di mana?"
"Apartemen Astrid."
Julio terbelalak. "Oh no. Don't tell me you—"
__ADS_1
"Don't tell you what? Soal aku mau nikah? Yeah, finally, horay. Enggak usah khawatir karena kamu masuk list tamu undangan."
Panggilan itu terputus, meninggalkan Julio mengutuk sendirian.
*
Hari ini Kalista lagi-lagi putuskan tak ke kantor. Tapi bedanya, kali ini Kalista meminta Rahadyan ikut bolos kantor bersamanya, pergi mengunjungi makam Mama setelah sekian lama.
Tidak banyak yang Kalista katakan saat di sana, karena ia baru membuka mulut saat mereka mampir ke warung makan Sunda tak jauh dari lokasi makam.
"Papa."
Rahadyan yang sudah tahu Kalista pasti ada masalah hati jika mencari mamanya, langsung merespons panggilan itu sangat lembut. "Iya, Sayang? Papa di sini."
Kalista menusuk-nusuk ayam bakar di depannya saat mulai bergumam, "Menurut Papa, aku harusnya lahir atau enggak?"
"Baby, what are you—"
Rahadyan hampir saja merespons emosional, tapi segera sadar bahwa Kalista tidak butuh itu. Anaknya butuh jawaban yang dapat membantu dia menatap dirinya sendiri.
Maka Rahadyan meralat jawabannya, "Of course Papa ngerasa kamu harus lahir."
"Terus kenapa semua orang nolak aku?" Kalista mendongak pada Rahadyan. "Kenapa orang terus ngatain aku anak gundik? Aku emang anak gundik, emang. Tapi maksud aku, kenapa ... kenapa ... kenapa itu kayak kutukan buat aku?"
"Terus kenapa bukan Papa yang disalahin? Kenapa aku yang dibilang anak gundik bukan Papa yang zinah sama gundik?"
Kalista tidak bertanya karena emosi. Nadanya sangat tenang walau kosong. Itu pertanyaan tulus darinya sejak lama.
Kenapa dirinya? Kenapa seakan-akan dirinya yang salah? Kenapa orang tidak menghina Rahadyan sebagai pelaku tapi justru menghina Kalista sebagai hasil dari kelakuan itu?
"Itu juga salah Papa," jawab Rahadyan lemah. "Papa harusnya enggak ngerusak siapa-siapa dulu, spesialnya mama kamu."
"...."
"Semuanya salah Papa. Kamu enggak salah, Sayang, seharusnya kamu lahir di situasi yang lebih baik bukannya ... di status anak haram atau apa pun itu. Salah Papa."
Kalista mengangguk. Sebenarnya ia mengerti dan sudah tahu jawabannya begitu. Tapi ia kembali mempertanyakannya karena Julio menyinggung itu.
"Kalista."
Rahadyan mengulurkan tangan, menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin padahal cuaca cukup panas.
"Dosa Mama sama Papa bukan urusan kamu. Even darah Papa sama Mama ada di badan kamu, even kamu anaknya Papa sama mamamu, itu enggak bikin dosa kami jadi dosa kamu. Dosa Papa juga bukan dosa mamamu, dosa mamamu juga bukan dosa Papa."
"Aku enggak ...."
__ADS_1
"Kamu enggak nganggep dosa mamamu itu dosa kamu, tapi kamu seakan-akan hidup buat nebus dosa mamamu."
Kalista mengerucutkan bibir. Ia benar-benar tidak nyaman jika membicarakan hal tentang ini tapi ia juga penasaran dengan dirinya sendiri. Sebenarnya Kalista itu siapa? Dan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan?
"Kalista, Papa pengen semua orang yang nyebut kamu anak gundik itu ilang. Papa pengen semuanya mati biar kamu bahagia tapi ...."
Rahadyan meraihnya, memeluk tubuh putri kesayangannya. Demi Tuhan, tidak akan ada di dunia ini yang bisa mengerti seberapa besar cinta Rahadyan padanya.
"Papa."
"Ya, Sayang?"
"Kenapa Papa cinta sama aku?"
"Oh no." Rahadyan melepaskan pelukan itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. "Kamu nyuruh Papa nulis buku yang lebih tebel dari buku anak kedokteran? Itupun enggak cukup buat nulis alasan Papa sayang sama kamu."
"Kenapa?"
"Kalista."
"Ya kenapa? Padahal aku sebelumnya enggak ada di hidup Papa terus aku tiba-tiba dateng, tiba-tiba nyusahin Papa. Kenapa Papa malah sayang sama aku?"
Rahadyan justru mencebik. Mencubit gemas dagu Kalista. "You're soooo cure, Baby. Papa seneng kamu enggak ngerti karena itu berarti perasaan Papa terlalu spesial."
Kalista membulatkan mata. "Kalo aku punya anak juga aku bakal ngerti?"
"No!" Rahadyan kontan berseru, seketika melotot pada Kalista marah. "Enggak ada anak-anak! Kamu masih kecil!"
Bibir Kalista justru mengulas senyum. Mungkin ia tak mengerti apa itu cinta kecuali rasa suka dan tergila-gila pada sesuatu, namun setidaknya Kalista tahu bahwa ia ... sangat-sangat bahagia dicintai oleh Rahadyan.
*
"Kayaknya aku bakal berhenti magang, Pa."
Rahadyan langsung menoleh syok pada perkataan anaknya. Kini mereka berada di lift menuju unit mereka dan Rahadyan hampir saja menjatuhkan kantong belanjaan di tangannya akibat perkataan Kalista.
"Baby, kamu serius? Kamu enggak ngeprank Papa, kan? Serius?"
Kalista mengangkat bahu. "Serius. Aku udah nyerah sama Kak Julio."
"YES!" Rahadyan akhirnya menjatuhkan belanjaan itu sungguhan. Datang untuk memeluk Kalista dan menciumi wajahnya sangat bangga.
Kalau ada yang melihat Rahadyan sekarang mereka pasti berpikir bahwa anaknya baru saja diterima di Oxford tanpa biaya saking bangganya.
*
__ADS_1