Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Gangguan Kecemasan


__ADS_3

"Shiit," umpat Julio lirih. Menjatuhkan dirinya ke kursi dan mendongak pada langit-langit.


Benar juga, yah. Lagipula Sergio marah begitu lantaran Julio tidak memberinya nasehat yang benar dan cuma memojokkan dia saja. Tapi Julio malah egois sebab ia takut Sergio akan jadi pengganggu dalam hubungannya dan Kalista.


Padahal ini soal hidup Sergio, masa depannya yang dia berhak memilih tapi malah dipaksa-paksa oleh Mami. Ini bukan soal hubungan Julio dan Kalista bahkan sekalipun nantinya berdampak.


Apa Julio, secara tidak sadar, merasa terancam pada adiknya yang sampai sekarang mencintai Kalista?


Atau ... ia terancam karena takut Kalista benar-benar akan berbalik menyukai Sergio juga?


*


Buat bertemu Bu Direktur, mau tak mau Kalista harus pergi ke tempat kerjanya. Dan tempat kerja Bu Direktur sekarang ... itu di kampus.


Kalista menelan ludah ketakutan bahkan saat dirinya masih berada dalam taksi. Ia merasakan kecemasannya meningkat di level yang tidak wajar dan ia tahu itu karena Sergio. Kemarahan dan kekecewaan Sergio padanya membuat Kalista merasa dunia ini jadi lebih menakutkan dari yang biasa.


Tapi Kalista harus turun. Harus berjalan. Harus melewati banyak kerumunan menuju—


"Haha, serius lo, njir?!"


Kalista tersentak kaget secara tidak wajar hanya karena suara seseorang tertawa bukan pada dirinya. Di telinga Kalista, itu seperti dia sedang tertawa karena temannya memberitahu bahwa Kalista anak gundik.


Oh tidak. Ini menakutkan. Kalista seharusnya tidak datang ke sini. Kalista seharusnya meminta bertemu di tempat lain saja.


Kenapa Kalista malah—


"Palpitasi, dispnea, tekanan darah meningkat." Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh leher Kalista, tepat di titik nadinya. "Gejala serangan panik."


Kalista terpaku.


"Kurasa ini akan membantu." Dante, orang itu, memasangkan headphone ke kepala Kalista, menutup telinganya dengan musik rock kencang memekak telinga.


"Masalah terselesaikan. Hah, aku bangga pada kehebatan diriku yang cemerlang ini."


Kalista masih terpaku syok. Tapi yang membuatnya lebih syok lagi, pelan-pelan Kalista merasa sedikit tenang walau telinganya sakit akibat musik kencang.


"Lo kok ...."


Dante mengangkat alis. "Aku?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku," ucapnya sejelas mungkin di bibir agar Kalista bisa membaca bibirnya, "pengawalmu. Tentu saja, aku, melindungimu."


Ah, benar juga. Kalista punya pengawal lagi dan bukan Agas tapi Dante.


"Huft." Kalista menghela napas lega, merasa benar-benar sudah tenang. "Musiknya kurangin, njir! Telinga gue sakit!"

__ADS_1


Dante malah menyentil kening Kalista. "Kamu harusnya berterima kasih dulu," ucap dia tapi tetap menurunkan volume. "Ayo, kuantar ke ruangan Wakil Rektor."


Memang pengawal Satu Miliar tidak main-main. Dia bahkan tahu tujuan Kalista tanpa diberitahu. Tidak hanya itu, Dante memegang tangan Kalista yang sedingin es. Hangat tangan Dante mau tak mau memberi Kalista sedikit tenaga untuk berhenti gemetar.


Meskipun kakinya masih agak lemas.


"Kamu tidak mau berada di sini karena masa lalumu?" tanya Dante pelan, tapi masih terdengar samar-samar di antara musik.


"Kak Agas cerita?"


"Apa? Tentu saja tidak. Aku dan Agas tidak pernah bicara seumur hidupku." Dante tertawa. "Pengawal Narendra mengetahui semua tentang tuannya, termasuk perasaan."


Benar juga. Agas dulu juga sangat peka pada Kalista. Pikir Kalista itu karena dia pengertian, tapi itu semua karena dia sangat terlatih dan profesional.


"Gue takut." Kalista memegang erat tangan Dante. "Gue entah kenapa ngerasa mereka ngomongin gue. Nyokap gue."


"Itu disebut trauma yang muncul karena emosi berlebihan terhadap peristiwa menyakitkan."


Kalista melotot. "Gue juga tau!"


Tapi Dante malah menoleh dan tersenyum. "Kalau begitu seharusnya mudah, bukan? Singkirkan emosi berlebihan itu."


Aha, Kalista lupa kalau Agas dulu juga tidak berperasaan. Dia selalu menggunakan cara kejam agar Kalista berbalik pada Rahadyan, membuat Kalista menangis dan terluka demi 'mengontrol' perasaan Kalista.


Lissa juga tidak berperasaan seperti Agas. Tidak heran jika Dante juga.


"Semudah itu," balas Dante. "Kamu yang membuatnya tidak mudah karena berkata itu tidak mudah."


"Diem!"


Dante tersenyum. "Baiklah."


Dia benar-benar diam sampai mereka tiba di depan ruangan Bu Winnie. Kalista melepaskan tangan Dante, mau mengusirnya pergi tapi Dante malah mendorong pintu terbuka.


"Lo kok—"


"Hei, Winy, anak ini butuh bantuan."


Bu Direktur—maksudnya, Bu Wakil Rektor menatap mereka terkejut. Tapi saat melihat Dante, wanita itu langsung menghela napas.


"Sudah kubilang namaku dibaca Wi-ne."


"Loh?" Kalista menatap mereka berdua. "Lo kenal Bu Direktur?"

__ADS_1


Dante tersenyum polos. "Aku anak ibu dan ayahnya."


Di sana, Bu Direktur menepuk dahi. "Dante, keluar."


"Baiklah. Aku cuma mengantar anak ini. Oh, dia punya gangguan kecemasan jadi beri dia sesuatu yang nyaman agar tenang."


Bu Winnie menatap datar pria itu. "Keluar."


Dante melepaskan Kalista, mundur terakhir, meninggalkan pintu tertutup.


*


Kalista sejak kemarin sakit kepala oleh berbagai informasi baru. Tak ia sangka kalau Bu Direktur yang merupakan calon ibu tirinya—tapi belum pasti—ternyata punya adik. Dan adik dia itu Dante?


"Kamu dari Narendra kemarin, hm? Soal ke kuburan Mamamu, itu bohong?" tebak beliau langsung dari keberadaan Dante tadi.


Kalista meringis. "Maaf, Bu. Soalnya enggak mungkin aku bilang."


Bu Direktur—oke, Kalista harus mulai terbiasa memanggilnya Bu Winnie sekarang walaupun ia benar-benar sudah terbiasa dengan Bu Direktur—menatap Kalista penat.


"Kamu harusnya cerita ke saya, Kalista. Saya enggak bakal ngasih tau Rahadyan kalo kamu cuma mau nyewa pengawal. Apalagi Dante."


"Bu, saya beneran enggak tau dia adeknya Ibu."


Wanita itu memasang selimut tipis ke tubuh Kalista, memeluknya karena ingat pesan Dante. "Kamu udah enggak pa-pa?" tanya beliau lembut. "Telfon Ibu kalo mau dateng. Kalau kamu pingsan di luar, Ibu bakal nyalahin diri sendiri karena kamu."


Kalista tersenyum nyaman. Ia selalu berpikir kalau dirinya tidak akan lagi merasakan pekukan seorang ibu setelah Mama pergi. Namun pelukan Bu Winnie tidak pernah gagal membuatnya nyaman.


"Aku berantem sama Sergio," bisik Kalista, memberitahu maksud kedatangannya. "Dia bilang aku egois dan aku tau dia bener. Terus, aku juga bohongin dia. Sebenernya, Bu, aku sama Kak Julio udah sampe ciuman. Tapi plis jangan ngomong sama Papa, yah?"


Bu Winnie tertawa geli. "Kamu ini ngira saya sesuka itu dengerin Papa kamu teriak-teriak?"


"Hehe."


"Oke, ceritain satu-satunya. Ibu dengerin."


Kalista tetap dalam pelukannya saat mulai menceritakan semua yang ia bisa. Pada beliau saja, Kalista tidak bisa berbohong lebih jauh jadi ia mengatakan sampai ke detail hubungannya dan Julio.


"Kamu ngerasa kamu salah?"


"Iya."


"Soal apa? Soal kamu diem-diem sama Pak CEO atau soal ...."

__ADS_1


"Soal enggak ngerti perasaan Sergio." Kalista mendongak. "Aku enggak salah soal Kak Julio. Aku emang suka sama dia jadi itu hak aku."


*


__ADS_2