
Besoknya, Kalista diantar ke kantor oleh Rahadyan. Melihat Kalista datang tanpa mobil lamborghini pink, semua orang lagi-lagi sibuk bergosip. Kalista terlalu capek buat peduli jadi ia bergegas naik, ingin langsung ke ruangan Julio jika Sergio tidak mencegah.
"Kalista." Sergio menariknya masuk ke ruangan dia, memastikan pintu terkunci. "Bilang sama Julio lo mau pindah ke sini."
Kalista sudah paham situasi, bahwa Sergio ngambek pada Julio karena dicegah putus dari Astrid. Padahal sebenarnya Julio juga tidak mencegah, namun dia menyuruh Sergio tidak menggunakan cara itu.
Tak langsung membalas, Kalista melipat tangan, cemberut memikirkan cara terbaik agar Sergio berhenti ngambek.
"Astrid ngomong sama gue," dusta Kalista, "kalo lo sama dia udah sering tidur bareng."
Sergio langsung mengalihkan pandangan.
"Santai, man, no judgement."
Perkataan Kalista yang sangat santai justru menbuat Sergio tertegun.
Kenapa Kalista sedikitpun tidak mempermasalahkan? Ya, Sergio tahu dia tidak menyukai Sergio tapi ... apa benar-benar sampai seluruhnya?
"Bukannya lo bilang takut jadi pelakor?" balas Sergio, mengingat teks waktu itu. "Lo kan takut ceweknya Julio ngira lo bakal ngerebut dia."
"Kak Julio enggak ...."
"Enggak apa?"
Kalista nyaris saja keceplosan. Kalau ia bilang Julio tidak punya pacar sementara Sergio sebagai adik terdekat Julio saja tidak tahu, itu bakal mengisyaratkan ada percakapan spesial.
"Pacarnya Kak Julio udah tau gue."
Maka Kalista pakai jurus kebohongan.
"Dia enggak kayak Astrid, enggak nge-judge gue biarpun gue anak gundik. Terus orangnya juga cantik banget jadi enggak insecure."
Sergio memicing. "How did you know that?"
"Ya soalnya gue seruangan sama Kak Julio. Jelaslah gue tau dikit." Kalista setidaknya percaya diri berbohong. "Udahlah, Sergio. Gue mau balik kerja."
"Lo kerja sama gue aja kenapa sih! Lagian lo kan mau bantuin gue putus sama Astrid!"
Kalista kelabakan. Ia lupa pada janjinya soal itu karena terlalu banyak hal terjadi kemarin. Tapi karena panik, Kalista bicara asal saja.
"Lo tuh enggak boleh putus sama cewek yang udah lo tidurin."
Perkataan yang seketika membuat Sergio naik darah. "Kenapa kesannya Astrid banget yang korban? Kenapa enggak ada yang peduli gue enggak suka sama dia?"
__ADS_1
"Maksud gue tuh—"
"Maksud lo, lo enggak mau gue gangguin godain kakak gue, gitu?" Sergio untuk pertama kali, dalam hubungan pertemanan mereka, menatap Kalista sangat kecewa. "Gue kira lo beda, Kalista, tapi ujung-ujungnya lo cuma mikirin diri sendiri."
Kalista terpaku kosong.
"Lo egois. Gue lakuin semuanya buat lo sampe sekarang, tapi lo enggak peduli."
Bahkan saat Sergio mendorongnya keluar dari ruangan dia seolah-olah dia memutus seluruh hubungan mereka juga, Kalista masih terpaku kosong.
Hei! Maksudnya bukan begitu! Kalista cuma ... cuma ....
Tidak. Sergio benar, Kalista terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Ia tak mau mengakhiri hubungannya dengan Julio atau membahayakan kemungkinan hubungan itu berlanjut serius, tapi ia bahkan tidak peduli pada fakta Sergio terpaksa bersama Astrid.
"Sergio." Kalista mengetuk pintu ruangan Sergio, berharap dia mau bicara lagi. "Maafin gue. Gue enggak maksud—"
Pintu ruangan Sergio terbuka dan pemuda itu keluar bersama tasnya.
"I'm done with you," ucap Sergio dingin.
"Mungkin Astrid bener. Lo cuma manfaatin semuanya buat diri lo sendiri. Gue tau lo enggak mau bales perasaan gue tapi kayaknya lo juga enggak mau bilang terima kasih. Kalo bukan karena gue, Kalista, lo enggak bakal pernah baikan sama bokap lo."
Dada Kalista panas menyaksikan Sergio beranjak marah, meninggalkan kantor ini juga Kalista yang mematung.
Ini berbeda dari biasanya.
Biasanya orang yang membenci Kalista memang sudah membencinya. Bukan orang yang mencintainya berbalik membencinya.
*
*
*
Sergio benar. Kalau bukan karena dia yang berhasil menampar wajah Kalista dulu, mungkin sampai sekarang Kalista masih keras kepala membenci Rahadyan. Sergio yang berhasil membuatnya mau mengalah, mau mengakui perasaannya walaupun gengsi dan bahkan bersedia ada di samping Kalista sampai akhir.
Kalista merasa seperti ia kacang yang lupa kulitnya. Walau Kalista tidak bermaksud menyakiti Sergio, tapi kan pada akhirnya Sergio terluka.
Dia bisa tidur dengan Astrid sekalipun dia benci padanya. Tidur itu cuma urusan sel4ngkangan dan sel4ngkangan, terutama di kota kosmopolitan ini.
Intinya adalah dia dipaksa berjodoh dengan seorang gadis pemaksa yang dia benci.
"Enggak ada good morning hari ini?"
__ADS_1
Suara Julio yang ternyata sudah berdiri di pintu mengejutkan Kalista dari lamunan.
"Kamu ngelamunin apa, Kalista?"
Kalista mengubur wajahnya di tangannya yang terlipat. "Sergio marah sama aku," jawab Kalista lesu. "Dia bilang aku egois."
Julio mengulurkan tangan ke rambut gadis itu, mengusap-usapnya lembut. "Kok bisa?"
"Sergio mau putus sama Astrid, Kak. Aku bukannya bantuin dia malah ngomong harusnya enggak putus." Kalista mengucek matanya yang mendadak basah. "Aku egois enggak mau ngorbanin kita, tapi justru biarin Sergio sendirian."
"Sayang, itu bukan salah kamu."
"Jelas itu salah aku." Kalista menepis tangan Julio. "Sergio selalu ada buat aku dari dulu tapi aku enggak pernah ada buat dia. Wajar dia marah."
"Kalista, itu bukan tanggung jawab kamu kalo Sergio suka sama kamu tapi kamu enggak."
Kalista menatap Julio kaget. "Maksud Kak Julio?"
"Kamu enggak perlu ngerasa bersalah kalo kamu nolak Sergio terus dia marah." Julio meraih tangan Kalista dalam genggamannya. "Dia mesti terima kalau perasaan kamu ke dia itu cuma sebatas temen. Enggak lebih."
Kalista terperangah. Apa dirinya sedang bermimpi atau salah dengar?
Ucapan tadi ... itu sangat kejam bagi Sergio.
"Kak, aku enggak ngomongin soal Sergio suka aku terus aku nolak dia." Kalista menarik tangannya dari genggaman Julio. "Aku ngomongin aku harusnya lebih ngerti perasaan Sergio mau putus dari Astrid tapi aku malah bilang jangan cuma karena aku enggak mau pisah dari Kak Julio."
Julio tertegun.
"Kak Julio kok jadi aneh?" Kalista beranjak, menatap Julio risih. "Gio kan adeknya Kakak jadi harusnya Kak Julio lebih ngerti."
Mungkin Kalista hanya melampiaskan perasaannya pada Julio tapi ia sungguhan kecewa karena Julio bukannya bersikap dewasa. Dia yang Kalista sukai itu sosok Julio yang dewasa dan bijaksana.
Kalau Kalista egois, ya okelah karena dirinya orang asing bagi Sergio sekalipun sahabat. Tapi kan Julio kakaknya dan Sergio itu adik yang terpaksa melakukan sesuatu demi keegoisan orang tua mereka.
"You know what, Kak? Kayaknya mending aku berenti aja sekarang."
"Kalista."
Buru-buru Kalista pergi, merasa ia harus bertemu Bu Direktur sekarang untuk membicarakan kesalahannya. Bu Direktur selalu memberi nasehat bijaksana dan adil bagi setiap pihak, jadi Kalista ingin minta sarannya.
Sementara itu Julio terdiam memandangi bekas-bekas kepergian Kalista.
*
__ADS_1
biar author bisa tetep lanjut, kasih dukungan yang banyak yah:) like, vote, komen sesuka kalian 🙂