
"Astrid kenapa? Dia ngatain kamu lagi?" Julio menyelipkan tangannya di sela jemari Kalista. "Kayaknya aku mesti ngomong langsung sama dia kalau dia bukan yang punya dunia."
Anak itu selalu bertingkah seenaknya jadi mungkin, sebagai calon kakak ipar, Julio perlu menasehati dia agar lebih rendah hati.
"Kak." Kalista meremas tangan Julio. "Astrid punya foto kita ciuman di pesta mamanya Kak Julio. Dia ngancem aku—sama Kak Julio buat bantuin dia nikah sama Sergio. Kalo enggak, dia bakal ngasih tau Sergio."
Kalista pikir Julio bakal sangat terkejut dan panik, karena jelas-jelas Julio enggan memberitahu Sergio sekarang. Tapi ternyata Julio tidak seterkejut itu.
Dia cuma mengangkat alis, lalu diam.
"Kak Julio enggak marah?"
"Agak, but I knew her." Julio tampak berpikir sejenak. "Astrid itu luar dalamnya kemungkinan besar sama, beda kayak kamu."
"Maksudnya?!" Kalista rada tersinggung.
Tapi Julio malah tersenyum. "Beda sama seseorang yang keliatannya pede, superwoman yang enggak takut sama dunia padahal sebenernya suka ngumpet—"
"Aku enggak!" bantah Kalista, walau tahu itu benar.
"—Astrid enggak pernah takut. Kalo dia mau sesuatu, enggak peduli caranya gimana, dia bakal dapetin."
Kalista berdecak sebal. Ia benci kenyataan bahwa memang demikian dan itu membuatnya takut pada Astrid walau juga benci luar biasa.
"Tapi dia sampe ngancem Kak Julio. Dia enggak ngira apa Kak Julio enggak takut?"
"Siapa bilang aku enggak takut?"
"SERIUS?!" Kalista pikir Julio bakal berkata 'kamu kira aku bakal biarin dia ngancem kita? cuih, sini kuludahin' atau setidaknya yang sejenis itu.
Kalau Julio juga takut terus Kalista takut dan Sergio juga takut, siapa yang bakal melawan Astrid?!
Julio tertawa. "Enggak ada cowok yang enggak takut sama Astrid, Kalista."
"Terus maksudnya berdoa aja sama Tuhan biar masalah kita terselesaikan, gitu?"
"Yep."
"Kak!"
Julio tertawa, menarik Kalista untuk bersandar dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ngelawan orang pinter plus nekat itu enggak boleh buru-buru, Sayang."
Berbeda dari bayangan Kalista, setelah itu mereka tidak menyusun rencana tapi makan sandwich bersama.
*
Itu sudah biasa Julio menghabiskan waktu di kantornya bahkan ketika semua orang meninggalkan kantor, termasuk Megan, seperti hari ini. Setelah meminta Kalista pulang dan tentu saja menciumnya sepuas hati, Julio tetap diam di kantor menyaksikan monitor tapi berpikir hal lain.
Astrid. Dia nekat juga mengancam Julio. Pikiran Kalista tak salah, tentu saja Julio tidak senang pada langkah yang diambil calon adik iparnya itu.
Tapi Julio tidak memperlihatkannya pada Kalista karena ... ya, Julio akui Kalista tidak akan sanggup. Astrid bukan lawan anak-anak seperti Kalista, bahkan kalau dia berani. Jadi lebih baik Kalista menganggapnya tidak terlalu penting.
Dan ancaman itu, beratnya menimpa Kalista bukan Julio.
Tentu saja, Julio terancam karena tidak ingin adiknya tahu dan mengira Julio selama ini menipu dia, demi merebut gadis yang sangat dia cintai. Namun lepas dari itu, Astrid sedang mengancam Julio bahwa dia akan mengumumkan pada seluruh manusia di bumi bahwa Kalista sungguhan gundik.
Jika sampai Mami tahu, hubungan keluarga mereka dengan Rahadyan akan retak lalu dua kubu akan saling menyerang. Pihak Kalista pasti rugi sebab tidak ada yang mau membela status gundik.
"Julio." Pintu ruangan Julio terbuka, memunculkan sosok Sergio. "Aku mau ngomong."
"Astrid?"
"Itu juga tapi sebenernya Kalista."
"What if," Sergio berucap ragu, "what if I ...."
"What if you what?"
Sergio mengusap-usap tengkuknya sendiri, seolah dia berjuang keras mengatakannya. "Gimana kalo aku ngelamar Kalista?"
Tidak pernah Julio sangka akan ada hari ia tertegun pada pernyataan cinta Sergio untuk Kalista.
"You what?" Julio bahkan berharap ia salah dengar tapi sebenarnya tahu bahwa ia sudah sangat mendengar.
"Gini, aku ngelamar Kalista—ngelamar yang heboh entah pake helikopter atau jet kali—biar Astrid mundur?"
Maksudnya dia mau mempermalukan Astrid dengan memanfaatkan rasa cintanya pada Kalista? Tapi Sergio jelas tahu dia akan ditolak.
"Why?"
"What do you mean why?" balas Sergio. "Jelas aku mau putus sama si Feminis Sialan itu."
__ADS_1
"Maksud aku, kamu bakal ditolak jadi ngapain?"
"Anggep aja ngorbanin sesuatu demi sesuatu."
Sergio meremas tangannya satu sama lain, jelas terlihat gugup dan ragu.
"Aku tau pasti ditolak, tapi seenggaknya aku lepas dari Astrid. Begitu aku lepas, banyak waktu ngejar Kalista plus ngebales Astrid yang ngatain dia gundik."
Itu rencana yang tidak buruk tapi ... tapi buruk buat Julio.
Kalista benar-benar akan diblacklist dari keluarganya dan bukan hanya itu, sebab Astrid punya foto ancaman.
"Enggak." Julio menggeleng, segera menolaknya. "That is a stupid plan." [Itu rencana konyol.]
"Hah? Menurut aku itu bagus. Aku enggak bikin Kalista malu. Actually, malah aku yang malu karena bakal ditolak dan aku milih nerima risikonya. Why is it stupid?"
"Gimana kalau Astrid tetep ngejar kamu?"
"Enggak. Enggak mungkin. Gimana dia bisa punya muka kalo aku ngelamar perempuan lain di depan mata dia, di depan semua orang sampe masuk berita?"
"Aha, terus Mami? Keluarga Astrid yang bukan cuma sekadar 'sahabat' keluarga kita tapi juga punya sejarah panjang hubungan kerjasama bisnis. Kamu tau hubungan kita sama mereka itu hubungan sahabat yang bisa saling nusuk sampe mati, kan?"
"So you ask me to stay with her? That devil woman?" [Terus kamu nyuruh aku tetep sama dia? Sama cewek setan itu?]
Seharusnya kalau Julio menjelaskan baik-baik bahwa rencana Sergio berisiko, Sergio pasti paham, tapi entah kenapa Julio malah mengatakan hal yang agak salah.
"You fvck her and fvck with her, Sergio. You absolutely enjoy the girl." [Kamu tidur sama dia, Sergio. Kamu jelas nikmatin dia.]
Sesuai dugaan, Sergio menatapnya tak senang. "Oh, jadi cuma karena gue masuk ke selang-kangan dia berarti gue harus ngorbanin hidup gue buat dia? Lo tau, Kak, harusnya elo yang nikahin dia karena lo yang duluan lahir. Kenapa harus gue?"
"She likes you—na, she obsessed with you and not me." [Dia terobsesi sama kamu, bukan aku.]
"Lo jago bikin cewek terobsesi, huh? Kayak lo bikin cewek gue tergila-gila."
"Kalista jelas bukan pacar kamu."
"She will be and it's not your business anymore." [Dia bakal jadi pacar aku dan bukan urusan kamu lagi.]
Sergio beranjak, namun menyempatkan diri berkata, "Mulai besok biar gue jagain Kalista. Enggak usah buang-buang waktu bantuin gue."
Pintu ruangan Julio dibanting tertutup, meninggalkan pria itu memukul meja kesal.
__ADS_1
Sialan!
*