Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
22


__ADS_3

Sementara Kalista berbaikan dengan Rahadyan dan kembali ceria, Sergio terpaksa harus menghadapi Astrid di salah satu kamar hotel yang tersedia untuk mereka.


"We had talked about this, okay? Gue udah bilang gue mau putus. Gue mau Kalista bukan lo, Astrid."


"Aha." Astrid membalas tak peduli. "Dia sebagus itu?"


"Lebih bagus dari lo, jelas."


"Maksud aku soal ini." Astrid duduk di pangkuan Sergio, memilin kancing kemejanya tanpa melepaskan tatapan dari mata Sergio. "Sebagus itu sampe kamu enggak mau lepas?"


"Gue enggak bahas soal itu." Sergio memundurkan wajahnya. "Denger, Astrid. Lo tuh enggak bego, enggak budeg juga. Lo ngerti kalo orang ngomong enggak mau ya berarti dia enggak mau. Ngerti? Gue enggak mau sama—"


"Dia juga enggak mau sama kamu."


Rahang Sergio mengeras. "Jangan ikut campur. Urusan lo sama gue itu cuma soal putus. Gue mau putus dan gue capek ngasih tau lo gue mau putus."


Bukannya membalas perkataan Sergio, Astrid justru mendekatkan wajah mereka.


Argh, Sergio benci ini. Sergio benar-benar benci saat Astrid mengandalkan sesuatu semacam ini untuk menghentikan Sergio minta putus darinya.


"Stop."


Astrid justru membawa tangannya ke bawah, memaksa Sergio mengerang oleh sentuhannya.


"Kamu harusnya enggak mutusin perempuan," bisik Astrid, "yang bikin kamu kecanduan."


Belum sempat Sergio mengatakan sangkalan, Astrid sudah lebih dulu menciumnya, memaksa Sergio untuk berhenti membicarakan perasaan.


*


"Kak Julio."


Julio tidak bisa tidak tersenyum lebar pada sapaan manis Kalista.


Akhirnya dia kembali juga. Julio bahkan sudah merinding membayangkan sepanjang waktu ia punya teman seruangan di kantor yang ekspresinya muram. Hah, itu menakutkan.


"Gimana? Om Rahadyan udah ngemis-ngemis?"


"Hehe, Papa tuh emang suka nyebelin." Kalista cengengesan saat tangannya memberi segelas minum. "Buat Kak Julio. Maaf yah tadi aku nyebelin. Soalnya tadi tuh Papa—"


"Ssshhh, doesn't matter anymore." Julio menerima gelas minuman itu sekalipun ia tak sedang haus. "Daripada itu, gimana kalo sekarang kamu gabung ke sana?"


Tangan Julio sekilas menunjuk ke arah di mana perempuan seusia Kalista berkumpul.


"Mereka enggak satu circle sama Astrid, tenang aja. Kayaknya mereka juga udah pada denger gosip kamu pake lamborghini keluaran baru. Topik pertama buat basa-basi."

__ADS_1


Kalista kini kembali menatap Julio penuh pemujaan. "Doesn't metter juga, Kak. Ngeliat Kakak lebih penting."


Julio tertawa geli. "Kamu juga butuh temen, Kalista. Sana gaul sama mereka."


"Kak Julio enggak mau yah aku di sini?" Kalista mendadak murung. "Kalo gitu aku liatin Kakak dari jauh aja."


Sebelum dia beranjak pergi, Julio menarik kerah belakang gaun Kalista untuk menghentikannya. Gadis itu terkejut, membuat Julio lagi-lagi tertawa kecil.


"Sori sori. Sini aja kalo gitu."


Dia tidak mau bergaul, yah? Julio mendengarnya dari Sergio memang, bahwa Kalista itu tidak berani mencari teman. Tapi Julio pikir itu tidak sampai dia tidak mau bergaul sama sekali.


"Kamu tunggu sini bentar. Aku ambilin sesuatu di sana. Spesial buat kamu, dari Sergio."


Anak itu belum terlihat juga jadi mungkin urusan dia dan Astrid berlangsung lama. Yah, Astrid lawan yang tangguh jadi mau bagaimana lagi.


Julio beranjak mengambilkan hadiah spesial untuk Kalista, tapi mendadak tangannya ditarik oleh Mami.


"Kamu ngapain gaul sama anaknya Rahadyan?!" tanya Mami penuh penekanan namun suaranya tertahan. "Ketawa-ketawa enggak jelas pula kamu sama dia! Cari cewek lain, Julio!"


"What?" Julio tercengang. "Aku ngeladenin Kalista karena Sergio, Mi, bukan buat godain."


"Kamu kira Mami bego? Mami jelas-jelas denger dia dateng ke kantor kamu buat kamu! Pokoknya sini kamu! Jangan gaul sama perempuan kayak gitu."


"Oh, jadi sekarang kamu ngelawan Mami juga buat anak gundik?!"


"Mami mau Om Rahadyan denger omongan Mami?" Julio membalas telak. "Kenapa enggak sekalian ngomong depan Om Rahadyan? Usir aja sekalian. Bilang kalo Om Rahadyan mau dateng, dia enggak boleh bawa anak gundiknya."


"Julio!"


"Oke, that's enough." Julio menghindar saat Mami mau menyentuhnya. "Itu hak Mami ngatain orang di belakang tapi itu hak aku mau temenan sama siapa. You do you, I do me."


"Kamu—"


"Do I clear myself right know? Good then. Have a goodnight, Mam. I love you."


*


Kalista benci keramaian. Itu sering membuat jantungnya berdebar-debar kencang dan tangannya dingin. Dalam dunia medis, katanya itu disebut gangguan panik atau sejenisnya. Kalista tidak memberitahu siapa-siapa mengenai hal ini, bahkan pada Bu Direktur.


Kali ini bukan karena Kalista menganggapnya biasa atau apa pun, namun Kalista merasa itu kelemahan besar. Saat ia berada dalam keramaian, terutama keramaian di mana orang-orang tahu bahwa ia anak gundik, Kalista merasa takut akan serangan tiba-tiba.


Itu mengingatkannya pada sekolah. Rasanya seperti semua orang melihat Kalista, tertawa mengenai dirinya dan menganggap ia seharusnya tidak pernah hidup di dunia ini.


"Kalista, here we go." Julio datang dengan semangat, membawa segelas cokelat dingin spesial esktra susu full kream.

__ADS_1


Tapi Julio langsung berhenti, melihat Kalista berkeringat parah.


"Sweety." Julio lembut memanggilnya, memegang tangan Kalista yang gemetar. "You're shaking and your hands .... Are you okay?"


"Ya. Perfect." Kalista tersenyum. Baiklah, sekarang sudah ada pengalihan.


Kalau ada Julio atau Sergio atau Papa atau Bu Direktur, Kalista merasa baik-baik saja. Ia percaya pada mereka.


"Not that perfect." Julio menoleh pada Rahadyan yang telah fokus pada obrolan bapak-bapak. "Come. Kita pergi bentar."


Kalista dengan senang hati ikut. Tangannya memegang tangan Julio, pelan-pelan merasa debaran jantungnya melambat tenang.


Itu bukan masalah besar. Asal Kalista tidak sendirian, ia baik-baik saja.


Julio membawanya diam-diam meninggalkan pesta, tapi bukan pergi sangat jauh. Dia cuma menepi ke sisi lain yang jauh, di mana suara keributan dari banyak orang agak redam terdengar. Mereka juga ditutupi oleh tanaman hingga bagian itu sedikit gelap namun nyaman bagi Kalista.


Apalagi berduaan dengan Julio.


"Hehe, makasih, Kak." Kalista cengangas-cengenges menerima cokelat dari Julio. "Kak Julio baik banget, jadi pengen macarin."


Julio sulit untuk tidak tertawa. "Itu Sergio yang nyiapin. Katanya kamu sukanya cokelat. Itu ada bobanya juga. Cobain."


Walau nama Sergio disebut, Kalista fokusnya pada wajah Julio. Menyedot cokelat dingin plus boba di gelasnya, kemudian senyum-senyum.


"Enak, Kak. Makasih yah."


"Sergi—udahlah." Julio menyerah menekan nama adiknya karena Kalista benar-benar cuma melihat wajah Julio. "Bagus kamu suka."


"Iya, Kak. Dari Kakak apa sih yang enggak."


"Ohya? Tadi aku kasih kue cokelat, mukamu kayak ngeliat kodok."


Kalista langsung tersedak. "I-itu salahnya Papa!"


Memang bapak dan anak sama ya. Sama-sama suka melempar kesalahan ke orang lain.


"Sergio banyak cerita soal kamu ke aku." Julio menumpukan tangannya pada tembok prmbatas, menatap hamparan suasana kota dari ketinggian mereka. "Tapi dia enggak pernah cerita kamu punya social anxiety."


"Itu bukan social anxiety, Kak. Cuma ...."


"Ahm?"


Kalista mengembuskan napas pasrah. "You got me."


*

__ADS_1


__ADS_2