
Dante menatap Kalista seolah dia mau menelannya bulat-bulat tapi menarik napas, tanda tidak mau dilaporkan.
"Lupakan saja."
"Daddy mau bilang apa tadi?"
Dante mendengkus sebelum dia kembali pada dirinya yang biasa. "Aku hanya ingin bertanya kenapa kamu tidak menanyakan padaku tentang Sergio itu."
Hening.
Kalista butuh waktu satu menit buat loading bahwa ia benar-benar bodoh karena lupa seberguna apa sebenarnya Manusia Satu Miliar.
"Daddy tau Sergio di mana?!"
"Benar sekali dan jika mau kuberitahu, jangan memanggilku seperti itu."
"Oke deal!"
Dante dengan senang hati memberikan lokasi Sergio.
*
Julio melirik keberadaan Dante di sofa sana sebelum menatap Kalista yang memberitahunya keberadaan Sergio.
"Kayaknya saya ngeremehin orangnya Narendra biarpun cuma bawahan biasa," ucap Julio tak terlalu senang. "Bukannya kamu cuma disuruh jagain Kalista secara langsung, bukan mata-matain orang di sekitarnya?"
Melihat reaksi Julio itu, Kalista agak ketakutan. Tapi satu sisi itu membuktikan bahwa Julio bahkan sangat mewaspadai mereka. Artinya Dante benar-benar sekutu yang berguna dan akan mendapatkan informasi apa pun itu, bahkan jika rahasia.
"Kak Julio, aku yang minta sama Dante." Kalista memegang tangan Julio agar dia teralihkan. "Dante enggak bakal ngambil file rahasia atau yang lain kok. Dia beneran cuma jagain aku."
Tatapan Julio mengarah pada kalung di leher Kalista tiba-tiba. Untuk sesaat saja Julio diam, tapi kemudian beranjak, melepaskan tangan Kalista.
"Kamu keluar dulu, Kalista. Aku mau ngomong berdua sama dia."
"Kak."
Julio tersenyum. Mengecup bibir Kalista dan mendorongnya pelan untuk keluar. "Lima menit," katanya sebelum memastikan pintu terkunci rapat.
Kaca ruangan menjadi buram, menutup kemungkinan Kalista mengintip. Julio mendekati Dante, bersedekap melihatnya seperti hama.
"Kamu dibayar sama Om Rahadyan? Bukan karena diminta sama Bu Winnie tapi karena dibayar, iya kan?"
Dante yang mendengarnya salah tapi mendekati kebenaran jadi tertawa kecil. Tentu, Julio tidak menjadi CEO kecuali dia punya ketajaman ini.
__ADS_1
"Memangnya itu penting? Pada intinya aku akan menjaga gadis mungil itu."
Julio justru terlihat semakin kesal. Tentu saja itu penting karena berarti dia bisa saja berbohong mengenai hubungan darahnya dengan Bu Wakil Rektor Winnie. Dan jika dia bukan adiknya Bu Winnie maka berarti dia hanya orang asing di hidup Kalista, yang akan selalu ada di sisinya, membantunya, menyelamatkannya, dan suatu saat merebut hatinya.
Itu masalah besar.
Julio percaya pada Kalista. Ia tidak percaya jika Kalista benar-benar akan mengubah perasaannya begitu saja cuma karena seseorang lebih tampan, terutama setelah ia dan Kalista terikat dalam sebuah hubungan. Namun itu tidak membuat Julio senang hati membiarkan Kalista bersama orang asing.
"Salah satu keluarga di dunia ini yang punya simbol dan maniak sama diri mereka sendiri itu Narendra." Julio mengeraskan rahang. "Enggak ada kekuasaan di negara ini yang enggak tau simbol Narendra itu mawar, mau dibaju, sepatu, helikopter, termasuk kalung berlian."
Ya, itu salah satu masalahnya.
Beraninya dia memberikan kalung berlian pada gadis Julio. Memang dia pikir Julio tidak bisa memberikan sesuatu yang lain juga?
Hah! Ia punya tapi sebelum itu kalung Kalista harus disingkirkan.
Dante yang mendengarnya langsung tertawa geli. "Jadi pada intinya kamu cemburu padaku? Masih mengenai kalung berharga di leher si Mungil?"
"Jangan seenaknya ngasih pacar saya nama panggilan!" tegas Julio murka. "Dan ini bukan soal cemburu. Saya enggak setuju sama tindakan kalian, Narendra, yang ngerasa berhak sama privasi orang lain, termasuk adik saya."
Di telinga Dante itu cuma alasan karena dia cemburu dan dia mau Dante pergi saja dari sisi Kalista.
Sebagai seorang peri cinta, Dante menyeringai senang. Enak juga kalau ia permainkan mereka ini.
"Kamu kira saya bakal biarin?" Julio langsung termakan.
"Hei, memang apa kuasaku? Aku hanya dibayar mengikuti perintah. Jika kamu tidak senang, pergi dan katakan langsung pada atasan. Tentu saja, itu akan membuat hubunganmu dan Nona Mungil ketahuan oleh Rahadyan. Sampai saat ini masih aku rahasiakan tapi entah kapan aku berubah pikiran."
"Sekarang kamu ngancem saya." Julio sepenuhnya menganggap Dante musuh.
Dante mencibir, beranjak dari sofa itu. "Lebih baik aku keluar karena melihat pria yang cemburu itu menyebalkan. Tapi, biar kuberitahu satu hal penting."
Dante berbisik seolah takut ada yang mendengar. "Kalung di leher Kalista itu lebih mahal dari perusahaanmu. Di bagian dalamnya, itu tersimpan berlian murni."
Tentu saja itu bohong. Tapi itu membuat wajah Julio memerah marah dan luar biasa tidak terima.
Ketika Dante keluar, diam-diam ia berbisik pada Kalista, "Kamu ingin melihat priamu tergila-gila? Jangan lepaskan kalung di lehermu sekalipun dia mengemis. Mengerti?"
Kalista mengangguk patuh, percaya pada Dante setelah melihat Julio datang bersama mawar dan cokelat kemarin.
*
Seorang wanita gampang insecure pada kecantikan. Mereka bisa merasa gila jika seorang wanita lebih cantik dekat-dekat dengan pria mereka, bahkan jika wanita itu punya pasangan resmi sekalipun.
__ADS_1
Namun pria berbeda.
Pria lebih insecure pada kekayaan. Jika seorang pria dekat-dekat dengan wanita mereka, dengan wajah jelek namun dompet yang sangat tampan, seorang pria bisa merasa cemburu buta. Itu tidak memiliki pengecualian bahkan pada Julio.
Sekalipun Julio adalah CEO dari perusahaan milik keluarganya sendiri, itu tak membuat Julio bisa menang dari 'pengawal' Narendra yang memberikan berlian pada gadisnya. Terlebih itu berlian Narendra.
"Kak Julio."
Julio tahu sekarang mereka harus membahas Sergio tapi Julio juga ingin membahas kalung.
"Kamu suka ini?" Julio menarik pelan tali kalung Kalista, sangat ingin menyentaknya agar lepas lalu ia buang jauh-jauh. "Mau aku kasih yang lebih cantik?"
Kalista menggeleng, patuh pada peringatan Dante. "Aku suka ini."
"Why? Kamu enggak suka aku kasih hadiah?"
Gadis itu malah menyerahkan tangannya. "Gelang aja kalo gitu."
Tatapan Julio menjadi dingin sementara Kalista berusaha keras tidak senyum-senyum.
Hehe, ia bukan Bu Direktur yang batu, jadi Kalista paham Julio sedang cemburu. Cemburu itu tidak enak tapi membuat cemburu orang itu enak, sungguh dunia memang tidak adil.
"Daripada ngomongin itu, kita ke Sergio sekarang kan, Kak? We have to talk about it."
Julio mengerutkan bibur, menjauh dari Kalista. Pria itu duduk di kursinya, memegang mouse di atas meja. "Aku sibuk. Nanti aja."
"Ohya? Yaudah."
Kalista menjulurkan lidah diam-diam.
*
Julio selalu setuju bahwa kebahagiaan wanita itu bisa dibeli dengan uang. Misalnya kalian ke toko bunga membeli sebuket Mawar, atau mampir ke toko kue untuk membeli kue kesukaannya, tapi tidak semuanya bisa semudah itu.
Hari ini Julio menghadiri sejumlah pertemuan dan sepanjang waktu ia masih berpikir apa yang bisa menandingi berlian Narendra.
Tidak ada. Di negara ini tidak ada. Seberharga itu barang mereka sebab itu hanya diproduksi untuk mereka. Itu bahkan tidak bisa dibeli dan tidak diperuntukkan untuk keluarga kerajaan Inggris.
Tidak, itu seharusnya bisa dibeli sekalipun tidak dijual, kan?
"Kak Julio—"
"Aku ada urusan mendadak." Julio berlalu melewati Kalista yang sudah menunggunya dari tadi. "Kamu pulang aja. Kita ngomong besok."
__ADS_1
*