Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Harga Diri Pria


__ADS_3

Kalista yang diperlakukan seperti itu sontak saja tercengang, tapi Dante merangkulnya. "Kamu akan mendapatkan hadiah jika bersabar, Gadis Kecil."


Sementara itu, Julio naik ke puncak bangunan bersama Megan yang tergopoh-gopoh mengikutinya. Di tangan wanita itu ada buket raksasa bunga mawar hitam yang dihiasi emas murni.


"Pak, kita mau ke mana sebenernya? Bapak mau ngelayat?"


"Enggak ada pertanyaan kamu yang lebih bermutu?" Julio mengancing jas formalnya, naik ke helikopter yang siap terbang. "Naik."


Megan naik meskipun kesusahan saking besar buket bunga itu, apalagi karena hiasannya emas. Harus hati-hati.


"Kamu tau makna bunga mawar hitam, Megan?"


"Enggak, Pak."


"Itu kematian, buat orang lain." Julio menyilangkan kaki, menopang dagunya seraya menatap ke luar jendela helikopter yang mulai terbang. "Tapi suci buat Narendra."


Megan melotot. "Kita mau ke Narendra, Pak?"


Satu-satunya yang punya permata lebih berharga daripada pertama di leher Kalista adalah mereka. Julio akan mendapatkannya dan membuang kalung berlian sialan itu.


"Anak kelimanya Kaisar kemarin baru lahir. Saya mau jenguk." Begitu saja alasannya.


"Tapi, Pak, kita enggak bawa yang lain? Makanan mungkin? Peralatan bayi? Masa nengok anak bayi malah bawa bunga?"


Julio melipat tangan. "Kamu kira saya bodoh? Narendra enggak terima makanan atau baju atau apa pun itu dari luar. Bunga sama emas itu satu-satunya."


Dengan cara apa pun bakal Julio dapatkan. Hanya itu satu-satunya cara agar ia berhenti merasa kalah dari Dante.


*


Helikopter itu mendarat setelah mendapat isyarat izin dari menara pengawas pusat. Julio merapikan pakaiannya, melompat turun untuk disapa oleh istana Narendra.


Sudah lama ia tak datang ke sini. Terakhir kali adalah pernikahan anak kelima Trika Narendra, bertahun-tahun lalu. Julio melangkah tanpa ragu melewati jalanan yang mengarah langsung pada bangunan utama kastel mereka.


Tapi sebelum bisa memijak teras mereka, Julio dihentikan.


"Mengapa tidak berbalik dan bicara denganku, Tamu Istimewa?"


Julio menoleh. Disambut oleh kecantikan tidak masuk akal dari anak keempat Narendra, Lissa Makaria. Ini bukan pertama kali Julio melihatnya namun dia benar-benar sangat cantik sampai Julio terpana.

__ADS_1


"Halo, Nona." Julio menyapanya sopan. "Kurasa kamu tidak mengenalku tapi aku pernah melihatmu saat pernikahan Killua dulu."


Di kediaman ini, bicara formal jauh lebih memudahkan urusan.


"Aku mengenalmu. Kamu salah satu anggota Konferensi yang dihadiri Killua. Julio, benar?" Kursi roda Lissa diputar oleh pengawalnya ke arah lain. "Ikut aku. Berikan bungamu padaku."


Megan sedikit cengo saking cantiknya Lissa tapi Julio memberi dia isyarat agar memberikan bunga itu pada pelayan yang mengikuti Lissa.


Dalam waktu singkat, Julio telah duduk di tepi danau, berhadapan dengan Lissa yang membelai bunga pemberian Julio.


"Kudengar kamu mau bertemu Kakakku, Kakak Kai."


"Hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran putrinya, Nona."


Kelahiran anak Narendra tidak dirayakan sama sekali tapi itu cukup wajar jika seseorang datang untuk memberi selamat. Terutama jika mereka ingin memperlihatkan kesan baik.


"Begitu? Sayangnya putri Kakak sudah dipindahkan ke Kastel Bintang dan kurasa kamu sendiri tahu tidak mungkin melihatnya. Tapi akan kuterima ucapan selamatmu, mewakili Kakak."


Julio tidak terlalu peduli karena ia tidak datang buat itu.


"Lalu, apa yang membuatmu berpikir bisa datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, Julio?"


Senyum cantik Lissa ibarat senyum dari malaikat di surga, tapi matanya terlihat seperti iblis yang mematikan. "Perhiasanku, katamu? Kamu berpikir membeli perhiasanku?"


"Apa itu tidak bisa?"


"Tentu saja tidak bisa. Menurutmu kenapa perhiasan kami berharga? Itu karena tidak ada yang memilikinya selain kami saja."


Lissa adalah anak rumahan yang bahkan gambarnya tidak tersebar di publik, tapi cara dia menghadapi Julio rasanya seperti menghadapi ratu kerajaan.


Julio harus berhati-hati. Bagaimanapun akan ia dapatkan perhiasan itu untuk Kalista.


Dan untuk harga dirinya.


"Aku menawarkan—"


"Tidak." Lissa memberi isyarat dan kursi rodanya langsung ditarik oleh pengawalnya. "Aku tidak mau mendengar penawaran hari ini, terutama mengenai perhiasan. Pulanglah."


"Setidaknya dengarkan—"

__ADS_1


"Aku harus bersiap untuk kembali juga ke Kastel Bintang, jadi aku tidak punya waktu membicarakan hal pasti. Tidak berarti tidak." Lissa tersenyum tanpa sedikit pun peduli pada perasaan Julio. "Tapi aku akan mengizinkanmu datang padaku, nanti. Mungkin saja aku berubah pikirkan. Setidaknya hari ini tidak."


Julio mengepal tangannya kuat-kuat namun menahan segala kemarahannya dalam diam.


Tidak. Ia tidak boleh menyerah semudah itu. Kalau yang dia inginkan adalah Julio datang lagi, maka Julio akan terus datang sampai dia memberikannya.


Ini demi harga diri seorang pria.


*


"Hadiahnya mana?" Kalista cemberut menatap Dante sambil terus menunggu hadiah yang katanya akan ia dapatkan.


Ini sudah jam sebelas malam tapi jangankan ketukan pintu, telepon dari Julio pun tidak kunjung datang. Kalista percaya pada Dante karena kejadian terakhir kali tapi kalau sampai dia mengacau, Kalista tidak akan segan memutuskan lehernya!


"Yah," Dante bergumam melihat jam, "kurasa dia gagal."


"Eh? Maksudnya enggak ada hadiah?!"


"Tergantung padanya, kalau dia tidak menyerah berarti harapanmu masih ada."


Kalista berdecak jengkel. Kalau begini sih jauh lebih mending ia duduk di pangkuan Julio dan mencium bibirnya yang seksi itu. Malesin banget Kalista harus menunggu hadiah entah apa yang mungkin tidak seberharga itu.


Maksud Kalista, bunga dan cokelat sudah cukup membuatnya berbunga, coy! Yang terpenting adalah Julio-nya!


"Papa." Kalista mendorong pintu kamar Rahadyan, lompat ke kasurnya. "Peluk."


Rahadyan yang sudah tidur hanya bangun buat memeluk Kalista, lalu kembali tidur bersama.


*


Selama seminggu ini, Julio sama sekali tidak bicara pada Kalista. Bahkan sekalipun Julio cuma duduk di kursinya mengerjakan sesuatu, Megan yang datang memberi Kalista tugas menyusun jadwal. Kata Dante itu tidak akan berlangsung sangat lama, taoi bukankah setidaknya dia harus bicara pada Kalista?


Lagipula Dante juga tidak bilang hadiahnya apa. Pokoknya dia cuma bilang hadiah dan sekarang Kalista sudah tidak mau hadiah lagi sebab love language Kalista adalah physical touch dan word of affirmation, bukan hadiah!


Sementara itu, Julio bolak-balik pergi menemui Lissa yang mempermainkannya tanpa berpikir. Dia menolak Julio sekalipun Julio sudah datang jauh-jauh ke Papua dengan alasan dia sedang malas bicara. Lalu lusa kemarin dia berkata lagi kalau dia akan memberikannya jika Julio memberikan penawaran yang membuat hati dia senang, tapi saat Julio memberikan sesuatu yang sangat berharga, Lissa menatap bosan sambil berkata itu tidak berharga sama sekali.


Bagaimana Julio bisa tahu yang dia inginkan apa kalau Julio bahkan tidak tahu apa-apa tentang dia?


Tapi Julio terlanjur menginginkannya.

__ADS_1


*


__ADS_2