
Maka hari ini pun Julio menemuinya dengan sebuah penawaran luar biasa. Bedanya, sebelum Julio bisa bertemu Lissa, kembarannya lebih dulu menemui Julio.
"Sepertinya kamu sedang menghina Narendra." Begitu kata Killua dengan wajah sangat dingin. "Datang menemui kakak kembarku berulang-ulang. Apa di luar sana tersebar kabar bahwa putri Narendra boleh ditemui oleh serangga sepertimu?"
Julio memicing. "Jaga ucapanmu, Killua. Aku datang untuk urusan bisnis dan bukan menggoda saudarimu."
"Menemui putri Narendra sudah merupakan dosa, entah untuk tujuan bisnis atau pribadi. Sejujurnya, lebih baik bisnis itu hancur daripada menemui Liss."
"Hentikan di sana." Suara Lissa memaksa mereka berpaling. "Kill, sudah kubilang jangan ikut campur."
"Kamu seharusnya tidak menemui siapa-siapa yang datang dari luar, apalagi seorang pria," protes Killua.
"Aku bisa jika aku ingin." Lissa mengambil map di tangan Julio begitu saja, memberikannya pada Killua. "Itu adalah hasil jadi pergi dan biarkan aku menyelesaikan ini sendiri."
"Liss—"
"Aku bilang pergi."
Julio sekarang mengerti bahwa Lissa benar-benar seorang alpha woman. Killua pergi dengan patuh walaupun dia melotot pada Julio.
"Kamu sekarang menerima itu tanpa melihatnya," kata Julio, kesal juga melihatnya.
Kemarin-kemarin dia banyak alasan, begini dan begitu, tapi barusan dia bahkan tidak membaca judul mapnya. Mungkin kalau Julio cuma memberinya kertas kosong dia tetap akan terima.
Lissa tersenyum. "Aku melakukan segalanya sesuai keinginan bukan keuntungan."
Ayo cepat selesaikan ini. "Kalau begitu sekarang berikan," tuntut Julio.
"Aku tidak berniat memberimu hari ini tapi Kill akan merengek tanpa henti jika kamu datang lagi." Lissa tertawa kecil, mengisyaratkan seseorang datang memberinya sesuatu.
Julio langsung tahu bahwa itu benda yang ia harapkan. Lissa memegangnya, membuka kotak hitam keemasan itu yang memunculkan set perhiasan mewah.
Bibir Julio langsung tertarik membentuk senyum puas. Jauh lebih cantik daripada hadiah kalung bodoh itu.
"Itu bukan perhiasan terbaik kami, jelas saja. Kamu harus memberikan seisi dunia jika mau yang terbaik." Lissa menyerahkannya. "Tapi itu juga satu-satunya. Sertifikatnya berada di bagian bawah dalam kotak. Karena itu milik kami, jika terdapat satu masalah, bawa pada kami dan bukan pada tukang reparasi perhiasan mana pun. Jika disentuh oleh orang selain kami, nilai benda itu akan merosot tajam."
Julio tersenyum puas. Bangga pada dirinya karena berhasil mendapatkan hadiah yang jauh, sangat jauh, lebih berharga daripada kalung bodoh Kalista sekarang
Dia pasti akan senang dengan ini.
__ADS_1
"Tapi bicara soal perhiasan," Lissa tersenyum kecil, "kalung kecil yang kupinjamkan pada Kalista itu harus tetap bersamanya untuk sementara waktu."
Eh? Kalung kecil ... yang DIA pinjamkan?
DIA bukan Dante?"
"Kenapa ...." Julio syok berat. "Kenapa seorang Narendra meminjamkan kalung pada Kalista?"
"Bukankah sudah kubilang? Aku melakukan sesuatu yang kusuka."
Kursi roda Lissa berputar pergi, didorong oleh pengawalnya. "Senang bermain denganmu, Julio. Sampaikan pada Kalista bahwa aku menunggu dia bertindak lebih berani."
Julio tidak percaya ini. Bukan Rahadyan yang membuat kesepakatan dengan Narendra tapi Kalista secara langsung? Dan bukan cuma itu, dia sampai menarik perhatian Nona Narendra barusan?
"I'm so proud of you, Baby." Julio menatap kotak perhiasan di tangannya. Sungguh ia bangga karena ternyata Kalista tidak hanya menunggu dirinya dirundung habis-habisan oleh Astrid.
Tapi ....
"Awas aja." Julio berbalik untuk kembali ke Jakarta. "Berani-beraninya enggak ngomong sampe aku kayak bucin tolol."
Akan ia hukum bocah itu sampai dia tidak berani lagi menyembunyikan apa-apa dari Julio.
*
"Pak, ada panggilan dari Pak Dewan untuk—"
Julio mengangkat tangan, menghentikan laporan buru-buru Megan. "Jam delapan," katanya mengonfirmasi kapan ia bisa mengurus entah apa itu yang mau Megan katakan.
Langkah Julio tak berhenti, terus menuju ruangannya di mana Kalista sedang main catur bersama Dante.
"Hei, Mungil, berhenti mengorbankan pionmu tanpa alasan jelas. Ini bukan permainan di mana pemenangnya adalah yang paling banyak mati."
"Susah, tau enggak!" protes Kalista sebelum dia mendongak. "Sore, Pak. Sibuk banget, yah? Maaf saya main catur doang soalnya somehow enggak ada yang bisa saya kerjain kecuali napas."
Julio berkacak pinggang. "Keluar," perintahnya pada Dante. Tapi dia tidak bergeming. "I said get out."
Dante tertawa kecil saat beranjak. "Aku tidak melihat hadiah. Nona Lissa sangat suka bermain-main, hm?" bisiknya diam-diam.
Ya, terima kasih sudah memastikan.
__ADS_1
Begitu Dante keluar, Julio menekan remot kontrol untuk memastikan ruangannya terkunci, lampu mati, dan musik klasik menyala dari speaker di sudut ruangan.
Kalista baru mau bertanya apa lagi sekarang tingkah Julio setelah mengabaikannya seminggu penuh, tapi sebelum itu terjadi, Julio sudah membungkamnya.
Tubuh Kalista diangkat ke meja ketika Julio secara asal melempar luaran setelannya.
"Now what?" bisik Kalista di antara napasnya yang berat. "Kak Julio akhirnya inget punya aku di sini?"
Julio menyentak Kalista padanya, meremas kasar paha dibalik roknya. "Kamu emang suka bikin salah paham, hm?"
"Maksud Kakak?"
"Waktu Astrid nyirem kamu di pesta, yang aku liat itu cuma perempuan lemah, penakut, pura-pura dewasa biarpun matanya merah mau nangis."
Julio membawa tangannya ke atas, pelan dan sangat menikmati detik, ia melepaskan kancing pakaian Kalista.
"Terus, aku ngeliat lagi perempuan lemah yang takut karena sendirian di pesta. Yang trauma karena kepikiran orang-orang mungkin bakal ngatain dia anak gundik lagi."
Kalista menelan ludah saat seluruh kancingnya terbuka namun Julio berhenti, hanya meletakkan tangannya di atas meja, membungkuk pada Kalista.
"Tapi satu sisi dia perempuan yang manggil Sergio, ngumumin ke semua orang kalau dia emang nepotis. Perempuan yang sama, takut diancem sama Astrid soal foto kita tapi bukan minta tolong sama papanya yang sinting, atau sama 'calon suami'nya yang berguna, dia malah pergi ketemu keluarga paling freak di negara ini, di benua ini maybe, buat nyewa pengawal kelas internasional."
Kalista menyengir polos. "Smart, right? O my gosh, aku baru sadar kalo aku ternyata amazing! Haha, fvck you, Astrid!"
Wajah Julio yang 😑 seketika membuat Kalista diam. Gadis itu berdehem, mengalihkan pandangan karena mendadak gugup.
"Kalista."
"Yes, Sir?" jawab Kalista spontan.
"Kamu enggak percaya sama aku, kan?"
"What? Kok bisa jadi—"
"Kamu bahkan enggak mikir satu detik aja buat jujur." Julio menggeleng. "Aku emang coba ngalihin perhatian kamu, biar kamu enggak fokus ke Astrid because I don't wanna hurt you but ... biarpun kayak gitu, kamu enggak pernah coba buat bilang kamu takut, butuh bantuan. Actually, aku ngerasa kamu cuma pura-pura depan aku."
*
dipanasin dulu yah merekanya 😋 masa mau happy terus.
__ADS_1