
Julio menegang di tempat. Spontan ia melepaskan Kalista, membuat gadis itu bingung sebelum dia berpaling dan melihat apa alasan Julio kaku.
Fvck, umpat mereka berdua dalam hati masing-masing.
Keduanya benar-benar melupakan tentang Sergio yang seharusnya menjadi prioritas. Julio seharusnya memberitahu Kalista bahwa Sergio ingin menikahi Astrid dan mereka berdua harus menghentikannya, tapi Julio lupa sebab Kalista mendadak berhenti magang.
Lalu Kalista yang seharusnya menjauhkan Astrid dari Sergio dibuat lupa oleh pikiran anak gundik di kepalanya.
Ya, sebut mereka sepasang penjahat yang tidak peduli pada nasib sahabat juga adik mereka.
"That was great." Sergio mengangguk-angguk. "It's very ... hot."
"Sergio."
"Na, bro, you don't have to explain." Sergio mengangkat bahu. "Yang barusan udah ... memperjelas. Right, Megan?"
Megan menelan ludah. Keterdiaman dia membuat Sergio menoleh, melihat wajah pucat Megan dan tertawa.
"Kamu juga tau ini?" tanya Sergio takjub. "Wow. Kayaknya seseorang akhirnya nunjukin bakat alami."
Julio yang sempat memasang wajah bersalah seketika mengerutkan kening marah. Siapa pun jelas tahu kalimat barusan dia khususkan pada Kalista.
Pada hinaan bahwa Kalista murahan sebab ibunya juga murahan.
"Aku ngerti kamu marah sama aku soal ini, Sergio, tapi aku enggak merasa bersalah soal aku suka sama Kalista," ucap Julio apa adanya. "Jadi jangan ngerasa aku ngerebut pasangan kamu terus Kalista selingkuh. Hubungan kalian enggak kayak gitu."
"Lo enggak punya hak ngajarin gue lagi, Julio. Gue bakal respect kalau lo seenggaknya jujur alih-alih ngaku enggak bakal suka karena ini karena itu tapi ujung-ujungnya lo jilatin juga."
"SERGIO!"
"Lo harusnya malu." Sergio menunjuk Julio sebelum berpaling pada Kalista. "And you ... you know what? Gue nyesel pernah cinta sama lo, Murahan."
Pintu ruangan Julio tertutup dan Sergio berbalik pergi. Pria itu datang karena dia berniat mulai bekerja lagi, merasakan pikirannya sudah sedikit tenang tapi ternyata dibuat kacau lagi.
Sementara di dalam ruangannya, Julio berniat mengejar adiknya paling tidak untuk menyadarkan dia barusan bicara hal tidak masuk akal tentang Kalista.
Namun sebelum itu terjadi Kalista menahan tangan Julio.
"It's okay, Kak." Kalista melihat bibirnya yang gemetar, menahan sakit hati akibat ucapan Sergio. "Gio bener."
__ADS_1
"Na, Baby. It can't be true." Julio menarik Kalista dalam pelukan eratnya.
Tangannya mengusap-usap punggung Kalista. "Kamu enggak murahan. Enggak kayak gitu. Sergio cuma emosi. Dia suka sama kamu dari lama jadi enggak segampang itu terima soal kita. Bukan kamu yang murahan."
Kalista menggigil oleh tangisannya.
"Hei, little princess." Julio menangkup wajah Kalista, mengusap air matanya yang berjatuhan saat dia mendongak. "Sergio berhak sakit hati, oke? Dia berhak karena aku memang bilang enggak akan pernah suka sama kamu balik. Aku bilang ke dia."
"Tapi selebihnya, kita, perasaan aku perasaan kamu, itu bukan hak Sergio. Jangan telen mentah-mentah omongan dia. Dia lagi marah. He lost his mind. You're a sweetheart, okay? You're my sweetheart."
Julio menjamin hal itu.
"Sekarang kamu pulang dulu," bisiknya seraya membelai lembut wajah itu. "Biar aku yang nyelesaiin penjelasan ke Sergio, oke? Kamu pulang, istirahat, jangan mikirin omongan Sergio tadi."
*
"Terjadi pertemuan intens, hm?"
Kalista mencabut tisu di dashboard mobil tepat setelah menutup pintunya. Gadis itu menyeka bekas-bekas tangisan di sana tapi justru kembali menangis tanpa suara.
"Gue jahat banget," gumam Kalista serak. "Sergio ngelakuin segalanya buat gue tapi gue enggak mikirin dia sama sekali."
Terlalu santai sampai Kalista menoleh.
"Apa? Kubilang itu benar. Kamu melukai dia dan kamu merasa bersalah sebab tahu kamu berbuat jahat, kan?" kata Dante. "Walaupun aku setuju yang kekasihmu katakan. Itu bukan hak adiknya marah pada keputusanmu."
"Menurut lo gue murahan?"
"Di situasi itu, ya, tentu saja. Di mata sahabatmu itu terutama. Dan kekasihmu berbohong. Ucapan itu memang karena marah tapi dia benar-benar menganggapmu begitu."
Kalista lupa bahwa Dante sejenis dengan Agas. Mereka melindungi Kalista tapi tidak akan berbohong sekalipun tahu itu menyakiti Kalista.
"Terus menurut lo gue mesti gimana?"
"Untuk apa? Menjadi dirimu sendiri atau menghibur pria yang kamu tolak demi kakaknya?"
".... Dua-duanya."
Dante terkekeh. "Tentu saja tidak bisa, Nona. Kamu harus memilih salah satu sekarang. Tidak semua hal bisa dilakukan bersamaan."
__ADS_1
*
"Sergio." Julio mendorong pintu ruangan adiknya terbuka setelah memastikan Kalista pulang. "We need to talk."
Sergio fokus pada komputernya. "I'm not in the mood." [Enggak mood.]
Walau respons Sergio demikian, Julio tetap mengatakannya. "Look, I am sorry. I'm so sorry, okay? Aku ngakuin kalau nyembunyiin ini sama sekali bukan tindakan terhormat."
"Julio, lo enggak perlu, oke? Enggak perlu jelasin, enggak perlu minta maaf, enggak perlu ngapa-ngapain. Terserah lo. Kalista bukan siapa-siapa gue."
Julio melipat tangan. "Kamu tau ngomong kayak gitu nunjukin ada masalah?"
"Aha, terus gue harus ngomong apa? Ngomong kayak 'oh wow ternyata Kalista enggak ditolak lagi kayak Agas dulu, congratulations for you, jagain yah soalnya dia kesayangan gue'. Kayak gitu? Bullshiit."
Bibir Julio berkerut saat kepalanya mengangguk, menerima itu. Tentu saja itu tindakan yang tidak masuk akal jika Sergio mendukung setelah begitu banyak waktu dia habiskan menyayangi Kalista.
Julio memahaminya dan Kalista mungkin juga memahaminya.
"Kamu nyebut Kalista murahan padahal selama ini kamu sendiri yang bilang orang lain jahat karena ngatain dia."
"Terus lo ngarepin gue bilang dia mulia? Suci?"
Sergio beranjak, membanting mouse di mejanya saat dia meletakkan benda itu. "Lo harusnya tau semua. Gue cerita semua sama lo kayak orang bego dan lo justru enggak ngerasa bersalah!"
"Oh, oke. Terus aku harus bohong soal perasaan aku ke Kalista? Aku harus 'sabar' karena Sergio suka sama Kalista even Kalista enggak suka sama Sergio. Gitu?"
"Of course not." Sergio tertawa. "Lo bebas suka siapa, Kak, termasuk Kalista. It doesn't matter I love her because she doesn't love me anyway."
"Sergio—"
"Jadi bukan urusan lo gue ngerasain apa." Sergio kembali duduk di mejanya. "Bukan urusan lo gue sakit hati, gue ngerasa dibohongin, gue ngerasa gue harusnya enggak percaya sama lo, enggak sayang sama Kalista."
"Bukan urusan kalian berdua kalo gue, mulai sekarang, nganggep lo berdua penjahat. Problem solved."
"...."
"Now get out. I have to finish my work and I don't wanna talk to you anymore." [Sekarang keluar. Gue mau kerja dan enggak sudi ngomong lagi sama lo.]
*
__ADS_1