Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Ujian Cinta


__ADS_3

"Pak, Mbak Astrid sudah datang."


Julio langsung beranjak dari kursinya, keluar untuk menemui Astrid yang ia suruh datang ke ruang rapat. Hari ini, Julio berencana untuk menyelesaikan persoalan ancaman itu dulu sebelum ia menemui Kalista, menyelesaikan kesalahpahaman mereka.


Karena Kalista berkata dia lebih mementingkan perasaan Sergio, maka Julio akan menghormati keputusannya. Juga, Julio sadar ia memang kurang membantu adiknya kali ini.


Baru saja Julio duduk, Astrid sudah berkata, "Fotonya bakal aku hapus."


Jelas saja Julio kaget. Kenapa tiba-tiba?


"Bagus kalo kamu sadar ngancem saya itu salah," balas Julio seolah tak kaget.


Astrid tersenyum. "Kalista punya foto Papa sama Mama selingkuh."


Ekspresi Julio langsung berubah.


"Kak Julio yang ngajarin dia? Atau mungkin bapaknya beli backing-an baru buat otak dia?"


Julio sempat tercengang mendengar Kalista melakukan itu, tapi pelan-pelan Julio tertawa. Sepertinya Julio harus minta maaf karena sudah mengira dia lari dari masalah.


"Kamu ngancem orang dan ngira dia bakal selalu nurutin kamu, hm?" Julio terus tertawa, bangga pada Kalista. "Berterima kasih sama Kalista saya enggak harus turun tangan. Tapi kalau lain kali kamu ngelakuin ini lagi, kamu enggak ngira saya bakal maafin kamu, kan?"


Astrid ikut tertawa. "Kak Julio ternyata enggak ngerasa bersalah boongin Gio."


"Sayangnya, Astrid, saya enggak mau diceramahin sama kamu. Apalagi soal rasa bersalah."


"Sayangnya, Kak Julio, aku cuma bilang bakal hapus foto. Bukan berenti."


Julio melipat tangan. "Yah karena kayaknya saya udah tau jadi saya enggak terlalu kaget. Tapi ngomong-ngomong, saya jadi sadar mau ngomong apa."


Setelah itu Julio beranjak, sebab urusan mereka sudah selesai di sana kalau begitu. Dan sebelum benar-benar keluar, Julio berkata, "Kamu enggak bakal dapetin Sergio kecuali saya mati. Ngerti, Sayang?"


Kali ini Julio tidak akan membiarkan Astrid menekan Sergio lagi. Selama ini Julio tidak ikut campur sebab ia melihat adiknya harus menyelesaikan semua itu sendiri. Juga, Julio sempat berpikir nanti Sergio akan berubah pikiran dan menerima Astrid.


Tapi sekarang tidak. Astrid sudah menunjukkan jelas seperti apa kepribadiannya saat dia mengancam Julio.


Membiarkan Sergio menikahi wanita itu adalah hal terakhir yang mau Julio lakukan dalam hidupnya.


*


Karena Kalista tidak ada kegiatan lain jika tak magang, lepas bertemu Astrid ia langsung belanja, sungguhan nonton di bioskop bersama Dante, lalu mampir ke gym saat jam sudah menunjuk ke pukul lima petang.


Sementara Kalista sibuk angkat beban, Dante sibuk mengisap lolipop sambil main HP.


"Waktu Kak Agas jagain gue, sekali aja gue enggak pernah liat dia main HP." Kalista menyindir. "Enggak profesional."


Dante mengangkat wajah sekilas. "Percayalah dia bosan tapi itu tugasnya."

__ADS_1


"Kalo gitu kan tugas lo juga sama," balas Kalista ketus.


"Tentu saja berbeda. Dia menandatangani kontrak resmi sementara kamu dan aku tidak."


Kalista menggembungkan pipi. Hendak pindah ke alat terakhir sebelum kegiatannya berakhir, tapi ia dihentikan oleh suara ponsel.


"Ayang." Dante membaca nama penelepon di ponsel Kalista lalu menjulurkan lidahnya jijik. "Kuberitahu, Nona, pria jijik dengan panggilan konyol begini."


"Berisik!" Kalista menyambar ponselnya, memastikan itu memang telepon dari Julio.


Angkat tidak, yah? Kalau diangkat terus dimarahi, Kalista tidak mau. Tapi kalau tidak diangkat, Kalista sayang juga.


"Berikan padaku." Dante tiba-tiba menyambar ponsel itu dari tangan Kalista, menjawabnya tanpa izin.


Tentu saja Kalista hisyeris.


"Dante! Balikin enggak?!"


Dante yang jauh lebih tinggi dari Kalista menahan kepalanya seperti menahan tingkat dari atas, sementara dia menjawab panggilan Julio.


"Dengan orang paling tampan di dunia sekaligus kekasih baru Ayang Kalista, bisa aku tahu aku bicara dengan siapa?"


"Jangan!" teriak Kalista ketakutan.


Tapi ya, yang dia takutkan tetap terjadi. Julio di seberang sana terheyak mendengar suara Kalista memberontak dengan seorang pria yang mengaku paling tampan di dunia.


Pacar baru? Kalista semudah itu menemukan pacar baru?


"Pacar baru, kamu bilang?" balas Julio dingin.


Meskipun suara Kalista terdengar berkata jangan dan jangan, pria itu tertawa saat berkata, "Apa itu susah dimengerti? Aku pemuda kesayangan barunya. Ah, Kalista bilang dia sakit hati padamu karena kamu terlalu tidak berperasaan dan tidak memahami perasaannya sebagai wanita. Oh, dan dia juga bilang kamu payah berciuman."


"ENGGGAAAAAAAK!"


Julio menutup panggilan itu oleh emosi yang membara.


*


"Dasar orang jahat!" Kalista menendang-nendang lengan Dante yang malah sibuk makan kacang polong sambil menyetir. Tangisan Kalista memenuhi mobil dan nampaknya dia malah menganggap itu sebagai musik, lantaran sesekali dia tertawa.


Kalau saja Kalista tidak lemas gara-gara habis olahraga, orang ini sekarang juga ia ajak sumo.


"HUAAAAAAAA! DASAR BRENGS3K! GUE BALIKIN LO KE LISSA! GUE BILANG LO ENGGAK GUNA! BADJINGAN! BRENGSEK! BRENGSEK!"


Dante malah terkekeh. Dia tidak bergeming sekalipun Kalista tak berhenti menendangnya. "Itu disebut ujian cinta, Nona."


"ITU NAMANYA LO NGERUSAK HUBUNGAN ORANG, TAIK!"

__ADS_1


"Hush, mulut seorang wanita haruslah bersih. Tidak enak menciun mulut kotor."


"PAPAAAAAAAAA!"


Kalista meraung-raung tak terima atas tindakan Dante tadi. Kenapa sih dia sangat berbeda dari Agas? Walaupun Agas dulu kejam juga, tapi setidaknya dia tidak menyambar HP orang lalu berdusta sekejam itu!


Sampai di apartemen, Kalista masih meraung-raung tak waras. Bahkan karena tak mau keluar dari mobil, Dante harus menggendongnya seperti karung beras dan Kalista tetap saja memukul-mukul punggung Dante.


Lalu seenak jidat dia melempar Kalista ke ranjang.


"HUAAAAA! HAAAAAAAAAAAAA! AAAAAAAAAAA! HAAAAAAAA!"


Tahu Dante melakukan apa? Dia menggerak-gerakkan jarinya ke atas dan ke bawah, mengikuti naik turunnya suara Kalista. Ketika Kalista melemparnya dengan bantal, Dante terbahak-bahak puas.


"Ayo lagi, Nona. Menangislah lagi. Ayo. Suaramu sangat estetik."


"PAPAAAAAAA!"


Di tengah kericuhan tangis itu, mendadak bel apartemen berbunyi. Dante langsung menoleh, lalu datang membekap mulut Kalista.


"Sshhhh, itu pasti tetanggamu. Dia berpikir kamu menjadi gila."


Kalista tetap menangis tapi paham kalau ia harus menurunkan suaranya agar tidak mengganggu tetangga.


"Akan kubuka dan kuberitahu kamu sedang putus cinta, sementara kamu di sini," Dante memberikan bantal yang tadi Kalista lempar, "dan menangislah lagi. Hahaha!"


Kalista akan membunuhnya setelah ini!


Tapi sebelum itu Kalista mau menangis dulu karena ia belum puas. Wajahnya terkubur di bantal, berteriak kencang tapi teredam.


Berakhir sudah. Hubunganya dan Julio kini kandas sungguhan gara-gara Dante.


Dasar tidak berguna! Dia seharusnya mati saja! Harusnya Kalista minta Agas saja yang menjaganya lagi bukan si Dante Inferno itu!


"Hiks, hiks. Kak Juliooooo!"


"Yes, Baby?"


Heh?


Kalista buru-buru menoleh, menemukan Julio berdiri di pintu kamarnya dengan tangan terlipat di depan dada.


Kok dia di sini?


"Dante memang seorang legenda." Pria itu muncul di belakang Julio, mengedipkan sebelah mata. "Sudah kubilang, itu disebut ujian cinta."


**

__ADS_1


**


Dukung karya author dengan likeπŸ‘, vote dan komen, yahπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2