
Sepanjang hari setelah itu Kalista cuma berbaring di sofa, menonton film Gal Gadot berharap ia jadi wanita tangguh seperti dia di film. Entah berapa lama waktu berlalu, tapi Kalista tak bergerak dari sofa sampai Rahadyan pulang.
Dan Rahadyan, yang diam-diam lagi patah hati memikirkan Kaisar Erebus crush diam-diamnya Bu Winnie, pun pulang tanpa rasa semangat.
"Hai, Baby." Rahadyan menyapa lemas. "Udah makan?"
"Belum."
"Suruh Dante masak kalo gitu."
Lalu Rahadyan masuk ke kamarnya, alih-alih memerhatikan kesedihan Kalista.
Kalista beranjak dari sofa tepat setelah itu, menyusul ke kamar Rahadyan saat papanya mandi. Setengah jam Kalista berbaring lemas di ranjang, sampai Rahadyan keluar, ikut berbaring lesu di sampingnya.
Bapak dan anak itu sama-sama sedang patah hati.
"Papa kenapa?" tanya Kalista pada akhirnya.
"Enggak pa-pa," jawab Rahadyan pelan.
"Aku tau Papa kenapa-napa, cerita sama aku. Habis itu aku cerita kenapa aku kenapa-napa juga."
Rahadyan menoleh ... tertawa tanpa suara, singkat.
"Papa ... ditolak."
"Aku tau." Kalista menoleh hingga kini mata mereka bertemu. "Bu Direktur suka sama Kaisar, kan?"
"Kok kamu ... ah, nevermind." Rahadyan kembali menatap langit-langit kamarnya, menghela napas panjang. "Kalo udah tau kenapa nanya?"
"Soalnya aku enggak tau orangnya kayak gimana. Dante enggak mau ngasih tau." Kalista mengerutkan bibir. "Emangnya dia lebih ganteng dari Papa?"
"ENGGAKLAH!" tolak Rahadyan agresif menandakan jawabannya ya, Kaisar lebih ganteng. "Papa lebih ganteng, lebih baik, lebih keren daripada si Kaisar! Papa lebih segalanya!"
Kalista menatap dia prihatin.
"Cuma ...." Rahadyan kemudian berbicara sedikit berbisik. "Cuma kalah dikit."
"Kalah di mana?"
"Pokoknya itulah." Rahadyan tidak bisa menjelaskan yang menandakan dia sebenarnya kalah dalam segalanya. "Istrinya dia enam. Itu aja Papa kalah."
"Kalo istrinya enam berarti dia laku, dong?"
"Itu cuma karena Narendra sesat! Mereka tuh sesat! Aliran sesat makanya punya banyak istri! Kamu mau tau, Narendra ngelarang anak perempuannya nikah."
"Papa kan juga gitu."
Rahadyan tertohok. "T-terus istrinya mereka itu kayak pembantu mereka. Bukan kayak istri yang kamu bayangin. Kayak budak."
__ADS_1
"Istrinya cantik?"
Ketika Rahadyan tidak bisa menjawab, Kalista mengusap-usap dada Rahadyan sebagai hiburan.
"Sabar, Papa."
"Heh! Papa enggak kalah!" Rahadyan memukul pelan tangan Kalista. "Giliran kamu cerita. Kamu kenapa?"
"Sergio udah enggak mau temenan sama aku."
"Bagus. Papa emang enggak suka kamu temenan sama dia."
Kalista menoleh dengan air mata menggenang. "Tapi kalo," semudah itu Kalista menangis, "hiks, tapi kalo enggak temenan sama Gio berarti aku enggak punya temen."
Seketika itu Rahadyan merasa telah berbuat jahat.
"Baby, Papa minta maaf." Rahadyan segera berbaring menyamping, memeluk Kalista dengan kedua lengannya. "Maksud Papa bukan gitu."
Kalista terisak-isak di lengan Rahadyan. Menumpahkan kesedihannya yang sejak tadi terus bergejolak memikirkan Sergio.
Dia teman Kalista. Satu-satunya, jika tidak menghitung Bu Winnie yang beda generasi. Dia satu-satunya yang memikirkan Kalista, mendengarkan Kalista dan menjadi seseorang yang Kalista percaya sebagai teman.
Tapi sekarang Sergio membencinya.
Kalista tahu mungkin dia terluka. Kalista tahu hatinya dan hatinya tidak memiliki rasa cinta lawan jenis pada Sergio. Memaksa dia tetap ada cuma seperti menyuruh dia jadi badut.
Namun Kalista sedih. Ia benar-benar merasa sedih memikirkan sekarang ia anak remaja, 20 tahun, yang tidak punya teman di mana pun.
"I'm okay." Kalista melepaskan diri dari Rahadyan setelah merasa lebih baik. "Aku di sini karena pilihan aku sendiri."
"Baby, Papa bisa—"
"Pa, aku enggak mau Papa minta keluarga Papa jadi temen aku atau apa pun itu. Aku enggak pa-pa."
"Na, itu salah Papa." Rahadyan menyelipkan rambut Kalista ke belakang telinga. Datang mengecup keningnya. "Salahin Papa."
Yah, setidaknya Kalista tidak hidup sangat menyedihkan. Ia tak punya teman tapi bukankah ia punya Papa paling luar biasa di dunia?
"Aku udah sedih." Kalista duduk, memutuskan untuk membuang semua kesedihannya dulu karena ia tak mau melewati malam sedih dengan Rahadyan. "Kasih tau aku soal Kaisar, Papa."
Rahadyan langsung melotot. "Enggak usah!"
Ceh!
*
Esok harinya Kalista dikejutkan oleh kedatangan undangan khusus untuknya.
Dari Astrid.
__ADS_1
"I hate her so much," umpat Kalista saat membaca undangan itu adalah pertunangan resmi Sergio dan Astrid yang akan diadakan di atas kapal pesiar. "ARH! I REALLY HATE YOU, B1TCH!"
Rahadyan cengo melihat Kalista. "Wassup, Baby?"
"Sergio sama Astrid mau tunangan." Kalista menyerahkan undangan itu pada Rahadyan. "Pa, dia tuh jahat banget! Sergio deserves better daripada cewek jelangkung macem dia!"
"Kamu cemburu?"
"Bukan soal itu, Papa! Tapi Astrid tuh ... ugh, udahlah." Kalista mustahil mengoceh lebih karena itu akan membuat Rahadyan tahu terlalu banyak.
Hanya karena orang tua dan anak dekat, tidak berarti mereka harus selalu ikut campur urusan pribadi masing-masing.
Pokoknya Kalista harus menghentikan sebelum Sergio menikah. Tapi persoalannya, cara untuk membatalkan itu bagaimana? Haruskah Kalista memberitahu Julio?
"I'm in." Julio mengangguk pasti ketika dia datang ke apartemen Kalista jam makan siang. "Aku juga enggak bisa biarin Sergio nikah sama perempuan gangguan jiwa. Even Sergio lagi marah."
Kalista cemberut. "Tapi caranya gimana? Jebak Sergio selingkuh? Jelas enggak mempan buat ngelawan Astrid, Kak."
"Yap. Astrid enggak pernah peduli Sergio ngapain asal dia dapetin Sergio." Julio memerhatikan wajah Kalista saat mengatakanya. "Sayang, boleh aku nanya sesuatu?"
Kalista mengerjap. "Apa?"
"Kamu mau ngelawan Astrid? Maksud aku, kamu. Bukan buat Sergio tapi kamu."
Kalista mengangguk pasti. Selama ini Kalista selalu dipecundangi oleh Astrid dan meskipun Kalista takut, ia sesekali mau menendang dia juga.
Tepat di wajahnya kalau bisa.
"Aku kepikiran sesuatu tapi aku takut itu nyakitin kamu."
"Enggak. Apa?" Kalista menggeser duduknya, lebih dekat pada Julio.
Julio yang melihat itu langsung tersenyum. Tak langsung menjawab tapi lebih dulu mencium Kalista.
"Kamu enggak ngerasa Astrid terobsesi sama kamu?" gumam Julio di bibir Kalista. "Even itu karena Sergio, buat apa Astrid jadi momok di hidup kamu? Dia dapetin Sergio terus kenapa dia harus sibuk sama kamu?"
Kalista menggeleng saat bibirnya menjawab, "Aku udah ngerasain dari lama."
Orang itu, wanita Medusa itu, punya kebencian pada Kalista yang berbeda dari kebencian karena tunangannya direbut.
"Perasaan pribadi itu kelemahan, meskipun kita ngomongin benci sama dendam." Julio mengusap-usap pipi Kalista. "Kalau kamu tau alasan Astrid benci sama kamu, kamu dapet kelemahan dia. Tapi, artinya kamu mesti deketin buaya yang dari lama pengen makan kamu hidup-hidup."
Artinya Kalista mungkin harus terluka saat mendekati Astrid untuk tahu kelemahannya.
Ya, itu pasti. Satu-satunya cara adalah mendekati Astrid secara langsung.
"Kamu mau?"
Kalista mengangguk pasti. "Aku mungkin enggak bisa temenan sama Gio lagi tapi seenggaknya aku mesti bebasin dia dari penyihir."
__ADS_1
Sulit untuk Julio tidak tertawa.
*