
"Aku enggak mau kuliah," gumam Kalista muram. "Tapi aku yang sekarang juga enggak ada kualitas apa-apa."
"Kalista." Mendadak, Rahadyan mengubah intonasi suaranya menjadi tegas.
Pria itu mendorong pelan anaknya untuk melihat wajah dia yang murung. "Bisa presentasi, bisa bisnis, bisa kerja sampe jadi CEO itu bukan tolok ukur berkualitasnya orang lain atau enggak. Papa enggak mau yah denger kamu ngomong gitu lagi. Papa serius."
Kalista seketika mengangguk.
Rahadyan benci anaknya sibuk mengejar cinta tapi ia lebih benci anaknya melihat dirinya sendiri tidak berharga.
"Kamu enggak perlu pinter presentasi buat berkualitas. Kalo kamu enggak suka, ya jangan lakuin. Jadi OB aja di kantor biar enggak disuruh presentasi."
"Emang Papa tega aku jadi OB?"
"Loh, Baby? OB tuh kerjaan penting loh. Penting banget."
Sekalian kalau Kalista sibuk bersih-bersih, dia tidak punya waktu mengurusi muka bekicotnya Julio.
"Nak, biar aja kamu jadi OB. Enggak pa-pa. Besok Papa beliin lamborghini baru buat kamu. Pake ke kantor."
Kalista menampar wajah Rahadyan spontan. "Papa nyebelin!"
"Lah?"
"Hmpt!"
*
Esok harinya, Kalista hanya bisa berekspresi 😑 pada mobil mentereng berwarna pink mencolok, tipe baru yang sungguhan dibeli Rahadyan.
"Papa, plis kurang-kurangin gilanya Papa. Pliiiis banget."
"Sembarangan kamu!" Rahadyan memukul bokong Kalista tapi juga tertawa cerah. "Anggep aja hadiah. Lagian mobil kamu yang itu kan udah lama. Nanti Papa jual lagi. Papa enggak bego, Sayang."
Kalista cemberut. "Entar aku digosipin lagi."
"Gosip tanda iri, Baby."
"Papa—"
"Gak peduli. Nih, pake." Rahadyan membuka pintu mobil baru Kalista untuknya, mendorong anak itu masuk.
"Papa enggak sekalian beli helikopter aja? Aku denger katanya Narendra ke mana-mana semuanya pake heli."
"Mau?"
Kalista membanting pintu tertutup, buru-buru pergi sebelum Rahadyan bertambah gila.
__ADS_1
Tapi sebelum benar-benar menghilang, Kalista berteriak, "Makasih, Papa, I love you! Muach!"
Teriakan yang cukup untuk menciptakan senyum Rahadyan. Pria itu geleng-geleng, setidaknya merasa senang karena anaknya terlihat menyukai mobil barunya itu.
"Oke, Kacungnya Kalista," ucap Rahadyan pada mantan mobil anaknya yang berwarna merah seksi. Rahadyan menyebut dia kacung sebab Kalista tidak suka jika mobilnya diberi nama. Kata dia norak. "Tenang aja, Sayang, Papa enggak jual kamu."
Mobil ini dipakai oleh Kalista sejak jaman SMA. Rahadyan tidak punya kenangan masa kecil dengan anaknya. Sesuatu seperti cetakan kaki bayi, foto-foto imut masa kecil dan sebagainya. Karena itu Rahadyan akan menyimpannya sebagai kenangan-kenangan.
*
Sesuai dugaan Kalista, semua orang langsung menjadikan mobil barunya sebagai bahan perbincangan. Terlebih penampilan Kalista tidak seperti anak magang, namun seperti CEO perusahaan yang berjalan dengan sepatu hak tinggi dan tas harga setengah miliar.
Saat memasuki lift untuk naik ke lantai kantor CEO, orang-orang dalam lift berbisik-bisik.
"Ehem," dehem seorang wanita yang Kalista tidak kenal dia siapa. "Nepotisme-nya enggak tau malu banget." Dia berbisik tapi seperti sengaja menyuruh Kalista dengar.
Orang-orang di sekitarnya tertawa kecil. Seolah mereka menggosipkan hal lain dan bukan menyindir orang di sebelah mereka.
"Tau deh yang bokapnya kaya. Kantor orang mah kayak Disneyland."
"Aha, terus masalah?" balas Kalista terang-terangan. "Emang gue dateng main-main doang. Terus masalah?"
Ia terima kalau dikatai anak gundik, tapi tidak bilang kalau ia bakal diam saat kesal, kan? Kalista paling benci orang bicara di sisinya jadi kalau ada masalah katakan saja langsung.
Seperti Astrid.
Kalista menandai wajahnya. Begitu sampai di lantai tempat kerjanya, Kalista berjalan cepat menuju ruangan Sergio alih-alih ruangan Julio.
Julio pasti belum datang dan Sergio pasti sudah di dalam, karena dia selalu datang ke gym sebelum ke kantor.
"Sergio." Kalista mendorong pintunya, agak mengejutkan Sergio.
"Good morning, Orang Beradab," balas Sergio dengan alis terangkat. "Tumben banget nyariin gue? Kangen?"
"Gue mau ngadu."
Mari tunjukkan bagaimana nepotisme sebenarnya.
*
"Hah?"
"Ada orang ngomongin gue. Gue mau ngadu."
Sergio tercengang. Bukankah biasanya perempuan modelan Kalista tidak suka mengadu kalau dia diajak bertengkar?
Tapi kemudian Sergio ingat bahwa Kalista adalah Kalista. Gadis itu pernah mengadu ke Oma dan Opa-nya mengenai kebohongan demi Rahadyan dimarahi.
__ADS_1
"Siapa?" balas Sergio semangat.
"Enggak tau. Lo mau bantuin atau gue nungguin Kak Julio?"
Sergio lompat dari kursinya, buru-buru datang pada Kalista. Jelas Sergio full senyum. Itu kan berarti Kalista mengandalkannya.
"Tumben ngadu. Biasanya ngomong 'cuekin aja'."
Kalista tersenyum sombong. "Soalnya yang biasa kejauhan kalo gue ladenin. Tapi tadi ngomong deket gue."
"Enggak masalah gue bantuin? Entar dikatain nepotisme lagi."
"Emang gue enggak nepotisme?" balas Kalista tidak peduli. "Gue lagi nyelesaiin masalah gue sendiri pake cara gue."
Memang ada yang bilang kalau Kalista tidak boleh mengadu? Standar siapa yang berkata kalau mengadu itu berarti lemah? Kalau kalian kecopetan, kalian mengadu ke polisi, kan? Kalau yang Kalista lakukan sekarang adalah bukti kelemahan, maka semua orang yang mengadu ke polisi adalah manusia lemah.
"Guys, ngumpul dulu sebentar!" seru Sergio begitu mereka tiba di lantai Kalista melihat perempuan tadi turun.
Tentu saja jika adik dari Pak CEO memanggil, sekaligus anak dari Dewan Direksi bersuara, mustahil orang-orang menolaknya. Kebetulan, Sergio memang sedang mau melampiaskan amarahnya.
"Terserah gue mau ngomong apa, kan?" bisik Sergio memastikan.
"Yap. Tapi kalo gue kesel, lo gue tempeleng."
"Siap, Mami." Sergio mengedipkan sebelah mata sebelum wajahnya mendadak dingin pada semua karyawan yang berkumpul.
"Oke," ucapnya membuka. "Kalian udah kenal ini siapa, kan? Namanya Kalista, anak magang main-main di sini."
Kalista melambaikan tangan seolah-olah diperkenalkan sebagai calon direktur baru.
"Saya denger ada yang keberatan karena Kalista dateng ke sini buat main-main? Tolong yang keberatan angkat tangan."
Tidak ada, jelas saja. Kecuali mereka mau cari masalah.
"Oke, enggak ada." Sergio melipat tangan. "Mau Kalista dateng ke sini buat main-main, mau jungkir balik, mau joget ngebor juga dia dikasih izin sama Pak Julio. Kecuali kalo Kalista gangguin kalian secara fisik, kayaknya enggak ada alasan buat kalian ngeliat dia ganggu di sini. Kalista, kamu ada gangguin orang di sini? Narik rambut orang mungkin karena kamu kesel?"
"Emang saya monyet?" balas Kalista sebal.
"Bukan, jadi enggak ada masalah kan? Oke, enggak ada. Terus pertanyaan saya, ngapain kalian buang-buang waktu ngegosip soal Kalista?"
Hening.
"Saya enggak peduli soal omongan kalian di luar tapi sekali lagi saya denger kalian ngomongin Kalista di kantor, apalagi di depan Kalista, kalian semua saya pecat. Ngerti?"
"Ngerti, Pak."
"Minta maaf." Sergio mengedik. "Satu-satu."
__ADS_1
*