
"Kamu tahu bahwa ancaman itu hanya tahap awal dari sebuah perang?"
Agas terlihat geli saat Kalista cengo. "Nona, Kalista adalah gadis yang sederhana dan tidak seperti Nona. Dia tidak mencoba berperang tapi melindungi diri."
"Itu menyedihkan. Pertahanan terbaik adalah serangan mutlak." Lissa menggeleng miris. "Kalau begitu biar kuajari caranya melawan. Kamu mau mendengarnya, kan?"
"Eh?"
"Bagus. Agas, beritahu aku sesuatu tentang gadis bernama Asi itu."
"Astrid, Nona."
"Apa pun namanya."
"Saya rasa dia seorang gadis yang berpikir segalanya berjalan sesuai keinginannya. Dengan cara paksa. Dia menghalalkan cara apa pun dan berfokus pada hasil yang dia inginkan."
"Apa yang dia inginkan?"
"Pemuda bernama Sergio, Nona."
"Apa yang dia ancamkan pada Kalista?"
Agas menatap Kalista sekilas sebelum dia menjawab, "Foto Kalista berciuman dengan kakak Sergio, Julio."
Kalista tertegun. Bagaimana bisa mereka tahu?!
"Kak Agas, itu—"
"Kami menguasai informasi, Kalista. Hal semacam itu bukan rahasia."
Lissa mendongak pada Agas. "Aku tidak melihatnya sebagai masalah. Memang kenapa kalau Kalista mencium Julio?"
"Sergio menyukai Kalista, Nona."
"Lalu?"
"Kak Julio bakal dicap pengkhianat kalo sampe ketahuan," jawab Kalista daripada ia terus terkejut. "Sebenernya aku suka Kak Julio, bukan Sergio. Cuma Kak Julio awalnya bantuin Sergio deketin aku tapi akhirnya malah ...."
"Kenapa mencium gadis disebut pengkhianatan?" Lissa terperangah. "Standar pengkhianatan kalian benar-benar sederhana dan bodoh."
"Nona, tolong mengerti bahwa Kalista berada di lingkungan sosial."
"Aku tidak mengerti." Lissa menopang dagu. "Hei, Kalista, kamu penakut?"
"Eh?"
"Jawab aku. Kamu seorang penakut?"
"Enggak!" Kalista menggeleng-gelengkan tegas walau hatinya berkata ia berbohong. "Enggak. Aku enggak penakut. Aku enggak takut."
"Kalau begitu beritahu Sergio bahwa kamu mencium kakaknya karena kamu lebih menyukai kakaknya."
__ADS_1
"Eh?"
Lissa tersenyum enteng. "Aku tahu kamu mencoba menjaga perasaan Sergio itu, tapi apa kamu membiarkan dadamu tertusuk pisau demi sesuatu yang bahkan tidak kamu sukai?"
"Sergio itu sahabat aku!"
"Kalau begitu dia harus menerima keputusanmu sebagai sahabat."
"Tapi ...." Kalista dibuat kagok. Kenapa malah dirinya disuruh melukai perasaan Sergio dan menghancurkan hubungan persaudaraan Julio dan Sergio?
"Nona." Agas menunduk pada Lissa. Entah apa alasannya tapi itu seperti sebuah komunikasi tanpa suara yang diakhiri Lissa menghela napas.
"Baiklah, Kalista, aku berlebihan. Aku tidak meminta maaf karena aku benar, namun aku mengerti kamu tidak bisa bersikap kejam sepertiku. Aku berkata begitu karena jika aku di posisimu aku akan melakukannya, tidak peduli siapa pun bertengkar karenaku. Sejujurnya aku cukup suka."
Hehe, Kalista mau pulang. Bisakah ia pulang sekarang berhubung sudah mendapat apa yang ia mau?
"Akan kuterima uang satu miliar atau apa pun itu darimu." Lissa pindah ke gendongan Agas, sebelum duduk di kursi roda.
"Sebagai gantinya bawa dia." Perempuan itu menunjuk pria di belakang Kalista. "Dia akan membantumu balas dendam."
"Aku enggak mau bunuh orang, Kak!" Kalista menggeleng histeris.
Tapi kursi roda Lissa sudah didorong pergi oleh Agas. "Maka jangan bunuh orang, Dante," katanya untuk terakhir kali.
Dante?
Pria itu belakang Kalista tersenyum menandakan dialah si Dante Pembantu Balas Dendam.
"Tapi Papa nanti tau!" raung Kalista tak terima. Kenapa malah dirinya disuruh-suruh melakukan sesuatu padahal harusnya ia yang dilayani?
"Tenang saja, Nona." Dante menjawab. "Menjaga rahasia klien adalah keahlian kami."
.... Apa boleh buat.
Kalista lupa kalau dirinya adalah anak magang dari kantor yang bukan milik papanya. Waktu meninggalkan kediaman Narendra, jam sudah menunjuk ke pukul setengah sembilan alias Kalista sudah terlambat kerja. Hal terburuknya adalah jam itu jalanan macet untuk kembali ke Jakarta alias Kalista ketahuan bolos.
Jelas saja ponselnya berbunyi, menandakan ada telepon masuk dari banyak orang.
Sergio, Julio, Papa, Bu Direktur, bahkan Cassandra, Oma, Om Raynar bahkan Latifah.
"Ini namanya strict level maksimal." Kalista mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Gue ngelesnya gimana, njir?!"
"Butuh bantuan?" tawar Dante yang kini menyetir buat Kalista.
"Emang kamu—enggak, emang lo bisa bantuin apa?"
"Aku bisa membantumu membunuh seseorang—"
"Udah dibilang jangan!"
"—jadi tentu saja aku juga bisa membantu urusan yang lebih mudah." Dante mengedipkan sebelah mata. "Pertama hubungi ayahmu dan beritahu dia kamu sedang di makam ibumu."
__ADS_1
"What? Why should I ...." Kalista berhenti sendiri, ikut memikirkannya. "Iya juga, yah. Mendadak goblok gue."
Buru-buru Kalista menghubungi Rahadyan buat memberitahunya ia pergi ke makam Mama karena tiba-tiba ingat dengannya. Tentu saja Rahadyan tidak akan percaya begitu saja, maka Kalista menambahkan kalau dalam perjalanan pulang ia tak sengaja menabrak sesuatu hingga mobilnya lecet. Lalu kemudian Kalista bertemu cowok ganteng yang membantunya jadi lupa pada telepon.
"KAMU KENAPA SELALU KEPANCING COWOK GANTENG, HAH?!"
Kalista menjauhkan telinganya dari ponsel, takut ia budeg mendadak. "Maaf, Papa. Serius enggak sengaja. Maaaaaaaaaaf banget."
Kalau Kalista sudah melas, Rahadyan pasti kalah.
"You scared me, Baby. Papa parno karena kemarin kamu ngomongin soal ancem-ancem. Papa kira kamu diancem beneran terus diculik."
Kebanyakan nonton drama orang ini. Memang dia pikir jaman sekarang mudah menculik orang sebesar Kalista?
"Iya, Papa. Maaf yah. Ini aku di perjalanan. Mobilnya lecet dikit maaf yah, Papa."
"Baby, Papa cuma mau kamu balik. Mobil tuh urusan kedua."
"Aku langsung ke kantor tapi yah, Papa."
"Oke tapi nanti Papa nyusul pas siang. Sekalian bawa mobil kamu ke bengkel."
Mau tak mau mobil itu ia tabrakan sedikit biar lecet dan bukti pun didapatkan.
"Sekarang tinggal elo." Kalista menatap Dante. "Lo enggak boleh ikut ke kantor."
"Baiklah, akan kuawasi dari jauh." Dante merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah kalung berbentuk hati. "Pakai ini. Ada alat pelacak dan alat penyadap di sana."
Kalista menerimanya. "Tapi gue lepas kalo gue ke kamar mandi, titik."
"Terserahmu, Nona."
Waktu Kalista tiba di kantor, Sergio bahkan sudah menunggunya di lobi. Pemuda itu datang memeluk Kalista seolah-olah dia sangat takut ada sesuatu yang terjadi.
"Dasar bego." Sergio mengumpat kesal tapi memeluk Kalista sangat erat. "Lo ke mana aja, sih? Gue kira lo kabur lagi, tau enggak!"
"Enak aja!" Kalista melotot. "Gue ke tempat Mama tapi engak bilang sama Papa soalnya kalian tuh selalu ngira gue sedih pas nengokin Mama."
Padahal kenyataan.
"Ya tapikan lo angkat telfon gitu loh, Kalista. Lo bikin khawatir tau enggak!"
"Gue emang bikin khawatir," Kalista melepaskan pelukan itu, "tapi kalian juga overreacting. Gue manusia, oke? Gue enggak harus selalu diawasin seakan-akan gue bayi yang enggak punya privasi."
Sergio tertohok. "Tapi serius lo enggak pa-pa, kan?"
Biar kesannya alasan tadi serius, Kalista menatap Sergio kesal. "Dasar nyebelin," ucapnya sambil berlalu masuk.
"Kalista, gue mau ngomong—"
"Gue enggak mau ngomong sama lo atau sama Papa! Kalian berdua nyebelin!"
__ADS_1