Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
60 - update terakhir Kalista


__ADS_3

Tapi buru-buru dia menggeleng, memeluk Rahadyan. "Papa paling the best buat aku. Even aku dikasih Kaisar, aku bakal pilih Papa. Kecuali kalo aku bisa milikin Papa plus Kaisar."


Rahadyan langsung mencubit kedua pipi Kalista sebagai hukuman. "Jangan liat-liat dia! Dia itu fitnah!"


Lalu saat itulah Rahadyan sadar tentang keadaan sekitar. Pria itu menolehkan kepalanya ke seluruh sudut kamar, mengernyit pada betapa berantakan tempat ini.


"Ini kamar siapa sih? Jelas-jelas bekas enggak suci!"


Pelakunya yang tak lain adalah dua manusia di kamar itu kompak memasang poker face, seakan tidak berdosa.


"Iya yah? Kamar siapa sih? Jelek banget!" ejek Kalista juga.


Julio mengangkat bahu. "Kamar Sergio," dustanya.


"Aha, si Bekicot 2." Rahadyan menarik Kalista beranjak. "Belum nikah udah macem-macem. Dasar anak-anak."


"Papa kan juga dulu—"


Omongan Kalista dipotong oleh bekapan mulut Rahadyan. "Kamu enggak boleh ikut-ikutan kayak Gio, ngerti? Pokoknya jangan pernah dengerin omongan cowok, Kalista. Jangan pernah!"


"Siap, Bos." Kalista hormat, sebelum diam-diam melirik Julio yang juga senyam-senyum.


*


Sementara para orang tidak berguna itu melakukan apa yang mau mereka lakukan, Dante menjalankan tugasnya sesuai rencana. Kini pria itu menyendiri di sisi lain kapal pesiar, menikmati alhokol dari pesta bersama suara angin malam. Di telinga Dante terdapat dua ear piece yang terhubung ke dua tempat berbeda.


Kalista dan targetnya, Astrid.


Dante mendengar Kalista tengah mengakui bahwa Kaisar memang luar biasa tapi Rahadyan tetap nomor satu walaupun Kaisar tetap yang paling luar biasa, sedangkan Astrid tengah berbisik pada Sergio.


"Kamu berharap Kalista ngerasa bersalah sama kamu? Dia pasti ngerasa bersalah banget sampe dia pergi sama Kak Julio tadi, berdua."


"I don't care anyway," balas Sergio dingin. Dari suaranya, Dante tahu jelas bahwa dia mungkin tidak akan kembali menjadi Sergio yang Kalista mau.


"Ohya? Terus kamu cuma mau nunggu kapan mereka bikin pengumuman soal hubungan resmi mereka?"


"Lo pikir itu bakal tahan? Kalista bisa pindah hati satu detik asal ada cowok ganteng."


"Yah but I don't actually talk about her. Maksud aku Kak Julio."


"Haha, funny. Lo pikir Mami bakal ngasih restu?"


"Om Rahadyan rela ngelakuin apa aja buat Kalista, kan? Gimana kalau dia juga bujuk Mami kamu?"


"Lo tau lo nyebelin sekarang? Nanyain sesuatu yang lo sendiri udah tau ujungnya. Mami lebih rela putus hubungan sama keluarga Om Rahadyan daripada ngerestuin anak emasnya sama anak gundik. Now shut up."


Dante bersiul mendengar pembicaraan itu berakhir di sana. Baru saja Dante mau mengisi gelasnya lagi dan minum, ia justru terhenti, melihat Winnie berjalan mendekat.


"Lama tidak bertemu, Kakak Kecil."

__ADS_1


Wanita itu mengulurkan sesuatu yang merupakan alat penyadap kecil milik Dante. "Jangan lakukan hal ini lagi atau kubilang pada Ibu sebenarnya kamu menghamili perempuan. Dua perempuan."


"Hanya perempuan yang hamil jadi yah, tentu saja aku menghamili perempuan." Dante mengambilnya kembali. "Lalu? Kamu murung setelah menyiram sampanye ke wajah ayah dari sahabat kecilmu?"


"Itu salahnya." Winnie menyambar gelas Dante, menenggaknya saat terlihat kesal.


"Hei, bersyukurlah karena aku tidak mendengar apa yang dia katakan. Jika itu aku, aku pasti menebas kepalanya daripada menyiram minuman. Tindakanmu seperti wanita yang dilecehkan setelah ditolak karena terlalu tua."


Winnie mendorong punggung Dante dan yakin ia tak akan keberatan jika adiknya jatuh ke laut, dimakan hiu pun tidak masalah.


Tapi Dante malah hanya tertawa. Walau tawa itu kemudian hilang, diganti siulan menyebalkan.


"Sepertinya terjadi hal menarik."


"Apa?" Winnie mengerutkan kening bingung.


Hal menarik yang Dante katakan terjadi di area pesta. Kalista kembali bersama Rahadyan ke pesta, tentu setelah memastikan seluruhnya aman.


Mereka berniat untuk bergabung saja di sofa khusus keluarga besar meski Kalista tahu banyak yang terganggu akan keberadaanya, tapi sebelum bisa bergabung, Kalista dibuat mematung.


Kaisar secara nyata menghampiri mereka.


"Rahadyan." Pria itu menyapa seolah kasta Rahadyan lebih di bawahnya tapi sedikitpun kesombongan itu tidak mengurangi ketampanannya.


"Kaisar." Rahadyan menyapanya balik.


Kalista bengong melihat wajah Kaisar dari dekat. Ya Tuhan, bagaimana bisa seseorang begitu tampan dan begitu menawan? Dia juga sangat wangi. Baunya seperti sesuatu yang mahal, tidak ada di mana pun kecuali pada tubuhnya sampai-sampai Kalista mau tetap di sana, bernapas di dekatnya.


"Itu masalah pribadi," jawab Rahadyan. "Enggak ada hubungannya sama posisi Winnie atau yah urusan Winnie sama kalian."


"Ya, aku hanya memastikan." Mata Kaisar melirik Kalista sekilas.


Tapi sekilas pun sudah cukup bagi Kalista. "Hai, Om," sapanya tanpa sadar. "Nama aku Kalista."


"Aku tahu." Pria itu kembali menatapnya, lebih lama. "Kamu bertemu Liss beberapa minggu lalu. Dia memberimu Dante."


Rahadyan langsung tercengang. "What?"


Ups. Itu seharusnya rahasia.


"Aku sedikit penasaran tentangmu, Anak Kecil."


Entah mana yang harus dikejutkan, antara Kaisar bicara padanya atau Kaisar membeberkan rahasianya.


"Liss berkata kamu ingin membatalkan hubungan pasangan ini tapi sepertinya kamu tidak melakukan apa-apa. Itu membuatku sedikit kesal karena adikku secara pribadi bertemu denganmu sementara kamu tidak terlihat menggunakan apa-apa yang dia berikan."


Kini Kalista syok sungguhan.


"Jangan tersinggung. Aku hanya bertanya." Kaisar mengulurkan tangan pada kalungnya. "Bisa kembalikan ini? Ini milikku, seharusnya di leher adikku."

__ADS_1


"Lissa yang ngasih ...."


Kaisar tetap membuka dan mengambilnya. "Ingin tahu alasanku datang? Untuk mengambil ini."


Pria itu berlalu pergi. "Sampai jumpa, Rahadyan."


Rahadyan bersedekap, menatap Kalista dengan segudang pertanyaan di matanya.


"Papa."


"Hm?"


"Surprise?"


Rahadyan mendengkus. Tapi tanpa berkata apa pun, dia menarik Kalista dalam pelukannya.


Yang berarti dia tak masalah dan percaya pada keputusan Kalista.


"Papa bangga sama kamu."


"Hehe."


*


Julio melihat tangan Kaisar di leher Kalista, mengambil kalung yang seharusnya milik Kalista itu, walau sementara. Lissa yang memberikannya, kan? Jadi seharusnya Lissa yang mengambilnya.


Tak senang akan tindakan Kaisar, Julio menghampirinya saat terlihat Kaisar akan pergi ke helikopternya alias akan meninggalkan kapal pesiar.


"Pak Narendra," panggil Julio formal. "Boleh saya minta waktu sebentar?"


"Tidak." Kaisar berlalu begitu saja.


"Pak, tolong." Julio menahan lengannya. "Cuma lima menit."


"Dua menit." Pria itu menatap Julio kesal.


Ya, inilah kekurangan paling busuk Narendra. Mereka rupawan namun begitu sombong. Julio juga bisa sombong tapi ia rasa ia tak mungkin sesombong mereka.


Memang dasar ateis. Mereka tidak tahu jika Tuhan membenci kesombongan. Julio memaki-maki dengki dalam hati ketika di luar ia berusaha terlihat biasa saja.


"Saya hanya ingin bertanya kenapa Anda mengambil kalung milik adik sepupu saya." Julio menunjuk kalung di tangan Kaisar. "Itu diberikan padanya, oleh adik Anda, secara langsung."


"Adikku memberikannya agar aku mengambilkan ini kembali."


"Oh, please. Beri alasan yang lebih masuk akal."


"Ini milik Narendra dan aku seorang Narendra jadi aku mengambilnya kembali. Apa itu tidak masuk akal bagimu, Anak Kecil?"


*

__ADS_1


__ADS_2