Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Julio melipat tangan dengan postur yang benar-benar sangat charming. Matanya tajam menatap Kalista, macam mafia di film-film halu yang sering diejek Rahadyan.


"Ada urusan apa yah, Kak?" tanya Kalista sok sopan.


"Hehe." Julio meniru tawa Kalista tapi tanpa ekspresi. "Kamu seenaknya bikin saya suka sama kamu terus sekarang kamu mau putus?"


".... Bukannya kita enggak pacaran?" balas Kalista polos.


Tapi Julio melangkah masuk, membanting pintu tertutup, pertanda ini akan jadi pembicaraan yang cukup intens.


Julio melepaskan luaran setelan formalnya, melempar benda itu begitu saja ke sofa. Dia lalu menarik lengan masing-masing kemejanya sampai ke siku, memberi pemandangan yang luar biasa bagi Kalista.


Kalista menelan ludah. Mundur ke dapur buat pura-pura sibuk memasak. Kalista takut khilaf melihat kegantengan Julio yang agak terlalu brutal. Apalagi pas dia pamer lengan.


"Kenapa kamu kabur?" tanya Julio, tak mau mengikuti permainan pura-pura Kalista.


"Kamu yang dateng duluan ke aku. Kamu yang mulai duluan semuanya tapi sekarang kamu yang kabur. Maksudnya apa?"


Baiklah, itu membuat Kalista terdengar sangat buruk tapi bukan ia mau menyakiti Julio.


"Enggak usah pura-pura masak. Kamu mau goreng tempura sampe gosong?"


Duh, Tuhan. Kenapa sih kalau Julio marah dia berubah sangat galak? Sangat tidak ramah dan bintang satu.


Walaupun gantengnya tidak luntur.


"Kalista, look at me and say something."


Kalista buru-buru berbalik lepas ia mematikan kompor. "A-aku ...."


"Kamu nemu cowok baru, hm? Jauh lebih ganteng dari aku makanya kamu move on?"


"Belum!" Kalista langsung menjawab, tapi detik berikutnya ia menyesal sudah punya mulut.


"Belum?" Julio melotot. "Kamu BELUM nemu? Jadi maksudnya kamu lagi nyari?!"


Bukan itu maksudnya.


"Kamu kenapa?" Julio berjalan mendekat dan Kalista berjalan mundur. "Kamu kenapa malah nolak habis kamu bikin aku tergila-gila sama kamu? Atau itu emang misi awalnya? Kamu sengaja?"


"Enggak!" Kalista menggeleng pucat. "Enggak, Kak, bukan gitu."


"Terus apa?"

__ADS_1


".... Aku cuma enggak mau nyusahin." Kalista meremas tangannya satu sama lain, berusaha bicara walau gugup. "Aku beneran mikir kalau Kak Julio cuma nganggep aku sebatas ... ya sebatas pelampiasan."


Julio berkacak pinggang. "Kamu tau kamu aneh?"


"Tau, Kak."


"Enggak usah jawab!"


Kalista mengunci mulutnya seketika.


"Kamu deketin aku karena kamu suka sama aku. Tapi kamu berharap aku bales itu sebatas main-main. Kamu mau aku nganggep kamu cuma sebatas perempuan murahan aja, enggak pake perasaan sama sekali karena kamu nganggep aku enggak bakal cinta sama kamu."


"Hehe."


"Enggak usah haha-hehe."


Galak banget sih! Kalista mau tak mau menggerutu.


"Aku enggak mau kayak gini." Julio menggeleng berulang kali. "Aku enggak terima sama ini."


"Makanya aku ngundurin diri, Kak. Biar masalah kita clear terus kita—"


"Aku enggak mau kamu mundur."


Julio mendekati Kalista, menarik lengannya sebelum dia tiba-tiba menciumnya.


Itu sangat sulit jika tidak dinikmati. Keberadaan Julio, tatapannya, sentuhan dan napasnya, Kalista merasa gila memuja semua itu.


Tapi ....


"Kak Julio ngapain?" Kalista terbelalak horor saat Julio melarikan tangan ke kakinya, tanpa basa-basi. "Bentar, bentar, Kak! Aku enggak mau—"


"Keluar batas?" Julio menekan Kalista pada pintu kulkas, menyusupkan tangan masuk ke celana pendek gadis itu. "Kamu udah keluar batas malem kamu berani nyium bos kamu sendiri."


Menit demi menit setelah itu adalah hal yang tidak mungkin akan pernah Rahadyan bayangkan.


Pria itu mengira bahwa Kalista dan Julio akan terlibat pertengkaran hebat karena Julio nampak sangat kecewa sementara Kalista pasti sudah sangat serius ingin meninggalkan kantor.


Rahadyan bersiul-siul riang di luar sana. Mengira bahwa anaknya sudah sangat hebat karena mencampakkan Julio si Bekicot sok ganteng.


Sementara itu Dante sedang sibuk menimbang-nimbang apakah dia harus tetap memasang ear piece ke telinganya dan mendengar betapa 'hebat' pertengkaran antara Kalista dan Julio.


Kalista yang lupa kalungnya disapangi penyadap suara kini hanya sibuk mengatur napas.

__ADS_1


"Papa bentar lagi pulang," bisik Kalista di antara euphoria-nya. Kini dia terbaring lemas di lantai dapur, mengangkang dengan pakaian berantakan. "Kak Julio, please. Aku enggak mau Kakak mati."


Julio mengecup pusar Kalista sebelum naik mencium bibirnya lagi.


"Yakin mau berenti?"


Kalista menggeleng. Bahkan kalau Kalista gila, ia tak mau berhenti.


Baiklah, ayo lupakan Rahadyan sejenak.


*


Rahadyan ternyata pulang lebih lama dari dugaan. Bahkan sekalipun makanan di meja sudah dingin dan Kalista juga Julio pindah ke kamar berguling-guling, Rahadyan tak kunjung kembali.


Kini Kalista justru sibuk menahan kantuk, sedangkan Julio justru sibuk membongkar kotak rahasia Kalista.


"Ini Mama kamu?" Julio bertanya penuh rasa ingin tahu saat mendapati lembaran foto lama Kalista. "Cantik banget. Pantesan Om Rahadyan khilaf."


"Not exactly." Kalista menjawab malas-malasan. "Itu foto Mama pas udah tau cantik bikin kaya."


Julio tertawa mendengar jawaban Kalista.


"Papa sama Mama enggak pernah saling cinta." Kalista terduduk, mendadak semangat lagi padahal barusan tidak bisa mengatur napasnya sendiri.


Oke, Kalista akan memberitahu bahwa ia dan Julio tidak sampai sejauh itu namun agak lebih jauh dari seharusnya. Tapi setelah pembicaraan dengan Bu Winnie tadi, Kalista menerima saran bahwa ia mungkin harus merasakannya secara langsung daripada terus bertanya. Tentang cinta.


Karena itu Kalista tidak jadi mencampakkan Julio. Atau mungkin yah, Kalista memang murahan jadi sulit menjaga prinsip jika lawannya pria setampan Julio.


"Ohya?" Julio menarik Kalista bersandar padanya seolah tak rela jika tak saling bersentuhan. "Kamu keberatan kalo aku penasaran gimana hubungan mereka?"


Kalista mengambil foto di tangan Julio, menatap wajah tersenyum Mama bersama Kalista saat masih berusia tujuh tahun.


"Mama sama Papa ketemu di lingkungan pergaulan bebas. Bukan di club-club gitu, tapi kayak Papa katanya dulu sering nongkrong malem-malem di warung terus Mama juga. Dua-duanya sama-sama badung."


Julio mengenggam tangan Kalista seraya mendengarnya ceritanya.


"Terus yah, ya gitu. Mereka cuma saling tertarik tapi enggak punya love story sama sekali. Mama hamil, terus Mama enggak percaya sama Papa jadi akhirnya Mama ngelahirin aku sendirian. Kak Julio tau brengseknya? Waktu aku tanya Papa inget enggak waktu ketemu Mama, Papa bilang enggak. Sama sekali enggak."


"Kamu sakit hati?"


"Enggak." Kalista menguap lepas. "Aku enggak pernah peduli sama masa lalu Mama sama Papa. Intinya ya aku tau mereka. Mau dulunya nyimeng kek, apa kek, intinya Papa sama Mama ya Papa sama Mama."


Julio tertawa kecil. "Mama kamu orangnya kayak kamu?"

__ADS_1


"Agak. Cuma, Mama lebih waras dikit." Kalista tertawa kecil saat Julio mencubit hidungnya.


*


__ADS_2