
Memang jurus ampuh sebab Kalista jadi bebas ke ruangan Julio. Gadis itu mendorong pintu terbuka, hendak berlari ke pelukan Julio untuk minta maaf sudah membuatnya khawatir.
Apa? Kalista pilih kasih? Yaiya dong. Namanya juga manusia. Apalagi kalau menghadapi sesuatu yang baru, terutama cowok baru.
"Kak Julio."
Tapi harapan Kalista terkhianati ketika ia masuk, Julio menyambutnya dengan seraut wajah dingin.
"Masuk," titah dia, pertanda bencana.
Kalista bergegas duduk di kursinya. Tangan Kalista diletakkan di atas meja, punggungnya tegak, dan matanya lurus ke depan. Lampu ruangan Julio mendadak mati tapi cahaya dari komputernya menyala terang, menciptakan keremangan menakutkan.
"Kalista."
"Iya, Pak?" jawabnya spontan.
"Kamu sadar kamu lagi magang di sini, kan?"
"Iya, Pak."
Julio berjalan pelan dengan tangan terlipat di dadanya.
"Kamu sadar kalau ada yang namanya jam masuk kantor, kan?"
"Iya, Pak, maaf."
"Dan biarpun kamu sadar kamu masih aja telat ke kantor? Jam berapa ini? Oh, wow, jam setengah sebelas."
Kalista menelan ludah. Julio pasti marah besar sampai dia berbicara seperti itu. Apa dia tipe yang benci yah pada manusia lupa waktu?
"Maaf, Pak. Enggak saya ulangin lagi. Saya janji."
"Saya enggak butuh janji."
Galak bener sih! Untung ganteng!
Tapi tak sempat Kalista cemberut, Julio memukul pelan meja Kalista dan menunduk padanya. "Kamu dari mana?"
"Saya kecelakaan—"
"Kamu dari mana?"
"Beneran, Pak. Saya enggak bohong. Liat aja mobil saya lecet. Saya kecelakaan terus—"
"Kamu, dari, mana, Kalista?"
Nakutin banget sih! Jangan bilang dia tahu Kalista ke kediaman Narendra? Oke, tidak. Pasti tidak karena Papa saja tidak tahu.
"Aku ...." Alasan! Alasan! Alasan! Pikirkan sebuah alasan khusus buat Julio saja! "Enggak ke mana-mana, Kak."
Sebuah alasan akhirnya tercipta di otak Kalista. Dengan wajah penuh rasa bersalah, gadis itu menunduk.
"Aku cuma kepikiran soal kemarin terus pengen aja nyari ide. Taunya malah lupa waktu. Maaf, Kak."
Ekspresi Julio yang tadinya dingin mendadak berubah saat dia menghela napas berat.
"Kamu bikin khawatir," ucapnya saat duduk di meja, menarik Kalista dalam pelukannya. "Harusnya kamu bilang kalo kepikiran. Bukan malah pergi sendiri."
__ADS_1
Hoooh, safe. Kalista lebih lega karena ternyata ia pandai akting sedih juga. Gue kira bakal mati dimakan Kak Julio.
"Maaf, Kak." Kalista mengusap-usap punggung Julio sebagaimana dia melakukannya sekarang. "Aku salah. Aku bikin khawatir seenaknya. Maaf, yah? Pliiiis."
"Asal kamu janji enggak gitu lagi."
"Iya, Kak."
Julio mengurai pelukan itu dan meraih wajah Kalista untuk menciumnya. Mungkin karena Kalista sangat gugup tadi, bibirnya jadi genetar.
Tentu saja, Julio yang mengulum itu jadi sadar.
"Kalo kamu seenggak suka itu, aku bisa bilang ke Sergio semuanya. Jauh lebih penting perasaan kamu ketimbang jaga rahasia."
"Enggak, Kak. Bukan kayak gitu. Aku cuma ngeri aja soalnya Kakak galak banget."
Julio kembali memeluknya. "Aku cuma takut kamu kenapa-napa."
*
*
*
Kayaknya lain kali Kalista bakal memikirkan sebuah rencana matang sebelum ia pergi ke mana-mana. Semua orang bereaksi berlebihan. Sesuai janjinya, Rahadyan datang saat jam makan siang, cuma buat menengok apakah rambut Kalista rontok atau tidak.
"Papa, aku enggak pa-pa, seriusan."
Rahadyan tak berhenti memeluknya di sofa. "Kunci mobil kamu mana?"
"Nanti aja, sama-sama ke bengkel."
Kalista melotot horor. "Papa, aku enggak—"
"Julio, bilang sama Kalista kalo mobilnya enggak disita dia kamu pecat."
Kalista beralih melotot pada Julio tapi pria itu mengkhianatinya dengan sangat kejam.
"Oke, Om."
"Tapi itu kan mobil baru, Papa!"
"Tenang aja, enggak Papa jual. Kamu boleh naik mobil lagi kalo kamu udah bikin Papa percaya enggak bakal ke mana-mana sendirian lagi."
"Kalo gitu biar aku aja yang nganter-jemput." Sergio tiba-tiba mengajukan diri. "Seenggaknya lebih aman kan Om daripada sama sopir yang enggak dikenal?"
"Syirik saya percaya sama kamu!" Rahadyan melotot lebih lebar. "Kamu orang terakhir di dunia yang bakal saya percaya!"
"Maksud Om apaan, yah?!" balas Sergio ngegas.
Namun Kalista lebih dulu menimpali, "Kalo gitu Kak Julio aja."
Julio pura-pura cuek berkata, "I don't mind." [Enggak keberatan.]
"Saya juga enggak percaya—" sama kamu, adalah apa yang mau Rahadyan katakan, tapi seketika ingat ucapan Bu Winnie.
Julio tetap tidak bisa dipercaya namun setidaknya dia tidak menyukai Kalista, jadi dia lebih bisa diandalkan daripada Sergio.
__ADS_1
"Oke." Rahadyan mengangguk walau agak tidak rela. "Kamu aja."
"Yeh!" Kalista bersorak, tidak jadi sedih.
Berbeda dari Sergio yang langsung berdecak kesal.
Memang Rahadyan tuh gangguan paling besar dalam hubungannya bersama Kalista.
*
*
*
Setelah Rahadyan pulang dan keadaan menjadi lebih tenang, Julio akhirnya menjelaskan persoalan Sergio kemarin. Kalista mengerutkan bibir saat mendengar rencana Sergio terhadapnya.
"Sebenernya sih bagus, Kak. Aku sih setuju-setuju aja."
Membuat Julio spontan mencubit pipinya gemas. "Kamu ngerti maksudnya? Kamu bakal bikin Mami makin benci sama kamu."
Kalista loading. Matanya polos menatap Julio yang betah mencubit pipinya. "Tapi kan Mami-nya Kakak udah benci sama aku dari lama."
"Aha, terus kalo Mami tau kamu sama aku, menurut kamu reaksinya bakal gimana?"
Barulah Kalista mengerti. Atau lebih tepatnya dia terlalu terbiasa dibenci untuk peduli dampak kebencian itu.
"Ohiya yah. Jangan! Aku enggak mau putus dari Kakak!"
Julio menahan senyum saat Kalista memeluk lengannya. "Emang kita pacaran?"
"Jadi Kak Julio enggak mau?!" Kalista terbelalak seolah-olah baru saja mendengar pernyataan perang dunia ketiga.
Tapi kemudian ekspresinya menjadi santai. "Yaudah sih, kebetulan tadi aku ketemu cowok ganteng—aw!"
Julio menggigit jemari Kalista begitu saja. Saat gadis itu meringis dramatis terhadap jarinya, Julio menarik bahu Kalista dan menciumnya lagi.
Nampaknya dia cepat belajar. Kini Kalista langsung membalas ciumannya, mengikuti ritme Julio bahkan secara sengaja *******-***** rambutnya.
Tak seperti saat pertama, Kalista tidak perlu tersedak buat Julio melepaskan ciuman itu. Kini Kalista justru tersenyum, memeluk punggung Julio sambil masing-masing mengatur napas.
"Kak Julio enggak mau jadi pacar aku," bisik Kalista, "tapi enggak mau berenti nyium aku."
Julio mencium dagu Kalista sebelum menggigitnya lembut. "Mau banget jadi pacar aku?"
"Gak."
Julio memukul bokongnya.
"Aw!" Kalista malah tertawa. "Gak peduli, Kak, serius. Soalnya pacaran juga enggak bakal Kak Julio pamerin di sosmed."
"Jadi enggak usah?"
"Enggak usah." Kalista memeluk erat bahu Julio yang tiba-tiba berdiri, memeluk Kalista dalam gendongannya.
Mereka berciuman sepanjang langkah Julio menuju sofa. Dibaringkan Kalista di tempat itu, terus dan terus menciumnya seolah tak ada lagi yang dia tahu selain itu.
*
__ADS_1
manis-manis dulu enggak sih chapternya. entar dibanting 😜