
"Tapi," Kalista melepaskan ciuman itu sepihak, berpindah mengecup rahang Julio, "kalo aku ngerasa Kakak mainin aku doang, aku yang bakal ninggalin Kakak duluan. Jangan kira aku bakal mohon-mohon."
Julio tergelak. Balas menggigit leher Kalista. "Kalo gitu kasih aku waktu mikirin semuanya," bisik Julio.
Secara bersamaan dia mengeluarkan kalung dari dalam pakaian Kalista saat meneruskan pernyataannya.
"Kalo aku yakin sama kamu, aku enggak bakal ngajak kamu pacaran," katanya. "Kita langsung nikah."
Kalista tertawa manis. "Aku sekarang puas ngeliat muka Kakak aja."
"Seriously, Kalista? Muka doang?" Julio merengut.
"Emangnya dosa yah suka sama orang fisiknya doang?"
"Gimana kalo aku bilang aku cuma suka sama muka kamu?'
Kalista malah berpose seksi. "It's okay, Kak, I'm prettiest."
Julio hanya bisa tergelak pada kelakuan Kalista itu. Tapi perhatian Julio selanjutnya tertuju pada kalung hati yang Kalista pakai itu. Sejak tadi ini menarik perhatiannya.
"Hmmm, aku enggak pernah liat model kayak gini." Julio mengamatinya agak serius. "Siapa yang ngasih?"
Pertanyaan yang agak membuat Kalista gugup. "Emang kenapa, Kak?"
Julio mengerutkan kening dan terus mengamatinya. "Ini ... mahal banget, Sayang."
Mata Julio sangat serius mengamati, "Berliannya kecil-kecil tapi bentuknya rapi. Om Rahadyan yang beliin?"
Saat itu harusnya Kalista tahu bahwa menjawab pertanyaan Julio, entah berkata tidak ataupun iya akan menjadi sebuah kesalahan. Harusnya Kalista mengalihkan perhatian saja biar Julio tidak bertanya.
Tapi Kalista malah menjawab, "Iya."
Sementara itu, Dante yang mendengar percakapan sepasang kekasih tak resmi itu dibuat tertawa kecil. Tajam juga mata si Julio itu, mengenali nilai dari kalung yang Kalista pakai.
Tentu saja dia tidak kenal dengan modelnya walau sekilas cuma berbentuk kalung hati sederhana. Benda itu cuma ada satu di dunia dan seharusnya milik Lissa.
"Nona pasti sedang sangat bosan," gumam Dante, memikirkan alasan Lissa ikut campur pada urusan Kalista. "Yah, kurasa juga sedikir cemburu karena Agas pernah bersama Kalista."
Namun tidak perlu cemas. Selama Lissa berpihak pada Kalista, bahkan presiden negara ini pun tak berkutik.
*
*
*
"Bye, Kak. Tidurnya jangan telat, yah."
"Bye, Sayang." Julio mengecup kening Kalista sebelum membiarkan gadis itu keluar dari mobil, menuju ke apartemennya.
Mobil Julio langsung melaju pergi untuk kembali ke kantor, karena ada sesuatu yang mesti ia pastikan.
Kalung Kalista, entah kenapa membuatnya tidak berhenti berpikir. Kalung itu berbentuk hati. Sebuah hati yang mirip seperti permen cokelat. Namun susunan berliannya berbentuk mawar. Itu tidak membentuk hati tapi MAWAR.
Ukuran berliannya sangat kecil sampai bisa disebut minimum, tapi itu berbentuk kristal cantik dan diletakkan sangat teliti di tempat-tempat tertentu. Bahkan pengrajin veteran pun pasti sulit membuatnya jadi harga kalungnya pasti mahal.
__ADS_1
Sepertinya itu bahkan terlalu mahal buat Rahadyan juga.
"Halo." Julio merasa harus memastikan. "Saya kirimin kamu sketsa sekarang, tolong cariin kalung berlian itu dijual di mana, dibuat siapa, plus harganya."
"Siap, Pak."
Julio menunggu setengah jam untuk dapat kabar yang cukup membuatnya cemas.
"Maaf, Pak, model yang spesifik sama kayak skesta itu enggak ada. Cuma ada beberapa yang mirip. Gambarnya saya kirim sekarang."
Julio menggeleng melihat gambar-gambar itu. Jelas bukan. Itu berbeda.
"Di pasar gelap juga enggak ada?"
"Kami cari ke semua black market online offline di semua sudut, Pak."
Detik itu, Julio menyadarinya.
Kalista bertemu seseorang. Dia bohong. Kalung itu bukan dari Rahadyan karena kalau iya, setidaknya kalung itu jauh lebih mahal daripada lamborghini-nya.
Rahadyan memang kaya sampai dia bisa membeli lamborghini satu dua, tapi perhiasan kelas dunia ini bukan jangkauan Rahadyan.
Kalau begitu siapa yang Kalista temui? Dan buat apa?
*
*
*
"Norak," gumam Kalista. "Kuno banget modelnya, njir. Udah kayak kalung lamaran kakek-kakek di film lawas."
"Kalung itu hanya satu di dunia."
Kalista terlonjak kaget melihat sesosok makhluk muncul di jendela apartemennya. Hampir saja Kalista berteriak tapi daripada itu, ia buru-buru ke pintu buat menguncinya.
Jaga-jaga Rahadyan masuk soalnya dia tidak pernah mengetuk pintu.
"Lo ngapain di sini?!" bisik Kalista menahan teriakan.
"Tentu saja mengajakmu bicara tentang musuh menakutkan bernama Asi."
"Astrid!"
"Aku tahu, tapi aku suka cara Nona Lissa mengatakannya." Dante menyeringai, lompat sepenuhnya ke karpet Kalista.
Sejenak dia melihat sekitaran lalu geleng-geleng. "Bagaimana bisa tempat sampah ini menjadi kamar?"
"Lo bilang apa?!"
"Bersih-bersihlah, Nona. Bersih juga merupakan kecantikan."
Makjleb.
Kalista merengut tapi kemudian naik ke kasurnya, berhenti mempermasalahkan. Tangannya menyambar kalung di kasur, memakaikan ke lehernya lagi.
__ADS_1
"Terus, lo mau ngobrolin apa?"
"Kamu tidak mau bertanya mengenai kalung itu dulu?"
"Hah? Buat?"
Dante menatapnya aneh. "Kamu sepertinya bukan gadis cantik. Gadis cantik menghargai perhiasan."
Kalau dia tahu nilai kalung itu, kayaknya dia bahkan rela bersujud menyembah Lissa.
"Lo bilang—"
"Bicara soal Astrid," dengan sengaja Dante memotong, "aku membaca dokumennya selama kamu bercumbu mesra dengan bosmu di kantornya."
"Iyuh." Kalista bergidik pada kata 'bercumbu' yang dia gunakan. Terdengar menjijikan walaupun artinya sama saja dengan berciuman.
"Aku menemukan banyak kelemahan dari gadis itu, keluarganya, perusahaan dan bahkan setiap sepupu juga paman bibinya." Dante mengangkat bahu. "Tapi jika ingin balas dendam tanpa membunuh, kurasa semua kelemahan itu tidak berguna."
"Maksud lo?"
"Kamu hanya ingin menekan gadis itu, benar? Kamu tidak ingin menghancurkan keluarganya atau sesuatu sejenis itu, mungkin?"
"Yaiyalah!" Kalista menyahut jengkel. Kalau saja membunuh tidak dosa, ya Kalista bakal membunuhnya tapi karena dosa ya Kalista mustahil melakukannya.
"Dia punya banyak kelemahan tapi kelemahan yang bisa menekan dia seorang diri, itu tidak ada di sini." Dante menepuk-nepuk dokumen tebal pemberian Lissa. "Sebenarnya, hal semacam itu tidak didapatkan dari informasi data melainkan pengamatan. Nona Lissa tahu itu maka dari itu beliau mengirim aku."
"Terus?"
Dante tersenyum. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkan itu pada Kalista.
Isi dari ponselnya membuat Kalista tercengang.
Itu fofo tidak senonoh dari Astrid dan Sergio. Ada banyak. Sangat banyak.
Dan sangat detail.
"Ugh." Kalista menyerahkan ponsel itu kembali, jijik melihatnya. Melakukan dan melihat adalah dua hal berbeda, oke? Walau Sergio tampan, tapi tetap saja.
"Setidaknya ini bisa membalas foto ancaman itu, kan?"
"Tapi gue enggak mau nyeret-nyeret Sergio!" Bagaimanapun, Sergio itu sahabat Kalista dan dia selama ini selalu membantu Kalista.
"Ini hanya cadangan." Dante mengantongi ponselnya lagi. "Untuk itu, kamu harus membuat kelemahan musuhmu untuk dijadikan tekanan."
"Caranya?"
"Itu tergantung dari bagaimana kamu ingin dia berakhir. Ada banyak cara."
Nampaknya Kalista mulai paham apa itu kekuatan uang sebenarnya.
*
*
*
__ADS_1
pesan untuk pembaca : kalau dukungan karya ini menurun, author akan drop karya ini dan fokus ke karya lain. jadi dukung sebanyak-banyaknya agar author bisa tetap lanjut, yah 🙂