Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Serangan Balik


__ADS_3

Begitu Rahadyan pergi, Kalista langsung loncat dari sofa. Masuk ke kamar buat ganti baju kemudian menarik Dante pergi bersamanya.


"Aku benci belanja," gerutu Dante. "Kalian wanita sangat suka membuang-buang waktu belanja."


"Gue enggak mau belanja, bego! Gue mau ketemu Astrid!" Kalista mengetok kepala Dante.


Tapi pria itu terlonjak karena ucapan Kalista, bukan getokannya. "Benarkah? Aku sangat suka melihat wanita bertengkar. Itu sangat lucu, haha. Buar kuberi saran, Nona, jika dia menarik rambutmu, kamu harus menarik bajunya. Itu lebih efektif."


"Bacot!"


Dante mengangkat bahu, tidak membalas lagi tapi menjalankan mobil Kalista sangat cepat. Kecepatan yang terlampau cepat sampai terdengar suara sirine polisi mengejar mereka.


"Dante!"


"Mobil ini sangat manis sampai aku ingin menciumnya secara nyata," kata dia sambil tertawa. "Ngeeeeeeeeng! Brum-brum. Hahahaha!"


Kalista cuma bisa menatap horor pada orang gila yang malah bahagia dikejar polisi itu. Tapi untuk sesaat saja, Kalista terpaku, mendadak teringat akan Sergio.


Dia juga tipe orang yang tertawa selepas itu. Entah di mana dan sedang apa dia, tapi benarkah Sergio mengakhiri semuanya? Apa egois jika Kalista berharap mereka tetap berteman?


Yah, pasti egois karena Sergio akan selalu terluka dalam persahabatan itu.


"Nona, sudah sampai." Dante menengok kaca spion. "Haha, lihat itu. Motor polisi jelas tidak mengejar kecepatan ini."


Kalista menarik pintunya terbuka, bodo amat terhadap ocehan Dante tentang dia pembalap kelas dunia. Kalista melangkah masuk ke restoran itu, yang kata Dante adalah tempat Astrid sedang bertemu seseorang.


Kalista meminta dirinya dituntun ke meja atas nama Astrid dan menemukan perempuan itu sedang bicara dengan beberapa orang pria dan wanita berjas. Astrid menghadap ke arah Kalista jadi dia langsung sadar, berhenti bicara.


Padahal Kalista tidak keberatan menunggu tapi perempuan itu langsung beranjak, izin meninggalkan meja.


"Tamu enggak diundang." Astrid tersenyum sangat senang. "Kayaknya lo sama Sergio justru berantem padahal gue minta lo jodohin kita. Enggak sesuai rencana tapi yah enggak nol juga."


"Haha, funny. Gue tau lo enggak capek ngatain gue jadi gimana kalo biarin gue ngomong dulu baru ngatain gue?"


"Gue lebih suka ngatain sambil lo ngomong." Astrid berbalik, pergi ke meja itu untuk mengatakan dia ada urusan dan harus pergi sekarang.


Kalista meminta pelayan untuk membawa mereka ke lantai atas restoran, duduk di kursi paling mahal di sana.

__ADS_1


Begitu mereka masing-masing duduk di sana dan pelayan selesai mencatat pesanan, Kalista langsung mengatakan urusannya.


"Gue enggak bakal bantuin lo nikah sama Sergio. Justru, gue bakal bikin lo enggak bakal pernah nikah sama Sergio."


Astrid menguap bosan. "Terus?"


"Lo pasti mikir gue enggak bisa, kan? Tenang aja, gue tipe yang bikin orang kaget sama tindakan gue." Kalista menarik keluar sesuatu dari tasnya, lalu melempar itu ke depan Astrid.


Bahkan kalau Astrid percaya diri, dia mau tak mau harus mengerutkan kening.


Tentu saja karena apa yang Kalista lemparkan ... adalah foto perselingkuhan kedua orang tuanya dengan dua orang berbeda.


Ini namanya serangan balik.


*


Kemarin sebelum Rahadyan pulang, Kalista dan Dante berbicara panjang lebar mengenai strategi. Kalista terus berusaha menemukan bagaimana cara ia menekan Astrid tanpa harus merugikan Sergio.


Lalu kemudian Dante memberinya ide.


"Kalau begitu gunakan saja informasi yang Nona Lissa berikan dan ancam dia dengan itu."


"Itu hanya ancaman. Kamu mengerti arti ancaman? Itu harus tetap dijaga agar menjadi rahasia sebab rahasia yang diketahui banyak orang tidak akan mengancam."


Dengan kata lain Kalista berbohong. Bukan soal foto itu, tentunya, karena semuanya asli. Memang kedua orang tua Astrid selingkuh dan bahkan satu sama lain dari mereka tahu akan hal itu.


Tapi berita ini jelas tidak mau disebarkan, kan? Kalista mengancam akan menyebarkannya karena ia tahu Astrid tidak akan membiarkan hal itu.


"Lo kira karena lo punya foto gue ciuman sama Kak Julio, lo bisa nginjek-injek gue lagi?" Kalista berujar sombong, padahal sebenarnya kemarin takut luar biasa.


"Hah, ngimpi! Gue ini cewek paling licik, paling nepotisme, paling murahan yang pernah ada, lo sendiri yang ngatain gue itu. So, Sayang, gimana kalo lo jauhin temen gue?"


Astrid menatap Kalista muak tapi kemudian dia tertawa. "Yah, gue akuin gue kaget." Astrid mengambil foto-foto itu dan memasukkan ke dalam tasnya. "Ternyata beneran punya otak, Anak Gundik."


"Anak tukang selingkuh." Kalista balas mengejek. "Lo ngatain nyokap gue, berarti gue punya hak sama ngatain lo. Nyokap lo suka brondong, sementara bokap lo malah selingkuh sama temen nyokap lo sendiri. Iyuh."


Astrid tergelak. "Karena lo dulunya anak gundik, jadi gue kasih tau, orang-orang di level gue itu enggak peduli soal cinta-cintaan kayak lo. Mau siapa yang selingkuh, selama publik ngeliatnya harmonis mereka bakal bilang harmonis."

__ADS_1


Kalista balik menguap sebagaimana dia tadi. "Orak peduli sama hidup kau. Intinya mundur dan stop terobsesi sama gue, please. Mau gue anak gundik kek, anak HIV kek, emang itu urusan lo yah?"


"Jelas aib yang keliatan itu harus dihina."


"Kalo gitu tinggal gue sebarin aib keluarga lo biar lo sama-sama ngerasain."


Astrid mendengkus, kemudian beranjak bersamaan dengan pelayan datang membawa makanan mereka.


"Gue bakal cabut anceman gue, kalau gitu. Gue janji enggak akan ngasih Sergio jadi seenggaknya janji buat jaga rahasia ini."


Kalista tersenyum puas. Toh sejak awal ia tak berniat menyebarkan apa-apa. Sekali lagi, itu cuma ancaman.


"Biar gue yang bayar makanan lo, sebagai bentuk perdamaian." Astrid tersenyum. "Dan ajak teman lo naik."


Eh? Bagaimana bisa dia tahu?


"Oh tenang. Gue enggak nyuruh mata-mata ngikutin lo. Itu enggak berguna. Gue cuma nebak gimana pengecut kayak lo berani datengin gue. As always, Kalista selalu harus dikawal."


Kalista melotot jengkel sambil memegang garpu di tangannya. Ia harus selalu ingat bahwa di dunia ini membunuh seseorang adalah hal terlarang. Harus ingat sebab nanti ia kelepasan.


Sementara itu, Astrid yang berlalu pergi diam-diam mengepal tangannya.


Anak gundik tidak tahu diri itu berani melawannya balik, dengan hal yang tidak dia ketahui.


Dia pikir Astrid cuma bisa mengancamnya tentang foto? Hah, dasar bodoh. Ada banyak cara bagi Astrid membuat dia tahu bahwa dia seharusnya meringkuk di rumah, meratapi nasibnya sebagai pelakor yang lahir dari rahim pelakor pula.


*


Dante berpapasan dengan Astrid saat berjalan masuk. Tentunya Dante dengar pembicaraan mereka berkat kalung Kalista. Saat Astrid lewat tanpa mengenali Dante, pria itu berhenti untuk melihatnya berjalan pergi.


Lawan yang sulit. Dari hawanya saja dia sepuluh kali lebih kuat dari Kalista, secara mental dan lain-lain.


"Tapi percaya diri hanya karena selalu menang itu buruk loh, Nona Seksi," bisik Dante sambil kembali berjalan. "Nona Gundik yang menyedihkan itu setidaknya punya koneksi dengan pemilik surga dunia ini."


Lissa Makaria Narendra itu tipe seperti Astrid. Lahir dalam kemegahan hingga dia tahu bahwa dunia ini berputar di kakinta.


Namun yang berbeda adalah Lissa lebih berkuasa dan Lissa jauh lebih suka kegilaan.

__ADS_1


Oh, dan Lissa benci orang seperti Astrid. Jadi mungkin Kalista punya kesempatan besar menghancurkan dia jadi debu.


*


__ADS_2