
"Tapi Kak, satu persamaan aku sama Mama."
"Apa?"
"Mama gila cowok ganteng." Kalista tergelak lebih keras saat mengatakannya. "Mama tuh serius suka banget sama cowok ganteng. Sampe aku tuh hafal tipe cowok Mama kayak gimana."
"Kayak aku?"
Kalista mengerucutkan bibirnya. Walau sesaat setelah itu Kalista menarik tengkuk Julio, menciumnya dan harus ia akui tidak akan pernah bosan.
Awalnya Kalista cuma mau mencium Julio sebagai jawaban bahwa ya dia sangat tampan sampai Mama pasti juga akan jatuh cinta. Tapi Julio justru memperpanjang itu, mencium Kalista seolah tak ada lagi kesempatan lain.
"Kalista."
"Hm?"
Julio mengecup keningnya dengan bibir basah itu. "Jangan sering bikin aku marah, oke?"
Maksud dari perkataan itu adalah jangan coba-coba meninggalkannya lagi tapi Kalista tidak fokus pada makna tersirat melainkan kalimatnya secara utuh.
"Oke." Kalista mengangguk ngeri saat di kepalanya terbayang kemarahan Julio.
"And about the last time," Julio mengusap-usap punggung Kalista, "kita bahas kalo kamu udah lebih siap, hm?"
"Yap."
Pelukan Julio terasa sangat nyaman dan spesial. Kalista akui ia memang belum terlalu mengenal apa itu cinta. Kalista akui ia memang terobsesi karena fisik saja jadi yah katakan apa pun tentangnya.
Namun setidaknya Kalista berpikir tidak ingin berpisah dari Julio juga.
Saking sibuknya saling memeluk, mereka berdua tak sadar waktu ... sampai Rahadyan menelepon.
"Wassup, Baby-nya Papa?" sapa Rahadyan ringan. "Julio tadi mampir ke situ? Bilang sama Papa kalo dia pulang sambil nangis karena Papa udah mau ketawa. HAHAHAHA!"
Kalista tertohok. Harusnya ia dan Julio memang mengakhiri hubungan mereka dan yah bisa saja Julio pulang sakit hati, tapi ternyata tidak.
"Of course hehehe," jawab Kalista meski Julio melotot padanya. "Iyap, Kak Julio melas-melas sama aku tapi gak! Udah enggak!"
"That's my baby girl! Oh, Baby, I'm so proud of you! Oke, tunggu Papa pulang bawain kamu bunga. Anyway, Winnie mau mampir juga, katanya mau ngobrol sama kamu, jadi siap-siap, oke?"
"Oke."
Panggilan terputus dan Julio melipat tangan.
"Kak Julio melas-melas, hm?" ulang dia pada kalimat dusta Kalista.
Kalista mengangkat bahu (pura-pura) santai. "Kak Julio pernah dibohongin sama Mamanya Kak Julio biar tenang, kan? Ini sebaliknya."
Berbohong agar dunia tetap damai.
"Menurut aku, Kalista, orang pertama yang harus tau itu Papamu karena dia yang paling nyusahin," ucapnya mengingatkan.
"No." Kalista menggeleng. "Absolutely no. Papa harus jadi orang terakhir yang tau."
Dan sebelum Julio membantah itu, Kalista lompat dari kasur, mendorong Julio keluar dari kamar, keluar dari apartemen.
"Kamu tau yang lucu?" kata Julio sebelum pergi. "Kadang-kadang aku ngerasa kalah sama kamu, tapi kadang-kadang kamu enggak berani ngelawan aku."
__ADS_1
"Hehe."
"Enggak usah hehe."
*
Sambil ditemani oleh lagu Spanyol kesukaannya, Kalista duduk di meja makan menunggu Rahadyan pulang. Tentu saja, Kalista full senyum. Menatap dapur di mana dirinya dan Julio sempat berbuat nakal.
Kenapa sih kalau berbuat sesuatu yang tidak boleh tuh malah rasanya jadi lebih seru? Tapi tidak boleh. Kalista tidak boleh ketawa-ketawa di depan Rahadyan, itu akan membuatnya terlihat mencurigakan.
Hubungan ini belum boleh diketahui oleh Rahadyan sebab dia pasti bakal memasang barikade di depan pintu khusus buat Julio.
Karena Rahadyan tak kunjung muncul, Kalista menyambar earphone-nya lalu menghubungi Julio.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk," jawab Julio saat panggilannya diterima.
Kalista terkekeh. "Kak Julio masih di jalan?"
"Yap. Aku langsung pulang ke rumah dulu. Kenapa telfon, hm? Baru ketemu."
"Kangen."
Julio menggeram. "Jangan ngomong kayak gitu karena aku sekarang lagi pengen nyulik kamu."
"Ohya? Kalo gitu kangen banget." Kalista cekikikan. "Aku lagi di dapur, nungguin Papa. Terus aku liat ...."
"Tempat aku jilatin kamu? Aw, aku masih bisa dengerin suara kamu. Did you like that?"
"Kata Mama enggak boleh ngeladenin cowok yang ngajak ngomong jorok."
"Aha."
Julio mengerang lebih keras seolah-olah perkataan Kalista membuatnya merah, tapi tawa Julio juga terdengar renyah. Pembicaraan itu pasti akan berlanjut panas jika Kalista tak tiba-tiba mendengar suara keributan samar.
"Papa pulang. Udah dulu yah, Kak."
"Na, biar aku dengerin kamu. Pake earphone, kan?"
"Yep."
Sambil pura-pura sedang mendengarkan musik, Kalista menggigit buah anggur saat pintu apartemen terbuka. Memunculkan sosok Rahadyan, Dante dan juga Bu Winnie.
"Baby, Papa pulang."
Kalista tersenyum lebar. "Halo, Papa."
Rahadyan bersama sebuket bunga mawar mahal pun datang, mencium wajah Kalista sebagai bentuk kesenangannya, mengira Kalista dan Julio sudah putus hubungan.
"Ngomong-ngomong, kamu kenapa pake earphone kalo puter musik di speaker?"
Kalista langsung menyengir. "Mood doang."
Untungnya hal itu tidak dibahas karena Bu Winnie datang, duduk di kursi sebelah Kalista.
Bu Winnie mengintip ekspresi Kalista untuk tahu apa dia senang pura-pura bahagia padahal banyak pikiran atau baik-baik saja, tapi ternyata dia terlihat lebih baik dari dugaan.
Saat mereka sibuk makan dan Bu Winnie juga Rahadyan sibuk bicara satu sama lain, Dante menendang kaki Kalista di bawah meja.
__ADS_1
Gadis itu melotot kesal tapi Dante balas mengiriminya teks.
Dante :
Dirty dirty girl π
Bagaimana aku harus menjelaskan pada Rahadyan bahwa seseorang melakukan hal nakal di dapur ini, tadi?
Aku bahkan bisa menjelaskan rincian kejadian.
Pertama ciumannya yang tidak sehebat diriku.
Lalu orang kurang ajar itu membaringkanmu di lantai dapur dan melebarkan kakimu.
Lalu setelah itu kepalanya mendekati tempat yang seharusnya tidak dia sentuh.
Ugh, astaga, sangat sesat π»
Pria sejati mana yang melebarkan kaki wanita di dapur?
Apalagi gadis perawan sepertimu.
Nona, kuberitahu, pacarmu itu sepertinya tidak mahir memperlakukan wanita jadi putus saja darinya.
Kamu bisa belajar tentang pria sejati dariku karena aku adalah wujud dari kesempurnaan pria.
Kalista terbelalak horor. Barulah Kalista sadar tentang kalung di lehernya dan ingat bahwa kalung itu memberitahu Dante semua, semua hal, yang terjadi lewat suara.
Buru-buru Kalista membalas.
Kalista :
Gue mutilasi lo kalo sampe ngomong!
Dante :
Kasus kekerasan biasa terjadi saat nafsu memuncak, Nona.
Tentu saja aku harus menjagamu.
Kalista :
Lo tuh cuma orang mesum yang nguping gue pacaran!
π‘π€¬π€¬π€¬π€¬π€¬π€¬π’π’π’πππͺπͺπͺπ£
Dante :
Pacarmu sepertinya tidak tahan lama.
Aku bisa lebih lama daripada itu.
"LO TUH DASAR ORANGβ" teriak Kalista spontan, yang kemudian terbungkam akibat tatapan Rahadyan dan Bu Winnie.
Dante mengikik geli, pura-pura tidak tahu apa salahnya sambil memakan daging. "Ada apa denganmu, Nona? Semua baik-baik saja?"
"Kalista, kamu kenapa, Sayang?" Rahadyan bertanya khawatir.
__ADS_1
Tapi Kalista cuma bisa cemberut, kembali duduk, khawatir Dante mengadukannya.
*