Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Perasaan Kalista


__ADS_3

Kalista tertegun. Seketika ia sadar ini memang bukan pembicaraan ringan, namun ... apa Julio harus mengatakan itu?


"Kakak ngerasa aku bohong suka sama Kakak?"


"Na. Aku tau kamu jujur soal itu. Itu sisi kamu yang paling jujur, iya kan?" Julio mengulurkan tangan, membantu Kalista untuk duduk tegak meski penampilannya agak berantakan.


Julio lantas membawa tangan Kalista ke pipinya, bernapas berat.


"Tapi apa pun selain itu, aku ngerasa itu enggak jujur."


"Kak—"


"Kamu ngutamain aku dari Sergio, tapi Bu Winnie bisa bikin kamu bahkan enggak tertarik ngeliat aku. Aku bisa menang dari Sergio tapi begitu Sergio ninggalin kamu, kamu berenti ngeliat aku jadi pusat dunia. Aku yang harusnya bantuin kamu tapi kamu nyelesaiin semuanya di belakang aku. I'm proud of you, Baby, I really do but... kamu bahkan enggak nangis."


Kalista bahkan tidak coba bilang 'aku takut, Kak, aku kepikiran'. Dia langsung pergi menyelesaikannya sendiri seakan-akan Julio mustahil bisa membantunya.


*


"Bukan kayak gitu," gumam Kalista.


Kalista menarik tangannya dari Julio untuk ia genggam sendiri. Kalista menipiskan bibir dan berpikir cukup lama untuk benar-benar bisa mengatakan sesuatu lagi.


"Kak Julio tau apa arti jadi anak gundik buat aku?"


Julio menarik kursi Kalista untuk duduk. Tangannya membelai tempurung lutut Kalista sambil mendongak, siap mendengarkan apa pun itu.


"Itu jauh lebih kompleks daripada sekadar Mama itu pela-cur. Terus terang, aku baru dibilang anak gundik separah ini justru habis Mama enggak ada. Begitu aku masuk ke keluarga Papa, aku masuk ke dunia di mana aku dapet kasih sayang sekaligus terlalu banyak yang benci aku."


Saat Mama masih ada dan jelas-jelas bekerja kotor, setidaknya Kalista tidak pernah ketakutan. Bahkan sekalipun ia tak punya teman, Kalista merasa hidupnya sangat damai. Dan terus terang tidak ada yang membenci Kalista sebanyak sekarang.


Semua kebencian menakutkan, menyalahkan, hinaan, segalanya baru datang setelah Kalista menjadi anaknya Rahadyan secara resmi.


"Butuh waktu buat aku nurunin ego buat nerima Papa, Kak Julio tau? Aku bahkan kabur dari rumah karena enggak mau nerima Papa, tapi Sergio nampar aku. Secara fisik, beneran nampar dan bikin aku akhirnya mau ngalah."


Kalista menatap tangannya yang saling bertaut satu sama lain, tidak memegang tangan siapa pun selain tangannya sendiri.


"Sejak waktu itu aku sadar kalau ada dua hal yang enggak sama dalam diri aku. Di mana aku anak Papa yang manja sampe ke kantor pake lamborghini padahal cuma magang, anak Papa yang seenaknya sampe Kak Julio harus terpaksa nerima aku yang enggak berguna ini."


"Kalista."


"Sementara sisi lain, aku cuma punya diri sendiri. Aku suka sama Kak Julio, aku sayang sama Kak Julio—aku sayang sama Papa, sayang sama keluarga aku, tapi ... aku cuma ... aku ngerasa kalo aku sendirian buat ini. Aku cuma punya diri aku sendiri. Aku yang harus nyelametin diri aku sendiri."

__ADS_1


Julio menatap tangan Kalista yang gemetar. "Tell me," bisik Julio. "What do you think?"


Gadis itu justru tampak resah.


"Aku cuma bakal denger dan enggak bakal bantah. Please?"


"Aku ... aku ngerasa Kak Julio enggak bakal cinta sama aku." Kalista tersenyum canggung. "Aku ... aku mungkin cuma ngejar Kak Julio karena Kakak ganteng banget. Itu fakta soalnya."


"...."


"Tapi aku enggak berharap Kak Julio cinta sama aku tapi lebih ke arah berharap Kak Julio notice aku. Jadi kayak kita enggak saling cinta tapi kayak saling suka aja, fisik masing-masing."


"…."


"So waktu Astrid ngancem aku, aku emang enggak berharap ditolong sama Kak Julio ... soalnya aku agak ngerasa Kak Julio bakal nyalahin aku jadi aku putusin nyelesaiin ini sendiri, pake cara aku sendiri, tanpa harus ngelibatin siapa pun selain diri aku sendiri."


Julio menatap mata Kalista. "Kamu lebih percaya Dante bakal jagain kamu karena kamu bayar dia, daripada aku yang sayang sama kamu?"


"...."


Julio tertawa kecil. Kursi Kalista mundur dari meja itu dan Julio beranjak.


"Emang iya?" Kalista syok. "Aku cuma bilang—"


"Karena itu berarti sekalipun aku bilang cinta sama kamu, kamu enggak percaya dan enggak akan percaya."


Kalista membasahi bibirnya. "Aku ...."


"Ayo balik ke masa lalu." Julio melipat tangan dan menatap Kalista dari tempatnya berdiri. "Di pesta, kenapa kamu biarin Astrid nindas kamu?"


".... Karena omongan dia enggak salah."


Karena Kalista anak gundik jadi kalau ia dikatai anak gundik, ya itu fakta, bukan hinaan.


"Kamu ngerasa kamu pantes?"


".... Maybe?"


"Kalau aku bilang kamu enggak pantes, kamu seharusnya marah, kamu seharusnya enggak biarin itu—di tempat itu, kamu seharusnya enggak ngerasa pantes; gimana menurut kamu?"


"...."

__ADS_1


Julio menggeleng. "You hurt me, Baby. You really hurt me now."


"Kak—"


"Kamu nganggep aku salah satu orang yang diem-diem nganggep kamu anak gundik. Kamu ngira aku ngetawain kamu di belakang, kamu ngira aku ngatain kamu di belakang tapi kamu enggak masalah karena kamu cuma suka sama muka aku. Cuma itu."


"Kak Julio, aku bukannya—"


"I love you." Julio menekan remot kontrol di tangannya agar ruangan kembali terang dan pintu yang terkunci terbuka.


Namun matanya tak meninggalkan Kalista. "Aku sayang sama kamu, serius. Tapi itu enggak ada gunanya sampe kamu lepas dari momok anak gundik, kan?"


*


Dante sedikit tidak menduga yang satu ini. Ia tahu Kalista memang tidak sesederhana dirinya yang terlihat, tapi ternyata dia menyimpan perasaan kompleks.


Dengan kata lain, apa yang Julio racaukan di dalam sana adalah ... dia menemukan Kalista tidak tahu cara mencintai sesuatu.


Kalista tidak mencintai dan merasa tidak benar-benar dicintai oleh siapa pun, jadi Kalista tidak akan patah hati jika kehilangan Julio dan dia malah berpikir suatu saat Julio meninggalkannya karena dia anak gundik.


Yah, perasaan terlalu serius yang tiba-tiba. Dante menebak kalau Julio mendapatkan perhiasan dari Lissa dan karena itu sangat berharga, Julio mau menjadikan perhiasan itu sebagai bukti lamaran.


Secara serius.


Tapi seseorang tidak bisa menikah begitu saja tanpa memastikan mereka saling ingin percaya dan sebagainya, kan?


"Kamu dan Nona Lissa memiliki kemiripan di satu tempat." Dante membuka suara ketika mereka di mobil, menuju ke apartemen. "Tapi juga berbeda, kurasa."


Kalista yang lesu setelah pembicaraan tadi hanya bisa merespons dengan gumaman. "Hm."


"Persamaan kalian adalah kalian benar-benar fokus pada diri sendiri. Maksudku, tidak peduli bagaimana orang lain bicara, kalian tetap pada keputusan kalian. Benar?"


"Hm."


"Tapi yang berbeda adalah keyakinan kalian." Dante melirik. "Jika dalam satu waktu ada hujan peluru datang pada kalian berdua dan kalian berdua tidak bisa bergerak, kalian berdua pasti akan tersenyum."


*


hayok, yang ngira Kalista cinta beneran sama Julio siapa?


itu tuh cuma obsesi soalnya KAK JULIO GANTENG BANGET! 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2