
"Emang anak Papa tuh cantik banget. Hah, akhirnya bisa napas juga Papa, Sayang. Emang kamu tuh enggak perlu ngejar-ngejar Julio. Jodoh kamu itu di surga, Sayang. Nanti aja di surga."
Kalista menatap Rahadyan tanpa ekspresi. "Belanjaannya jatoh," ucapnya dingin. "Papa enggak lupa ada HP baru di sana, kan?"
"Haduh, Baby, kalo rusak mah tinggal beli lagi." Rahadyan terkekeh senang sambil memunguti belanjaan yang dia jatuhkan. "Anyway, gimana kalo kita liburan buat ngerayain? Hm? Kamu mau ke mana?"
"Aku pikir-pikir dulu."
"Oke. Bilang sama Papa kapan, yah?" ucap Rahadyan riang. "Tapi Papa ada urusan dulu di luar jadi gimana kalo kamu masak? Dante sama Papa."
Kalista mengangkat bahu acuh tak acuh. Tidak keberatan karena memang ia lumayan suka memasak.
Tentu saja Kalista tidak tahu bahwa Rahadyan membawa Dante ke kantornya Julio sebagai algojo.
Rahadyan mengisyaratkan Julio beranjak dari kursinya, lalu Rahadyan duduk di sana seolah dirinya yang bos dan menatap Julio seperti dia pegawai yang bakal dipecat.
"Kalista mau berenti magang di sini."
Kabar itu sontak membuat Julio tercengang. Tapi tak sempat Julio bertanya kenapa, Rahadyan lebih dulu menambahkan.
"Jelas itu kabar baik buat saya karena akhirnya anak saya jadi sadar kalo kamu enggak pantes sama dia, tapi pertanyaan saya, Bekicot, kamu apain Kalista?"
".... Maksud Om?"
"Enggak usah pura-pura suci!" Rahadyan menggebrak meja dramatis. "Kamu kira saya percaya Kalista berenti gitu doang? Kalista cuma bakal berenti kalo dia nemu cowok baru buat dia suka tapi kenyataannya enggak ada! Artinya kamu, kalo bukan adek kamu, bikin anak saya sampe enggak tahan lagi di sini!"
Rahadyan sangat senang Kalista keluar tapi Rahadyan akan membunuh Julio kalau sampai dia jadi alasan Kalista keluar. Apalagi kalau Julio sampai membuat Kalista sedih akan sesuatu.
"Sekarang ngaku!" tuding Rahadyan. "Dosa apa kamu ke anak saya?"
Dante yang memahami situasi langsung tersenyum, menyiapkan tangannya. Dia siap menyiksa seseorang dengan mematahkan satu dua tulangnya agar mengaku.
Tentu saja, Dante tahu masalahnya apa tapi Rahadyan tidak bertanya jadi Dante tidak punya kewajiban menjelaskan, kan?
Sementara itu, Julio justru sibuk terpaku pada pikirannya.
Kenapa Kalista pergi? Julio cuma meminta dia merenunginya sebelum bicara tentang pernikahan. Dia bilang mau menikah saja, kan? Julio siap memberikannya tapi Julio ingin Kalista memahami juga makna pernikahan itu bagi Julio dan bagi dia juga.
Tidak. Apa dia lari? Dia ... tidak bisa mencintai Julio jadi dia mundur?
Hei, itu tidak adil ketika sekarang Julio sudah sangat mencintainya!
__ADS_1
"He! Kamu nyuekin saya?!"
Julio tersentak, mendadak mundur. "Sorry, Om. I'm sorry. I gotta go," ucapnya susah payah sebelum mendadak berbalik, pergi meninggalkan ruangannya begitu saja.
Di kursi yang seharusnya hanya untuk Julio, Rahadyan bersandar memandangi pintu kaca anak tadi menghilang. Tatapan Rahadyan bergeser ke samping, pada meja yang sepertinya digunakan oleh Kalista semasa dia bekerja di sini.
"Dasar ular sawah," desis Rahadyan. "Kamu kira saya enggak tau kamu main hati?"
Hah! Reaksi barusan sudah jelas dia melanggar ucapannya tentang 'tidak akan melakukan apa-apa karena Kalista pacar Sergio'.
Halah, cuih! Sudah Rahadyan bilang jantan seperti mereka tidak layak dipercaya.
Tapi Rahadyan tidak akan menghentikan. Bukankah mundurnya Kalista sudah berarti jelas?
Julio dicampakkan.
*
Kadang-kadang, Kalista bingung siapa sebenarnya Mama dalam hidup Kalista. Itu tidak sesederhana dia Mama, dia melahirkan Kalista, lalu membesarkannya lalu mati dan mengoper Kalista pada Papa. Tidak sesederhana itu.
Kadang Kalista bertanya-tanya kenapa sebenarnya Mama melahirkan Kalista? Dia bisa tidak melahirkan Kalista di umur itu, dulu. Dia bisa menggugurkannya walau mungkin dia merasa bersalah, daripada harus berjuang terlalu keras membesarkan Kalista cuma untuk mati karena bekerja agak terlalu keras.
"Huft." Kalista mengembuskan napas kasar sambil diam memandangi udang krispi di wajan.
"Aku mulai benci mikirin Mama," ucap Kalista pada ibunya walau jelas tidak dengar. "Aku enggak benci Mama, jelas. Tapi serius tiap kali Mama di kepala aku, berarti semuanya enggak sesantai yang biasa."
Cuma suara gorengan yang menjawab Kalista.
"Oke, fine." Kalista menggembungkan pipi. "Telfon Bu Direktur."
Kalista meraih ponselnya sebelum ia membalik gorengan di wajan. Hanya beberapa detik setelah itu panggilannya terjawab.
"Halo, Sweetheart." Bu Winnie menyapa ramah.
"Hai, Bu. Lagi sibuk?"
"Ummmm, enggak terlalu tapi kalau mau ngomong panjang, mungkin nanti malem aja?"
"Enggak. Enggak lama. Aku cuma mau nanya sesuatu." Kalista menyumpit udang krispi dari wajan untuk ditiriskan meski fokusnya pada Bu Winnie. "Aku lagi mikirin Mama belakangan terus aku kepo sama sesuatu."
"Okay, what is that?"
__ADS_1
"Kalo ngelahirin aku bikin Mama jadi perempuan murahan, terus kenapa Mama enggak buang aku?" Kalista bertanya seolah itu hanya tentang 12 × 1299 hasilnya berapa.
Tapi Bu Winnie meresponsnya berbeda.
"Ow," gumam wanita itu spontan. Apalagi Kalista menanyakannya tanpa kesedihan. Dia justru terdengar sangat bingung karena seharusnya jawaban itu A tapi Sukma Dewi malah melakukan B.
"Kenapa kamu pikir itu pilihan?" balas Bu Winnie setelah sempat diam. "Kenapa ngebuang kamu itu bisa jadi pilihan? Besides, kalau Mama kamu buang kamu, mungkin ke panti asuhan, kamu bakal ngerasa itu wajar?"
"Maybe?" Kalista mengangkat bahu. "Oke, aku paham jawabannya karena Mama sayang sama aku. Tapi pertanyaan aku, kenapa Mama sayang sama aku? Kenapa sayang sama aku itu bikin Mama ngerjain sesuatu yang bikin Mama hancur sendiri?"
Bu Winnie berdehem pelan. "That's a good point, Sweety. Kalau gitu sekarang Ibu mau tanya."
"Hm?"
"Kalau Mamamu masih ada dan enggak bisa lagi jadi supermom buat kamu, mungkin dia jatuh sakit dan sekarat, kamu bakal ninggalin Mamamu?"
"Enggak. Enggak mungkin." Kalista menggeleng. "Tapi aku enggak sakit, aku enggak sekarat buat Mama kasian."
"Sometimes love itu bikin kamu ngeliat orang sehat sebagai orang sakit. Bukannya itu yang bikin Rahadyan ngerasa kamu itu gelas kaca yang dibanting sedikit bisa pecah?"
"Papa kan cuma lebay."
"Mungkin aja. Tapi ...." Bu Winnie berhenti bicara, mengembuskan napas yang terdengar sangat jelas. "Oke, Kalista, Ibu bisa jelasin teori tentang cinta di otak. Itu udah selesai diteliti walaupun belum sempurna. Tapi ...."
".... Yang kamu butuhin itu bukan teorinya. Bukan penjelasan. Rasain dulu perasaan itu dan kamu bakal ngerti. Ibu juga enggak tau kenapa Mamamu sayang sama kamu, Ibu enggak tau kenapa orang tua Ibu sayang sama Ibu. Enggak ada penjelasan."
Kalista meringis. "Seenggaknya itu juga penjelasan."
"Nanti malem kita ketemu, bahas ini kalau mau. Ibu kerja dulu."
"Oke, bye. I love you."
Nyaris bersamaan dengan itu, bel apartemen Kalista berbunyi. Sejenak Kalista meninggalkan dapur buat membukanya, karena pasti bukan Rahadyan.
Tapi ketika dibuka, Kalista menyesal membukanya.
"Hehe." Kalista cuma bisa cengengesan. "Halo, Kak."
Julio berdiri di sana dengan muka sangat datar.
*
__ADS_1