Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO

Kalista : Mengejar Cinta Pak CEO
Iri Hati


__ADS_3

Kayaknya Rahadyan rasa ia harus pergi ke Tiongkok untuk beraliansi dengan mereka melenyapkan Narendra. Rahadyan rasa kalau ia mengajak pria-pria di kapal ini melakukannya, mereka semua serentak akan setuju.


Mati saja Narendra sialan!


Semua wanita, literally semua dari mereka, benar-benar memusatkan perhatian pada Kaisar. Jauh, dekat, kanan, kiri, bahkan depan belakang seperti tak fokus cuma karena dia datang.


Cuih, cuih!


Dia itu pria sesat dengan enam istri! Dia juga seorang ateis yang memperTUHANkan dirinya sendiri! Kenapa tidak ada yang membahas hal itu, hah?


"Kamu kenapa?"


Rahadyan menoleh lesu pada Bu Winnie yang menghampirinya. "Kamu enggak ke sana?" balasnya bertanya, sedikit sinis. "Pak Dewa Narendra dateng. Enggak kamu sembah?"


Wanita itu justru menatap Rahadyan heran. "What's going on with you?"


Rahadyan cuma 😒.


"Saya enggak tau kenapa semua orang suka sama dia," gumam Rahadyan jengkel. "Okelah dia ganteng, tapi helo, enggak ada yang bahas dia aneh? Pertama, dia ngomong pake bahasa Indonesia kaku. Kedua, istrinya enam dan please harus diinget kalo semua istrinya tuh manggil dia 'Tuan Muda'. Dan paling penting, semua orang enggak inget atau pura-pura enggak inget kalo itu orang sombongnya minta ampun! Gayanya kayak 'haha, gue manusia kalian semua kambing jadi bukan level'. Freak banget."


"Kamu yang freak." Bu Winnie bergidik pada Rahadyan.


"Kamu enggak bisa nyangkal, Win, karena itu bener." Rahadyan misuh-misuh. "Lagian coba pikirin baik-baik. Dia tuh nikah di umur tujuh belas tahun! Sama kayak Al, sama kayak adeknya Killua. Mereka kira cuma karena mereka punya pengaruh, terus mereka bisa ngelanggar hukum seenaknya? Umur dua puluh enam aja dia udah punya empat istri dan sekarang umur belum empat puluh istrinya udah enam! Dia tuh sesat, Win!"


"Umur tujuh belas Pak Kaisar udah megang empat perusahaan dan kamu di umur itu ngapain?"


"Itu yang bikin dia enggak normal!" Rahadyan tak sadar sudah terlalu agresif. "Semua cowok normal di dunia ini, umur tujuh belas tahun itu sibuk main, Win! Tujuh belas tahun punya istri megang perusahaan? Hah, orang yang bisa kayak gitu cuma psikopat! Kamu enggak merhatiin istrinya semuanya manut sama dia? Itu bsia jadi karena dia abusive terus—"


Ocehan yang sejujurnya adalah iri hati walau fakta itu terhenti seketika. Rahadyan dan orang-orang di sekitarnya terkesiap melihat gelas di tangan Bu Winnie menumpahkan air tepat di atas kepala Rahadyan.


Tentu saja Rahadyan yang paling syok.


"Saya kecewa sama kamu, Rahadyan." Gelas itu diletakkan tegas di atas meja dan Bu Winnie menatapnya tanpa rasa bersalah. "Saya kira kamu seenggaknya punya akal sehat."


Setelah mengatakan itu Bu Winnie menatap ke arah semua orang yang terkejut, membungkuk pada mereka.


"Saya minta maaf atas keributannya."


*

__ADS_1


Kalista buru-buru merapikan pakaiannya untuk kembali ke atas tapi ia tak mengharapkan pemandangan Bu Direktur-nya, Ibu Winnie-nya yang sudah seperti Mama bagi Kalista menyiram sirup—atau sampanye—ke atas kepala Rahadyan.


Di belakang Kalista, Julio yang berniat menyusul beberapa saat kemudian jadi lupa akan rencana. Ikut terpaku tak menyangka.


Kalista mengerjap kaku, tapi buru-buru datang menghampiri Rahadyan.


"Papa."


Air mata Kalista langsung menggenang. Ia selalu mendapat hinaan tentang statusnya sebagai anak gundik jadi Kalista sangat tahu betapa sakit hati dan malu kalian saat dipermalukan di depan umumnya.


"Om." Julio ikut datang, membantu sebelum keadaan jadi kacau. "Ayo, Om. Kita ke kamar dulu bersihin."


Air mata Kalista meleleh saat mereka membawa Rahadyan pergi. Sesaat Kalista menengok Bu Winnie untuk tahu seperti apa ekspresinya sekarang, mempermalukan Rahadyan begitu saja di pesta berisi banyak orang penting ini.


Wanita itu menatap tangisan Kalista dan bergumam tanpa suara. "Maaf."


*


"Jangan nangis." Rahadyan menghapus air mata Kalista setelah mereka masuk ke kamar dan Julio memerintahkan staf kapal untuk mengambilkan handuk juga air. "Papa yang salah, Sayang. Jangan nangis."


Kalista justru semakin terisak-isak. Memegang tangan Rahadyan sambil menggigil ketakutan.


Kenapa? Kenapa dia melakukannya ketika tahu semua itu akan jadi bahan pembicaraan? Apa dia sedikitpun tidak mempertimbangkan Rahadyan mungkin akan malu diejek?


"Kalista, Winnie enggak salah. Papa yang salah."


"Even kayak gitu," Kalista menangis hingga bibirnya melengkung ke bawah, "emangnya harus bikin Papa malu?"


Julio mengulurkan handuk basah pada Rahadyan yang dibawa oleh pelayan. "Sebenernya ada apa, Om? Kok tiba-tiba Bu Winnie marah sama Om?"


Pria itu berencana mengelap wajahnya sendiri tapi Kalista merebut handuk tersebut, ganti mengelap wajah Rahadyan. Senyum mau tak mau menghiasi bibir Rahadyan.


"I screwed it. It's just ... I don't know .... Cuma mendadak kesel. Agak terlalu."


Kalista mendongak. Mengelap bekas-bekas sampanye di rambut Rahadyan.


Melihat wajah Kalista begitu sedih akan kondisinya, Rahadyan merasa bersalah juga senang.


"Papa yang salah," bisik Rahadyan pada anaknya. "Papa ngomongin Kaisar di depan Winnie. Ya fakta sih cuma, Papa ngatain dia juga karena ... Papa cemburu."

__ADS_1


Kalista mengerjap. "Papa insecure?"


"No! No it's not like that! Papa enggak insecure!"


Lalu Rahadyan berdehem, butuh paksaan buat dirinya mengakui.


"Yah, mungkin. Lagian itu curang, Sayang. Maksud Papa, emangnya dia sesempurna itu? Yaiya sih dia banyak lebihnya tapi enggak usah norak dong!"


"Ya, that's right!" Julio menjawab penuh dukungan. "Fvck him, Om. Mana ada orang sempurna kayak gitu. Mukanya mungkin ganteng tapi siapa tau dia impoten, atau mungkin dia G yang nyamar gitu makanya banyak istri. Intinya enggak mungkin dia sesempurna itu!"


Kalista menatap datar kedua lelaki yang jelas-jelas insecure pada pria yang lebih unggul dari mereka.


"Dia emang ganteng banget," celetuk Kalista.


"Hei!" Serempak, Julio dan Rahadyan protes.


"What? Itu kenyataan." Kalista berucap apa adanya. "Tapi bukan berarti Papa kalah."


Rahadyan terpaku. "Ohya? Menurut kamu Papa lebih baik?"


"Of course. Papa nomor satu buat aku." Kalista meraih kedua pipi Rahadyan agar menunduk padanya. "Kaisar emang lebih ganteng terus lebih kaya terus lebih macho—"


"Papa macho juga!"


"—intinya lebih memenuhi nafsu duniawi daripada Papa tapi kalo Kaisar enggak ada, cewek antri kok buat Papa."


Rahadyan cemberut. "Kalo dia enggak ada, huh?"


Ya soalnya kalau dia ada, apa boleh buat, kan? Namanya juga manusia.


"The point is, Papa, Papa enggak perlu jelek-jelekin orang buat menang. Besides emangnya semua orang bakal milikin Kaisar? Enggak, Papa. Dia cuma punya enam istri sementara dari delapan miliar manusia, perempuan jauh lebih dominan jumlahnya. So Papa punya kesempatan."


"Kamu tau kamu kayak ngomong sisa-sisanya Kaisar masih banyak?"


"Emang iya?" Kalista mendadak pilon.


*


Teruntuk kalian yang copi-paste karya-karya author, terima kasih udah bikin author punya alasan untuk berhenti publikasi karya dan lebih selektif. tapi kalau bisa tolong berenti. author tau udah dua karya yang kamu copi, mungkin udah lebih dari itu.

__ADS_1


mohon maaf tapi author enggak rela karya yang susah payah author tulis kalian copi dan bagiin ke tempat lain.


__ADS_2