
Begitu Julio pergi, Kalista langsung memekik kencang. Berlari ke arah Dante dan lompat ke punggungnya, memeluk dia kencang.
"Muach, muach, muach! Emang calon Om gue tuh terbaik!"
Dante justru menyeka bekas kecupan Kalista dari pipinya. "Hei! Kamu baru saja mencium pria dan malah menciumku! Itu keterlaluan!"
"Bodo, wleeek!" Kalista turun, berputar ke kursinya untuk senyam-senyum. "Hehe, makasih yah, Om. I love you, deh. Mulai besok gue panggil lo Om!"
Kalau bukan karena dia, Julio pasti tidak akan datang membawa sejumlah bunga dan cokelat itu. Juga, tentu saja karena dia membiarkan Kalista bermesraan dengan Julio alih-alih histeris seperti Rahadyan.
"Tidak, terima kasih." Dante menggeleng ngeri. "Aku tidak suka membayangkan diriku menjadi om seseorang, termasuk kamu. Panggil saja aku selingkuhan."
"Kalo gitu Daddy."
"Itu lebih buruk!"
"Enggak mau!"
Itu akan jadi pertengkaran panjang karena Dante ternyata ogah disebut om-om apalagi daddy-daddy sungguhan, tapi sesuai kata Kalista, ini sudah jam pulang Rahadyan.
"What in the earth, Kalista?" Rahadyan syok melihat kamar Kalista dipenuhi bunga-bunga dan cokelat. "Kamu habis ditembok cowok?!!"
Haha, tentu saja Kalista lebih suka daddy keduanya yang tidak suka histeris dan membantu cinta Kalista.
"Enggak." Kalista menunjuk Dante. "Dikasih Daddy."
"D-D-D-DA-DA-DADY?! WHO'S DADDY?!"
Kalista tersenyum manis melihat Rahadyan dan Dante syok bersamaan. "Mulai sekarang aku panggil Dante Daddy. Soalnya dia manjain aku kayak Papa."
Tatapan membunuh Rahadyan diarahkan pada Dante. "Kamu mau ngambil anak saya ternyata! Biarpun kamu adeknya Winnie, saya bisa bilang kamu ketabrak kontener terus mati ditempat!"
Sementara mereka berdebat soal itu, Kalista menikmati makan malamnya penuh rasa bahagia.
*
Julio kembali ke rumahnya full senyum. Pria itu bersiul-siul riang turun dari mobil, memasuki kediamannya untuk beristirahat sambil memikirkan gadis kecil yang membuatnya sangat kecanduan.
Padahal baru bertemu, Julio sekarang sedikit merindukannya. Apa yang dia lakukan? Ah, dia pasti sedang senyam-senyum memikirkan ratusan ciuman yang mereka lakukan tadi. Mungkin Julio harus membelikan sesuatu padanya besok.
Hal yang membuat dia memekik senang lalu mencium Julio lagi.
"Sweetheart, you're home."
__ADS_1
Julio tersentak oleh teguran Mami-nya. Pria itu tak sadar saking asiknya memikirkan Kalista.
"Halo, Mam." Julio datang, mencium pipi ibunya. "Ya Tuhan, Mami. Ini baru jam setengah lapan, Mami udah minun?" omelnya saat mencium bau alkohol.
"Mami cuma kesel aja tadi makanya minum." Wanita itu mengusap-usap rambut Julio. "Rambut kamu kenapa basah banget? Terus kenapa pake kaos?"
Julio mengangkat alis, agak gugup. "Tadi ngegym dulu," dustanya.
"Oh." Mami mengusap-usap punggung Julio sayang. "By the way, have you seen your brother?"
"Gio?"
"Mami perasaan enggak ngeliat dia di rumah dari kemarin. Mami telfon juga enggak diangkat."
Julio rasa ia tahu dia di mana tapi Sergio jelas tidak mau Mami tahu dia di mana sekarang, apalagi tahu dia sedang apa.
"I don't know," dusta Julio lagi. "Mungkin sama Astrid?"
"Ohya? Tapi kamu tau enggak sih Sergio katanya mau ngelamar Astrid? Mamanya Astrid yang bilang, kata Astrid dia bilang."
Julio tidak tahu harus menjawab apa. Jangan bilang Sergio hilang akal sampai mau menikahi Astrid saja daripada terus ditolak oleh Kalista?
Tidak, kan?
*
Ucapan Astrid ditujukan pada Sergio yang membelakanginya, tengah sibuk mengukir tato di tubuh salah seorang pelanggan. Walau cukup sulit karena butuh waktu menemukan Sergio, Astrid akhirnya jadi tahu kalau Sergio dan Julio tidaklah sesempurna kelihatannya.
Bisnis klub malam juga tato tidaklah wajar di keluarga Sergio, tapi tempat ini ternyata adalah milik dia bersama kakaknya. Tempat mereka berhenti menjadi 'anak baik' dan melakukan apa pun yang mereka mau.
Astrid menunggu sampai Sergio selesai sebelum mendekatinya, mengecup punggung telan-jang Sergio.
"Kamu selalu lari kalo ditolak sama Kalista, yah."
Sergio melirik dingin. "Gue sibuk."
"Hm? Kalo gitu aku mau ditato."
"Gue udah dibooking."
Astrid duduk begitu saja di meja 'operasi' itu, melepaskan pakaiannya tanpa ragu, seluruh atasannya. Lengan Astrid menarik leher Sergio, mengarahkan tangannya ke bawah buah-dadanya.
"Sergio," bisik Astrid. "Tulis itu."
__ADS_1
Sergio menatapnya tajam. "Lo kira gue enggak tau lo enggak pernah suka sama gue?" gumamnya dingin. "Lo kira gue enggak tau lo ngelakuin semua ini cuma buat pelampiasan?"
"...."
"Astrid Young, anak kesayangan karena satu-satunya sampe dia dijodohin sama anak bungsu sahabat orang tuanya, yang ganteng, masa depan terjamin dan jelas bikin siapa pun iri."
Sergio mendorong Astrid berbaring tapi bukan menolaknya, melainkan bersiap untuk menulis apa yang dia mintakan tadi.
"Siapa yang bakal percaya kalo cewek sesempurna lo justru iri sama anak gundik," ejek Sergio saat tangannya membersihkan kulit yang akan ditulisi tinta permanen. "Terobsesi sama anak gundik yang walaupun anak gundik, dia punya bokap yang bakal ngelakuin apa pun buat anaknya. Nikah buat anaknya, putus buat anaknya, apa pun buat anaknya. Beda sama lo, seakan-akan punya segalanya padahal percaya orang tua lo sayang sama lo aja enggak."
Astrid mengeraskan ekspresi. "Semenyedihkan cowok yang lari karena enggak terima kenyataan dia kalah sama kakaknya yang enggak perlu berjuang," balas dia pedas.
Tapi Sergio tidak peduli.
Justru katanya, "Lo mau sama gue sampe segininya itu karena gue sayang sama Kalista. Lo seenggaknya mau buktiin ke diri lo sendiri kalo Kalista enggak selalu dapet cinta dari orang lain."
Sergio mulai menyalakan alatnya tapi sebelum itu tersenyum pada Astrid. "Oke kalo lo mau nikahin gue. Kita nikah. Tapi jangan pikir cuma karena itu perasaan gue ke elo bakal berubah."
*
Sekarang karena Kalista sudah menyelesaikan persoalan ancaman foto, ia harus menemukan Sergio yang kabur entah ke mana.
Cowok itu tidak menjawab panggilan Kalista, tidak membaca teks yang ia kirim bahkan.
Itu membuat Kalista uring-uringan.
"Bisa aku bertanya satu hal padamu, Nona?" Dante mengekori langkah Kalista memasuki kantor yang seketika membuat mereka jadi pusat perhatian.
Ya, hari ini Kalista boleh memakai pakaian mahal lagi, sepatu hak tinggi dan berdandan cantik asalkan Dante mengikutinya sebagai pengawas.
"Apa, Daddy?"
"Hei, masalah itu sudah selesai dibicarakan!" protes Dante seketika. Kemarin dia dan Rahadyan berdebat panjang sampai akhirnya Kalista setuju tidak memanggil Dante dengan sebutan Om atau Daddy.
"Aku enggak manggil depan Papa," jawab Kalista tersenyum, "tapi kalo enggak ada Papa enggak masalah, kan?"
"Nona, aku benar-benarโ"
"Daddy mau aku laporin ke Lissa enggak ngerjain tugas sebagai babu? Kalo enggak mau, enggak usah banyak omong."
*
Dukung karya author dengan like๐, vote dan komen, yah๐๐๐
__ADS_1