
Kalista mendadak gatal oleh rasa penasaran. Seganteng apa sih sampai Kak Cassie bahkan menggeliat begini?
Oke, Kalista harus fokus memperhatikannya. Harus benar-benar fokus memerhatikan. Apalagi ternyata perempuan-perempuan di sekitar mereka, mau yang menikah tidak menikah semuanya bersemangat menanti si Kaisar itu. Bahkan seakan tidak ada lagi di dunia yang tampan kecuali si Kaisar.
Nama Julio, Sergio, Rahadyan dan siapa pun yang ganteng setelah itu tidak disebutkan. Cuma Kaisar, Kaisar dan Kaisar.
Kapal pesiar sudah meninggalkan pelabuhan dan malam pun mulai pekat. Julio diam-diam pergi mendekati Kalista saat semua orang sibuk dengan pembukaan acara.
"Hello there." Julio merangkul pinggang Kalista sekilas. "Kamu cantik banget, Sayang."
Kalista cengengesan. "Kak Julio juga ganteng banget."
Cassandra menatap mereka usil. "Awas loh ketahuan Bang Dyan."
Mereka mengintip ke tempat Rahadyan duduk, beruntungnya tengah membelakangi posisi mereka. Tak membuang kesempatan, Julio langsung membungkuk, mencium pipi Kalista.
"Mau ke kamar aku dulu?" bisiknya manis.
Kalista terkikik geli oleh napas Julio di telinganya. "Nanti dulu."
"Nunggu Sergio tuker cincin?"
"Enggak. Nunggu Narendra."
Julio kontan mendelik. "Kamu nunggu apa?"
"Kaisar. Katanya dia mau dateng. Aku udah kepo berat jadi pokoknya mesti liat dia!"
Bersamaan dengan hal itu, suara helikopter mendadak terdengar. Suara bising langsung menyebar ke mana-mana melihat helikopter itu berputar mengelilingi kapal sebelum mendarat di helipad.
Kalista meninggalkan sisi Julio untuk mengikuti Cassandra, menunggu kedatangan sang pangeran yang katanya begitu mempesona.
Saat ekspresi Rahadyan di sana menjadi sekecut jeruk nipis dan Julio terperangah diabaikan, Kalista menutup mulutnya dengan tangan.
Oh my God.
Seorang dewa baru saja turun dari kayangan.
__ADS_1
"Holy shiit!" umpat Kalista cengo. "Shiit, shiit, shiit. You have got to be kidding me!"
Kalista bengong melihat pria tinggi itu melintasi mereka seolah dia tidak terusik sedikitpun dengan tatapan semua orang. Langkahnya sangat percaya diri, pakaiannya terlihat mencolok dan berbeda sendiri dengan anting berlian biru di salah satu telinganya.
Ekspresi Kalista benar-benar cuma 😳 melihat pria itu.
In the name of Shakespeare, dia benar-benar sebuah masterpiece. Benarkah manusia boleh diciptakan setampan itu?
"Kalista." Cassandar mengguncang lengan Kalista gemas. "Ganteng banget, pliiiiis. Istrinya kenapa enggak seratus sih?! Mau juga!"
"Itu serius manusia?" gumam Kalista, masih cengo. "Emang boleh yah? Boleh seganteng itu?"
"Makanya aku bilang ganteng banget!" pekik Cassandra blingsatan. "Duh, wangi banget! Wanginya kecium sampe sini, ih!"
Kalista mengusap mulutnya buru-buru, takut kalau ia ngeces saking yummy-nya pria barusan. Serius itu tidak buka lowongan sugar baby? Kayaknya Kalista dan semua wanita di kapal ini rela membuang harga diri demi dia.
Oke, sekarang dengan amat sangat lapang dada dan penuh keikhlasan, Kalista mengakui Rahadyan memang pantas kalah. Manusia biasa tidak bisa melawan dewa.
Sori, Papa, tapi yang itu udah beda level. Kalo Bu Direktur maunya yang itu, ya ... ya mau gimana lagi. Papa mundur aja.
"F-uck." Kalista menggeleng-gelengkan kepalanya yang kosong melompong. Satu-satunya isi kepala Kalista sekarang adalah pemujaan pada ketampanan Kaisar Erebus Narendra itu. "Mutilasi aku, Om. Belah aku, Om, belah. Rebus aku pun enggak pa-pa, Om."
"Dia udah punya anak lima," tekan Julio sambil melotot. "Istrinya enam and in the name of God, Kalista, dia hampir seumuran Om Rahadyan!"
"Ohya?" Kalista terbelalak kaget, tapi kemudian bergeser mengintip Kaisar yang kini duduk di kursi spesial, bicara dengan tamu-tamu spesial. "Ganteng enggak pandang umur, Kak."
"I know, right?" balas Cassandra yang juga lupa diri dia istri orang. "Bayangin jadi istrinya yang tidur sama dia tiap malem! Gosh! Aaaaarrrrhhhhhggggg, Kalista! Aku mau gila sekarang!"
"Ih, Om." Kalista geleng-geleng tak sanggup. "Plis, ganteng banget. Aduh, Om, duh, hatiku mleyot."
Kalista menggigit kukunya sendiri untuk menahan panas akibat pesona Kaisar. Duh, Bu Direktur ternyata punya selera sangat juara. Tahu begini Kalista dari dulu minta Bu Winnie mengenalkannya dengan orang ganteng.
"Oke, that's enough." Julio tiba-tiba menarik tangan Kalista pergi, sekalipun Kalista memberontak agar bisa terus melihat Kaisar.
Julio menyeretnya masuk ke dalam kapal, buru-buru melintasi dek menuju kamarnya berada.
Dengan kasar Julio membuka pintu, mendorong Kalista masuk dan memastikan pintunya terkunci.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu muji cowok lain depan aku! Kamu bilang aku yang paling ganteng!"
Kalista meringis. "Sebelum ngeliat Kaisar, Kak."
"Kalista!"
"Tapi dia tuh ganteng banget, Kak, demi Tuhan! Gantengnya tuh ganteng banget! Kebangetan dia, Kak! Ya ampun!"
Kalista blingsatan cuma dengan membayangkan. Bahkan menjelaskan level ketampanannya itu sudah sulit. Mustahil dijabarkan oleh manusia sih itu!
"Bisa-bisanya yang kayak gitu enggak difoto! Aku mesti ke sana ngambil seratus foto diem-diem! Aku tuh bisa makan mengkudu tanpa kedip kalo sambil liatin mukanya dia!"
"So you're in love with him?" Julio mendorongnya ke kasur, menindih Kalista yang masih setengah mabuk akibat Kaisar. "You're in love with him and you're not gonna love me anymore?"
"...." Kalista macam ikan yang mangap-mangap kebingungan.
Oke, ini pertanyaan sulit sekarang karena ... YA TUHAN, KENAPA KAISAR BEGITU TAMPAN?! MAMAKNYA NGIDAM APA SAAT MENGANDUNG DIA?!
"Ehem." Kalista memalingkan wajah. "Lima menit, Kak. Plis. Lima menit."
Lima detik setelah itu Julio justru menunduk, menjemput bibir Kalista. Dari semua ciuman yang pernah Julio berikan, ini adalah yang paling menuntut dan paling kasar juga paling menggoda.
Kalista masih dalam kondisi setengah sadar, tapi instingnya meminta ia membalas ciuman Julio sama agresifnya.
Julio yang luar biasa marah akan pemujaan Kalista pada Kaisar semakin menarik gadis itu. Jasnya terbuang begitu saja ke lantai, disusul dasinya. Julio pun menarik lepas hiasan rambut Kalista, tak peduli jika menata itu butuh lebih dari setengah jam.
Tangannya bernarik lepas ritsleting di punggung Kalista, menyusup masuk dan meremas kulit punggungnya yang lembut.
Suara musik dan keributan di pesta membuat suara erangan Kalista tidak berarti apa-apa. Pikiran Kalista mau tak mau teralihkan. Napasnya memburu berat seiring dari intens sentuhan Julio. Pandangannya mengabur saat tangannya sibuk meremas pundak Julio yang menenggelamkan diri di bawah sana.
Ketika semuanya lepas, Kalista menggigil dalam dekapan pria itu. Tersenyum lemah merespons kecupan manis di bibirnya.
"You love me or you love him?"
Kalista memeluk punggung Julio dan tertawa lelah. Ia tak mungkin bilang faktanya Kaisar lebih tampan, tapi ya Kalista menaruh hatinya pada Julio.
"I love you, Kak."
__ADS_1
Julio tersenyum puas. "Love you more."
*