
Sergio mengerutkan kening karena Kalista mendadak pucat. "What is it?" tanyanya seketika.
Kalista buru-buru mundur, memastikan ponsel Astrid mati agar Sergio tidak bisa melihatnya.
Sialan! Bagaimana bisa foto Kalista berciuman dengan Julio di pesta kemarin bisa ada di tangan Astrid?! Dia kan tidak ada di sana!
Oke, dia pasti punya teman di sana tapi AKHHHH!
"Sergio, lo keluar dulu." Kalista harus menyelesaikan ini sendiri.
Tapi tentu saja Sergio tidak terima diusir dari ruangannya. Apalagi membiarkan Astrid menindas Kalista.
"Sergio, gue serius. Ini urusan gue sama Astrid jadi lo keluar."
"Kalista—"
"SERGIO!"
Astrid memasang ekspresi seolah-olah dia takut pada bentakan Kalista. Namun jelas dia tersenyum melihat Sergio dengan patuh keluar, menahan rasa penasarannya.
Kursi Sergio seketika menjadi kursi tempat Astrid duduk. Sementara itu, Kalista mengunci pintu kaca itu, kemudian mendekati Astrid.
"Lo mau apa?"
"Pinter juga, Anak Pela-cur," kata perempuan itu sambil tertawa. "Lo pasti enggak keberatan Sergio tau, kan? Tapi Kak Julio beda. Kalo Sergio tau, lo bisa jadi perusak hubungan saudara orang."
Kalista melotot dengan tangan terkepal kuat.
"Wow, Kalista, bakat lo jadi perempuan murahan emang dari dulu enggak bisa diremehin. Nyokap lo pasti bangga."
"Stop nyinggung nyokap gue! Omongin aja langsung, anjing!"
"Oke, fine. First of all jangan teriak apalagi ngomong kasar ke gue. Lo enggak di tingkat berhak buat itu, Sayang."
"Lo—"
"Lo kira gue becanda?"
Mulut Kalista seketika diam. Astrid benar. Kalista tidak peduli Sergio sakit hati karena ia menyukai orang lain, tapi Julio jelas berbeda.
Dia benar-benar akan terlihat seperti badjingan di mata adiknya kalau sampai Sergio tahu. Suatu saat, jika hubungan ini berlanjut, Kalista akan memberitahu Sergio. Tapi bukan sekarang.
"Fine." Kalista mengembalikan ponsel Astrid. "Gue tau lo enggak bakal ngapus kalo gue minta, then what's the deal?"
Setidaknya syarat agar dia menyembunyikan itu, katakan saja langsung.
"Suruh Sergio ngelamar gue."
"WHAT?!"
"Ugghh." Astrid memegang kupingnya seolah-olah dia jijik pada suara Kalista. "Gue tau lo anak pel4cur tapi please deh enggak usah teriak-teriak kayak orang gila. Well, lo emang gila, sih. Not surprised again."
__ADS_1
Bacot! Kalista mau membalas begitu, tapi posisinya tidak menguntungkan.
"Lo nyuruh gue nyuruh Sergio ngelamar lo? Serius? Lo enggak bisa dapetin Sergio sendiri makanya lo pake cara layak gini?"
Astrid malah tertawa. "Orang yang ngadu ke Sergio karena digosipin ternyata bisa ngomong gitu juga. Menang ya menang, kan? Curang kek, nepotisme kek, licik kek, itu enggak penting."
Cih.
"Of course gue enggak nyuruh lo ngomong 'Sergio, lamar Astrid buruan'. Lo mesti jadi cupid. Aw, isn't that cute?"
Ugh, dia sangat menyebalkan!
"Lo sama Kak Julio, buat kalian berdua."
Astrid menautkan tangan di atas perutnya, menatap Kalista seolah-olah dia adalah bos. "Gue enggak bakal nyebarin foto itu kalo lo berdua bantuin gue. Adil, kan? Oh, dan tenang aja, foto lo sama Sergio tadi juga enggak bakal gue liatin ke Kak Julio."
"Lo kira Kak Julio bakal setuju? Kak Julio malah bakal ngamuk sama lo. Kak Julio tuh—"
"Sori, gue kurang peduli sama yang bukan urusan gue," potong Astrid cuek.
Astrid mengibas-ngibaskan tangan, mengusir. "Balik ke tempat lo, suruh Sergio masuk. Lima menit dia enggak masuk, seenggaknya semua orang di lantai satu gue kasih foto kalian. Tapi tenang aja, gue bakal suruh mereka diem kok. Enggak bocor."
Kalista benar-benar mau mencekiknya. Tapi ia tahu tidak bisa. Kalista berbalik marah, membuka pintu itu dan langsung dihadapkan pada Sergio.
Dia tidak mendengar karena ruangan untuknya dan Julio kedap suara.
"What did she say?" tanya Sergio khawatir. "Lo enggak pa-pa? Dia nyakitin lo lagi?"
Sergio tercengang. Tapi Kalista tidak memberinya kesempatan membalas, langsung mendorong Sergio masuk ke ruangan yang seketika menjadi buram itu.
Terserahlah!
*
Sergio memastikan pintu ruangannya terkunci sebelum ia datang mendekati Astrid.
"Lo ngomong apa lagi sama Kalista? Ngatain dia anak gundik lagi?"
"Dia emang anak gundik jadi itu bukan ngatain," balas Astrid, mengamati wajah Sergio baik-baik. Lantas, perempuan itu tersenyum. "Kalian enggak selingkuh. Bibir kamu bersih."
"Enggak usah kepedean. Lipstik Kalista itu transfer-proof."
Astrid tersenyum. "Dia pake lipgloss, bukan lipstik."
Ugh!
"Whatever, Astrid." Sergio meletakkan tangannya di lengan kursi perempuan itu duduk, melotot padanya sebagai bentuk intimidasi. "Lo ngancem Kalista pake apa? Gue tau lo nunjukin sesuatu tadi."
"None of your business, Baby."
"Urusan gue kalo itu soal Kalista!"
__ADS_1
"Ouch." Astrid membuat suara seolah terluka tapi dengan bibir mengejek. "Ngejar sesuatu yang enggak mau balik badan itu emang nantang, sih. Kayak aku ke kamu."
"Gue nanya lo ngancem Kalista pake apa?!"
Astrid menepis tangan Sergio untuk beranjak. "Kamu enggak mikir aku bakal kasih tau kamu biar kamu bantuin dia, kan? Lagian, aku enggak mau kamu sakit hati, Sayang."
"Cut that bullshit and just tell me what you did!"
"I didn't do wrong, at least." Astrid melipat tangan. "Ayok. Temenin aku belanja."
"Lo kira—"
"Kamu mau aku ngancem cewek kesayangan kamu lagi?"
Sergio hanya bisa menahan semuanya dalam urat-urat yang siap meledak, karena pada akhirnya ia patuh. Astrid selalu menang. Selalu.
Karena itu sampai saat ini mereka belum putus.
*
"Sergio mana?" tanya Julio ketika melihat sekilas ruangan adiknya yang terbuka.
"Tadi Mbak Astrid dateng terus mereka pergi berdua, Pak."
Nama itu seketika membuat Julio paham ada masalah lagi. Tangannya mendorong pintu ruangan terbuka sambil berpaling pada Megan. "Kalo ada yang nyari saya, bilang saya enggak ada."
"Baik, Pak."
"Oh, sama," Julio mengeluarkan sejumlah uang di sakunya, "minta orang beliin sandwich. Isi buah—saya lupa namanya."
"Baik, Pak."
Megan pergi dan Julio masuk ke ruangannya. Secara bersamaan Kalista beranjak, mendekati Julio.
"Kak Julio."
"Wassup?" sapa Julio ringan. Langsung meletakkan tangannya di pinggang Kalista, mencuri satu kecupan kecil di bibirnya. "Kangen aku?"
Kalista sempat terpaku pada ketampanan Julio juga sikap manisnya. Tapi kemudian Kalista sadar ini bukan waktunya untuk itu.
Ia gelisah sejak tadi memikirkan Julio.
"Kak Julio, Astrid—"
"Wait." Julio menarik kursinya, duduk di sana sebelum dia menarik Kalista duduk di pangkuannya.
Lagi-lagi Kalista terpaku. Rasanya ia butuh waktu terbiasa dengan perubahan sikap Julio.
Walau Kalista menikmatinya, hehe.
*
__ADS_1