
Kalista merasa bersalah karena tidak mengerti Sergio, bukan karena ia mencium Julio atau apa pun. Itu perasaan Kalista kan pada Julio? Tapi, ia juga merasa sudah terlalu mementingkan diri sendiri karena tidak memedulikan Sergio.
"Terus, kamu mau gimana?" tanya Bu Winnie, seperti menunggu solusi yang dipikirkan Kalista sendiri.
Beliau tahu jika Kalista sudah selesai mengoceh-ngoceh tentang segalanya, Kalista punya solusi sendiri dan tidak butuh bantuan. Kalista cuma mau didengarkan saja.
"Aku bakal ngelawan Astrid." Kalista melepaskan pelukan itu, menatap mata Bu Winnie penuh keyakinan. "Aku udah bayar semiliar ke Narendra. Aku pasti bakal bales dia karena ngancem aku."
"Bales dengan cara?"
"Nunjukin kalo aku bukan orang yang bebas dia ancem."
Bu Winnie tersenyum. "Dante itu besar di Narendra jadi kamu bisa percaya dia bakal bantuin kamu sesempurna mungkin. Tapi, Kalista, ini nasehat dari Ibu. Sekalipun kamu mau bales Astrid kamu enggak boleh ngerasa berhak ngancurin hidup siapa-siapa. Bales sesuai sama perbuatan dia aja. Enggak boleh lebih."
Kalista mengangguk patuh, sekali lagi memeluk Bu Winnie.
Kalista berjanji tidak akan melakukan hal bodoh dan kejam. Ia akan melakukan apa yang diperlukan saja.
Tapi pertama Kalista mesti mencari bukti yang cocok menekan Astrid, baru setelah itu minta maaf pada Sergio. Sepertinya satu-satunya permintaan maaf yang bisa Kalista berikan pada sahabatnya itu adalah memisahkan dia dari perempuan yang dia benci.
"Ngomong-ngomong, kamu serius mau berenti dari kantor? Yakin mau ninggalin Julio?"
Kalista mengerjap, sebelum mendadak dia mewek.
"Huaaaaaaa, maksudnya enggak gitu! Aku cuma emosi! Soalnya Kak Julio sih egois banget!"
Bu Winnie mengangkat bahu, sok acuh tak acuh. "Yaudahlah tinggalin aja. Kan gampang nyari yang lain. Calon suami kamu banyak, loh."
"Enggak mau! Maunya Kak Julio!"
"Loh, kamu kan yang mutusin?"
"Itu refleks, Ibuuuuuu!"
Setelah itu Kalista malah kelabakan, takut jika Julio menganggapnya perempuan menyebalkan yang tidak tahu bersyukur sudah diterima baik-baik.
*
Kalista keluar dari ruangan Bu Winnie ketika jam makan siang sudah selesai. Tentu saja, Kalista makan dengan beliau berdua. Saat Kalista keluar, Dante sedang sibuk mengobrol dengan sekumpulan perempuan cantik dan tertawa-tawa disuapi roti.
"Woi!"
Pria itu berpaling, langsung mengucapkan perpisahan dengan para gadis itu untuk menghampiri Kalista.
"Bukankah panggilanmu barusan itu agak kasar, Nona?"
Kalista berdecak. "Playboy."
__ADS_1
"Haha, lucu sekali kamu cemburu. Tenang saja, aku akan mengutamakanmu. Lihat," ucap dia menunjukkan ponselnya di mana nomor Kalista diberi nama 'Princess Nomor Satu', "aku memahami batas."
Setidaknya Kalista tahu bahwa ia tidak akan jatuh cinta pada pengawalnya lagi sekarang. Dia terlalu konyol buat Kalista jatuh cinta.
Gadis itu berbalik, berjalan pergi duluan.
Kecemasan Kalista sangat terkontrol setelah bertemu Bu Winnie. Ia bahkan bisa melihat sekitaran dan tahu tidak ada yang bicara tentang dirinya adalah anak gundik. Mereka melihat karena Dante mengikutinya.
"Bukannya pengawal Narendra tuh enggak pegang HP?"
"Itu Agas, bukan aku." Dante sibuk melambai-lambai pada semua mata perempuan yang melihatnya. "Dia pengawal Nona Lissa jadi memang tidak boleh. Aku berbeda."
"Lo levelnya lebih rendah, gitu?"
"Bisa dibilang begitu." Dante masih sibuk tebar pesona.
Kalista menarik kupingnya hingga Dante spontan menjerit. Tak peduli akan hal itu, Kalista buru-buru pergi sambil terus menarik dia.
"Hei, menyakitiku bukan termasuk hakmu sebagai Nona Sementara!"
"Berisik!" Kalista melotot. "Buruan anterin gue pulang. Gue mau mandi."
"Bersamaku?"
Kalista menyikut rusuknya.
*
*
*
Biasalah, perempuan.
Bedanya, Kalista ditemani pengganggu.
"Kamu benar-benar memperlakukanku tanpa rasa hormat." Dante menggerutu begitu sambil tangannya sibuk menghidangkan makanan di meja makan. "Bagaimana bisa orang sepertiku malah memasak untuk makan malam orang lain? Tidak masuk akal!"
Kalista menyesap jus jeruknya santai. "Papa enggak suka pake piring putih. Piring Papa di rak paling atas."
"Kamu melihatku sebagai apa sebenarnya?!"
"Pembantu," jawab Kalista yakin.
"Tapi aku di sini untuk—"
Protesan Dante tak selesai sebab Rahadyan lebih dulu datang. Jelas saja, dia histeris melihat Dante.
__ADS_1
"KALISTA! KAMU BAWA COWOK KE RUMAH?!"
"Dia adeknya Bu Direktur."
"PAPA ENGGAK PEDULI DIA—SIAPA?!" Rahadyan langsung cengo melihat Dante.
Pria itu buru-buru mendekati Kalista, berlutut di dekat sofa anaknya sedang berbaring santai. "Siapa kamu bilang? Adeknya siapa?" bisik dia gugup.
"Bu Direktur Winnie," balas Kalista berbisik. "Aku hubungin Papa kan tadi mau ketemu Bu Direktur? Oh, maksudnya Bu Wakil Rektor. Terus aku dikenalin sama adeknya. Katanya dia mau jadi supir, bakal jagain aku."
"Haha." Rahadyan tertawa paksa, menengok ke arah Dante lalu pada Kalista. "Kalista, kamu enggak boleh—"
"Aku sukanya Kak Julio, bukan dia. Lagian, dia slengean. Aku sukanya cowok cool."
"Ohya? Good then." Rahadyan menghela napas lega sebelum dia beranjak. Pria itu ke dapur, mendekati Dante dengan ekspresi canggung yang jarang dia pasang. "Kamu adeknya Winnie?"
"Ya, lalu?" Dante membalas dingin, berbeda dari kesan dia pada Kalista. "Ah, kamu yang menyukai kakakku tapi ditolak berulang kali? Salam kenal. Aku tidak merestui kalian."
Kalista langsung mengambil bantal dan melemparnya pada Dante. "MAU MATI YAH LO? MINTA MAAF SAMA PAPA!"
"Hei! Ini masalah pribadi!"
"BODO AMAT! Lagian Bu Direktur bilang kalian tuh enggak deket! Lo juga sering ngatain Bu Direktur perawan tua! Katanya lo sering ngelecehin Bu Direktur!"
Dante langsung angkat tangan. "Astaga, aku benar-benar tidak diperlakukan selayaknya di sini."
Saat itu, Rahadyan masih cengo. Tapi dalam hatinya Rahadyan merasakan firasat bahwa kedatangan Dante ini akan menambah beban sakit kepalanya sebagai seorang bapak dan sebagai pria yang jatuh cinta tapi tertolak.
*
*
*
Walaupun Rahadyan rada curiga dengan penghuni baru apartemennya itu, ia mau tak mau percaya sebab Winnie menjaminnya. Dia mengaku bahwa Dante memang adiknya dan dia yang meminta Dante menjaga Kalista dulu, sebab dia libur dari pekerjaannya di Narendra.
Rahadyan pikir dia penjaga gratis hasil nepotisme, jadi setidaknya Rahadyan percaya. Kunci mobil Kalista langsung kembali ke tangan gadis itu lagi, sebab sekarang dia dijaga oleh Dante.
Tapi hari ini Kalista tidak ke kantor.
"Aku ngeliburin diri," kata Kalista. "Capek ke kantor mulu."
Rahadyan sangat bangga saat anaknya mengatakan itu. Kalau bisa dia libur selamanya saja.
"Terus kamu mau ke mana hari ini? Di rumah aja? Mau ikut Papa ke kantor?"
"Enggak. Aku mau belanja."
__ADS_1
Rahadyan mencium kening Kalista. "Telfon Papa kalo butuh apa-apa," ucapnya lembut sebelum meninggalkan Kalista.
*