
Niat Bu Winnie tadi mengecek keadaan Kalista, jelas itu tidak normal bagi dia menelepon seseorang untuk bertanya tentang kenapa ibunya tidak membuang dia. Tapi Kalista benar-benar terlihat bahagia hingga Bu Winnie ragu mengungkit soal ibunya.
Pada akhirnya Bu Winnie pamit tanpa pernah membahas soal telepon tadi.
"Hei, Winy, mampirlah ke klub malam untuk melakukan sesuatu pada wajah keriput itu," celetuk Dante kurang ajar.
"Asmara dan nafsu bisa membuat kesedihan berubah jadi kebahagiaan," lanjutnya. "Bukan begitu, Nona Kalista?"
Bu Winnie yang sudah terbiasa pada tingkah konyol adiknya itu cuma acuh tak acuh, membiarkan Kalista pergi mencekik Dante. Wanita itu memasang kembali sepatu haknya, berencana keluar sendiri saat Rahadyan tiba-tiba datang.
"Biar saya anter," tawar dia sigap.
"Enggak usah. Saya naik mobil sendiri jadi—"
"Ke bawah."
Rahadyan berdehem. Lalu karena tak mau ketahuan punya maksud apa-apa, Rahadyan mengucapkan hal konyol.
"Saya nih gentlemen, Bu, jadi nganterin perempuan ke mobilnya itu harus. Mari, Bu."
Bu Winnie menatap Rahadyan dengan pandangan yang sama seperti dia menatap Dante.
Kalista yang sedang duduk di punggung Dante diam-diam mengintip sampai pintu tertutup.
"Gue tuh enggak ngerti deh yah." Kalista melipat tangan tanpa berniat menyingkirkan dari punggung Dante. Menduduki punggung dia ternyata enak juga. Seperti sofa.
Lalu Kalista mengoceh, "Kok Bu Direktur tuh kaku banget, sih? Maksud gue tuh kayak, udah jelas banget Papa suka sama dia tapi kok kayaknya Bu Direktur enggak tau, sih? Emangnya kalo jadi wanita karier tuh berarti otak lo terblokir gitu dari romance?"
"Mungkin saja?" Dante membiarkan saja Kalista duduk di punggungnya. "Tapi menurutku wanita seperti Winy setidaknya menyimpan koleksi vibrator."
Kalista langsung menampar kepala Dante. "Jangan ngomong sembarangan!"
"Hei, jangan mengatakan seolah itu hinaan. Itu hal normal, mengerti? Memang apa yang salah dari wanita memakai vibrator?"
"Iyuh!" Kalista lompat dari Dante, jauh-jauh darinya.
Dari seberang sana—ya, Julio masih terhubung dengan Kalista walau mereka tak saling bicara dari tadi—Julio tiba-tiba merespons, "Mungkin Bu Winnie enggak suka sama Om Rahadyan?"
"Terus Bu Direktur punya pacar lain, dong? Atau jangan-jangan punya tunangan diem-diem?"
Dante memutar matanya. "Kamu berpikir Winy wanita yang bisa dipaksa bertunangan? Percayalah, ibuku sudah menangis darah ingin dia menikah tapi dia bersikeras."
Dante memperbaiki posisi duduknya lagi. Kemudian lanjut berkata, "Lagipula menikahi Winy itu sulit karena dia bagian dari Narendra, meskipun hanya cabang luar."
"Kalo gitu gimana kalo kita jodohin mereka aja?"
"Oh, lihatlah gadis kecil yang baru merasakan indahnya cinta, sekarang dia bertingkah seperti peri cinta." Dante mencibir. "Kamu ingin menjodohkan Winy? Pertama buat dia dan Rahadyan berciuman. Aku menjamin padamu pernikahan akan terjadi jika mereka berciuman."
__ADS_1
Sementara Kalista dan Dante berdebat—dan Julio mendengarnya—di bawah sana Rahadyan mendampingi Bu Winnie sampai ke parkiran.
Awalnya, itu hanya tentang berjalan bersisian menuju parkiran bawah tanah. Tapi tiba-tiba Bu Winnie terhuyung, nyaris saja tersungkur.
"Astaga," umpat wanita itu lirih.
Rahadyan yang spontan menangkapnya pun memegang tubuh Bu Winnie hati-hati. "You're okay?" tanya Rahadyan lembut.
"No." Bu Winnie menggeleng. Berpegang pada Rahadyan saat ia berusaha menyeimbangkan dirinya. "Kamu tau sendiri saya baru pindah kerja jadi yah, penyesuaian yang enggak mudah."
"Kalau gitu harusnya tadi kamu nolak aja, biar langsung istirahat."
"Saya enggak mau ngecewain Kalista," jawab Bu Winnie lemas. "Besides saya kira ada apa-apa sama dia karena mendadak berenti kerja."
Juga soal telfon tadi tapi Bu Winnie putuskan tidak bicara karena Rahadyan bisa heboh.
"Kamu enggak harus kayak gini buat Kalista," timpal Rahadyan.
Rahadyan memerhatikan kelelahan di wajah Bu Winnie sampai lupa melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu.
"Maksud saya, yah, bagus kamu peduli sama anak saya tapi enggak harus ngorbanin diri kamu sendiri."
"Saya ngelakuin karena saya suka."
"Eh?"
Rahadyan menahan napas.
"—sama Kalista. Mungkin lucu buat kamu tapi buat saya dia sahabat walaupun yah beda generasi." Bu Winnie tertawa kecil. "Anyway lepasin saya."
Rahadyan sedang menahan napas diam-diam. Sialan, barusan ia pikir dia suka pada Rahadyan makanya mau berkorban buat anaknya.
Dengan sedikit tidak rela Rahadyan melepaskan, berusaha bertingkah seolah tidak kecewa.
"Saya kan sahabat kamu juga," kata Rahadyan basa-basi. "Jadi harusnya kamu enggak sungkan."
"Sahabat? Kamu?" Bu Winnie tertawa.
"Emang bukan? Terus kita ... apa?"
"Kamu tau nanyain itu agak konyol, kan?" Bu Winnie kembali berjalan. "Saya pulang dulu."
"Winnie." Entah apa yang merasuki Rahadyan tapi ia mendadak ingin pembicaraan ini selesai.
Kalau ia tak dianggap sahabat, lalu bagi dia Rahadyan itu apa?
*
__ADS_1
Oke, Rahadyan tahu ia ibarat sedang lompat ke jurang yang ia tidak tahu di bawah sana ada sungai dalam, batu-batu runcing atau secara ajaib ada trampolin namun intinya ia tahu ini tidak pasti.
Sekalipun tahu begitu, Rahadyan sudah terlanjur berucap. Dan ia lelah pura-pura tidak peduli.
Rahadyan peduli. Anggapan Bu Winnie padanya, pandangan dia terhadap Rahadyan setelah mereka berinteraksi tiga tahun, bagi dia Rahadyan ini apa kalau bukan sahabat?
Bu Winnie menoleh mau tak mau karena panggilan Rahadyan. "Apa?"
Pertanyaan yang terkesan polos itu membuat Rahadyan jenuh. Pria itu mendekat, berdiri di depan wanita yang kini bersandar pada mobilnya itu.
"Kamu enggak nganggep saya sahabat?" Itu bukan pertanyaan langsung tapi setidaknya menyiratkan sesuatu.
Seharusnya jelas, kan?
"Saya nganggep kamu teman, tapi sahabat itu intens, Rahadyan. Saya rasa kita—"
"So," Rahadyan memotong, "kita bukan sahabat buat kamu?"
".... No." Bu Winnie mengangguk pasti seolah harus menegaskan kalimatnya. "Dan kenapa itu penting?"
Rahadyan merasa ia tak boleh melakukan ini demi dirinya sendiri tapi semua sudah terlanjur. Jika Bu Winnie tak menyadarinya sekarang dia pasti akan menyadarinya nanti.
Jadi persetanlah.
"Can I ask you something?" [Bisa saya nanya?]
"Uhum?"
"Do you ... do you have a crush on ... someone?" [Kamu ... suka sama ... seseorang?]
Bu Winnie nampak tersentak tapi sesuai dugaan Rahadyan seketika itu matanya menunjukkan dia paham. Dia paham maksud pertanyaan Rahadyan. Dia paham ada rasa suka dari pertanyaan itu.
Tapi ....
"Itu agak enggak sopan, bagi saya," jawab dia formal.
Yang juga berarti dia tidak membalas perasaan Rahadyan.
"Boleh saya tau siapa, Win?"
"Rahadyan."
"You trust me, right? I just wanna know."
Bu Winnie melipat bibirnya dan terlihat mempertimbangkan sangat baik apakah dia harus memberitahu atau tidak.
Rahadyan menunggu. Walau tahu ia pasti akan sangat terluka jika jawaban itu keluar, Rahadyan menunggu untuk tahu siapa sebenarnya pria di hati Bu Direktur atau Bu Wakil Rektor ini.
__ADS_1
Siapa? Siapa yang merebut posisi Rahadyan secara kurang ajar?