
Julio mendelik ke belakang sebelum menarik pintu kamar Kalista tertutup, terbanting di depan wajah Dante.
Tak menunggu waktu Julio datang ke kasur Kalista, memeluknya erat-erat.
"Hampir aku salah paham," gumam Julio. "Aku kira kamu beneran udah nemu yang baru."
Kalista mewek seperti anak bayi yang bibirnya jatuh ke bawah. "Kok hiks kok Kak Julio hiks di sini?"
"Dateng mastiin kamu enggak sama cowok lain." Julio mencubit kedua pipi Kalista cukup kuat. "Dasar! Kamu nemu rongsokan baru di mana lagi? Itu siapa tadi, hah? Aku tetep butuh penjelasan biarpun udah tau pasti bukan selingkuhan."
Kalista langsung merintih, "Orang gila, huaaaaaa."
Ekspresi wajah Kalista seketika membuat Julio ingin tertawa. Apalagi waktu mendengar Kalista curhat bahwa dia telah disekap oleh orang sinting yang bernama Dante itu.
Kalista mengoceh bahwa Dante sangatlah iri pada hubungan romantis mereka maka dari itu Dante coba menghalangi cinta mereka. Tentu saja itu cuma cerita dilebih-lebihkan sebab nyatanya Dante membantu mereka bertemu, untuk berbaikan.
Di luar sana, Dante menyesap kopinya sambil memandangi orang yang berjejeran di ruang tamu.
"Kalian tahu cerita tentang peri gigi?" tanya Dante pada semua pria beebaju hitam yang membawa bunga dan cokelat itu. "Mereka mengambil gigi anak-anak di malam hari tanpa ketahuan dan meninggalkan hadiah pada anak-anak itu agar kembali tersenyum setelah giginya tercabut."
Mereka semua tidak mengindahkan Dante.
"Aku adalah peri cinta. Tidak perlu berterima kasih padaku."
Dante tersenyum bangga pada dirinya sendiri, sambil mencomot satu cokelat berbentuk hati dari kotak cokelat di tangan pria terdekatnya.
*
Julio benar-benar berpikir bahwa Kalista akan melepaskan tangannya. Mau bagaimana lagi karena semua orang bicara bahwa Kalista sangat mudah pindah hati jika pria yang dilihatnya lebih tampan daripada pujaan hati sebelumnya.
Namun saat mendengar Kalista menangis, Julio tahu dia masih Kalista kecilnya.
"Jangan nangis lagi." Julio menepuk-nepuk punggung Kalista. "Aku punya hadiah buat kamu."
Julio membuka pintu kamar Kalista, mengisyaratkan orang-orangnya masuk untuk membawa bunga dan cokelat pemberian Julio. Tadinya berniat ia jadikan sebagai kejutan sebelum minta maaf agar berdamai, tapi sepertinya sekarang hanya untuk sebagai hadiah saja.
Mereka sudah berdamai.
"Wow." Kalista menerima salah satu buket bunga mawar merah sementara yang lainnya terus dimasukkan, diletakkan di semua sudut kamar berantakan itu.
Cokelat demi cokelat juga terus memenuhi ranjang Kalista sampai tidak ada ruang baginya bergerak.
"Buat aku semuanya, Kak?"
"Enggak, buat tetangga kamu juga." Julio menunduk, mencium bibir Kalista yang tertawa manis. "Besok ke kantor, kan?"
"Um." Kalista mengangguk. Membuka mulutnya saat Julio menyuapkan sebutir cokelat. "Kak Julio beli di Dvs? Itu kesukaan aku, kok tau?"
__ADS_1
Sergio yang bilang dulu, tapi Julio putuskan tidak mengatakan nama adiknya sekarang.
Daripada itu Julio menutup pintu kamar Kalista lagi, kali ini menguncinya. Dilepaskan jas dan dasi yang mengikat lehernya, hendak bergabung di sana jika Kalista tidak buru-buru loncat.
"Aku habis ngegym!" Kalista menyerahkan buket bunganya, terbirit-birit ke kamar mandi. "Mandi dulu sepuluh menit, Kak!"
Julio mengusap wajahnya, mau tak mau jadi tertawa. Memang kecuali saat sedang sedih, anak itu bakal selalu membikinnya senyum-senyum.
Tapi Julio enggan menunggu. Diletakkan buket bunganya ke atas kotak-kotak cokelat, lantas menyusul ke kamar mandi Kalista.
Saat Julio masuk, Kalista menjerit. "KYA!"
Julio mengisyaratkan dia diam. "Ssshh."
"Aku lagi mandi, Kak!"
"Makanya aku masuk." Julio menjawab jujur. Mendorong kaca tempat shower Kalista dan mendekatinya yang masih memakai setelan bekas gym tadi.
"Kak—"
Julio mendekat. "Sshhh." Tangannya terulur menyalahkan shower yang seketika membasahi mereka berdua. "Aku janji enggak maksa kamu," bisiknya. "Cuma ciuman."
Kalista menelan ludah melihat betapa brutal ketampanan Julio yang diguyur oleh air hangat.
Haduh, memang yang ganteng-ganteng rentan mengajak dosa.
Julio tersenyum tanpa dia tahu itu membuatnya kelewat tampan. "Kisses," jawab dia sebelum menjemput apa yang dia inginkan.
Tangan Kalista mengalung di lehernya. Menerima tuntunan ciuman itu sama laparnya seperti Julio. Tubuhnya terangkat ketika kakinya melingkari pinggang Julio. Mendesis samar oleh rasa dingin saat punggungnya dibawa bersandar pada kramik.
"Kakak tau?" bisik Kalista. "Percaya sama cowok yang bilang enggak bakal ngapa-ngapain itu hal paling tolol di dunia."
Julio tertawa. "Dan kamu?"
Kalista menyeka air yang jatuh ke pipi Julio. "Aku enggak percaya."
"Dan?"
"Aku juga mau ngapa-ngapain."
Tawa Julio terlihat seratus kali lipat lebih tampan saat dia membiarkan Kalista melepaskan kemejanya. Tentu saja Kalista tidak melakukan sesuatu sejauh itu, karena ia sudah berjanji pada Rahadyan juga Mama untuk menjaga diri.
Tapi selain itu, segala sesuatu yang Kalista mau lakukan dan ia tahu Julio mau lakukan, mereka lakukan dalam guyuran air hangat shower.
Julio membelai wajah Kalista yang kini berbaring begitu saja di lantai. Punggung Julio menghalangi shower mengenai Kalista, namun airnya berjatuhan dari punggung Julio padanya.
"Kamu bikin aku kecanduan," ucap Julio di wajah manis itu. "Sampe rasanya aku enggak terima kalo kamu suka sama orang lain lagi."
__ADS_1
Kalista tertawa kecil saat air terus berjatuhan ke wajahnya.
"Aku berbela sungkawa sama diri sendiri sekarang, Kalista." Julio membungkuk, mencium bahu Kalista lembut sebelum tertawa miris. "Karena berarti aku mesti ngadepin Om Rahadyan yang enggak waras."
Kalista memeluk punggung Julio lagi, mengajaknya ikut berbaring.
"Rahasiain dari Papa dulu. Aku mau waktunya nanti pas."
"Kapan?"
"Habis baikan sama Sergio."
Julio menarik wajahnya untuk kembali menatap Kalista lekat. "Kamu enggak bakal tiba-tiba suka sama Sergio karena dia perjuangin kamu bertahun-tahun terus—"
"Iyuh!" Kalista mencubit lengan Julio. "Enggak semua friendzone ujungnya nikah!"
"Hoh, jadi kamu tau Sergio kejebak friendzone?"
Kalista mengerucutkan bibir. "Cuma Bu Direktur yang enggak peka soal cowok suka sama dia. Aku sih peka."
Cuma memang tidak ada rasa.
*
"Yakin aku pulang aja?" tanya Julio dengan senyum menggoda yang dia tahu meluluhkan Kalista.
Tapi Kalista berusaha tahan, mendorong Julio buat beranjak dari sofa. "Kakak pulang sana! Buruan!"
Sebentar lagi Rahadyan datang jadi kalau dia melihat Julio, apalagi memakai kaus dan celana Rahadyan yang Kalista pinjamkan gara-gara dia membasahi pakaiannya sendiri, jelas Rahadyan bakal histeris.
"Yakin?"
"Buruan!"
Julio tertawa. Berbalik menolak dorongan itu, kembali memeluk pinggang Kalista. "Yakin?"
Karena kesal dan hampir-hampir terbujuk, Kalista menggigit lengan Julio. Tapi dia malah tertawa, balas menggigit leher Kalista.
"Hei, aku sejak tadi hanya berpura-pura tidak terlihat, mengerti? Bukan benar-benar tidak melihat," tegur Dante yang menyiapkan makan malam.
Julio melirik Dante sebelum dia menunduk, mencium bibir Kalista begitu saja.
"I'll see you tomorrow," bisik Julio sebelum dia melepaskan Kalista sepenuhnya, pergi meninggalkan apartemen itu.
***
Dukung karya author dengan like👍, vote dan komen, yah😊🙏🙏
__ADS_1