
Andara turun dari mobil dengan wajah lelah setelah pulang kerja. Dan saat ini ia baru saja tiba di rumah sekitar pukul 17.30.
Andara mengusap pelipisnya yang sudah bermandikan keringat, sore hari ini terasa panas, gerah dan melelahkan.
Andara berjalan gontai dari halaman rumah menuju pintu utama. Namun belum jauh ia berjalan seseorang memanggil namanya.
" Selamat sore Andara ! " sahut Anwar.
Tanpa memutar badan, Andara menoleh dan tersenyum dengan sangat terpaksa. Tak juga ia menjawab sahutan Anwar barusan, bergegas Andara berjalan lagi kali ini langkahnya lebih cepat dari sebelumnya.
Saat capek seperti ini Andara harus bertemu dengan Anwar, membuat mood Andara makin buruk.
" Andara tunggu ! " Anwar kini berupaya masuk ke halaman rumah Andara, ia membuka gerbang dan menahan langkah Andara dengan memegang lengan Andara.
" Lepas ! " Tak sengaja Andara membentak Anwar dan menepis genggaman Anwar.
" Maaf,, aku gak bermaksud apa-apa. " Anwar dengan wajah merasa bersalah.
Andara menarik napas kasar.
__ADS_1
" Saya cuma mau tanya, suami kamu kemana ya kok gak pernah lihat? " tanya Anwar basa-basi, padahal dia hanya ingin berkomunikasi dengan Andara saja .
" Suami saya kerja, " jawab Andara singkat.
" Maaf ya Pak Anwar, saya capek baru pulang kerja. Kalau tak ada keperluan silahkan bapak pergi dan satu lagi kalau bapak cuma mau nanya soal suami saya gak perlu sampai pegang-pegang tangan saya. Saya gak suka, permisi ! " Andara melengos begitu saja dari hadapan Anwar yang masih mematung menatap kagum kecantikan Andara meski sedang marah-marah seperti tadi.
Bukannya tersinggung dengan perkataan Andara barusan yang seakan mengusir dirinya, Anwar malah makin penasaran ingin menaklukan hati Andara. Wanita yang sulit di taklukan merupakan tantangan baginya yang seorang casanova.
Dengan senyum miring Anwar beranjak dari halaman rumah Andara. Sementara Andara sendiri terus menggerutu dalam hati, kesal dengan sikap Anwar barusan yang makin lama makin tidak sopan.
Andai ada Malvino mungkin Andara akan mengadukan kelakuan Anwar tadi. Sayangnya Malvino baru pulang dua hari kedepan. Tak mungkin jika Andara mengadukan hal ini lewat telepon, dia tak mau mengganggu konsentrasi suaminya saat bekerja.
Andara langsung masuk kamar untuk membersihkan diri. Badan nya terasa lengket setelah seharian bekerja. Perjalanan dari kantor ke rumah pun begitu melelahkan. Tak seperti biasanya, Andara selalu menyempatkan diri untuk ke kamar Sandrina selepas dari kantor. Kali ini ia langsung masuk ke kamar tanpa melihat keadaan Sandrina lebih dulu. Selesai mandi dan istirahat sejenak, baru ia akan ke kamar Sandrina.
Rasa gerah seketika berganti menjadi segar, apalagi saat Andara mencuci rambutnya yang sudah terasa lepek. Seharian di cepol rasanya syaraf di kepala ikut tertarik membuat kepala Andara sedikit berat dan pusing.
Braaaak
Andara terkesiap mendengar suara pintu kamar nya di banting keras. Segera ia matikan kran dan menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki memasuki kamar dan derap langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mandi, dimana saat ini Andara berada.
Untung saja kegiatan mandi nya sudah selesai. Andara meraih handuk dan melilitkan di tubuh nya yang masih basah.
Andara mulai menerka-nerka siapa yang berada di luar sana. Jika Mbok Darmi pasti akan meminta izin dulu saat masuk ke kamarnya, dan tak mungkin juga membanting pintu sekeras itu.
Atau Sandrina? Tidak mungkin, Sandrina pasti akan memanggil nya saat masuk. Lalu siapa jika bukan mereka? Karena di rumah ini sekarang hanya ada Andara, Mbok Darmi dan Sandrina.
Degup jantung Andara makin kencang, keringat kembali menjalar di sekujur tubuhnya padahal baru saja ia selesai mandi tapi ketegangan seakan membuatnya kembali berkeringat.
Perlahan ia mendekati pintu, dan meraih knop pintu tersebut. Takut. Itu yang Andara rasakan.
Dengan ragu ia memutar knop pintu dan membukanya.
Seketika ia dibuat bungkam, tak ada seorang pun di sana. Pintu kamar Andara pun tertutup rapat.
Kembali Andara melangkahkan kaki, setapak demi setapak.
Andara mencoba menenangkan diri dan menganggap suara bantingan pintu tadi hanya salah dengar saja. Atau mungkin berasal dari rumah sebelah. Meski senyatanya itu sangat tidak mungkin terjadi. Pasalnya rumah Andara dan rumah tetangganya berjauhan. Rumah Andara besar dan pekarangan nya luas, jika rumahnya dengan tetangga berdempetan mungkin bisa saja terjadi demikian.
__ADS_1
Tak peduli apapun itu, Andara tetap ingin membangun kewarasannya dan tak mau larut dalam ketakutan. Apalagi saat ini Malvino tak ada di sisinya.
Segera ia berganti pakaian. Setelah rapi, baru Andara turun menuju kamar Sandrina.