KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 22


__ADS_3

Andara jadi teringat dengan sosok pria yang berada di toko boneka yang melayaninya waktu itu.


Sosok dengan wajah pias dan tatapannya yang datar, sekarang Andara tau jawabannya. Kemungkinan dia adalah Purwa, ayah dari Kaliya.


" Bapak tau dimana tempat tinggal mereka? " tanya Andara pada Kosim.


" Desa Rawabangke, tepatnya di pesisian kota. " Kosim pun menunjukan jalan menuju tempat tersebut. Lokasi dimana rumah Kaliya berada.


" Kalau begitu terimakasih pak, maaf sudah mengganggu waktunya. Ini ada sedikit uang untuk bapak, anggap saja sebagai tanda terimakasih saya. " Andara mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkan pada Kosim.


" Tidak usah neng. Kalau sudah tak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi dulu. " Kosim menolak uang pemberian dari Andara.


Secepat kilat ia berdiri dan berlalu begitu saja dari hadapan Andara.


" Pak Kosim, tunggu ! " Andara bergegas membayar pesanan makanannya tadi pada salah satu pelayan yang baru saja mengantar makanan pada salah satu meja. Kemudian berlari keluar menyusul Kosim yang sangat cepat sekali langkahnya. Tanpa ia sadari beberapa orang mengamatinya dengan tatapan aneh.


" Cantik-cantik kok gila ! " gumam salah satu pengunjung warung nasi.


Sementara pelayan warung nasi yang baru saja menerima uang dari Andara hanya terpaku menatap kepergian Andara barusan. Terasa janggal baginya karena sedari tadi Andara terus saja memanggil-manggil nama Kosim, yang diketahui sudah meninggal semenjak tujuh tahun silam. Namun tentu, Andara tak menyadarinya.


Andara mengira jika yang ia ajak berkomunikasi tadi adalah manusia, bukan arwah juru parkir yang bergentayangan di tempat itu.


Andara menengok ke sisi kiri dan kanan, matanya mengedar mencari-cari sosok Kosim yang begitu cepatnya menghilang padahal kalau di lihat dari usianya saja Kosim pasti tak bisa berjalan dengan begitu cepat.


" Kemana Pak Kosim. Aku lupa menanyakan dimana Sinta sekarang. " Andara menepuk jidatnya.


Karena tak kunjung menemukan Kosim, akhirnya ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju desa Rawabangke. Mungkin saja Sinta masih tinggal di sana, batin Andara.


Andara mengikuti petunjuk Kosim, kemana dirinya harus membawa kendaraannya melaju.


Tiba-tiba saja ban mobil Andara bocor hingga kendaraan yang ia bawa sedikit oleng. Terpaksa Andara harus berhenti sejenak untuk memperbaiki ban mobilnya.

__ADS_1


Andara turun di pinggir jalan yang di samping kiri kanannya di tumbuhi hutan pinus. Udara sejuk pegunungan masih dapat di rasakan. Beberapa mobil berlalu lalang di sekitar jalan raya. Andara mulai kebingungan bagaimana dirinya mengganti ban yang bocor dengan ban serep. Sementara waktu terus berjalan. Hingga salah satu pengendara motor berhenti menghampirinya yang sedang kebingungan.


" Kenapa mbak mobilnya mogok ya? " tanya pengendara motor yang di ketahui sebagai ojek tersebut.


" Ban nya pecah pak ! " jawab Andara.


Ojek itu melirik ke arah ban mobil Andara, tanpa turun dari motornya. Seketika netranya tak sengaja menangkap sosok mengerikan di dalam mobil. Hingga ia pun bergidik, membuat Andara keheranan.


" Tambal ban ada di depan sana. Mbak nya tinggal maju sedikit lagi, lurus lalu belok kiri pas ada tugu selamat datang. " Ojek tersebut mengarahkan jalan dengan menggerakan lengannya.


" Oh ya, makasih pak ! " ucap Andara.


" Sama-sama Mbak, permisi. " Ojek itu sesekali melirik kembali ke mobil Andara dengan ekspresi takut terlihat jelas di wajahnya yang mengenakan helm terbuka. Segera ojek itupun berlalu dari hadapan Andara. Padahal sebenarnya ojek itu mau menolong Andara, dia bisa mengganti ban pecah dengan ban serep yang di bawa Andara. Tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat sosok Kaliya yang mengerikan berada di dalam mobil.


" Dari sini lurus lalu belok kiri, oke semoga masih bisa di bawa jalan mobilnya, " ucap Andara yang langsung masuk ke dalam mobil melajukan kembali membelah jalanan raya.


Tak lama ia pun menemukan tukang tambal ban. Andara turun dari mobil.


" Baik mbak, tunggu sebentar ya ! " ucap nya yang masih sibuk membetulkan ban motor pelanggan yang lain.


" Oke. " Andara pun duduk di bangku tak jauh dari sana.


Merasa bosan menunggu Andara pun beranjak sebentar untuk membeli minuman. Matahari sudah mulai berada tepat di atas kepala, namun tak menghalangi rintik hujan kecil turun. Wajar saja di namakan kota hujan, toh saat matahari terang benderang saja, hujan tetap turun menemaninya.


Beberapa orang yang berada di sana pun tak menghiraukan meski hujan cukup membasahi pakaian mereka. Mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan demikian. Sedang Andara lebih memilih masuk ke salah satu warung kecil yang ada di sana. Sambil berteduh dia bisa membeli minum dan menunggu tukang tambal ban menyelesaikan pekerjaannya.


Saat si tukang tambal ban mulai memperbaiki ban mobil Andara. Dia merasa tengkuknya meremang.


Entah kenapa, ia merasa mobil tersebut seperti sedang ada yang menumpangi nya. Padahal jelas-jelas si pemilik mobil tengah menunggu di warung sebrang. Dan dia hanya sendiri. Tapi mobil nya terasa berat saat si tukang tambal mencoba memasangkan dongkrak. Seakan-akan ada seseorang di dalam sana.


Setelah memakan sekitar satu jam akhirnya pekerjaan tukang tambal itupun selesai.

__ADS_1


Andara pun keluar dari warung setelah melihat ban mobilnya berhasil di perbaiki.


" Udah pak? " tanya Andara.


" Udah mbak. "


" Oke makasih pak. Ini uang nya, kembaliannya ambil saja. "


" Aduh makasih ya mbak ! "


" Sama-sama. "


Andara pun masuk melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.


Sementara si penambal ban mengucek mata saat melihat ada seseorang duduk di samping Andara. Padahal tadi ia yakin jika penumpang mobil itu hanya Andara saja. Seketika ia bergidik ngeri membayangkan jika ternyata tadi wanita itu di ikuti makhluk halus.


Saat mobil Andara berjalan cukup jauh meninggalkan bengkelnya. Seseorang menepuk pundak mengejutkannya.


Spontan lengannya bergerak dengan gerakan jurus silat.


" Ah kamu ngagetin saja ! " seru si tukang tambal ban saat mengetahui jika yang menepuknya tadi adalah ojek yang biasa mangkal di sana.


" Barusan perbaiki mobil cewek ya? " tanya ojek itu.


" Iya, kenapa? Giliran cewek aja di tanyain, "


" Bukan gitu. Masalahnya aku sempat lihat hantu di dalam mobilnya tadi. Kan aku yang nunjukin cewek itu biar ganti bannya di sini, "


" Serius? "


Ojek itu mengangguk cepat.

__ADS_1


" Berarti yang aku lihat tadi juga hantu? Pantas saja bulu kuduk ku berdiri, " kata si tukang tambal dengan mengusap tengkuknya.


__ADS_2