
Malvino terkejut saat mendapat pesan dari Andara yang mengatakan bahwa saat ini Sandrina mengalami kecelakaan.
Dia yang baru saja selesai meeting pun segera menghubungi istrinya. Namun sayang nya Andara tak mengangkat panggilan telepon dari Malvino, karena saat yang bersamaan Andara tengah bertemu dengan polisi yang menangani kasus tabrak lari yang di alami oleh Sandrina.
Beruntung si pengendara motor tersebut berhasil di kejar salah satu warga yang tengah berada di lokasi kejadian. Dan pengendara motor itu pun kini sudah berada di kantor kepolisian, bersama beberapa saksi yang juga berada di tempat kejadian kecelakaan.
Andara di minta datang ke kantor polisi untuk mengurus kasus yang menimpa putrinya. Semula Andara berniat pulang ke rumah untuk menyelidiki boneka baru Sandrina yang di duga menjadi penyebab tragedi-tragedi ini terjadi. Tapi Andara harus mengurungkan niatnya sementara karena saat ini ia harus datang ke kantor polisi.
" Maafkan saya Pak Polisi, Bu. Saya tidak sengaja dan saya tidak melihat anak ibu menyebrang. Saat saya melajukan kendaraan, tiba-tiba saja anak ibu ini yang menerobos ke jalan raya dan menabrak body kendaraan saya, hingga akhirnya dia terpental, " jelas pria pengendara motor yang di ketahui bernama Herman.
" Bapak tidak melihat anak lain selain anak saya? " selidik Andara memastikan jika Kaliya bukanlah manusia biasa seperti dirinya.
Herman menggeleng cepat dan menjawab, " tidak bu. "
" Betul Bu, memang saat itu tak ada yang menyebrang jalan. Kecuali Sandrina yang tiba-tiba saja berlari ke jalan raya, " kata salah satu saksi.
" Dan posisinya si pengendara motor sedang melaju dengan kecepatan normal. Tidak ugal-ugalan, " lanjut saksi yang lainnya.
" Jadi bagaimana bu? Apa ibu akan meneruskan kasus ini? " tanya Pak Polisi.
Andara terdiam sejenak, yang ia pikirkan saat ini bukanlah kasus tersebut melainkan anak yang di anggap teman oleh Sandrina selama ini. Perkataan si pengendara motor dan saksi tadi cukup menjelaskan jika tak ada anak lain selain Sandrina. Tak seperti yang Sandrina bilang jika ia tengah menyelamatkan teman nya yang bernama Kaliya. Itu berarti Kaliya adalah makhluk tak kasat mata.
" Hentikan saja kasus ini pak. Saya tidak akan menuntut apa-apa dari Pak Herman. Maaf saya harus segera pergi dari sini, permisi. " Andara bangkit dari duduk dan berjalan keluar.
" Makasih banyak Bu, " teriak Herman lega karena dirinya tak harus mendekam di sel tahanan.
Polisi dan beberapa orang yang berada di ruangan itu mengernyit heran melihat sikap Andara yang membebaskan Herman begitu saja. Terkecuali Herman yang merasa senang dengan keputusan Andara barusan.
Hari sudah hampir sore, Andara tak bisa berlama-lama dia harus segera ke rumah untuk menyelidiki semua keganjilan ini.
__ADS_1
Memakan waktu sekitar sepuluh menit saja, Andara sudah sampai di rumahnya. Keadaan masih gelap, lampu rumah belum di nyalakan mengingat Mbok Darmi sedang berada di Rumah Sakit menemani Sandrina.
Andara segera membuka kunci rumah kemudian masuk ke dalam dan menyalakan lampu ruangan yang di laluinya. Saat ini tujuan utamanya adalah rekaman cctv rumah.
Semua rekaman berada di ruang kerja Malvino. Andara memijat stop kontak di sisi ruangan tersebut. Lampu pun menyala menerangi ruangan tersebut.
Andara duduk di depan layar laptop dengan tak sabar menunggu vidio rekaman beberapa hari kebelakang.
Seketika mulutnya di buat bungkam saat melihat satu persatu vidio rekaman cctv rumahnya. Dari vidio itu Andara menyaksikan jika selama ini Sandrina bermain sendiri tetapi seakan-akan ia sedang berkomunikasi dan berinteraksi dengan seseorang. Hanya boneka baru Sandrina yang terus di bawanya selama ia bermain di rumah.
Andara menyipitkan mata dan mereview ulang vidio yang menunjukan detik-detik Sandrina akan tenggelam di kolam renang.
Ada satu sosok yang tak asing bagi nya tertangkap kamera cctv. Sosok anak kecil mengenakan dress hitam selutut, dengan pita melingkar di atas kepalanya, jika di amati sosok tersebut persis dengan boneka milik Sandrina. Baik model pakaian ataupun aksesoris yang melekat di rambutnya.
Andara memencet tombol pause, mengamati sosok anak kecil dalam vidio itu. Anak kecil itu berdiri di atas permukaan air sambil memanggil Sandrina agar mendekat padanya. Dan Sandrina pun menurut hingga akhirnya tenggelam.
Saat fokus mengamati vidio tersebut, tiba-tiba saja lampu ruangan mati. Hanya cahaya dari layar laptop yang menjadi satu-satunya penerangan bagi Andara.
" Siapa kamu? " teriak Andara saat mendengar suara tangis anak kecil yang terdengar lirih.
Tak ada jawaban selain suara rintihan yang membuat Andara makin merasa ketakutan.
Andara meraih ponsel, mengarahkan senter ponsel ke dekat pintu saat sudut matanya melihat sekelebat bayangan.
Dengan sisa keberaniannya Andara bangkit berjalan keluar ruangan. Deru napas memburu, dan jantungnya kian memompa cepat. Netra Andara terus saja menangkap sosok anak kecil berlarian kesana kemari seakan ingin mengajaknya bermain-main.
Andara terloncat kaget ketika lampu ruangan tiba-tiba saja menyala dan tanpa ia sadari jika saat ini dirinya tengah berada di kamar Sandrina. Padahal tadi ia hanya berjalan mengikuti kemana arah bayangan anak kecil itu berlarian.
Spontan mata nya melirik ke rak boneka dan tertuju pada satu boneka yang terpangpang di rak tersebut.
__ADS_1
Andara mendekat, tangannya yang dingin dan gemetaran pun meraih boneka baru Sandrina.
Perlahan Andara membalik tubuh boneka itu, membuka kancing belakang. Tertulis jelas di sana nama Kaliya. Merasa tak puas sampai di situ, Andara membuka dress boneka tersebut untuk melihat bagian punggung boneka.
Kembali Andara terkesiap saat tak mendapati batrai yang seharusnya menempel di bagian punggung boneka itu. Bukan hanya itu, di bagian perutnya tampak rusak dan bolong seperti tertusuk sesuatu. Bahkan bercak darah kering pun terdapat di sekitar perut boneka itu.
Andara langsung melempar sembarang boneka bernama Kaliya , hingga terjatuh kelantai.
Napasnya kian memburu, berbagai dugaan pun bermunculan di benak Andara. Dengan tergesa-gesa Andara berniat keluar kamar tapi,,
Brrruuukk
Andara ambruk menelungkup di lantai saat sesuatu terasa menahan langkahnya dengan mencengkram satu kakinya.
" Aaaww. " Andara meringis kesakitan karena terjatuh.
Masih dalam posisi menelungkup, Andara melirik ke arah belakang saat merasa tangan kecil masih menggenggam pergelangan kakinya di bawah sana.
" Aaaaaaakkkkk !! " Jerit Andara yang kemudian tak sadarkan diri setelah melihat wajah anak kecil yang mengerikan tengah menggenggam erat kakinya.
Sementara itu di tempat lain. Malvino memacu kecepatan laju kendaraannya. Ia ingin segera sampai di rumah karena Malvino tak tau jika Sandrina berada di Rumah Sakit. Setelah mendengar kabar kecelakaan putrinya, Malvino pun memutuskan segera pulang dari luar kota. Ia sangat panik apalagi Andara istrinya berulang kali tak bisa di hubungi.
Mendadak Malvino menginjak rem saat menyadari ada anak kecil berdiri di tengah jalanan yang di lewatinya.
" Astagfirullah, apa aku nabrak orang? " Wajah Malvino makin pias, satu sisi ia harus segera sampai di rumah tapi sisi lain ia harus bertanggung jawab karena telah menabrak orang.
Malvino membuka pintu mobil dan turun dari mobil mewah berwarna hitam itu. Ia mengernyitkan dahi saat tak mendapati seroang pun di depan mobil, bahkan di kolong mobil nya pun tak ada siapa-siapa padahal jelas-jelas tadi ia menabrak anak kecil. Entah dari mana datang nya anak kecil itu karena tiba-tiba saja berdiri di tengah jalan yang sepi. Tapi sekarang dia menghilang.
" Apa cuma halusinasi ku saja karena terlalu panik? Tapi tadi aku merasa mobilku membentur sesuatu, tapi kemana ya? " Malvino bermonolog seraya melihat ke belakang, ke kolong mobil dan ke sekitar jalanan sepi yang di lewatinya. Khawatir anak tadi terpental ke semak-semak. Tapi tak jua ia temukan bahkan tak ada bercak darah sedikitpun.
__ADS_1
" Mungkin memang hanya ilusi saja, " kata Malvino yang kemudian segera masuk ke mobil dan kembali melaju membelah jalanan.