
Tiba di kantor, Malvino menceritakan apa yang di alami istrinya pada Deon. Malvino cukup khawatir jika ada makhluk astral yang kemungkinan mengganggu Andara.
" Barusan di telepon aku mau coba menerawang keadaan rumah mu, tapi malah main tutup aja telepon nya, " gerutu Deon.
" Sinyal mu jelek kali soalnya aku dengar suara mu gak jelas, " kata Malvino.
" Jelek gimana? Orang aku pakai wifi, " tutur Deon.
" Aneh ! " lanjutnya.
" Malah bahas telpon lagi. Mendingan cepat lihat apa yang terjadi pada Andara dengan mata batin mu, " kata Malvino.
Deon memejamkan mata nya sejenak, dalam benaknya muncul sosok bayangan gelap namun ia tak bisa melihat nya dengan jelas. Yang Deon rasakan hanya energi negatif dari sosok tersebut, sepertinya memang benar Andara terkena gangguan makhluk halus, meski saat ini Deon tak dapat memastikan siapa sebenarnya makhluk tak kasat mata itu .
Malvino menunggu Deon kembali membuka mata, hingga saat itu terjadi Malvino langsung mengajukan pertanyaan pada nya.
" Gimana? Apa yang kamu lihat? "
" Aku rasa dugaan mu benar. Ada sosok yang mengikuti kalian, tapi aku gak bisa melihat lebih jauh lagi siapa sosok itu sebenarnya?" Deon menjelaskan apa ada nya.
" Masa sih kamu gak bisa memastikan siapa sosok itu? Coba deh sekali lagi, " pinta Malvino.
" Udah aku coba tapi tetap gak bisa. Aku bukan Tuhan, Vin. Yang tau segala sesuatu, " kata Deon sedikit kesal.
Malvino menghembuskan napas kasar, ia bangkit dari duduk berniat kembali ke ruangan nya.
" Ya udah, makasih infonya, " kata Malvino.
" Tunggu Vin ! " Deon menahan langkah kaki rekan satu kerjanya itu.
" Ada apa lagi? " tanya Malvino setelah akhirnya ia memutar badan.
" Aku sarankan kalian berhati-hati karena menurut ku sosok itu energi negatifnya begitu kuat. "
__ADS_1
" Iya, makasih. " Malvino pun beranjak pergi dari ruangan Deon.
Sepanjang koridor Malvino terus kepikiran dengan makhluk astral yang mengganggu istrinya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Andara ataupun Sandrina meski ia tak tau persis siapa sebenarnya sosok itu dan apa maksud tujuannya mengikuti mereka sampai ke rumah.
Malvino juga bingung harus mengatakan apa pada Andara. Istrinya pasti sedang menunggu kabar dari nya saat ini. Jika Malvino jujur, Andara pasti makin parno. Tapi jika tidak, takutnya Andara lengah.
" Hallo Mam, lagi apa? " Akhirnya Malvino pun memutuskan untuk memberitahu Andara lewat telepon karena memang mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.
" Aku lagi nunggu kabar dari kamu , Pap. Gimana kata Deon? " tanya Andara penasaran dengan jantung berdetak tak beraturan.
" Dugaan kita benar, ada sosok yang mengikuti kita sampai ke sini. Tapi Deon tak tau persis siapa sosok itu. Coba mami ingat-ingat pas waktu di kampung ku barangkali mami gak sengaja ngelakuin sesuatu yang mengundang kehadirannya, misal melanggar pamali. Bisa jadi juga dia iseng ngikut karena melihat kamu yang masih baru di kampung ku, " ucap Malvino.
Andara tak menyahut. Ia menurunkan ponsel yang semula menempel di telinganya ke atas meja kerja saat melihat bayangan melintas di balik batas ruangan yang hanya menggunakan kaca tebal dan buram.
Dengan susah payah Andara menelan saliva, mata nya terus memperhatikan ke arah luar sana.
Andara tak menggubris Malvino yang terus saja memanggilnya.
Perlahan Andara berdiri dari kursi kerja berjalan menuju kaca yang menjadi dinding ruang kerjanya. Dengan napas memburu, dan peluh bercucuran di tengah dinginnya suhu ruangan berAc.
Saat tangan Andara hampir menyentuh gagang pintu, tiba-tiba ia di kejutkan oleh suara ponsel.
Andara terlonjak kaget, detak jantung kian berdegup kencang hingga Andara menepuk-nepuk dada saking kagetnya.
Segera ia kembali ke meja kerja dan membuang segala pikiran buruk yang sedari tadi memenuhi benaknya. Andara mencoba melawan rasa takut yang di rasakan.
Di lirik nya layar ponsel yang terus berdering keras. Terlihat jelas tulisan home, itu berarti Mbok Darmi atau Sandrina yang menelpon nya.
" Hallo, " sahut Andara.
" Hallo Bu, maaf ganggu. "
" Iya mbok ada apa? "
__ADS_1
" Anu Bu, non Sandrina gak mau makan siang. Di suruh tidur siang pun gak mau, sepertinya dia lagi asyik bermain dan gak mau di ganggu, "
Andara melirik jam digital yang berada di atas meja kerjanya. Ia menghela napas berat dan memijit pusing keningnya. Andara lupa menelpon Sandrina, sepertinya ia terlalu larut dalam rasa takut hingga ia lupa menelpon Sandrina dan bahkan pekerjaannya pun terabaikan karena fikiran nya tak bisa fokus.
" Ya udah Mbok, nanti biar aku telepon ke ponsel nya. "
Andara pun memutus sambungan telepon, kemudian beralih ke menu vidio call ke nomor Sandrina.
Cukup lama Sandrina tak menerima panggilan nya, hingga berulang kali Andara mengulang.
" Sandrina kamu lagi ngapain kok lama banget terima Vc dari mami? " tanya Andara saat Sandrina mengangkat panggilannya.
" Maaf Mam, barusan Sandrina habis main sama teman baru, " jawab Sandrina.
" Teman baru? Siapa? " Andara memperhatikan layar di ponselnya yang mengekspos wajah Sandrina dan sebagian ruangan di mana saat ini Sandrina berada. Jika di lihat-lihat, Sandrina kini berada di kamar, lalu mana teman baru nya dan siapa maksudnya?
" Dia anak tetangga baru kita. Anak Om Anwar, tadi Om Anwar sempat datang kesini bawain kue enak banget. Aku kira Om Anwar sendirian, tapi rupanya dia bawa anaknya juga, ya akhirnya Sandrina kenalan dan main sama dia, " jelas nya dengan ekspresi ceria.
Melihat Sandrina baik-baik saja dan bahkan happy, rasanya tak ada yang perlu Andara khawatirkan apalagi sekarang Sandrina ada temannya jadi gak kesepian lagi di tinggal di rumah. Meski Andara sedikit tak suka saat mendengar Sandrina menyebut-nyebut nama Anwar. Kalau memang Sandrina sedang bersama anak Anwar lantas mana dia? Kenapa Andara tak melihat nya di layar ponsel?
" Mana teman mu? Mami mau tau, " tanya Andara.
" Barusan dia pulang. Makanya aku telat angkat vidio call dari mami karena aku antar dia sampai depan pintu. " jawab Sandrina.
" Oh gitu. Berarti sekarang saat nya makan siang setelah itu kamu bobo siang. Pasti kamu masih capek kan setelah menempuh perjalanan kemarin? " kata Andara.
" Iya mam, bentar lagi Sandrina makan siang terus bobo, " ujar Sandrina.
" Good girl, oke udah dulu ya, bye ! " Andara menggerakan kelima jarinya.
" Bye mam. "
Entah kenapa perasaan Andara tak enak setelah menelpon Sandrina. Apa karena Anwar yang berani datang ke rumah nya bahkan sampai mengirim kue untuknya? Atau ada sesuatu yang lain? Andara membenamkan kepalanya di atas meja kerja dengan kedua tangan di lipat sebagai penyangga kepalanya.
__ADS_1