
Mobil Andara mulai memasuki tempat sepi, yang hanya di kelilingi perkebunan dan hutan di sekitar jalan.
Sempat ragu namun memang kesanalah jalan yang sesuai dengan petunjuk Pak Kosim. Setelah tempat ini, baru Andara akan menemukan pemukiman penduduk. Sebuah desa terpencil jauh dari hingar bingar kota.
Andara pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ingin sampai tersesat ke tempat lain.
Hingga akhirnya, Andara melihat plang bertuliskan desa Rawabangke. Perlahan ban mobil Andara pun berputar melindas jalanan yang belum beraspal itu. Tanah merah dengan genangan air di beberapa lobang membuat jalanan terasa licin.
Andara harus berhati-hati melewati jalan kecil yang hanya muat masuk satu mobil saja.
Lengang, sepi seperti tak berpenghuni. Area pemukiman yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja, itupun berjauhan satu dengan yang lainnya. Benar-benar daerah terpelosok.
Andara menepikan mobilnya saat melihat ada seorang nenek tua yang membawa karung di tangannya. Dia berjalan berlawanan arah dengan mobil Andara.
Andara menunggu nenek tua itu melewati mobilnya, ia yakin nenek itu pasti berjalan ke arahnya.
" Selamat sore nek, " sapa Andara setelah membukakan kaca jendela mobil.
" Sore, " jawabnya singkat.
" Maaf nek saya mau tanya, rumah Bapak Purwa sebelah mana ya? " tanya Andara.
Nenek tua itu terdiam, wajahnya seketika memancarkan ketegangan mendengar nama Purwa di sebut-sebut oleh orang yang asing baginya.
Nenek tua itu hanya menunjuk lurus ke depan tanpa bersuara.
__ADS_1
Andara pun mengikuti arah telunjuk wanita itu, dan netranya menangkap sebuah bangunan di ujung jalan sana.
" Oh itu ya. Makasih nek. " Andara tersenyum ramah namun wanita tua itu terburu-buru pergi, seperti ketakutan.
" Aneh banget ! " gumam Andara.
Kembali ia melajukan mobilnya ke arah yang di tunjukan tadi. Seketika mata Andara membelalak melihat bangunan tua yang tak terurus dan yang paling mengejutkan lagi, rumah itu sama persis dengan rumah yang ada dalam mimpinya.
Andara turun dari mobil setelah beberapa saat mengamati rumah tersebut dari dalam mobil.
Hawa dingin yang tak nyaman mulai dapat di rasakan Andara. Hingga ia memegang tengkuknya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut.
Hanya ada lahan kosong, kebun di sekitar rumah. Andara rasa rumah itu adalah rumah paling ujung di desa Rawabangke karena jalan yang di laluinya pun buntu berhenti sampai di depan rumah itu.
Perlahan Andara menaiki anak tangga menuju teras. Bangunan ini terbuat dari full kayu bahkan sampai ubin teras pun terbuat dari papan kayu.
" Kalau gak ada Sinta lantas aku cari informasi dari siapa? " gumam Andara.
Dia pikir hanya buang-buang waktu saja datang ke rumah Kaliya. Harusnya tadi dia cari info ke polsek terdekat yang mungkin menangani kasus pembunuhan Kaliya dan Purwa.
Saat Andara memutar badan hendak pergi dari sana, tiba-tiba saja terdengar suara derit pintu terbuka. Andara menoleh, memutar setengah badan.
Pintu utama rumah sudah terbuka lebar, entah siapa yang membukanya. Sedang tak ada angin yang mungkin membuat pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.
Merasa tertantang dan penasaran. Andara pun berjalan mendekat ke arah pintu.
__ADS_1
" Permisi ! Ada orang di dalam? " seru Andara mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Andara sempat terbatuk-batuk saat bau debu mulai terhirup indra penciumannya.
Beberapa kursi tampak terbalik dari posisi seharusnya, ubin papan pun sudah di penuhi debu tebal dan sampah berserakan. Saat Andara berjalan pun sampai terdengar derap langkahnya sendiri saat menginjak papan yang lapuk.
Sebuah piano tersimpan di sudut ruangan, di lemari kayu kuno tersimpan radio dan juga televisi lama. Yang mungkin sudah tak berfungsi.
Andara mematung menatap foto keluarga yang terpajang di ruang utama. Tampak kotor dan tidak jelas hingga Andara bergegas menarik kursi yang terbalik tadi. Andara menaiki kursi itu untuk membawa figura foto keluarga yang terpajang di sana.
Andara meraih tisue dalam tasnya kemudian mengusap bagian kotor foto itu dengan tisue. Dalam sekejap, Andara sudah bisa melihat satu persatu orang yang ada dalam foto.
Andara yakin jika tiga orang dalam foto itu adalah Purwa, Sinta dan putri mereka Kaliya.
Wajah Purwa sangat tak asing bagi Andara, dia pernah melihat sosok tersebut saat membeli boneka beberapa waktu lalu. Hal tersebut semakin memperkuat ucapan Kosim bahwasanya kios boneka itu sudah lama tak ada dan di gantikan dengan warung kelontong.
Itu berarti Andara dan Sandrina memasuki dimensi lain saat membeli boneka di toko milik Purwa.
Tengkuk Andara mulai merinding apalagi saat mendengar suara langkah kaki di ruangan lain rumah itu.
Andara berniat menyimpan kembali figura foto ke tempat semula. Namun tiba-tiba secuil kertas terjatuh dari balik figura. Terlebih dulu Andara meletakan figura, baru kemudian ia meraih secuil kertas yang sudah hampir rusak di makan rayap. Namun masih dapat ia tebak jika kertas itu adalah kartu ucapan dari seseorang.
" Selamat ulang tahun Sinta sayang. " Andara membaca tulisan tangan dari kartu kecil itu. Namun ia tak dapat membaca siapa si pengirim kartu ucapan ulang tahun tersebut karena bagian itu rusak.
Tap,,tap,,tap,,
__ADS_1
Spontan Andara menoleh saat mendengar derap langkah berjalan ke ruangan lain.
Andara membulatkan mata saat menangkap sosok Kaliya yang mengintip di balik pintu dengan hanya mengekspos bagian kepalanya saja yang pastinya dengan wajah menyeramkan. Lebih parahnya lagi, Kaliya kini melambaikan tangan padanya seolah mengajak Andara masuk lebih dalam lagi.