
Hembusan udara dingin terasa meniup bulu-bulu halus di wajah Andara saat ia menidurkan Sandrina kembali ke kamarnya.
Mbok Darmi yang hampir saja keluar dari sana, segera di cegahnya.
" Mbok ! " sahut Andara menghentikan langkah Mbok Darmi.
Mbok Darmi menoleh, bisa ia lihat betapa ketakutannya Andara saat ini.
" Ada yang bisa saya bantu lagi Bu? " tanya Mbok Darmi memutar badannya.
" Tidak Mbok ! " jawab Andara ragu, padahal sebenarnya Andara ingin di temani oleh asisten rumah tangganya itu, untuk bersama-sama menjaga Sandrina. Khawatir sesuatu terjadi lagi pada Sandrina saat malam kian larut. Kali ini Andara yakin jika semua yang di alami Sandrina akhir-akhir ini bukanlah di sebabkan oleh kecerobohan Mbok Darmi. Bahkan sekarang Mbok Darmi telah menyelamatkan Sandrina, jika tak ada wanita itu entah apa lagi yang akan menimpa Sandrina.
" Kalau begitu saya permisi, " ucap Mbok Darmi dengan membungkukan badan kemudian ia berlalu dari kamar itu.
Saat pintu kamar di tutup oleh Mbok Darmi, seketika keadaan kembali hening mencekam.
Rasa kantuk tak kunjung di rasakan oleh Andara meski berulang kali matanya mencoba terpejam namun tetap ia tak bisa tidur. Rasanya ada seseorang yang sedang mengamati dirinya dengan Sandrina saat matanya terpejam.
Malam ini terasa begitu panjang di rasakan oleh Andara. Detik-detik berlalu, menit dan jam pun berganti. Malam kian larut namun rasa kantuk seakan menguap begitu saja. Andara hanya memeluk tubuh Sandrina dengan erat saat merasakan bulu kuduknya meremang.
Hingga akhirnya ia pun terlelap di tengah rasa takut dan gelisahnya.
Di tempat lain, Anwar sedang sibuk menatap layar laptop. Pekerjaan yang banyak membuat nya terpaksa harus lembur.
Secangkir kopi hitam tersedia di sampingnya, menemani nya malam ini agar terhindar dari rasa kantuk saat bekerja.
Namun rupanya kopi tersebut tak berguna sama sekali. Matanya terasa berat dan lelah saat harus terus menerus menatap layar laptop yang berisi file-file perusahaan.
Hingga tak sadar, Anwar pun ketiduran saat mengecek satu persatu hasil kerjanya.
Tap, tap, tap
Derap langkah terdengar mendekat ke arah Anwar. Pandangannya sedikit buram saat perlahan membuka mata. Tertangkap sosok anak kecil namun tampak samar, maka Anwar pun mengucek matanya berulang kali.
Namun sosok tadi tak lagi terlihat. Anwar mengangkat tubuh yang semula menelungkup di meja kerja, di pandangnya sekeliling ruangan yang hening tak seorang pun berada di sana kecuali dirinya.
' Mungkin salah lihat saja, ' gumam Anwar dalam hati kemudian menutup laptop dan berjalan keluar ruangan tersebut, menuju kamarnya.
Kebetulan jendela kamar Anwar menghadap ke rumah Andara yang berada beberapa meter di sebelah rumahnya.
Iseng, Anwar menyibak tirai jendela untuk melihat rumah Andara. Dari kejauhan rumah Andara tampak sunyi. Lagi-lagi mata Anwar menangkap sosok anak kecil di salah satu jendela kamar rumah Andara.
Anwar menajamkan penglihatannya, meyakinkan jika yang berdiri di balik jendela adalah Sandrina. Tapi Anwar yakin, jika yang di lihatnya saat ini bukan lah Sandrina. Anwar tau persis wajah, perawakan dan rambut panjang Sandrina.
__ADS_1
Kembali ia mengucek mata nya, seketika ia terbelalak saat melihat dengan jelas siapa anak kecil yang kini tengah menyeringai ke arahnya. Sontak Anwar menutup tirai jendela dengan kasar. Ia berjalan mundur dengan mata terus tertuju ke arah jendela tadi.
" Mas ! " suara istrinya berhasil membuat Anwar terjingkat kaget.
Melihat ekspresi gelisah Anwar, istrinya pun mengerutkan dahi.
" Kamu kenapa Mas? " Istri yang bernama Shela pun mengikuti arah pandangan mata Anwar yang tertuju pada jendela kamar. Tirai jendela tersebut tertiup angin hingga bergerak kesana kemari.
" Mas Anwar ! " lagi Shela menyahut, kali ini dengan menepuk bahu suaminya.
" I-iya. " Anwar tergagap.
" Apaan sih Mas aneh banget mukanya? Kayak orang habis liat setan, he,,he,, " Shela tertawa geli sambil menutup mulut dengan satu telapak tangannya.
Anwar merubah ekspresi anehnya menjadi lebih normal, seolah tadi hanya ilusinya saja. Tak ingin di curigai istrinya, Anwar pun melengos pergi sambil berkata, " mana ada setan? Ngaco aja kamu, udah tidur gih ngantuk aku. "
Shela geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh suaminya, kemudian mengikuti nya dari belakang. Tanpa mereka sadari tiba-tiba Kaliya muncul di balik tirai jendela kamar, dia menatap tajam mereka.
***
Lima belas menit sebelum bel pulang berbunyi, Andara sudah berada si sekolah Sandrina. Kali ini dia memilih untuk mengantar jemput Sandrina, dan tak lagi mengandalkan Mbok Darmi yang biasanya di tugaskan menjemput putrinya itu ke sekolah.
Bukan berarti Andara tak percaya pada Mbok Darmi, tapi Andara tau jika Mbok Darmi sibuk dengan pekerjaan rumah yang memungkinkan terlambat lagi menjemput Sandrina. Selain itu, Andara ingin memastikan jika Sandrina akan baik-baik saja jika di jemput oleh nya.
'' Maaf, apa ini dengan ibu nya Sandrina? " tiba-tiba wali kelas Sandrina menghampiri Andara.
" Iya Bu, saya ibu nya Sandrina. " Andara segera bangun dari duduknya, ia melempar senyum ke arah Bu Susan wali kelas putrinya.
" Kalau begitu kebetulan, ada yang ingin saya bicarakan, mari ikut saya ! " Bu Susan mengulurkan tangan ke arah ruang guru.
Andara tak langsung mengiyakan, sekilas ia melihat ke kelas Sandrina.
" Masih ada waktu lima belas menit lagi ke jam pulang. Sebentar saja kok, mari ! " kata Bu Susan yang mengetahui jika Andara sedang menunggu Sandrina keluar kelas.
Andara pun menjawab dengan sebuah anggukkan kemudian mengikuti langkah Bu Susan dari belakang.
Tiba di ruang guru, Bu Susan mempersilahkan Andara duduk. Saat ini hanya ada satu dua guru saja yang berada di sana. Dan mereka tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga tak begitu memperhatikan kemunculan Bu Susan dan Andara di ruangan itu.
" Ada apa ya Bu? Apa ada masalah dengan anak saya? Atau mungkin Sandrina nakal? " banyak pertanyaan terlontar dari mulut Andara. Selama ini dia tak pernah sampai di panggil menghadap wali kelas seperti sekarang ini.
" Tidak Bu, Sandrina anaknya baik dan tak pernah membuat masalah sama teman-temannya. " Bu Susan menatap Andara.
" Lalu? " Andara makin penasaran.
__ADS_1
" Begini Bu, maaf sebelumnya jika saya bertanya seperti ini. Saya harap ibu bisa membantu menjelaskan keadaan Sandrina akhir-akhir ini. "
" Tunggu Bu, memangnya kenapa dengan anak saya? "
" Selepas liburan kemarin, semenjak masuk kembali ke sekolah. Sandrina menjadi lebih pemurung, dia cenderung tak berinteraksi dengan teman sekelasnya. Lebih banyak diam dan bahkan beberapa temannya yang lain melihat Sandrina anak ibu bicara sendiri, "
Deg !
Jantung Andara serasa berhenti berdetak mendengar perkataan wali kelas Sandrina.
Melihat mimik muka Andara berubah pucat, wali kelas pun kembali berucap.
" Apa Sandrina punya masalah di rumah? Maaf, bukan saya ingin mengetahui privasi keluarga Ibu. Tapi semua ini demi kebaikan Sandrina, " jelas Bu Susan.
" Tidak Bu, di rumah kami baik-baik saja. Tak ada masalah apapun. " Andara tersenyum memaksa di tengah kegelisahan hati nya.
Kriiiing
Bel pulang berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas.
" Maaf bu saya harus pulang, " pamit Andara.
" Ya, silahkan ! " Bu Susan mengangkat telapak tangan mempersilahkan Andara keluar dari ruangan.
" Permisi. " Bergegas Andara pun keluar dari ruang guru, kemudian berjalan menuju kelas Sandrina.
Tapi sayangnya Sandrina sudah tak berada di kelas, hingga Andara pun berlarian menuju pintu gerbang. Menurutnya Sandrina pasti sedang menunggu di depan gerbang.
Firasat buruk mulai memenuhi hatinya, Andara takut sesuatu terjadi lagi pada Sandrina. Dengan napas tersengal-sengal sehabis berlarian akhirnya ia sampai ke depan gerbang.
Banyak nya siswa yang berhamburan membuat Andara kesulitan mencari dimana Sandrina berada.
" Aaaaaaakkkk ! " suara jeritan yang tak asing terdengar di telinga Andara.
Mata Andara membulat dengan mulut menganga, lututnya lemas lunglai dan gemetaran tatkala melihat Sandrina terserempet pengendara motor.
" Sandrina ! " teriak Andara seraya berlari ke arah jalan raya yang kini sudah di kerumuni orang-orang.
Dalam keadaan lemas rasanya begitu berat kaki nya di bawa lari seperti sekarang ini. Andara benar-benar panik.
Orang-orang pun minggir memberi jalan untuk Andara.
" Sandrina? " Andara menekuk lutut terduduk di atas aspal saat mendapati Sandrina tergolek tak berdaya dengan darah mengalir di bagian pelipis hingga membasahi seragamnya yang berwarna putih.
__ADS_1
Security dan beberapa orang yang berada di sana segera menelpon ambulance untuk menyelamatkan Sandrina. Sementara Andara terus menangis seraya memeluk putrinya yang kini tak sadarkan diri.