
Andara bangkit dari duduknya, keadaan sudah makin gelap. Sementara tak ada sedikitpun penerangan di rumah itu.
Andara meraih ponsel dalam tas, menyalakan senter untuk penerangan. Dengan tangan dan kaki bergetar hebat ia berjalan menapaki ruangan. Suasana kian terasa mencekam, Andara tak bisa mengusir rasa takutnya.
Deru napas masih tak beraturan, matanya nampak waspada mengitari setiap sudut ruangan yang di laluinya.
Suara-suara aneh tertangkap indera pendengarannya, membuat Andara mempercepat langkah berharap segera keluar dari rumah itu.
Bagaimana pun rumah Kaliya sudah lama tak berpenghuni, mungkin banyak makhluk astral yang akan menempatinya.
Saat Andara melihat pintu keluar, bergegas ia berlari kecil agar bisa cepat pergi dari tempat mengerikan itu.
Andara pun berhasil keluar dari rumah, segera ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya.
Sepanjang perjalanan begitu sepi, kampung Rawabangke seperti tak berpenghuni. Sunyi, gelap dan mencekam. Hanya suara lolongan anjing yang terdengar dari kejauhan. Mobil Andara melaju menembus keheningan malam, tak perduli jalanan licin sehabis hujan, ia terus memacu kecepatan agar segera keluar dari kawasan sepi itu.
Tubuh yang basah kuyup di terpa hembusan angin malam yang dingin membuat darah Andara kian membeku.
Andara berniat mencari penginapan jika nanti berhasil keluar dari kampung Rawabangke. Perjalanan terasa sangat panjang. Medan yang di laluinya terasa memperlambat laju kendaraan. Padahal sebelumnya saat Andara memasuki kawasan tersebut, tak selama seperti saat ini.
Di tempat lain, Malvino mengkhawatirkan istrinya. Karena sejak pagi hingga malam tak juga menghubunginya dan bahkan tak dapat pula ia hubungi. Sepertinya Andara berada di luar jaringan.
Malvino mondar-mandir di ruang televisi dengan ponsel di tangan ia terus mencoba menghubungi istrinya secara berkala. Namun Andara masih belum bisa di hubungi.
Melihat majikannya gelisah seperti itu, Mbok Darmi pun menghampiri.
" Maaf tuan, sebenarnya kemana Bu Andara? " tanya Mbok Darmi.
Malvino yang sedari tadi mondar-mandir pun kini menghentikan langkahnya. Menoleh Mbok Darmi yang kini berdiri tak jauh darinya.
" Ke Bogor Mbok, ada hal yang ingin di bereskan. " Seketika melintas dalam pikirannya untuk menanyakan kasus Kaliya pada Mbok Darmi. Siapa tau Mbok Darmi mengetahui tragedi berdarah itu, secara tujuh tahun silam Mbok Darmi masih tinggal di kota Bogor.
" Ada yang mau saya tanyakan, Mbok tunggu di sini sebentar ! " Malvino segera berjalan menuju ruang kerjanya untuk mengambil laptop. Dia akan menunjukan berita pembunuhan yang merenggut nyawa Kaliya dan ayahnya.
Dengan wajah heran Mbok Darmi setia menanti Malvino kembali. Mbok Darmi melihat begitu gelisahnya Malvino saat ini sepertinya ada hal yang sangat serius yang sedang di hadapi oleh Malvino dan Andara.
__ADS_1
Tak lama Malvino pun kembali dengan menenteng laptop di tangannya kemudian duduk di sofa ruang televisi.
Malvino mulai mengotak-atik laptopnya mencari berita yang sudah ia simpan di sana. Sementara Mbok Darmi terus mengamati gerak-gerik Malvino dengan rasa penasaran.
" Sini mbok duduk. " Malvino menepuk sofa di sebelahnya mempersilahkan Mbok Darmi duduk di sampingnya setelah ia menemukan surat kabar dalam laptop miliknya.
Mbok Darmi pun menuruti perintah, ia duduk di samping Malvino dengan masih penasaran dan banyak pertanyaan memenuhi benaknya.
" Mbok tau tragedi pembunuhan yang terjadi tujuh tahun lalu? Yang menewaskan seorang anak dan ayahnya, " tanya Malvino seraya menunjuk layar laptop.
Mbok Darmi menyipitkan mata menatap layar laptop di hadapannya yang menampilkan sebuah berita pembunuhan.
Seraya terus mengingat ingat kejadian yang terjadi tujuh tahun silam.
" Korbannya bernama Kaliya dan ayahnya bernama Purwa. " Malvino menjelaskan, ia tau jika mata Mbok Darmi pasti silau melihat cahaya layar laptop. Mengingat usianya yang sudah senja, Mbok Darmi pasti kesulitan membaca tulisan dalam layar laptop tersebut.
Mendengar nama Kaliya dan Purwa, seketika memori Mbok Darmi mulai mengingat sesuatu. Dengan mata mulai berkaca-kaca, pikirannya menerawang ke masa lalu.
" Mbok tau, " jawabnya singkat.
Mbok Darmi menoleh, ia masih tak mengerti apa yang sedang di cari majikannya dari kasus yang terjadi beberapa tahun silam. Dan apa hubungannya dengan Andara.
" Memangnya ada apa tiba-tiba Pak Malvino menanyakan hal itu pada saya? " tanya Mbok Darmi.
" Panjang ceritanya Mbok, yang pasti saat ini Andara sedang menyelidiki kasus kematian Kaliya."
Mbok Darmi mengerutkan kening makin tak mengerti.
" Begini Mbok. Mbok ingat boneka baru Sandrina? Jadi boneka itu adalah boneka arwah Kaliya korban pembunuhan dalam kasus ini. Dan semua yang terjadi pada Sandrina akhir-akhir ini adalah ulah Kaliya, " jelas Malvino.
Mbok Darmi mencerna maksud arah pembicaraan Malvino. Seketika ia ingat pada boneka baru Sandrina. Dia memang pernah sekali melihat boneka itu berada di tangan anak kecil beberapa tahun lalu. Pantas saja pertama melihat boneka itu, Mbok Darmi merasa tak asing. Walaupun sebenarnya boneka semacam itu pasti banyak di temui dimanapun.
Tapi sekarang Mbok Darmi yakin jika boneka yang di miliki Sandrina adalah boneka yang sama dengan milik Kaliya.
" Mbok tau. Sangat tau tragedi pembunuhan itu. " Mbok Darmi mulai memutar rekaman memori dalam benaknya.
__ADS_1
" Dulu almarhum suami Mbok sangat dekat dengan Pak Purwa dan juga anaknya yang bernama Kaliya. Karena kebetulan almarhum bekerja sebagai tukang parkir di rest area dimana Pak Purwa membuka toko boneka di tempat yang sama, " jelas Mbok Darmi.
Malvino makin serius mendengarkan cerita Mbok Darmi, terlebih Mbok Darmi mengetahui berita kasus tersebut. Malvino pikir bisa mendapatkan informasi dari beliau.
" Jadi hari itu Pak Purwa dan anaknya menjadi korban pembunuhan di rumah mereka sendiri, dan hari itu juga Kosim suami Mbok meninggal menjadi korban tabrak lari seseorang. Menurut beberapa orang yang berjualan di rest area, mereka sempat melihat suami Mbok dan Pak Purwa berbincang sebentar kemudian Pak Purwa dan anaknya pergi menitipkan tokonya pada suami Mbok. Mereka bilang sepertinya suami Mbok memberi kabar berita pada Pak Purwa pada saat itu, yang entah apa Mbok juga tidak tau. Yang jelas setelah itu suami Mbok mengalami musibah, ia di tabrak seseorang dan sampai saat ini pun tak tau siapa orangnya. Namun mereka berpendapat semua ada kaitannya dengan terbunuhnya Pak Purwa dan Kaliya, entahlah " jelas nya.
" Innalillahi,, " gumam Malvino.
" Bukankah pelaku pembunuhan Kaliya dan Purwa adalah istri Purwa sendiri? " tanya Malvino heran saat Mbok Darmi mengkaitkan kematian suaminya dengan kasus tersebut.
" Sinta. Namanya Sinta. Dia memang menjadi tersangka dalam pembunuhan itu karena hanya ada dia satu-satunya yang berada di sana, tapi kepolisian tidak serta merta menuduh Sinta begitu saja. Karena Sinta pun dalam keadaan luka-luka dan mengenaskan bahkan Sinta tak bisa di mintai keterangan sama sekali. Karena Sinta bertingkah seperti orang gila saat di tanyai polisi. " jelas Mbok Darmi lagi.
" Sementara Polisi menyimpulkan jika sudah terjadi perselisihan antara Purwa dan Sinta. Kasus tersebut tidak di lanjutkan karena saksi sekaligus tersangka yang bernama Sinta harus di rawat di rumah sakit jiwa, " lanjut Mbok Darmi.
" Apa? Tapi dalam berita ini tidak di jelaskan sampai kesana, " kata Malvino.
" Karena keluarga Sinta dulu tak mau sampai berita itu tersebar luas, hingga Polisi pun menutup kasus itu dengan rapat. Apalagi Sinta gila, tentu merupakan aib bagi keluarga mereka. "
" Aku paham. "
" Jadi saat ini Ibu Andara sedang menyelidiki kasus kematian itu? Apa Kaliya meminta bantuan kalian untuk mengungkap semuanya? " tanya Mbok Darmi.
" Iya mbok. Semua Andara lakukan demi Sandrina, agar Kaliya tak lagi mengganggu Sandrina. "
" Ibu harus hati-hati. Karena masalah ini bisa mengancam nyawanya, kita tidak pernah tau siapa pembunuh Kaliya dan Purwa yang mungkin masih berkeliaran. Apalagi jika dia tau kalau ada orang yang sedang berusaha mengungkap kembali kasusnya, sangat berbahaya bagi keselamatan ibu Andara, " kata Mbok Darmi memicingkan mata.
" Mbok benar. Aku ingin menyusul Andara, tapi bagaimana dengan Sandrina? " Malvino menghela napas panjang.
" Apa aku ajak saja Sandrina kesana? Mencari Andara. Maaf Mbok bukan aku tak percaya sama si Mbok tapi aku tak mau sampai terjadi sesuatu lagi pada anakku, " lanjutnya.
" Mbok ngerti, " kata Mbok Darmi.
" Kalau begitu aku akan menyusul Andara sekarang juga. "
" Jangan Pak, lebih baik tunggu besok. Kasihan Non Sandrina sudah tidur. Tunggu kabar dulu dari Bu Andara, " kata Mbok Darmi.
__ADS_1
" Mbok benar. " Malvino terpaksa mengurungkan niatnya pergi saat itu juga. Ia harus bersabar menunggu kabar dari Andara.