
Suara sirine ambulance terasa menambah kegetiran suasana kala itu. Andara yang berada di dalamnya terus menangis meratapi putri kecil nya yang masih terbujur di atas blankar, tak sadarkan diri.
Tiba di Rumah Sakit, Sandrina langsung di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat. Namun Andara tak di izinkan masuk, ia di persilahkan menunggu di luar karena saat ini Dokter akan menangani Sandrina.
Andara terduduk di kursi tunggu yang berderet di samping ruangan tersebut. Air mata tak pernah surut, ia terus menangis dengan perasaan kalut.
Di raihnya benda pipih di dalam tas kecil berwarna hitam. Andara berniat menghubungi Malvino untuk memberitahu jika saat ini Sandrina tengah mengalami kecelakaan.
Sayang nya ponsel Malvino tak bisa di hubungi. Mungkin saat ini Malvino tengah sibuk dengan pekerjaan. Menurut schedule, Malvino akan pulang malam ini. Andara makin kebingungan, siapa yang harus ia hubungi di saat seperti ini.
Akhirnya Andara memberitahu Mbok Darmi, satu-satunya orang terdekat yang sudah ia anggap sebagai orang tua.
Baik kedua orang tua Malvino ataupun Andara tinggal di luar kota. Tentu nya akan memakan waktu lama jika harus mengabari mereka. Terlebih kedua orang tua mereka sudah tua, Andara rasa terlalu merepotkan jika mereka harus menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman ke ibu kota.
Pintu ruangan terbuka, seorang Dokter yang memeriksa Sandrina pun keluar dari sana.
Andara segera berdiri menghampiri Dokter tersebut, setelah sebelum nya ia sempat mengirim pesan pada Malvino. Jika suatu waktu ponsel Malvino aktif, maka Malvino akan tau perihal kecelakaan yang menimpa Sandrina putri mereka. Andara juga sudah menelpon Mbok Darmi agar segera datang ke Rumah Sakit saat ini juga.
" Bagaimana anak saya, Dok ? " tanya Andara masin khawatir.
" Anak anda baik-baik saja. Luka di kepalanya tidak begitu serius, jadi anda tak usah khawatir lagi. Dia juga sudah siuman, jadi sudah bisa di tengok. Silahkan, " jawab Dokter pria itu mempersilahkan Andara masuk ke dalam ruangan.
" Makasih Dok, " kata Andara lega mendengar keadaan Sandrina yang ternyata baik-baik saja.
Andara masuk ke dalam ruangan di mana Sandrina berada. Sandrina sedang terbaring di atas ranjang besi, dengan perban membelit kepalanya.
" Sandrina. " Andara duduk di kursi yang berada di samping ranjang Sandrina.
" Mami, " ucap Sandrina lirih dan sedikit meringis.
" Ada yang sakit nak? " tanya Andara khawatir.
__ADS_1
" Kepala Sandrina pusing dan sakit, " jawabnya.
" Sandrina pasti kuat ya. Barusan Dokter sudah mengobati luka di kepala Sandrina. Sedikit sakit tapi nanti Sandrina pasti sembuh, " kata Andara tak tega melihat kondisi putrinya.
" Hmm,, " Sandrina mengedipkan mata nya pelan.
" Tadi Mami menunggu mu di depan kelas. Mami sempat ke ruang guru sebentar tapi setelah mendengar bel pulang, Mami segera kembali ke kelas. Tapi kamu sudah gak ada di sana, dan akhirnya Mami menemukan kamu sudah terserempet motor dan terjatuh di jalanan. Kenapa kamu nyebrang nak? Bukan menunggu Mami di depan gerbang atau di pos satpam. " Andara ingin mengetahui penyebab pasti kecelakaan yang menimpa Sandrina.
Sandrina tampak berpikir sebentar, mengingat kejadian beberapa menit lalu.
" Tadi Sandrina keluar kelas bersama teman. Anak nya Om Anwar tetangga baru kita, " jawab Sandrina.
Mata Andara membulat, ekspresi wajahnya pun menegang pasalnya jelas-jelas Anwar tak punya anak seperti yang di ceritakan Sandrina berulang kali.
" Lalu? " Andara menelan saliva yang terasa seret di tenggorokan. Andara mencoba menyelidik siapa sebenarnya anak yang di maksud oleh Sandrina.
" Sampai gerbang dia berlari menyebrang, dan Sandrina mengejarnya. Awalnya Sandrina hanya ingin menyelamatkan teman Sandrina itu karena hampir tertabrak, tapi malah Sandrina sendiri yang keserempet, " lanjutnya.
Mendengar cerita Sandrina barusan, Andara menghela napas berat. Kesekian kalinya teman Sandrina yang satu ini membuat celaka. Tentu sudah tak bisa Andara tolerir lagi, Sandrina tak boleh berteman dengan anak itu lagi. Tapi siapa anak itu? Andara pun belum tau, yang pasti bukanlah anak Anwar. Andara yakin itu.
" Kaliya. "
Deg !
" Ka-li-ya,, " seketika bayangan melintas di benak Andara saat mendengar nama itu. Dimana Andara melihat nama Kaliya tertulis jelas di balik pakaian boneka milik Sandrina, beberapa waktu lalu.
Dia juga teringat kejadian saat di mobil, dimana Sandrina menekan bagian tubuh boneka baru nya dan terdengar suara dari boneka itu menyebutkan nama Kaliya meski samar tapi kini Andara yakin jika nama itulah yang di sebut.
Wajah Andara makin pias, terlebih saat ini bulu kuduknya meremang. Seakan-akan seseorang hadir di antara mereka berdua. Namun yang hadir itu bukanlah manusia melainkan sosok hantu anak kecil yang pernah Andara lihat tempo hari.
Andara menyambungkan runtutan kejadian dari awal mereka membeli boneka itu hingga saat ini. Berbagai keganjilan terjadi semenjak adanya boneka bertuliskan nama Kaliya itu. Seakan menjadi teror bagi keluarganya.
__ADS_1
" Dia ada di sini? " tanya Andara pelan saat melihat Sandrina tersenyum ke arah belakang, dimana hanya ada tabung oksigen dan beberapa laci di sudut ruang UGD itu. Tepatnya di belakang kursi Andara.
Sandrina menjawab dengan sebuah anggukan. Andara makin ketakutan, tubuh nya mulai gemetaran. Perlahan ia kembali menoleh ke belakangnya. Namun tetap saja netra Andara tak mampu menangkap sosok yang Sandrina maksud.
" Permisi Bu, " suara suster mengejutkan Andara yang sedang dalam keadaan tegang.
" Iya Sus. " Andara memaksa melebarkan senyum ke arah suster tersebut.
" Ini makanan dan obat untuk Dek Sandrina. " Suster itu menyeret troli berisi makanan, minuman dan obat-obatan untuk Sandrina.
" Habis makan Dek Sandrina minum obatnya, biar kepalanya gak sakit lagi. " Suster itu membujuk Sandrina.
" Iya Sus, makasih. " Andara kembali mengulas senyum seraya meraih bubur di atas troli tadi dan menyuapi Sandrina makan.
Tak lama Mbok Darmi pun muncul dan masuk ke ruangan itu dengan menenteng tas yang di dalamnya berisi pakaian ganti untuk Sandrina.
" Non Sandrina, kenapa bisa gini sih. Kasihan sekali, " kata Mbok Darmi panik.
" Sandrina udah baikan Mbok. Untungnya luka di kepala Sandrina tak begitu serius, " kata Andara sambil menyuapi Sandrina.
" Syukurlah. Mbok bener-bener cemas, " imbuhnya.
" Pak Malvino sudah tau tentang ini? " tanya Mbok Darmi.
" Aku sempat nelpon dia tapi gak aktif. Tapi sudah ku kirim pesan, " jawab Andara.
" Oh ya mbok, habis ini aku titip Sandrina sebentar. " Andara melirik ke arah asisten rumah tangga nya.
" Ibu mau kemana? " tanya Mbok Darmi heran.
Andara terdiam, ia ingin memastikan jika tulisan yang tertera pada boneka baru Sandrina benar-benar bertuliskan nama Kaliya.
__ADS_1
" Aku mau izin ke kantor habis itu ke rumah dulu sebentar, baru balik lagi ke sini. Bentar aja ya Mbok! " kata Andara tak mau berterus terang jika saat ini ia berniat menyelidiki sesuatu.
" Baik Bu. " Mbok Darmi mengangguk.