KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 24


__ADS_3

Andara membulatkan mata saat menangkap sosok Kaliya yang mengintip di balik pintu dengan hanya mengekspos bagian kepalanya saja yang pastinya dengan wajah menyeramkan. Lebih parahnya lagi, Kaliya kini melambaikan tangan padanya seolah mengajak Andara masuk lebih dalam lagi.


Andara mengatur napasnya yang berat, ia mencoba melawan rasa takut yang mulai mendera. Dan berjalan ke arah ruangan di mana Kaliya melambaikan tangannya tadi. Sosok Kaliya menghilang begitu saja saat Andara kian mendekat.


Saat ini Andara di suguhkan dengan pemandangan yang makin tak asing baginya. Satu ruangan, tempat dimana Kaliya juga Purwa terbunuh mengenaskan.


Perlahan ia mulai melangkah masuk, ternyata itu adalah sebuah bilik kamar. Bisa Andara lihat sebuah ranjang masih lengkap dengan sprei namun tampak kotor dan berantakan.


Kembali netra Andara tertarik melihat sebuah foto berukuran kecil terpajang di atas nakas.


Andara mendekat, meraih foto tersebut yang masih jelas terlihat gambarnya. Foto Sinta namun kali ini hanya dia sendiri dalam foto kecil itu.


Andara jadi teringat secuil kertas tadi yang tersimpan di balik bingkai foto keluarga. Andara pikir, Sinta pasti menyimpan kembali sesuatu di balik figura kecil di tangannya.


Penasaran, Andara pun mulai membalik dan membuka bingkai foto Sinta. Dan benar saja dugaannya, ada sebuah foto berukuran kecil terselip di sana.


Namun foto berukuran 2R itu sudah tak bisa di kenali siapa yang ada di dalamnya. Samar, hanya beberapa bagian yang terlihat.


" Apa mungkin Purwa? Tapi dari bagian matanya aku rasa berbeda, " ucap Andara dengan terus mengamati foto tersebut. Andara merasa tak asing dengan mata pria dalam foto berukuran kecil itu. Rasanya Andara pernah melihat manik mata itu, tapi dimana? Dan siapa? Andai saja fotonya belum rusak, mungkin Andara mendapatkan clue dari foto tersebut.


Andara seketika menjatuhkan foto di tangannya berikut figura foto Sinta hingga kaca nya terpecah belah di lantai dan berantakan. Ia di kejutkan oleh suara petir yang menggelegar di ikuti kilatan membuat keadaan makin mencekam. Andara baru sadar saat ini hari kian gelap sedang dirinya masih berada di dalam rumah kosong bekas Kaliya.


Srett !


Lengan Andara kini di seret paksa oleh seseorang yang tak terlihat. Ia di bawa ke sebuah lahan di belakang rumah yang di penuhi rerumputan liar di atas tanah berwarna merah yang licin.


Tiba-tiba langkahnya pun terhenti, seiring terlemparnya cangkul dengan sendirinya tepat di hadapan Andara. Tentu saja Andara terperanjat melihat cangkul yang tiba-tiba terlempar dan jatuh di hadapannya. Entah apa maksud dari semua ini.


Andara pun berpikir sejenak, memahami petunjuk yang mungkin di berikan Kaliya padanya.


" Apa aku harus menggali tanah ini? " Andara bermonolog.


Bajunya sudah sangat basah kuyup terkena guyuran hujan, sementara ia harus menggali tanah merah di hadapannya.


Andara yang belum pernah memegang cangkul pun nampak kesusahan ketika harus menggali tanah dengan cukup dalam.


Sesaat cangkul yang di gunakan Andara pun mengenai sesuatu yang keras di dalam sana.


Segera Andara meneruskan penggaliannya dengan menggunakan tangan. Sebuah peti kecil seukuran kotak tisu yang ia temukan.


Andara membawa kotak kecil itu masuk ke dalam rumah, ia berniat membukanya di dalam karena di luar sana hujan begitu deras.

__ADS_1


Peluh dan air hujan bercampur membasahi tubuh Andara. Dia kini terduduk di satu kursi. Membuka peti kecil yang kebetulan tak tergembok itu.


Di dalamnya terdapat sebuah diary berwarna salem, masih nampak utuh karena mungkin tertutup rapat dalam peti tadi.


Andara mulai membuka lembaran demi lembaran tulisan dalam buku diary tersebut. Yang senyatanya adalah hasil tulisan tangan Sinta. Menceritakan kisah cinta Sinta bersama seseorang.


Flash back on.


Seorang pria nampak terburu-buru berjalan menuju rumah Sinta, dengan mengawasi keadaan sekitar memastikan tak seorang pun melihatnya masuk ke rumah wanita yang masih berstatus sebagai istri Purwa itu.


Namun sayangnya ia malah menabrak seorang pria tua yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dan pria tua itupun sama-sama sedang di kejar waktu untuk melanjutkan aktifitasnya sebagai juru parkir di rest area.


" Kalau jalan lihat-lihat ! Punya mata gak? " bentak Anwar pada Kosim yang berprofesi sebagai juru parkir.


Anwar pun tak ingin membuang waktu berlama-lama di sana meski hatinya kesal dan ingin puas memaki pria tua di hadapannya. Segera Anwar masuk setelah dirinya membentak Kosim barusan, dan mulai mengetuk pintu rumah Sinta tanpa tau jika Kosim kini mengamatinya dari balik pohon dekat rumah Sinta.


Tak lama Sinta pun keluar dari rumah, tersenyum dan bergelayut manja di lengan Anwar. Bahkan tak segan berciuman di teras rumah. Mungkin mereka pikir tak seorang pun memergokinya. Karena rumah Sinta berada di ujung jadi tak mungkin ada orang yang lewat. Sinta pikir Kosim yang baru keluar dari rumahnya pun kini sudah pergi jauh untuk mengantarkan dompet Purwa yang tertinggal di rumah. Apalagi Kosim kan harus kejar waktu, karena dia harus kembali bekerja sebagai juru parkir.


Sinta dan Anwar pun mulai masuk rumah dengan bibir masih saling bertautan. Seketika Anwar pun menendang pintu rumah agar tertutup, ia tak mau melepaskan ciuman dan pelukannya pada Sinta sang pujaan hati.


Perlahan di balik pohon Kosim muncul dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang Sinta lakukan dengan pria yang jelas-jelas bukanlah suaminya.


Saat itu Purwa sedang menjaga toko boneka miliknya. Keseharian Purwa memang berdagang boneka, menempati salah satu kios di rest area.


" Bapak lihat baju Kaliya sudah kompakan dengan boneka kesayangan Kaliya ! " ucap Kaliya berulang ulang, padahal dari tadi Kaliya sudah menunjukannya, bahkan mulai dari rumah hingga mereka sampai di kios pun Kaliya terus berceloteh kalau dirinya kembaran dengan bonekanya.


Memang Kaliya begitu sayang dengan boneka yang satu itu, hingga baju pun harus samaan dengan yang di kenakan bonekanya. Sampai bela-belain ke tukang jahit untuk membuat model dress hitam yang serupa dengan boneka milik Kaliya.


" Iya kamu cantik nak ! " Puji Purwa.


" Cantik tapi warna hitam seperti orang berkabung , " cetus Kaliya yang seakan memiliki firasat jika hari itu adalah hari terakhir baginya hidup di dunia.


" Huss jangan sembarangan nak, bicaranya yang baik-baik saja. " Purwa menasihati.


Kaliya tak menggubris nasihat Purwa ia malah berlarian kesana kemari di dalam kios boneka milik orang tuanya sembari terus memeluk boneka kesayangan yang tak pernah lepas dari genggamannya. Seakan boneka itu bagian dari dirinya bahkan sengaja di cantumkan nama Kaliya dibalik baju boneka tersebut.


" Pak, Pak Purwa ! " Kosim datang tergopoh-gopoh memasuki kios Purwa.


" Ada apa pak? " Tanya Purwa heran.


Kosim pun menceritakan apa yang di lihatnya tadi di rumah Purwa. Tentang Sinta istri Purwa yang sudah berani memasukan pria lain ke dalam rumah mereka. Lebih parah lagi, Sinta bermesraan disana.

__ADS_1


Cerita dari Kosim membuat darah Purwa mendidih. Hingga ia pun segera mengajak Kaliya pulang bersamanya. Di titipkannya begitu saja kios boneka pada Kosim.


Tiba di rumah. Purwa langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Karena memang tak terkunci, hingga ia bisa memergoki istrinya yang saat ini di duga berselingkuh dengan pria lain.


Suara de*ahan saling bersahutan terdengar di telinga Purwa, ia tak bisa lagi menahan emosinya saat mendapati sang istri tengah menikmati permainan pria lain di tempat tidur yang tak seharusnya di pakai oleh mereka berdua melampiaskan hasrat perselingkuhannya.


" Baj*ngan ! " Purwa pun mengejutkan mereka yang tengah memadu kasih.


Sontak Sinta langsung menutup tubuhnya dengan selimut saat menyadari perselingkuhannya kepergok sang suami.


Terjadilah adu mulut antara Anwar dan Purwa. Tangisan Sinta dan teriakan Sinta melerai keduanya bagaikan angin yang lewat begitu saja. Tak di indahkan oleh dua pria di hadapannya yang kini makin tersulut emosi terbakar api cemburu.


Sedangkan Kaliya mengintip di balik pintu kamar, dengan gemetaran dia menyaksikan dua orang dewasa bertengkar. Suara mereka memekakkan telinga Kaliya, meski ia masih kecil tapi ia tau jika pria di hadapan Bapaknya itu bukanlah orang baik hingga Bapaknya marah-marah pada pria tersebut. Itu yang ada dalam pikiran Kaliya.


Menyadari putrinya mengintip, Sinta pun melambaikan tangan berusaha memanggil Kaliya karena ia tau betul Kaliya pasti ketakutan melihat perselisihan Anwar dengan Purwa.


Saat yang bersamaan Anwar mengambil belati yang berada di atas meja di belakangnya. Ia pun hendak menyerang Purwa namun saat itu Kaliya muncul dari arah pintu berlari ke dalam kamar. Sadar akan adanya belati di tangan pria itu, Kaliya menjadikan bonekanya sebagai perisai saat Anwar kian makin dekat dan tak dapat di hindarkan lagi. Kejadian begitu cepat yang akhirnya perut Kaliya dan juga perut boneka kesayangannya pun tertusuk belati.


" Kaliya ! " pekik Purwa bersamaan dengan Sinta.


Purwa menahan tubuh Kaliya yang mulai melemah dan terjatuh ke lantai. Darah Kaliya masuk perlahan kedalam boneka kesayangannya dengan mata masih mengawasi gerak-gerik Anwar dan mengamati setiap lekuk wajah Anwar di detik-detik dirinya meregang nyawa.


Anwar mengetahui apa yang dilakukannya telah merenggut nyawa gadis kecil itu. Tak ingin menjadi tahanan, Anwar pun segera meraih kursi kayu jati dan memukulkan habis-habisan pada kepala Purwa yang sedang bersimpuh menangisi putrinya.


Anwar membabi buta seakan tak ada kepuasan memukul kepala Purwa hingga hancur, darah pun mulai terciprat ke wajah Anwar, Sinta dan ke setiap dinding kamar.


" Tidaaaaakkk ! " Sinta menjerit, ia syok melihat perbuatan sadis Anwar yang sudah membunuh suami dan anaknya di hadapannya. Sinta bangkit berupaya menghentikan aksi brutal Anwar.


Namun kini Anwar malah balik menyerangnya. Rambut panjang Sinta di tarik kasar dan kepala Sinta di benturkan ke tembok berulang-ulang.


Anwar baru berhenti dengan aksinya saat tubuh Sinta melemah dan terjatuh ke lantai bersimbah darah. Anwar kira Sinta pun sudah meregang nyawa hingga ia pun bergegas pergi dari rumah itu.


" Si*lan ! Siapa yang berani mengadukan perselingkuhanku dengan Sinta. Aku harus segera habisi orang itu, " geram Anwar yang mulai teringat Kosim. Ia yakin Kosim yang sudah memberitahu Purwa jika dirinya berselingkuh dengan istri Purwa.


Anwar menancap gas, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Saat tiba di rest area, Anwar mengamati dari kejauhan gerak gerik Kosim hingga saat Kosim sedang bertugas memarkirkan mobil yang hendak keluar rest area, posisi Kosim di tengah jalan bermaksud mengehentikan mobil yang akan melintas guna memberi jalan pada mobil yang hendak keluar rest area.


Namun naas, saat itu juga Anwar menancap gas dan menabrak Kosim. Tak satupun orang yang melihat plat mobil Anwar, aksi tabrak lari itupun sampai kini masih belum terungkap.


Flash back off.


Andara terengah-engah. Ia baru saja memasuki dimensi lain setelah membaca diary milik Sinta. Sekarang ia tau siapa pelaku pembunuhan sadis itu. Anwar. Tetangga barunya. Andara juga baru sadar jika ternyata juru parkir bernama Kosim itu telah meninggal. Tak heran jika tadi dia di pandang aneh oleh pelayan warung nasi dan beberapa orang yang ada di sana. Karena memang Andara bicara dengan makhluk halus, yang mungkin seperti orang gila berbicara sendiri jika di lihat dengan mata kasar orang-orang tadi.

__ADS_1


__ADS_2