
Keesokan harinya, seperti biasa Andara mengantarkan Sandrina ke sekolah. Dan nanti Mbok Darmi yang bertugas menjemput Sandrina.
Di sekolah Sandrina tak bergaul dengan teman-temannya yang lain, tak seperti biasanya. Sandrina cenderung menutup diri dari teman nya yang lain. Beberapa siswa dan guru menangkap kejanggalan pada sikap Sandrina akhir-akhir ini.
Pukul 10.10
Mbok Darmi menjemput Sandrina ke sekolah. Kali ini ia sedikit terlambat menjemput Sandrina.
Seperti biasa ia menunggu di dekat pos satpam yang bertugas menjaga sekolah tersebut.
" Mbok nunggu Sandrina ya? " tanya security berperawakan tegap dan berkumis tebal itu.
" Iya Pak, " jawab Mbok Darmi sembari melihat satu persatu murid yang keluar namun Sandrina tak kunjung muncul. Padahal Mbok Darmi telat datang sekitar sepuluh menit dari jam pulang Sandrina.
" Sandrina tadi pulang bareng temannya, " kata Security itu lagi.
" Teman? Maksudnya sama teman sekelasnya? " tanya Mbok Darmi heran karena selama ini Sandrina selalu pulang di jemput oleh nya. Kalau pun ada kerja kelompok pasti wali kelas Sandrina akan menelpon Andara, dan Andara pasti memberitahu Mbok Darmi.
" Sepertinya dia bukan anak sekolah sini Mbok. Malah dia pakai baju bebas kalau gak salah pakai dress hitam selutut. " Security itu tampak mengingat-ingat apa yang di lihatnya beberapa menit sebelum Mbok Darmi tiba.
Mendengar perkataan security tersebut, membuat Mbok Darmi panik dan langsung memberitahu Andara.
" Iya mbok ? " sahut Andara di sebrang telepon.
" Non Sandrina gak ada di sekolah. Katanya Pak Satpam, dia udah pulang sama temannya tapi bukan teman sekolah nya. Kira-kira siapa ya Bu? " kata Mbok Darmi.
" Apa? " Andara panik dan segera menutup telepon. Bergegas Andara meninggalkan kantor tanpa pamit terlebih dahulu pada rekan satu kerjanya.
__ADS_1
Benak Andara terus berpikir kemana perginya Sandrina dan dengan siapa? Andara benar-benar panik dan kalut. Hingga ia ingat sesuatu.
" Apa mungkin Sandrina ada di rumah Anwar? Bisa saja anak nya Anwar mengajak Sandrina main ke rumah nya, dan bisa jadi ini otak licik Anwar. " Andara menginjak gas mempercepat laju kendaraannya.
Beberapa menit Andara pun sampai di depan rumah, sebelum ke rumah Anwar dia memastikan dulu jika Sandrina masih belum pulang ke rumah.
" Mbok Sandrina belum pulang? " tanya Andara dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Mbok Darmi yang sudah berada di rumah.
" Belum. " Raut wajah Mbok Darmi pun panik dan takut di marahi Andara.
Andara kembali berjalan keluar rumah dan menuju rumah Anwar yang berada di sebelah rumahnya.
Tok, tok, tok
Andara mengetuk pintu dengan keras. Tak lama seseorang membuka pintu tersebut.
" Maaf Ibu cari siapa? " tanya istri Anwar.
" Saya kesini mau cari anak saya. Mungkin dia main bersama anak ibu, " ujar Andara dengan napas terengah-engah.
Istri Anwar menautkan kedua alisnya.
" Anak? Tunggu, ibu ini siapa dan,, ''
" Saya tetangga sebelah, " Andara memotong perkataan wanita itu.
" Mana anak saya? Akhir-akhir ini anak ibu sering main di rumah bersama anak saya, dan sekarang anak saya gak ada di rumah. Pasti mereka main di sini kan? " cerocos Andara tanpa memberi kesempatan pada istri Anwar untuk menjelaskan.
__ADS_1
" Maaf bu, saya dan Mas Anwar belum punya anak. Baru satu tahun ini kami menikah dan belum di karuniai seorang anak, mungkin anak ibu main di tempat lain sama anak tetangga yang lain, " jelas wanita yang berstatus sebagai istri Anwar tersebut.
Andara terkejut bukan main mendengar pengakuan istri Anwar yang mengatakan jika mereka belum punya anak.
Lantas yang di maksud teman oleh Sandrina selama ini siapa? Bukankah Sandrina bilang jika teman Sandrina itu adalah anak Anwar tetangga baru mereka?
Wajah Andara nampak pucat.
" Maaf, permisi ! " Andara pergi begitu saja dari hadapan istri Anwar yang masih bingung melihat sosok Andara.
" Ya Tuhan,, kemana anak ku? " Andara pun menangis terisak.
Ia kembali ke rumah, ia bingung harus mencari Sandrina kemana pasalnya di sekitar komplek tak ada satupun teman Sandrina. Andara bahkan tau betul tetangga-tetangganya merupakan orang-orang sibuk yang tak ada di rumah di jam-jam segini, bahkan tak ada yang memiliki anak seusia Sandrina. Jadi hanya buang-buang waktu saja jika ia harus menjajaki semua tetangga komplek nya. Karena Sandrina pasti tak akan ada di rumah mereka.
Andara berniat menelpon suaminya. Malvino harus tau jika saat ini Sandrina menghilang. Andara mempercepat langkah, ponsel nya berada di dalam tas dan tadi saat sampai rumah ia melemparkan tasnya di kursi ruang utama.
Langkah Andara seketika terhenti saat baru sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
Dia melihat Sandrina tengah duduk di teras rumah sendirian.
" Sandrina? " Andara berlari kecil dan berhambur memeluk Sandrina. Mencium dan membelai rambut anaknya itu.
" Kamu kemana saja nak? Mami dan Mbok Darmi khawatir mencari mu, " tanya Andara dengan masih terisak.
" Sandrina pulang sama anak nya Om Anwar. Tadi dia jemput Sandrina ke sekolah, " jawab Sandrina lugu.
Deg !
__ADS_1
Anak Anwar?