KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 17


__ADS_3

Andara mengerjapkan mata, cahaya ruangan membuatnya silau saat hendak membuka mata.


" Syukurlah Mbak nya udah bangun, " kata Shela yang saat ini duduk di hadapan Andara.


Andara menatap heran karena tiba-tiba saja istri Anwar ada di depannya, bahkan kini Andara baru sadar jika dirinya berada di ruangan yang sangat asing. Andara menatap ke sekeliling, dengan wajah bingung juga heran.


" Mbak ada di rumah saya. Tadi saya dengar suara jeritan di rumah Mbak. Saya dan suami pun segera ke sana, melihat pintu rumah terbuka lebar kami pun masuk karena khawatir ada kejahatan terjadi di rumah Mbak nya. Dan kami menemukan Mbak tergeletak di lantai tak sadarkan diri, " jelas Shela.


" Maaf, kami masuk tanpa seizin Mbak. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa ada perampok ? " lanjut Shela bertanya.


Andara terdiam mengingat kejadian yang di alaminya.


" Tidak ada, saya cuma kepeleset karena lampu rumah sempat mati, '' jawab Andara.


" Mati lampu? " Shela heran karena rumahnya saja dari tadi terang benderang dan tak mati lampu. Bahkan saat menemukan Andara di rumah pun keadaan lampu menyala.


" Mungkin ada sedikit masalah dengan lampu di rumah ku, " kata Andara beralasan untuk menyembunyikan kejadian sebenarnya. Karena percuma juga dia membicarakan hal aneh tadi pada orang yang baru saja ia kenal.


" Oh ya nama saya Shela. Mbak Andara kan? Suami saya yang bilang, " ucap Shela dengan senyum ramah.


" Ya, saya Andara. " Mata nya kini mencari-cari sosok Anwar, pasalnya sedari tadi Shela menyebut-nyebut suaminya tapi Anwar tak juga kelihatan batang hidungnya.


" Suami saya lagi di kamar kecil, " kata Shela yang paham dengan pandangan Andara yang berkeliaran mencari sosok suaminya.


" Makasih sudah menolong saya. " Andara kini mengulas senyum.


" Sama-sama Mbak. Oh aku lupa, bentar ya Mbak saya ambilkan dulu minum, " kata Shela beranjak dari duduk lalu berjalan ke dapur.


Andara merasa gerah, keringat di tubuhnya bercucuran. Rumah Anwar sepertinya tanpa Ac, hingga ia kegerahan. Andara mengibas-ngibaskan lengan, mengipasi tubuhnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


" Aduh Mbak pasti gerah ya? Maaf Ac ruangan nya rusak. " Shela menyodorkan segelas air putih pada Andara.


" Minum dulu, nanti saya carikan kipas, " kata Shela.


Andara mengangguk menerima segelas air dari tangan Shela. Dan meneguknya hingga tandas. Selain gerah tenggorokan nya pun terasa kering.


Shela berjongkok di depan meja, mengambil satu lembar koran di bawah kolong meja tersebut.


" Pakai ini saja mbak, maaf saya lupa naro kipasnya di mana, he,,he,, " Shela tertawa kecil sambil menyerahkan koran bekas pada Andara.


Andara pun menggunakan koran itu untuk melenyapkan rasa gerah di tubuhnya. Di kipas-kipas nya koran itu oleh Andara.


" Saya tinggal sebentar ya, cek Mas Anwar dulu soalnya dari tadi bolak-balik kamar kecil terus ! " Shela berjalan menuju kamar untuk mengecek Anwar yang sedang sakit perut hingga berulang kali keluar masuk kamar mandi yang kebetulan berada di kamar utama.


Andara merasa bosan di tinggal sendirian. Ia ingin pulang tapi tentu harus menunggu si empunya rumah kembali dulu untuk berpamitan. Tak mungkin jika dia main pergi-pergi saja apalagi Anwar dan Shela sudah menolongnya tadi.


Mata Andara tiba-tiba saja melihat sesuatu pada koran yang sedang ia gunakan sebagai kipas. Koran bekas sekitar 7 tahun kebelakang tapi masih tersimpan rapi di bawah meja, bisa Andara lihat tanggal terbit di ujung koran tersebut.


Di sana di beritakan bahwa seorang ayah bernama Purwa dan anaknya yang bernama Kaliya tewas terbunuh. Di duga pelaku pembunuhannya adalah Istri Purwa atau ibu dari anak yang bernama Kaliya.


Mata Andara membulat sempurna membaca berita dari surat kabar tersebut yang mencantumkan nama Kaliya di dalamnya.


Sret !


Tiba-tiba Anwar muncul merebut koran yang berada dalam genggaman Andara.


Kemudian melemparnya ke tong sampah setelah sebelumnya ia robek.


" Loh kok gitu sih Mas? Mbak Andara lagi pake koran itu buat kipas, dia kegerahan malah di ambil gitu aja, " omel Shela yang berada di belakang nya.

__ADS_1


" Yang itu kotor, takutnya ada debu bisa-bisa Andara batuk kena debunya. " Anwar beralasan.


" Oh ya? Maaf Mbak, saya kurang hati-hati, '' ucap Shela menyesal, ia percaya begitu saja dengan alasan Anwar suaminya.


Sementara Andara melongo melihat tingkah aneh Anwar. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi entah apa itu. Yang pasti koran lama itu bersih tak ada debu seperti yang di bilang Anwar. Sikap Anwar pun terasa lain, ekspresi wajahnya dingin dan datar tak seperti biasanya. Mungkin karena ada Shela istrinya, tapi itu lebih baik menurut Andara.


Dalam hati Andara masih penasaran dengan isi di surat kabar tersebut. Apalagi adanya nama Kaliya tercantum di sana. Membuat Andara merasa jika semua itu ada kaitannya dengan teror-teror yang di alami nya akhir-akhir ini. Tapi bagaimana mungkin Andara memungut koran yang sudah di robek dan di buang oleh Anwar? Seperti orang bodoh saja jika ia melakukan hal tersebut.


Suara mobil terdengar memasuki gerbang rumah Andara. Membuat Andara langsung bangkit dari duduknya.


Terpaksa Andara memendam rasa penasaran nya pada surat kabar tadi saat mendengar mobil suami nya.


" Shela, Pak Anwar. Terimakasih sudah menolong saya. Sekarang saya pamit pulang, sepertinya suami saya sudah datang. " Andara berpamitan.


" Sama-sama, Mbak. Kalau ada waktu main-main kesini, " kata Shela ramah.


" Iya Shel, makasih. Permisi. " Andara pun segera keluar meninggalkan rumah mereka.


Dengan langkah gontai ia berjalan menuju rumahnya yang berada di sebelah rumah Anwar dan Shela.


" Papi ! " Andara berlari menghampiri Malvino yang baru saja turun dari mobil.


" Mam? Mami dari mana? Lalu mana Sandrina dan Mbok Darmi? " tanya Malvino heran melihat istrinya berlari dari rumah tetangga dan kini berhambur ke pelukannya. Lebih herannya lagi saat ini Andara menangis.


" Sandrina di Rumah Sakit sama Mbok Darmi, " jawab Andara sambil mengurai pelukannya.


" Lalu kenapa kamu di sini? '' tanya Malvino makin tak mengerti.


" Ceritanya panjang, nanti aku jelaskan. Mendingan sekarang kita siap-siap ke Rumah Sakit. "

__ADS_1


Malvino pun setuju, setelah mengunci pintu rumah mereka segera pergi ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan kesana, Andara menceritakan semua yang di alami olehnya dan Sandrina selama Malvino tak berada di rumah.


Mendengar cerita Andara, Malvino benar-benar terkejut. Apalagi yang di alami mereka berkaitan dengan makhluk gaib. Malvino jadi ingat saat tadi sempat menabrak anak kecil di jalan raya, apa mungkin dia juga sosok yang sama dengan yang di ceritakan Andara sekarang? Pasalnya ciri-cirinya hampir sama, meski hanya sekilas tapi Malvino sempat melihat sosok anak kecil yang ia tabrak tadi. Apalagi sosok itu tiba-tiba saja menghilang setelah tertabrak olehnya.


__ADS_2